Home / Berita / Internasional / Asia / Di Jepang, Beras Pun Bersertifikat Halal

Di Jepang, Beras Pun Bersertifikat Halal

Beras Jepang - ilustrasi
Beras Jepang – ilustrasi

dakwatuna.com – Jepang.  Inovasi produk halal di Jepang tampaknya layak ditiru. Ini seiring dengan geliat industri halal di negara berjuluk Negeri Matahari tersebut. Perusahaan Jepang kian menggenjot target pasar Muslim yang sangat potensial.

Bukan hanya makanan siap santap di restoran atau makanan dan minuman kemasan saja, melainkan para pelaku industri di Jepang tengah merambah beras bersertifikat halal.

Ini, antara lain, seperti yang tengah digarap sejumlah perusahaan lewat beras Varietas Akita Komachi. Beras halal ini menyasar pasar wisatawan Muslim yang berkunjung ke Jepang.

Program ini dimulai ketika perusahaan Feed Innovation Inc memulai bisnis makanan di Odate, Prefektur Akita. Seperti yang dilansir  Japan Times, Rabu (22/1), program tersebut didukung pula oleh Hosana Kikaku sebagai perusahaan pertanian yang terdapat di kota. Perusahaan tersebut memiliki metode produksi beras yang telah menjalani sertifikasi halal.

Feed Innovaton mendapatkan sertifikasi pada Agustus 2013. Jenis beras tersebut merupakan beras asli Jepang, tiada duanya di negara lain. Kecuali, hasil ekspor Jepang di suatu negara.

Sertifikasi ini merupakan sertifikasi halal beras pertama di Jepang. “Kami ingin wisatawan Muslim menikmati beras asli Jepang, Akita Komachi,” ujar Presiden Feed Innovation Inc Koki Sato.

Untuk mendapatkan sertifikasi, kata pria berumur 29 tahun itu, pihaknya mengajukan aplikasi pada organisasi Islam yang telah ditunjuk.

Setelah itu, baru mereka melakukan pemeriksaan produksi dan pengolahan sistem. Tentunya, makanan halal harus bebas dari bahan-bahan yang dilarang Islam, seperti alkohol dan babi.

Selain beras, perusahaan makanan di Jepang dapat memiliki sertifikat halal bagi makanan tradisional mereka. Sehingga, makanan tersebut dapat menjadi warisan budaya yang diakui UNESCO.

Seperti yang dilansir Japan Times, Rabu (22/1), Feed Innovation Inc telah memproduksi dan memasarkan produk pertanian organik. Mereka mulai menjual padi yang telah di panen pada musim gugur terakhir dengan mencantumkan label halal.

Sato juga menjelaskan pihaknya telah memasok nasi paket halal untuk bandara di Jepang dengan rute internasional, meskipun masih dalam jumlah sedikit. Sedangkan, dengan skala besar pihaknya telah memasok nasi halal untuk hotel dan penginapan di Jepang.

Perusahaan mengharapkan, setidaknya pada musim ini pihaknya dapat memasok 20 ton beras halal. Target pasar ekspor, antara lain, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.

Ke depan, perusahaan makanan di Jepang berharap tidak hanya ekspor beras, tetapi juga gandum berkualitas tinggi.

Menurut Pengurus Asosiasi Bisnis Halal Jepang, Sato, meningkatnya jumlah perusahaan Jepang  yang mensertifikasi halal produk mereka, antara lain, didorong keinginan agar Tokyo lolos sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2020.

Selain itu, juga harapan agar UNESCO memasukkan kuliner tradisional Jepang sebagai warisan budaya non-benda.

Sato mengatakan, perusahaan Jepang menaruh harapan yang tinggi pada pasar Islam. Hal ini karena populasi Muslim di dunia kian bertambah, saat ini sekira 1,9 miliar Muslim dari 7,2 miliar penduduk dunia.

Ahli demografi memprediksi, pada 2050 jumlah Muslim akan mencapai sepertiga dari populasi penduduk dunia.

Di sisi lain, pasar domestik saat ini diperkirakan akan terus menyusut akibat dari penuaan penduduk dan berkurangnya angka kelahiran. “Karena itu, sertifikasi halal akan kontinyu,” tutur dia. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

The Amazing of Amang Cilok, Lebih Dari Sekadar “Cilok”