Home / Pemuda / Cerpen / Proposal Nikah?

Proposal Nikah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comTit-tit, tit.tit”, dering nada Handphone-ku berbunyi tepat setelah ku menyelesaikan tilawah seusai subuh pagi ini, segera kuambil dan langsung kubuka. “Duuuuug” Tiba-tiba jantungku berdetak setelah kubaca isi pesan itu. “Assalamu’alaikum wr.wb. Adinda, Alhamdulillah hari ini Allah memberi kesempatan untukmu. Kakak harus menyampaikan amanah ini padamu, semoga dinda dapat menerima amanah ini dengan senang hati dan karena-Nya. Kakak ingin menyampaikan amanah ini untukmu, dinda secepatnya siapkan proposal untuk nikah, segera kabari kakak kalau sudah selesai. Barakallah din, semoga Allah memberi kemudahan serta keberkahan”.

Sejenak aku pun terdiam, entah apa yang membuatku langsung terdiam tanpa berkata ataupun bergerak, Kemudian aku tersadar dari diam itu, seraya berkata dalam hati “Masya Allah. Proposal nikah? Berarti aku akan segera menikah? Secepat itukah? Rabbi… Apa yang harus kulakukan, haruskah daku bahagia atau bersedih, benarkah Engkau telah mempercayai semua ini padaku?” Kuletakkan kembali Handphone itu ditempat semula, kemudian tanpa membalas pesan itu aku langsung berbaring ditempat tidurku. Pesan itu adalah pesan yang dikirim oleh kakak Murabbiku, kakak yang selama ini memberi begitu banyak ilmu serta nasihat di lingkaran kecil luar biasa itu.

***

Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB, kubuka tirai serta jendela kamarku, kuhirup udara pagi ini begitu segar “Subhanallah. Walhamdulillah. Allahu akbar” ucapku dalam hati. Sejuknya udara ini pun masuk ke dalam saluran pernafasanku, seolah aku tak sadar dengan apa yang terjadi tadi, tapi, ah….. Hanya sebentar saja ternyata ku lupa akan isi pesan itu.

Hampir setengah jam pesan itu belum satu kata pun kubalas. Aku sengaja menghiraukan pesan itu lagi, langsung aku keluar kamar dan memulai aktivitas seperti hari minggu biasanya, yaitu bersih-bersih rumah, membuat sarapan, mencuci pakaian. Jam kali ini sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, pekerjaan rumah selesai hingga aku pun sudah membersihkan diri, dan aku pun menyegerakan untuk melaksanakan shalat Dhuha hari ini. “Alhamdulillah” ucapku. Begitu nyaman hati ini setelah melaksanakan shalat itu, seolah-olah wajahku pun berseri-seri.

Kembali kuambil handphone, kemudian kubaca lagi pesan yang tadi pagi membuatku sedikit bigung, terkejut atau apalah itu. Kali ini aku tak menghiraukan, aku mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif, dan kubalas pesan itu, “Bismillah” ucapku sebelum aku memulai untuk menulis balasan pesan itu. “Wa’alaikumussalam wr.wb. Subhanallah. Jujur adik terkejut baca sms kata tadi. Afwan baru bisa membalas sekarang kak. Kak, Insya Allah kalau memang ini amanah Allah, adik akan segera lakukan, tapi adik belum pernah bercerita masalah ini ke orangtua kak, apa gak sebaiknya adik bilang ke orangtua dulu, supaya orangtua gak kaget kalau adik ada rencana mau menikah di waktu yang dekat ini kak?.” Tit, langsung kukirim balasan ini.

Tak lama setelah kukirim balasan itu, dering handphoneku berbunyi, tanda ada panggilan, kulihat ternyata kakak Murabbiku tadi yang menelpon, langsung kuangkat dan mulailah percakapan kami.

“Assalamu’alaikum kak”, sapaku.

