Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mentari yang Redup

Mentari yang Redup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: ketike.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: ketike.deviantart.com)

dakwatuna.com Telah lama badan merasa sakit diterpa musibah. Ujian tak henti menerkam ketenangan. Cobaan silih berganti merasuki kedamaian. Gunung meletus menyemburkan lahar panas pengancam nyawa. Gelombang banjir menerpa dengan arus hebatnya. Tanah longsor merenggut banyak harta dan menjangkitkan penyakit. Gempa bumi mengguncang jiwa dan melekatkan rasa takut yang amat besar.

Mentari kebahagiaan di dalam hati seolah redup berganti awan kesedihan dan ketakutan yang pekat dan gelap. Tinggallah tanya, “Kapan semua ini akan berhenti?”

Musibah tak kan menimpa, kecuali Allah mengizinkan. Ujian adalah ajang perubahan dan akselerasi. Cobaan adalah wahana menguji ketegaran, kekokohan, dan keimanan. Allah tak pernah bermaksud untuk berbuat zhalim pada seorang pun. Allah bahkan mengharamkan kezhaliman pada diri-Nya, kemudian mengharamkannya di antara manusia.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah menerangkan tentang dirinya. Dari Rasulullah, Abu Dzar meriwayatkan; Allah berkata, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman pada diri-Ku. Aku pun mengharamkannya (kezhaliman itu) di antara kamu. Maka janganlah kamu saling menzhalimi.”

Sungguh, tidak ada yang lebih mampu berbuat zhalim selain Allah. Dia pemilik bumi, langit, dan semua yang ada di antara keduanya. Dia pula yang Maha Pengatur. Kekuasaan-Nya meliputi segala. Maha Suci Allah yang telah terang mengemukakan, “Aku telah mengharamkan kezhaliman pada diri-Ku.”

Manusia mana yang berani menjalankan sesuatu yang telah Allah haramkan, sedangkan di baliknya sudah ditetapkan azab yang besar? Mungkinkah kita ini tergolong?

Wahai saudaraku…, sungguh, musibah, ujian, dan cobaan yang terasa sulit dan berat ini adalah peringatan. Ada azab yang lebih pedih dibanding semua ini. Allah mampu menurunkannya. Tapi, Allah masih memberi kita waktu untuk bertaubat. Untuk kembali pada-Nya.

Mentari itu Allah yang mempergilirkan. Di tempat kita bisa saja redup, dan di tempat lain amat sangat benderangnya. Allah yang Mahakuasa untuk mengatur kadarnya. Pun di hati kita, miris dan bahagia suasana di dalamnya hanya Allah yang mampu berubah dan membolak-balikkan.

Cara terbaik untuk mengembalikan terangnya mentari itu adalah terus berprasangka baik. Kita harus terus mencari hikmah di balik segala yang terjadi. “Hikmah itu adalah milik setiap muslim yang hilang, di mana pun mereka menemukannya, mereka berhak untuk mengambilnya.” Tak menutup kemungkinan, hati kita baru bisa mendapatkan hikmah itu setelah diterpa oleh badai dan gelombang yang mengancam keselamatan.

Wahai saudaraku…., tidak ada manusia yang kuat menahan azab dan siksa dari Allah.

Kenanglah Kan’an, anak Nabi Nuh as. Saat itu dengan gigihnya Nabi Nuh mengajaknya, “Naiklah anakku, berkumpul bersama kami di bahtera ini. Sungguh, tidak ada yang mampu menyelamatkan diri dari azab Allah.” Namun, lantang ia membangkang, “Tidak! Aku akan berlari menuju gunung yang menyelamatkanku dari luh ini!”

Kini, siapa pun tahu bahwa Kan’an sudah tenggelam bersama kesombongannya.

Qarun, tenggelam ditimbun tanah bersama seluruh hartanya sebab keangkuhannya. Ketika dimintai zakat, ia berdalih, “Adapun hartaku, aku dapati semua itu sebab ilmu dan kemampuan yang ada padaku.”

Firaun, tenggelam di tengah lautan. Mengaku Tuhan, membunuh manusia semena-mena, dan membuat aturan sesukanya. Begitulah kesehariannya, sampai Allah menenggelamkannya. Ketika itu, barulah ia mengaku, “Aku beriman kepada Tuhan-nya Musa (Allah).” Namun, apalah artinya pengakuan taubat di lisan pada saat nyawa sudah hendak bergegas dari badan.

Ketiganya—Kan’an, Qarun, dan Firaun—adalah manusia yang merasai azab setelah membangkang dari peringatan. Bagaimana dengan kita? Adakah kita termasuk orang yang mengikuti semua perintah dan meninggalkan larangan? Atau, jangan-jangan tergolong sama dengan mereka?

Wahai saudaraku…, mari kita lihat kesudahan mereka. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah. Ketaatan pada Allah adalah sumber dari segala ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan. Durhaka pada-Nya adalah akar dari segala kehancuran, mala-petaka, bencana, siksa, azab tak berkesudahan, kerusakan, kebinasaan, dan penderitaan.

Menutup tulisan ini, biarlah syair Abud Darda’ mewakili isi hati kita;

“Ya Allah,

Kau uji aku dengan kesenangan,

Lalu aku sanggup bersyukur.

Itu lebih aku sukai,

Daripada Kau uji aku dengan penderitaan,

Sehingga aku harus bersabar.”

Kita adalah manusia yang lemah, tak berdaya. Kita hanya sanggup meratap ketika Allah sudah menentukan keputusan-Nya. Maka, janganlah kita menunggu sampai Allah menetapkan azab terus menerus melanda kita.

Seruan ini adalah panggilan untuk kembali pada Allah. Bersama dalam barisan, seperti bangunan yang kokoh, kita kembali pada Allah. Memohonkan kembalinya mentari yang menyemburkan sinaran terang.

Wallahul musta’aan…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Sabarkan Hatimu