Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sentuhan Itu Sangat Berarti

Sentuhan Itu Sangat Berarti

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Sentuhlah ia tepat di hatinya Ia kan jadi milikmu selamanya…” Sepenggal syair lagu dari Ari Lasso di atas memberi kesan tersirat buatku. Atas dasar itulah jemari kakuku dan imajinasi amatiranku bergerak, mencari kata-kata yang tepat untuk menguraikan ide yang bersarang di benakku.

“Sentuhlah ia, tepat di hatinya…” Sebuah kalimat sederhana namun sangat berharga. Betapa tidak. Sentuhan biasanya diartikan dengan gesekan yang terjadi di antara indera peraba, yaitu kulit. Sentuhan bisa saja lewat pegangan, pelukan, atau kecupan. Tentu saja sentuhan itu memberi kesan tersirat berupa ungkapan cinta, persahabatan, maupun kasih sayang. Tergantung pada subjek dan obyeknya.

Seorang anak, ketika mendapat tatapan hangat dan belaian dari ayah ibunya, maka si anak akan sangat menikmati hari-harinya sekalipun kedua orang tuanya punya kesibukan di rumah atau di luar rumah. Efek dari sentuhan tadi akan memberi inpuls ke syaraf pusat si anak bahwa ia pasti merasa sangat dicintai oleh orang tuanya. Dengan hadirnya rasa itu, si anak akan belajar untuk mengerti dan memahami kedua orang tuanya, bahkan akan berusaha membuat orang tuanya bangga.

Ketika kupandangi dedaunan yang mulai mengering, aku melihat ada sentuhan indah di sana. Keringnya dedaunan akan berakhir sejak ia tanggal dari rantingnya. Tentu saja aktivitas ini karena adanya sentuhan lembut dari angin. Meski tidak tampak, namun terasa. Angin akan membawa dedaunan secara perlahan dari rantingnya hingga melayang-layang dan sampai menyentuh bumi. Lewat sentuhan angin, dedaunan yang gugur tersebut tetap saja berarti bagi alam karena gugurnya bisa menjadi energi baru bagi tanaman lain sebab dedaunan akan terurai menjadi pupuk organik yang tidak akan memberi efek samping pada kualitas tanah. Subhanallah… Begitu berartinya sentuhan itu.

Sentuhlah ia tepat di hatinya… Menyentuh tak melulu harus lewat indera peraba. Ada satu sentuhan eksotis yang mampu membuat seseorang merasa bahagia tanpa batas. Menyentuh lewat hati, tentunya. Menyentuh hati punya banyak cara, namun dasar dari semua cara itu bermula dari perhatian. Sungguh, tak seorang pun di dunia ini yang tidak butuh perhatian karena diperhatikan adalah fitrah setiap insan.

Tahun ini bukan lagi bergelut tentang reformasi. Tahun ini lebih eksis dengan nama barunya, yaitu tahun politik. Bercerita tentang politik, aku lebih sering bertanya daripada menjawab. Politik bagiku memang bukan barang baru, namun selalu punya cerita yang baru sebab pelaku atau aktornya pun selalu baru. Sudah tentu mereka akan memiliki style tersendiri sesuai dengan kebutuhan zaman.

Tahun politik diwarnai dengan aroma mesiu peperangan politik. Tak hanya itu, dentuman bom fitnah dan amunisi-amunisi kepicikan tak terlepas dari santapan lezat para penikmat politik bergelar media. Semua harus terlihat oleh mataku dan terdengar oleh telingaku sekalipun banyak hal yang mesti kupelajari dari cerita politik ini.

Pada tahun politik, semua aktor berusaha menjadi para pahlawan. It’s very good! Tidak ada yang salah dari perjuangan untuk mendapatkan tempat di hati rakyat. Sekalipun tujuan akhir dari kebajikan-kebajikan yang dilakukan para pahlawan tersebut demi sebuah bangku berjudul “kekuasaan”. Tetap saja tidak ada yang salah dari pengorbanan mereka untuk rakyat, sekalipun pengorbanan itu sangat sementara. Bukankah lebih baik berkorban, meski sedikit, daripada tidak sama sekali? Tuk urusan hitung-hitungan dosa dan pahala, biarlah hanya Allah yang punya ketentuan.

