Home / Narasi Islam / Politik / Visi Kelangitan, Visi Pemimpin Masa Depan

Visi Kelangitan, Visi Pemimpin Masa Depan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Pemimpin tidak hanya dibentuk ataupun dilahirkan, namun keduanya merupakan bagian yang dapat dilakukan secara bersama, pemimpin dilahirkan dan dibentuk”

Allah dalam Al Quran Surat Al Imran ayat 110 telah berfirman, yang artinya:

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh yang berbuat ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang yang fasik”

Dalam firman di atas, Allah telah menjelaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang kemudian Allah lahirkan dengan tujuan untuk menebarkan kebaikan bagi manusia dan terus berupaya untuk kemudian kembali merapatkan barisannya untuk berjuang membela agama Allah dan membawa manusia kembali pada jalan untuk mentauhidkan Allah serta menjalankan syariat yang telah Allah atur melalui Al Quran, dan Rasulullah ajarkan melalui Sunnah-sunnahnya.

Manusia sebagai Khalifah 

Tidak akan pernah terlupa, bahwa Allah menegaskan kepada manusia untuk menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi, dalam upaya memanfaatkan bumi yang telah Allah berikan sebagai ladang penghambaan kepada Allah demi mencapai tujuan hakiki yakni Surga Allah. Dalam Surat Al Baqarah ayat 30, Allah berfirman yang artinya:

“Dan ingatlah ketika, Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Firman Allah di atas sudah sangat jelas mengisyaratkan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai pemimpin bagi manusia sendiri dan memiliki kewajiban untuk menjaga bumi dari kerusakan. Peranan manusia sebagai pemimpin merupakan peranan yang begitu berat amanah yang Allah berikan kepada manusia, karena pada dasarnya seorang pemimpin haruslah memiliki visi yang kuat terhadap apa yang diperjuangkannya.

Manusia sebagai pemimpin, sejatinya memiliki sebuah contoh yang Allah telah menjadikan dirinya sebagai panutan langsung dalam kepemimpinannya, yaitu Rasulullah SAW. Dalam Surat Al Ahzab ayat 21, Allah berfirman, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Maka jelaslah kepemimpinan profetik ala Rasulullah menjadi sebuah contoh terbaik yang seharusnya menjadi panutan setiap pemimpin muslim di muka bumi ini. Sebuah kepemimpinan yang mengajarkan spiritual pathway dalam menggapai setiap kemenangan-kemenangan Islam dalam menyebarkan Rahmatan Lil Alamin di bumi Allah.

Semangat Pembaharuan ala Rasulullah SAW.

Kharismatik tidaknya seorang pemimpin tidaklah dilihat dari seberapa banyak harta ataupun seberapa besar rumah yang dimilikinya, namun seberapa besar keteladanan yang diberikan sehingga mempengaruhi besarnya circle of influence yang pada akhirnya menjadikan pemimpin tersebut besar. Hal inilah yang telah Rasulullah contohkan dalam kehidupannya sejak beliau menginjak usia menuju dewasa. Pada masa mudanya, Rasulullah telah dikenal sebagai seorang yang Al-Amin (yang dapat dipercaya), dalam masa mudanya, dihabiskan sebagai seorang saudagar yang terkenal dengan kejujurannya. Keteladanan yang tidak hanya dibuktikan dengan perkataan namun langsung menyentuh pada tindak tanduk kehidupan keseharian yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat sosialnya.

Pada umur 40 tahun, ketika usia kematangan telah Allah berikan, Allah menunjuknya menjadi seorang Rasul yang kemudian menyebarkan Islam dan menjadi pemimpin bagi umat muslim pada masa tersebut. Namun, apa yang kemudian berubah dari Rasulullah? Tidak ada. Tidak ada perubahan dari sifat-sifat Rasulullah, kejujuran menjadi landasan dalam menyebarkan Agama Allah ini, tawakal menjadi sikap Rasulullah manakala penerimaan dakwah tertolak oleh suatu kaum, namun Rasulullah tetap mendakwahkan Islam meski cemoohan yang datang menyakiti setiap perasaannya. Inilah kepemimpinan yang Rasulullah contohkan, memiliki visi yang jelas, dan arahan yang tegas dalam setiap perjalanan kepemimpinannya. Spirit kepemimpinan yang terasa bagi masyarakat Islam di kala itu, hingga menjadikan rasa cinta perjuangan terhadap tegaknya agama Allah mengalahkan kecintaan terhadap harta dan pribadi sendiri. Sikap pembaharuan yang Rasulullah bawa menjadikan masyarakat yang memeluk Islam menjadikan dirinya jauh berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan masa kejahiliyahannya, karena adanya motif-motif kehidupan yang lebih agung dan tinggi nilainya dengan berIslam, yaitu sebuah kualitas kehidupan dengan berlandaskan pada kebenaran dan keadilan yang berdasar pada wahyu Allah SWT.

