Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jalan Kehidupan

Jalan Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Mengapa kita terjatuh di jalan yang datar, sementara di jalan terjal berliku kita selamat sampai tujuan? Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah karena kita kurang waspada, terlena ketika berada di zona aman dan nyaman. Begitupun kehidupan, karenanya janganlah terlena oleh keindahan dan kenyamanan dunia.

***

Seorang laki-laki terisak memprihatinkan setiap kali ia mengingat istri dan anak-anaknya. Bukan hanya malu, tapi mereka juga harus menanggung beban hidup yang tidak ringan. Kenikmatan dan kemewahan hidup yang mereka nikmati selama ini tiada lagi, bahkan untuk makan sekadar bertahan hidup saja mereka harus berjuang sendiri. Tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya menyesali semuanya dari balik jeruji tahanan. Karir yang ia bangun dengan segala perjuangan dan pengorbanan, runtuh oleh tangannya sendiri. Ketika orang-orang mengutuk korupsi, ia justru menikmati. Kesadaran datang hanya berselang detik dengan penyesalan.

Seorang wanita muda tergugu pilu ketika menyadari bahwa laki-laki yang ia cintai telah pergi meninggalkannya. Bukan karena pihak ketiga, tapi karena ia tak bisa menempatkan sang suami pada posisi yang semestinya. Apapun yang dilakukan, ia salahkan, ia rendahkan. Terpilih dari sekian wanita yang ingin menjadi pendamping, membuat ia terlena, mengira bahwa sang laki-laki tak akan mungkin meninggalkannya. Terlebih ada utang budi di antara mereka. Unggul di banyak hal membuat ia terlupa bahwa meski laki-laki cenderung menggunakan logika, tapi ia juga mempunyai rasa.

Seorang siswa nyaris pingsan di hadapan teman-temannya ketika mendapati kata tidak lulus atas nama dirinya. Sulit dipercaya, peringkat sepuluh besar yang tak pernah lepas dari namanya ternyata bukan jaminan untuk ia mendapatkan kelulusan. Kepercayaan diri yang berlebihan mengabaikannya untuk belajar. Ada yang terlewat darinya yaitu bahwa salah satu sifat yang melekat pada manusia adalah lupa. Meski sebenarnya ujian sekolah hanya mengulang apa yang sudah pernah diajarkan, belajar harus tetap dilakukan karena otak kita butuh penyegaran.

***

Pengalaman adalah guru yang berharga dalam kehidupan. Seseorang semestinya tidak perlu jatuh dua kali di lubang yang sama. Kita harus bisa mengambil pelajaran dari sebuah kegagalan untuk meraih keberhasilan. Namun bukan sebuah ketentuan bahwa keberhasilan harus diawali dengan kegagalan. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, bahkan kita bisa mengantisipasi kegagalan sebelum melakukan. Jangan pula lupakan bahwa bagian terpenting – dan juga tersulit – dari sebuah pencapaian adalah mempertahankan.

Jangan terpesona, jangan terlena oleh keindahan dan kenyamanan dunia. Tetap pertahankan kehati-hatian dan juga kewaspadaan dalam melangkah. Hati-hati bukanlah ragu-ragu, pun waspada bukanlah berburuk sangka. Bagaimanapun harus diingat bahwa ujian bukan saja ketika kita menderita, ditimpa masalah, tapi ujian juga ketika kita berbahagia. Perlu diwaspadai ketika kita merasa bahwa hidup kita tak ada masalah, sebab boleh jadi itulah masalah yang sebenarnya.

Berhati-hatilah, bukan saja saat berada di jalan terjal berliku, tapi di jalan yang datarpun harus tetap waspada, jangan sampai tersandung, terpeleset dan terjatuh justru oleh batu, pasir dan kerikil yang kecil.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah