Home / Narasi Islam / Sosial / Budaya Ghibah

Budaya Ghibah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dari Sufyan bin Abdullah RA, ia berkata. “saya berkata,” wahai Rasulullah, katakana kepadaku sesuatu yang bisa kujadikan pegangan. Beliau menjawab, katakana bahwa Tuhanku adalah Allah lalu istiqamahlah. Saya berkata, wahai Rasulullah apa yang paling engkau khawatirkan atas diriku? “Rasulullah menunjuk mulutnya sendiri dan berkata, ‘ini’. (HR. Muslim)

Kebiasaan sering membawa kita ke dalam posisi tidak peka terhadap sesuatu yang kita lakukan, apakah itu baik atau buruk atau bahkan sudah melanggar ketentuan Allah SWT. Kondisi inilah yang sedang kita alami, dan itu mencakup lintas generasi.

Kebiasaan itu adalah ghibah (menggunjing saudara kita), di era ini kita dididik untuk selalu mengghibah saudara kita melalui program-program yang disuguhkan stasiun televisi. Jikalau kita perhatikan dari program televisi maka suguhan yang diberikan kepada kita adalah penggunjingan terhadap saudara kita dan itu lintas waktu. Maka kitapun terbiasa dengan itu, dan indikasinya adalah, ghibah menjadi tradisi yang biasa saja. Di mana ada perkumpulan maka jamuan utamanya adalah ghibah, seakan-akan perbuatan tersebut bukan merupakan yang dilarang dan dimurkai Allah.

Satu sisi, program televisi berhasil mengubah pola pikir kita tentang ghibah, akan tetapi di sisi lain kita terbiasa berbuat dosa dengan melakukan ghibah tetapi bukan seperti dosa, hanya seperti kebiasaan yang dibolehkan.

Padahal di dalam Islam, Allah sangat murka dengan perbuatan ghibah dan itu dicantumkan dalam surat al-Hujurat ayat 12, bahwa perumpamaan orang yang berbuat ghibah adalah seperti orang yang memakan bangkai daging saudaranya.

Di dalam hadits nabi, salah satu yang menyebabkan kita masuk neraka adalah lisan kita.

Ghibah yang kita lakukan menjadi sebuah tradisi yang seakan-akan itu bukan dosa, padahal di zaman para sahabat dahulu, meninggalkan hal yang sunnah saja seakan meninggalkan perkara yang wajib dan itu menimbulkan kecemasan yang mendalam pada diri sahabat. Sangat berbanding terbalik dengan kondisi kita, keburukan yang sudah menjadi tradisi seakan bukan dosa lagi.

Semua ini menjadi bahan renungan kepada kita semua, bahwa kita perlu waspada terhadap kebiasaan yang kita lakukan, apakah kebiasaan itu masih dalam koridor yang diperbolehkan atau malah sudah menyalahi aturan Allah. Dan ini juga bagian dari introspeksi untuk diri kita, bahwa selayaknya seorang muslim itu selalu dalam kebiasaan yang mengandung ibadah kepada Allah.

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 6,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Ma'had Ali An-Nuaimy Jakarta angkatan ke3. Guru bahasa Arab di Pondok Pesanteren Khalid bin Walid Rokan Hulu Riau.

Lihat Juga

pernikahan sejenis

Pernikahan Sejenis Melanggar Nilai-Nilai Pancasila dan Budaya

Organization