Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Risalah Rindu (Edisi ke-2)

Risalah Rindu (Edisi ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Apa kabar adik-adikku? Senja sore ini mungkin akan membuat kalian tersenyum sejenak, melepas lelah setelah sekian lama perih itu melilit meretas segala kenangan yang dulu indah. Waktu tidak lagi menjadi jembatan penghubung di antara kita. Karena aku tahu dan kalian pun sadar setelah benua kita terpisah waktu kita pun berbeda. Ketika musim panas perbedaan waktu kita berkisar lima jam, lalu berubah menjadi empat jam ketika musim dingin datang dengan amukan hawa dinginnya yang dahsyat. Sehingga tidak mudah lagi bagiku melihat senyum kalian atau hanya sekadar menyapa untuk menghapus sedih yang sekarang terlukis di mata kalian yang berkaca-kaca menahan air mata.

Adik-adikku Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu sekalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al Baqarah: 155)

Adik-adikku Ayat di atas adalah legalitas suatu keabsahan dari Allah SWT bahwa kita selaku hambanya pasti akan diberikan cobaan. Apapun bentuknya, rasa takut, rasa lapar atau kekurangan harta. Semua itu bukan untuk membuat kita hina di mata manusia atau membuat kita terpuruk, hingga lupa bahwa perjalanan hidup tidak hanya sampai di sini. Ketahuilah cobaan bukanlah sesuatu yang jahat yang diberikan Allah kepada kita, tapi ia adalah wasilah untuk membuat kita lebih berharga di mata Allah. Jika hari ini kalian mengeluh maka cobaan itu akan semakin terasa berat menindih tulang punggung kalian. Lalu kalian akan berkata “cobaan adalah sesuatu yang jahat” padahal kalian sendiri belum tahu hakikat dan hikmah apa yang ada dibalik cobaan itu.

Allah memberikan cobaan, bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita, justru karena Allah sayang kepada kita, maka cobaan itu Allah selipkan dalam kehidupan kita. Adik-adikku, Rasulullah seorang manusia agung yang sama-sama kita kagumi juga tidak luput dari cobaan. Ia adalah sosok indah yang banyak memberikan contoh hidup untuk umatnya, untuk kita yang selalu berharap mendapatkan syafaatnya kelak di hari perhitungan, hari perhitungan ketika Allah menanyakan tentang cobaan yang ia titipkan kepada kita. Apakah kita sabar menghadapinya? Atau kita berkeluh kesah dan tidak ridha dengan apa yang sudah diberikan kepada kita. Adik-adikku ingatkah kalian dengan pesan yang disampaikan oleh nabi kita? Sosok agung itu telah memberikan kabar berita kepada seluruh umatnya. “Sesungguhnya Allah, bila menyukai sebuah kaum maka Dia akan menurunkan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha dengan ujian itu maka keridhaan Allah baginya, dan barangsiapa yang membenci maka kebencian pula yang akan ia terima”. (Al-Hadits)

Adik-adikku tersenyumlah meski cobaan itu berat, ingatlah! tidak ada yang sia-sia dengan semua yang sudah diberikan oleh Allah untuk kita. Cobaan adalah sebuah keharusan yang harus kita jalani sebagai hamba yang sedang berusaha untuk menyempurnakan iman. Kabar yang dibawa oleh rasul kita adalah bukti bahwa Allah sayang kepada kita, Allah ingin kita menjadi manusia yang lebih kuat dan merealisasikan kata sabar bukan hanya sekadar ucapan kosong yang tidak memiliki makna. Tapi sabar dengan kadar yang sebenarnya, sabar ketika pertama kali kita ditimpa musibah. sebagai mana yang disampaikan oleh nabi kita:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“sabar adalah pertama kali ketika kita ditimpa musibah”

Sahabat nabi kita pun pernah berkata:

الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.

Inilah perkataan khalifah, amiirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah. Sahabat dan menantu Rasulullah yang menjadi khalifah ke empat, yang juga bisa kalian jadikan figure untuk memaknai arti kesabaran. Jika kalian tahu betapa besarnya hikmah dibalik sabar, maka kalian akan saling berlomba untuk bisa merealisasikannya. Sebagai mana dulu kalian berlomba untuk bisa bangun pagi hanya demi mendapatkan ice cream campina dari ibu setelah pulang sekolah. Aku yakin ibu pun ingin kita seperti itu saling berlomba dalam hal kebaikan. Dan berlomba untuk saling mengingatkan bahwa semua ini harus kita jalani dengan makna sabar yang sesungguhnya. Semoga kalian bisa tersenyum ketika membaca firman Allah di dalam surat Az-Zumar ayat 10

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).”

