Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menanam untuk Akhirat

Menanam untuk Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: pennag.com)
Ilustrasi. (Foto: pennag.com)

dakwatuna.com Bismillah…

Assalamu’alaikum…

“Jika besok adalah hari Kiamat, sementara di tanganmu masihlah ada sebuah biji kurma maka tanamlah segera” (KH. Husein Muhmmad, dalam buku Menanam Sebelum Kiamat)

Sahabat sekalian yang saya cintai karena Allah, kehidupan adalah rahmat yang tak terhingga dari-Nya, banyaknya nikmat, lika-liku perjalanan yang kita tempuh juga adalah pemberian-Nya. Hakikatnya bagaimana kita dapat mensyukuri Nikmat yang di berikan oleh Allah kepada kita agar kita sekalian sebagai hamba yang shalih yang senantiasa mensyukuri dan lantas menjadi penyemangat kita agar senantiasa lebih “dekat” lagi kepada-Nya.

Itulah cinta yang Dia semaikan kepada para manusia, cinta yang selalu bersinar kepada hamba-hamba-Nya yang ada. Itulah salah satu bentuk kekuasaan-Nya yang tidak kita sadari sehingga di setiap hela nafas yang dalam keseharian kita dapat menjadi pengokohan keimanan kita terhadap-Nya.

Sahabat sekalian, bila kita cermati kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita akhir-akhir ini, hal ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama, bila kita lihat di  berita-berita di media elektronik dan media cetak, seperti meletusnya gunung Sinabung yang ada di Sumatera Utara dan banjir yang hampir seantero Nusantara mengalaminya. Lantas apakah yang salah dengan tingkah kita? Apakah alam telah bosan dengan kehidupan manusia?

Tentu ini menjadi sebuah problem di mana Allah telah murka terhadap Umat manusia, bagaimana tidak bisa hal itu terjadi bila kita lihat lingkungan kita ini banyak pohon yang di tebang hanya untuk memenuhi kebutuhan sebuah kelompok, sawah dan ladang kini di ubah menjadi rumah, pabrik-pabrik di dirikan dan limbah pembuangannya di buang sembarangan, dan masih banyak lagi permasalahan yang ada akibat perbuatan manusia.

Bahkan yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika seorang Kepala Daerah (gubernur) sebuah provinsi ternama yang ada di Indonesia menyalahkan hujan yang di turunkan oleh Allah sebagai pembawa bencana yang ada di daerahnya. Tentu ini sebuah perkataan yang sangat tidak masuk akal untuk seorang pemimpin, bagaimana mungkin hujan yang nota benenya Rahmat dari Allah di anggap sebagai bencana. Astaghfirullah…

Sifat Manusia yang Serakah

Tentu ini menjadi bahasan yang sangat menarik untuk di diskusikan, apakah kita telah sadar yang ada pada diri kita dan apa yang telah kita semua lakukan. Yah itu menjadi hal yang menarik ketika banyak orang yang dengan sifat serakahnya telah menghancurkan amanah Allah sebagai khalifah (pemimpin) yang ada di Dunia. Betapa besar kepedulian yang Allah berikan kepada manusia, hingga manusialah yang di pilih untuk menjadi pemimpin yang ada di bumi. Tapi apa yang di lakukan oleh manusia hanyalah menyombongkan diri mereka dengan apa yang menjadi titipan Allah tanpa menyadari titipan itu akan di ambil kembali pada akhirnya oleh sang pemilik. Na’udzubillah.

Di sisi lain Allah telah menggambarkan tentang keserakahan umat manusia dalam Al-Qur’an yang diturunkan-Nya lewat perantara malaikat Jibril kepada manusia untuk di sampaikan kepada Hambanya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Ar-Rum: 41)

Kecenderungan berbuat serakah yang ada pada manusia telah menghancur diri mereka karena banyak hal yang bisa di lakukan oleh manusia dengan bisa lebih mencintai apa yang ada dan bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya dan bisa mengambil manfaat dari apa yang di turunkan oleh Allah di Bumi ini. Ini semua adalah bagian dari scenario Allah untuk kita semua sebagai para Pemain dapat menjadi actor professional dalam memerankan lakon yang telah di berikan agar apa yang telah di amanah kepada kita agar bisa di pergunakan sebaik-baiknya. Sebagaimana yang di firmankan Oleh Allah dalam QS Yunus

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.”

Karena sesungguhnya orang-orang berfikir itulah yang beriman dan orang yang beriman adalah orang yang bisa memposisikan diri dalam menjaga amanah Allah yang ada di Bumi.

Menanam untuk Akhirat

Sejenak kita me-refresh kembali sebuah kata mutiara: “kerjakanlah untuk duniamu seakan-akan engkau mati esok, dan kerjakanlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau hidup selamanya”. Sebuah kalimat yang mempunyai arti yang sangat mendalam karena banyak hal-hal yang istimewa yang bisa kita lakukan untuk menjadi manusia terbaik di hadapan Allah.

Bila kita melihat para petani

Sebagian besar manusia adalah makhluk yang hina yang ingin hidup instant yang berfikir bagaimana keuntungan bisa di dapatkan dengan segera mungkin tanpa berpikir ke depan. Boleh jadi ketika itu kita tidak melihat hasil langsung dari yang dilakukan tapi Allah menghimpun itu semua ketika kita di akhirat nanti.  Itulah proses yang di inginkan oleh-Nya untuk kita hambanya.

Dan ingatlah semua yang di turunkan oleh Allah di Bumi ini,; lautan yang sangat luas, gunung-gunung yang tinggi menjulang gagah dan semua yang ada itu adalah milik-Nya. Dan ketika saatnya nanti akan di ambil kembali dan akan dimintai pertanggungjawabannya kepada yang Dia titipkan. “Kepunyaan Allah lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan”  itulah yang di titahkan oleh-Nya dalam untuk manusia yang ada di Bumi.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (al-Imran: 190-191).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kabid Kaderisasi dan Dakwah PD PII Bima 2007-2008.

Lihat Juga

Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)

Tongkat Lintas Akhirat