Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Malulah Kita pada Keterpurukan

Malulah Kita pada Keterpurukan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Sangat banyak hari-hari yang memberi ujian besar dalam hidup kita, atau mungkin masih sangat banyak orang-orang di sekeliling kita yang beruntung karena setiap apapun yang ia lakukan berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tapi juga masih banyak sekali kita temukan sebuah keinginan kita yang penuh dengan ujian berat untuk mendapatkannya, sehingga kemudian kita terseok-seok, pontang-panting untuk meraihnya. Harus perlu menyeka keringat, menghapus air mata bahkan harus menahan sesak di dada untuk terus berusaha gigih menghilangkan keterpurukan”.

Menyingkirkan segala keterpurukan memang butuh sebuah refleksi perjuangan yang sangat susah karena ia akan selalu disertakan oleh kesedihan serta pertarungan antara kemampuan dan keimanan serta kesabaran, keikhlasan. Menyeka air mata tak kan lah menyelesaikan keterpurukan. Berdiam diri saja juga tak akan pernah menyelesaikan masalah karena ia harus dituntaskan dengan cara baik.

Malulah kita pada diri yang masih lemah akan keterpurukan, menembus asa yang sangat sulit namun beribu tekad yang kadang masih sangat jauh dari apa yang diinginkan. Mengejar mimpi yang masih separuh jalan, namun kita harus yakin ada kekuatan besar yang akan selalu menginspirasi kita selama kita masih terus berusaha mendekat padaNya. Aku sedang tak lagi berbagi kisah, hanya sekadar melihat dari sudut hati ku, bahwa kita harus malu terhadap keterpurukan, harus segala berlari dari keterpurukan menuju ketenteraman. Ia tak akan di dapat, jika kita hanya diam, tak bergerak, hanya menyesali takdir yang menurut kita tak adil. Tetapi yakinlah sahabat, kita sedang di uji dalam dimensi yang akan membuat kita tambah bijak. Kita tengah dididik Allah SWT untuk menjadi pribadi yang tak cengeng, tak bergantung pada orang lain. Kita lah yang akan merubah hidup kita untuk lebih baik dengan bantuan Zat Yang Menciptakan kita.

Memandang jauh ke depan, tak lah membuat surut, namun jangan mengalah dengan keterpurukan kita, teruslah bersyukur dengan segala nikmat hidup dan Islam yang utama, kita masih disadarkan Allah SWT untuk terus mencintai-Nya, terus merindu terhadap Rasulullah SAW, berjanji setia untuk menegakkan Dakwahnya. Malulah kita pada keterpurukan yang telah membuah waktu kita tersita dengan hanya menyeka air mata, maka bangkitlah wahai sahabat ku, kita masih punya banyak jalan yang Allah SWT sediakan, jangan menyerah karena putus asa hanya milik orang-orang tak cinta pada Rabbnya. Kita masih punya tubuh yang lengkap untuk berbuat, masih punya hati untuk selalu membeda, masih punya pikiran untuk selalu memilih yang baik, apakah kita harus kalah? Jangan larut dalam keterpurukan wahai saudaraku seiman, kita masih punya kekuatan, mari bangkit, tatap masa depan mu dengan senyuman dan semangat sembari terus mendekat pada-Nya.

Memandang langit yang cerah, telah kusaksikan senyummu terkembang dengan semangat juga ikut membakar semangat ku bahwa kita bisa melangkah lebih kokoh, melibas segala keterpurukan dengan sebuah kerja nyata. Semoga kita di tuntun menjadi hamba yang selalu bersyukur dan seketika teriakan mu menyadarkan ku bahwa Malulah kita pada Keterpurukan..!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nia Assyifa
Pegawai Negeri Sipil. "Menjadi karanglah meski tak mudah, sebab ia akan menahan sinar matahari yang garan, ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah, melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa yang dingin yang mencoba membekukan, ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus, ia akan tegak berdiri, belajar untuk terus berjalan..nmenapaki arti hidup sesungguhnya"

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Malumu Bagian dari Imanmu