Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memperbesar Kapasitas Kebaikan Kita

Memperbesar Kapasitas Kebaikan Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: ictmashinanikenya.org)
Ilustrasi. (Foto: ictmashinanikenya.org)

dakwatuna.com ”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 265)

Apa yang kita punya, itu adalah kapasitas untuk berbuat baik. Tubuh kita. Panca indera kita. Adalah peluang untuk berbuat baik. Mata yang kita miliki adalah pintu untuk memahami pesan-pesan dan kehendak Allah. Begitu banyak bertebaran di hadapan kita yang dapat direkam mata. Lalu ditransfer ke otak. Kemudian direnungkan olah hati dan pikiran kita. Maka jadikan perenungan itu jalan mencapai pemahaman tentang kebesaran Allah dan keagungan perbuatan-Nya. Juga luasnya ilmu-Nya. Juga besarnya kasih sayang-Nya. Lalu kita pun bersyukur atas segala karunia itu.

Tidak semua orang bisa menikmatinya. Karena Allah memang menciptakan kita dengan berbeda kondisi dan keadaan. Maka luluh pulalah perasaan kita. Melahirkan empati kepada orang-orang yang Allah sayangi dengan kekurangsempurnaan wujud fisiknya. Bukan karena Allah tidak mampu mencipta semua dengan lengkap sempurna. Bukan pula Ia tidak bisa berlaku adil memberi penciptaan yang sama kepada setiap makhluk-Nya tanpa dibeda-bedakan. Semua itu adalah bentuk kemahakuasaan Allah untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki.

Semua perbedaan itu adalah ujian bagi kita. Untuk bisa bersabar atas kekurangan dan keterbatasan. Juga ujian bagi yang lain untuk bisa bersyukur atas kelengkapan jasmani. Semua terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya. Allah Ta’ala berfirman, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Telinga yang kita punyai, adalah jalan untuk meraih kebaikan dan bisa berbuat baik dengannya. Untuk dapat menangkap isyarat kekuasaan-Nya. Untuk memahami kebesaran-Nya. Lalu mengagungkan-Nya. Untuk mau mendengar perintah-Nya. Lalu taat kepada-Nya. ”Dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (QS. Al-Baqarah: 285). Jangan seperti orang yang digambarkan Allah dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

Begitu pula hidung kita yang dengannya kita bisa bernafas. Juga mencium bau-bauan sehingga bisa membedakan mana yang harum dan mana yang busuk. Dengan penciuman kita bisa membedakan apa yang aman dan apa yang berbahaya. Dengannya pula kita bisa menikmati hidangan dan makanan aneka macam dengan aroma yang masuk melalui saraf penciuman kita.

Dengannya kita pun bersyukur, karena Allah memberi kita karunia yang tidak terhingga. Hidung, selain memperindah penampilan dan mempermanis wajah, juga begitu besar perannya dalam membantu kita melangsungkan hidup. Maka indera penciuman itu adalah kapasitas kita untuk bersyukur kepada Allah. Dengan hidung pula kita belajar bersabar ketika suatu saat ia tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Mungkin karena flu. Atau sebab yang lain. Maka inilah kesempatan kita bersabar dan berserah diri kepada-Nya. Dan itu pun menjadi kebaikan bagi kita.

Begitu pula dengan kaki dan tangan kita. Dengannya kita mampu melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan. Juga menjalankan peran hidup pada profesi kita masing-masing. Juga melakukan perjalanan dalam rangka mencari ilmu, mencari rizki, maupun sekadar rihlah meluruhkan penat dan ketegangan selepas kesibukan. Baik perjalanan yang kita lakukan di daratan maupun di lautan. Dari perjalanan itu pun kita mendapatkan banyak pelajaran dan kebijaksanaan hidup. Bahwa, Allah telah merancang dan mengatur alam semesta ini dengan teramat rapi dan teliti. Tidak ada yang terluput dari pengaturan-Nya. Tidak ada yang terlewat dari pengawasan-Nya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191). Allah juga berfirman, Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS. Asy-Syura: 33).

Apa yang kita punya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Potensi yang kita miliki. Bakat dan kemampuan yang kita punyai. Keahlian yang kita kuasai. Semua itu adalah potensi untuk berbuat baik. Kepada sesama manusia. Kepada lingkungan kita. Kepada bumi yang kita pijak dengan tanah dan tumbuhannya, dengan sungai dan lautannya, dengan hutan dan pepohonannya. Kepada masyarakat tempat kita membangun kebersamaan. Kepada negeri tempat kita menata harmoni dan peradabannya.

Apa yang kita punya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Pekerjaan kita. Lapangan usaha kita. Profesi kita. Semua itu adalah lahan bagi kita untuk bertanam kebaikan dan menyemai amal saleh. Dengannya kita bisa berbuat baik. Dengannya kita bisa berbuat banyak untuk meraih pahala akhirat.

Apa yang kita punya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Teman-teman kita. Komunitas yang kita bangun. Kerjasama yang kita galang. Adalah kesempatan untuk menambah kebaikan kita. Kebaikan kepada sesama. Dan berbuat baik bersama-sama.