Pemimpin yang meniru Rasulullah dengan Visi Kelangitan  

Kepemimpinan bukanlah hal yang mudah namun inilah amanah terberat yang Allah berikan pada manusia. Beratnya amanah yang harus dipikul menjadikan para pemegang amanah kepemimpinan ini harus senantiasa terus menjaga keimanan dan kesehatan spiritual dirinya, untuk tetap berpegang teguh dan berjalan pada jalan yang sudah Allah gariskan kebenarannya. Pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang memiliki sebuah visi yang jelas, visi yang mampu mengantarkan para pengikutnya pada jalan-jalan kebaikan yang mampu menjadikan Islam sebagai bagian kehidupan yang tidak terpisahkan.

Pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang selalu menjaga semangat pembaharuan dalam setiap gagasan yang diberikan, pemimpin yang selalu berusaha menjadikan kepemimpinan Rasulullah sebagai uswah terbaik yang pernah Rasulullah ajarkan dengan menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan hukumnya. Inilah pemimpin masa depan yang dapat membawa pada arah gerak perubahan yang mampu menjadikan bangsa yang dipimpinnya bergerak menuju kebaikan sebuah bangsa.

Sebagai bagian dari umat Rasulullah, maka sepatutnyalah, pemimpin memiliki sebuah Visi Kelangitan. Sebuah visi yang mengikat kesehatan spiritual jiwa sehingga mampu untuk terus mendekatkan dirinya pada Allah SWT. Bersumber dari Visi Kelangitan inilah yang nantinya dapat membawa seorang pemimpin mampu mengatasi setiap permasalahan yang sedang dihadapinya dengan adanya ketenangan, kesabaran, serta kemantapan hati yang datangnya dari Allah SWT sebagai sebuah bentuk pertolongan yang Allah berikan. Selain itu, adanya Visi Kelangitan yang ditanam di dalam dirinya, mampu menjadikan seorang pemimpin membawa momentum perubahan bagi dirinya dan bagi lingkungannya. Inilah sosok pemimpin yang menjadi ideal bagi masa kini, pemimpin yang mampu membawa pada perubahan kebaikan bagi dirinya, orang lain, bahkan bagi lingkungannya. Semoga selalu dapat kita ingat, sebuah Visi Kelangitan yang pernah Rasulullah sampaikan pada pamannya, ketika Beliau diminta untuk menghentikan dakwah Islamnya, Rasulullah menjawab

“Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang membuktikan kemenangan itu di tanganku atau aku binasa karenanya.”

Inilah visi Rasulullah yang membawa beliau dan umat Islam di kala itu terus maju membawa Islam hingga pada akhirnya Islam mampu berkembang sampai saat ini. Maka oleh sebab itulah, marilah kita terus berbenah karena sebenarnya kita adalah pemimpin-pemimpin bagi diri kita sendiri, berbenah menuju pada arah kebaikan, dan berbenah dengan menjadikan Islam sebagai manhaj kehidupan yang bersumber pada Al Quran dan As Sunnah, hingga pada akhirnya kita pun dapat menjadi pemimpin ideal di masa mendatang, yang tidak hanya membawa rahmat bagi diri kita sendiri melainkan bagi seluruh alam semesta, dan tentunya dengan mengharapkan Surga Allah kelak, ketika pertanggungjawaban amanah sebagai pemimpin itu, Allah tanyakan di Yaumul Akhir.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abrory Agus Cahya Pramana
Mahasiswa S1 Fakultas Biologi, Ketua Kelompok Studi Herpetologi Fak. Biologi UGM, Santri PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta, Anggota Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi. Tertarik dengan dakwah dan penyebaran Islam melalui spreading knowledge.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Rumah Tangga yang Dicintai Penduduk Langit