Para aktor yang lebih dikenal dengan para caleg, berlomba mengambil simpati rakyat lewat sentuhan uang, sembako, kesehatan, sampai pada sentuhan hiburan mulai dari hiburan erotis (dangdut) sampai pada hiburan religi. Semua demi mendapatkan suara rakyat di saat pemilu nanti. Semua cara telah mereka lakukan. Hal sentimen ini tak ubahnya dari sebuah pencitraan. Kembali ke niat, cara, dan target dari para aktor tersebut. Biarlah Allah yang memberi balasan di setiap amal mereka.

Akan tetapi, banyak di antara para aktor tersebut yang lupa pada satu sentuhan termahal, yaitu sentuhan hati. Mereka sibuk dengan urusan yang mampu melibatkan penglihatan orang banyak sehingga kerap kali mereka terlupa pada jiwa-jiwa tersembunyi yang membutuhkan uluran tangan mereka.
Tak bisa dipungkiri, seorang caleg pasti akan lebih memilih mendatangi dan memberi bantuan pada seorang dhuafa yang tingkat kemiskinannya menjadi perhatian banyak orang daripada seorang dhuafa yang tingkat kemiskinannya kurang terekspos di masyarakat. Semua tidak terlepas dari pencitraan.
Sekali lagi, bagiku itu tiada yang salah. Itu hak para caleg. Hanya saja, aku ingin menegaskan bahwa metode dakwah fardhiah ala Hasan Al-Banna, sangat efektif menyentuh hati para objek dakwah/masyarakat. Dakwah fardhiah berupa pendekatan yang dibangun dari dasar persaudaraan. Metode ini akan langsung mengenai obyeknya lewat pendekatan hati. Sungguh, seseorang akan jauh merasa berarti ketika hatinya disentuh lewat perhatian. Sedangkan seseorang yang diberi sentuhan materi dan harta, akan mengagumi orang yang menyentuhnya hanya sebatas materi dan harta tersebut.
Lantas, masih lebih berhargakah harta daripada perhatian (pendekatan)?

Masyarakat masa kini memang sudah terbiasa dibeli dengan materi, meskipun sebenarnya hatinya membutuhkan motivasi dan perhatian khusus dari para pemimpinnya. Kita sering lupa bahwa persoalan masyarakat tidak melulu persoalan harta. Anak jalanan, preman, para pelajar (ABG), para pekerja, para orang tua, sampai para pejabat jauh lebih membutuhkan sentuhan hati untuk bangkit dari setiap peliknya permasalahan hidup. Tidak perlu ragu untuk merangkul masyarakat secara umum karena rangkulan itu akan membuat mereka menjadi milik Anda.

Seperti kata Anis Matta, “Sekarang zaman ketidakpercayaan. Semua harus dijawab dengan kerja, kerja, dan kerja”.

Masyarakat sudah letih dengan janji-janji. Mereka butuh realisasi. Salah satu wujud kerja nyata itu adalah tetap melayani. Melayani tanpa memilih dan tanpa disertai dengan unsur kepentingan pribadi. Bukankah kerja dakwah itu karena Allah? Dan kerja politik ini juga bagian dari kerja dakwah? So, bekerjalah seperti jantung. Meski tak terlihat oleh orang lain, ia tetap berdetak di hati setiap manusia sampai waktu lelah menemaninya…

Sentuhlah ia tepat di hatinya…
Ia kan jadi milikmu selamanya…

Semoga Allah mengampuni dosa lisanku dan semoga tulisan sederhana ini bisa menyentuh hati pembacanya…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Listi Mora Rangkuti, S.S.
Menyelesaikan amanah pendidikan terakhir di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara pada tahun 2009 dengan predikat cumlaude. Ibu dari dua orang anak ini lahir di Tanah Sumatera, tepatnya di Rao-Rao, pada bulan Januari 1987. Ia penikmat sastra, meski karya-karya yang lahir dari imajinasinya masih berupa karya amatir yang masih perlu banyak belajar dan berbenah.

Lihat Juga

Pesona Selfie dan Hati