Kehidupan yang kita lalui, adalah juga kapasitas dan peluang untuk menambah nilai kebaikan kita. Pagi dan sorenya. Siang dan malamnya. Hujan dan panasnya. Dingin dan teriknya. Kenyang dan laparnya. Sehat dan sakitnya. Sunyi dan ramainya. Adalah kesempatan untuk menambah pundi-pundi kebaikan kita. Besar maupun kecil. Banyak maupun sedikit. Membahana maupun tak diacuhkan orang. Semua keadaan itu sesungguhnya merupakan rangkaian peluang demi peluang untuk melakukan kebaikan.

Apa yang kita punya adalah kapasitas yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Bahkan dalam kadar yang minimal sekalipun. Tidak perlu menunggu hingga kita benar-benar kaya untuk berinfak. Tidak pula harus menunggu sampai jadi seorang ustadz untuk mengajak orang lain kepada keshalihan. Tidak perlu menunggu jadi tokoh untuk membuat kebiasaan baik di lingkungan kita. Apa yang kita punya adalah kapasitas yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Mengapa tidak kita optimalkan untuk memperbanyak kebaikan dan amal shalih?

Apa yang kita punya adalah kapasitas yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Oleh karena itu, segala tambahan kebaikan yang kita terima adalah kesempatan untuk menambah kebaikan yang bisa kita lakukan. Menambah kebaikan yang bisa kita berikan kepada orang lain, lingkungan, dan kepada kehidupan kita.

Pertambahan usia adalah tambahan kapasitas untuk semakin memperbanyak kebaikan. Menambah rasa syukur bahwa Allah memberi kita kesempatan untuk menghirup udara dunia. Menambah rasa takut dan harap kepada-Nya sehingga semakin berhati-hati menjalani sisa umur kita. Semakin bersemangat untuk memperbanyak meluangkan waktu bersama Allah. Karena kita tidak tahu pada detik yang mana jarum jam kehidupan kita berhenti. Dan tak beranjak lagi walau hanya pada satu detik berikutnya.

Bertambahnya anak adalah tambahan kesempatan untuk memperbanyak kebaikan kita. Kesempatan yang lebih banyak untuk mendidik dan mencetak kader dakwah dan aktivis keshalihan. Juga peluang yang lebih banyak untuk nafkah yang kita berikan kepada mereka. Juga, tentu, semakin membuat kita memperbaiki sikap dan perilaku karena semakin bertambah orang yang akan sangat mengenal kita dan akan meniru keteladanan kita.

Kenaikan pangkat dan posisi kepemimpinan adalah tambahan kesempatan untuk memperluas jangkauan kebaikan kita. Memperbesar skala kebaikan yang bisa kita wujudkan. Memperluas jaringan keshalihan yang bisa kita rajut. Untuk semakin mendekatnya keberkahan Allah bagi masyarakat kita.

Tambahan harta, itu adalah tambahan kapasitas untuk bisa berbuat kebaikan lebih banyak. Semakin banyak dana yang bisa kita lokasikan pada pos-pos kebaikan. Semakin banyak sedekah dan santunan yang bisa kita berikan. Semakin banyak proyek kebajikan yang bisa kita jalankan. Semakin banyak gagasan-gagasan kebaikan yang dapat diwujudkan. Semakin banyak jalur-jalur kebaikan yang bisa kita kembangkan. Inilah makna kehidupan yang berkah. Kehidupan yang ditandai dengan semakin bertambahnya kebaikan yang bisa kita raih dan kita wujudkan.

Apa pun yang kita punya, sejatinya adalah kapasitas untuk berbuat kebaikan. Maka, ketika kita berkeinginan menambah kepemilikan kita atas berbagai sarana hidup, niatkanlah ia untuk menambah kapasitas kebaikan kita. Tambahkanlah alasan itu pada setiap keinginan dan rencana kita untuk memiliki tambahan itu. Niatkan ia sebagai jalan untuk menambah kemampuan kita dalam berbuat baik. Bukan semata menikmati hidup. Apalagi mengikuti gaya hidup. Karena jika itu yang terjadi, betapa sayang. Kenikmatan yang kita rasakan di dunia bukan menjadi jalan untuk bisa mengecap nikmatnya kehidupan akhirat.

Maka, perbuatlah kebaikan lebih banyak seiring bertambahnya kapasitas kita. Dalam segala hal. Agar ia menambah amal kebajikan kita. Agar ia semakin memperbanyak pahala kita. Di sisi Allah ’Azza wa jalla. Karena semua tambahan karunia itu akan diminta pertanggungjawabannya di hari pengadilan kelak. Ketika Allah mempertanyakan tentang apa yang kita miliki. Ketika Allah mempertanyakan tentang apa yang kita nikmati di sini. ”Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan itu.” (QS. At-Takaatsur: 8). Wallahu a’lam bish-shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

Ilustrasi. (wantyoucity.com)

Berpikir dan Berjiwa Besar

Organization