Lalu terdengar dari telingaku “Wa’alaikumsalam dik, nah kakak mau kasih penguatan untuk adik, kalau memang adik mau kasih kabar orangtua bahwa adik ingin menikah, ya itu lebih baik dik, tapi ingat, ngomongnya dari hati ya, pelan-pelan, jangan pake otot. Jelaskan baik-baik. Insya Allah kalau memang Allah sudah memberi kesempatan ini pada adik, Allah pasti akan memudahkan semuanya kok, percayalah dik, kudu husnuzhan. Kakak harap adik segera ngomong ke mama dan Ayah adik ya, kalau bisa secepatnya, secepatnya kabari kakak lagi. Begitulah kira-kira yang disampaikan kakak itu.

Aku pun menjawab “Iya Kak, Insya Allah akan secepatnya kok. Insya Allah adik akan lakukan itu kak. Kak, Adik apa sudah pantas untuk menikah kak? Adik kok agak-agak giman gitu kak, adik masih mikir, adik kan usia nya masih 20 tahun, terus kan kak, adik juga berfikir, kira-kira siapalah calon pendampingku itu ya kak…”

“Astaghfirullah. Adik kok berfikir seperti itu, apa adik gak mau menikah? Dik, ingat menikah dijalan dakwah Insya Allah, Allah meridhai dik, Bukan berarti setelah menikah kita jadi orang yang akan terhenti berdakwah, terhenti kuliah, wah itu salah dik, malah setelah menikah kita akan mendapat kesempatan besar untuk semakin mudah berdakwah, semakin bersemangat, malah itulah salah satu kesempatan kita dik, asalkan adik menjalankan ini karena Allah dan senantiasa berniat untuk dakwah ini. Insya Allah calon suami nanti pilihan Allah yang luar biasa dik, yang akan menambah keimanan, dan semangat dakwah”, jawab kakak murabbiku.

Sejenak aku terdiam, dan aku langsung menjawab “iya ya kak, Astaghfirullah. Kok adik berpikir seperti itu ya kak, Iya Insya Allah kak, adik pun akan meniat ini semata karena Allah. Aamiiin semoga Allah memberi calon pendamping adik yang terbaik untuk adik”.

“Yaudah kalau begitu, kabari kakak lagi segera ya, jangan lupa sedikit-sedikit dicicil buat proposalnya. Lontar kakak itu.

“Assalamu’alaikum”.

“Iya. Insya Allah kak. Wa’alaikumsalam”.

Braaaakkk…..!! Terdengar dari kamarku, sebuah buku jatuh dari meja belajar di kamarku. Kulihat dan kubuka buku itu, wah, kok bisa ya? Gumamku dalam hati. Buku itu adalah buku karya Salim A Fillah penulis buku Best seller yang sering sahabat-sahabatku banyak mengoleksi. “Saksikan Aku Seorang Muslim” Alhamdulillah, buku ini semakin menguatkanku.

Dan aku pun memulai untuk menulis sedikit demi sedikit Proposal nikah ini, yang isinya juga mengenai biodata. Seraya berkata dalam hati “Rabbi… Kuniatkan ini karena-Mu, kuserahkan juga ini semua karena-Mu, kuyakin Engkau pasti akan memberi yang terbaik buatku”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 6,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Uci Wulandari.
Mahasiswi S1 Universitas Negeri Medan jurusan Kimia. Saat ini aktif di KAMMI MEDAN staff DPP dan bermimpi ingin menjadi Bunga haraki.
  • Mohamad Aulia Syifa

    agak
    anomali sih, bagaimana mungkin dengan mudahnya membuat proposal yang
    untuk diserahkan, kepada orang yg belum dikenal sama sekali, dan masihb
    dalam pertanyaan, menikah itu kan bukan hanya untuk kebahagiaan dunia
    saja namun juga akhirat. percaya dan optimis si bagus, tapi alangkah
    lebih baiknya hati-hati, prihal jodoh suatu prihal yang sakral, karena
    itu harus selektif

  • Aufa Izzatunnisa

    jadi pengen *ehh

  • Danti

    andai menulis proposal lalu sami’na waatho’na semudah itu

Lihat Juga

ilustrasi (jilbabcantig.blogspot.com)

Murabbiyah, Ta’arufkan Akhwat yang Siap Menikah

Organization