Adik-adikku, mungkin kalian lelah. Ketika hari-hari itu begitu berat kalian rasakan dan semuanya harus kalian jalani sendiri, ketika perubahan itu menyapa begitu cepat datang dari balik pintu yang tidak terduga, kalian terkejut dan bertanya kenapa semua ini harus terjadi? Adik-adikku hidup adalah perputaran waktu yang akan selalunya berubah, merupakan sunnatullah yang tak bisa dihindari oleh kita sebagai manusia. Mungkin kemarin bahagia milik kita, dan orang lain masih menyimpan duka di dalam rumah mereka. Tapi aku ingin kalian tersenyum dengan hati kalian jika orang lain menikmati kebahagiaannya, dan biarkan duka itu berpindah mengunjungi rumah kita. Karena semua ini tidak selamanya. Dan balasan bagi mereka yang sabar adalah surga.

Adik-adikku, jika dulu semua yang kalian inginkan dapat kalian rasakan dengan mudah tanpa harus ada keringat yang menetes. Sekaranglah saatnya kita merasakan hidup yang sebenarnya, tidak ada mobil untuk mengantar dan menjemput kalian di sekolah, tidak ada AC yang bisa menyejukkan kalian ketika kalian lelah, tidak ada lemari es yang dulu bisa kalian buka kapan saja untuk bisa menyegarkan kalian. Tapi itu dulu, biarkanlah kenangan indah itu berlalu tanpa harus meninggalkan luka dan kecewa di hati kalian, karena kehidupan sekarang adalah untuk masa yang sekarang. Kita yang menjalaninya dan kita yang merasakannya. Tetap berusaha dan berjuanglah dan jangan pernah berhenti untuk menyandarkan semuanya kepada Allah. Karena semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Adik-adikku tersayang, percayalah akhir dari sebuah cobaan adalah kebahagiaan. Dan betapapun besarnya kesulitan ia akan berakhir dengan kemudahan, karena Allah telah berjanji:

    فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5)

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 6)

Maha suci Allah zat yang maha pengasih dan maha penyayang, dia tidak akan menyia-nyiakan semua usaha yang sudah dilakukan oleh hambanya. Tersenyumlah adik-adikku karena semua ini bukan akhir dari segalanya, meski semua telah berbeda tapi percayalah dengan semua yang sudah dijanjikan oleh Allah. Di tengah perjalanan nanti pasti dia akan membuktikannya, dan jika kalian masih ragu bukalah hati kalian untuk mencintainya, bukalah mata kalian untuk melihat kebesarannya dan keniscayaan itu akan selalu ada hingga kalian sadar bahwa mencintai Allah tidak akan terluka. Perhatikanlah ketika Allah mengulang firmannya “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Adik-adikku, ayat di atas menegaskan bahwa al-‘usr yang berarti kesulitan, bentuknya satu karena diungkapkan dalam bentuk ma’rifah. Sementara yusr yang berarti kemudahan bentuknya dua, karena diungkapkan dalam pola nakirah. Kesimpulannya adalah bahwa dalam satu kesulitan, Allah swt telah menciptakan dua kemudahan atau lebih. Sehingga di dunia ini pada hakikatnya kemudahan jauh lebih banyak dari kesulitan.

Adik-adikku tersayang, sebelum kalian beranjak tidur bacalah sejenak pesanku ini yang tak sempat kusampaikan ketika aku berada di dekat kalian. Karena jalan takdir sudah memberi tahu untuk sementara ini aku tidak bisa berada di tengah-tengah kalian, menghapus air mata kalian atau hanya sekadar menghibur ketika sedih dan gundah itu mulai datang bersama pagi yang harus kalian jalani sampai malampun membuat kalian terlelap kembali. Terima kasih atas kesabaran kalian, terima kasih atas kesungguhan kalian dan terima kasih karena kalian telah percaya bahwa aku akan selalu ada untuk kalian. teruslah berjuang karena suatu saat nanti semua ini akan terganti. Sebagai mana yang dikatakan oleh Rasulullah:  “Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa (Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik)”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Saif Ramadhan
Mahasiswa fakultas sastra arab dan peradaban, di universitas Al-azhar Zagazig Mesir.

Lihat Juga

Rindu Bergurau Berdua