Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ilmuwan-ilmuwan yang Terbenam

Ilmuwan-ilmuwan yang Terbenam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Mendung musim hujan menutup sinar cerah matahari sepanjang hari. Kapankah mendung itu akan membuka dirinya? Untuk mengizinkan sinar matahari mencerahi bumi. Mungkin itulah gambaran unik tentang negeri ini, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak ilmuwan-ilmuwan hebat begitu bersinar di negeri seberang, ilmu mereka begitu gemilang menerang. Sementara mereka tak terlihat tertutup awan di negeri sendiri.

Pun begitu pula yang ada di dalam negeri ini, anak-anak mudanya penuh potensi. Hal sederhana yang dapat kita amati adalah perbedaan persepsi terhadap tujuan pendidikan di negeri ini. Apa yang menjadi orientasi anak-anak muda yang memiliki nilai tinggi? Gaji dan profesi yang menjamin masa depan. Banyak ditemui anak-anak muda memilih jurusan di perguruan tinggi yang menjanjikan keterjaminan profesi setelah mereka lulus kuliah. Bahkan terkadang rela mengorbankan jurusan yang disenangi. Mungkin anak-anak rajin semacam itu akan mampu saja melewati masa studi, akan tetapi selamanya tidak akan pernah tahu apakah potensinya itu maksimal sekali.

Pertama adalah kembalinya niat dalam mencari ilmu bukan mencari profesi. Akan sangat indah ketika melakukan pekerjaan termasuk belajar hal yang amat disenangi. Potensi manusia terkadang datang dengan tanda senang terhadap sesuatu. Seorang atlet peraih medali emas hampir dipastikan menyenangi cabang olah raganya. Bahkan apabila tidak dilombakan sekalipun, akan menjadi hobi untuk dilakukan secara rutin.

Kesadaran lingkungan, termasuk orang tua, tetangga dan masyarakat untuk tidak perlu memberikan tuntutan kepada anak-anak muda untuk memilih meninggalkan kesenangannya demi meraih pekerjaan kelak di masa depan. Karena menuntut ilmu dan meraih pekerjaan memiliki domain yang berbeda.

Penghargaan yang adil untuk setiap prestasi sesuai dengan bidang masing-masing anak. Sudah menjadi klaim oleh sebagian besar orang bahwa anak-anak yang pintar matematika, fisika digolongkan anak pandai dan cerdas sementara anak-anak yang berada di jurusan sosial di nomor duakan dalam strata kecerdasan. Padahal bakat dan kecerdasan tidak demikian. Setiap anak lahir spesial dengan kecerdasan bawaan yang dimiliki masing-masing, tugas kita adalah membantu menggali dan mengembangkan semaksimal mungkin.

Mungkin dengan begitu, lahirnya ilmuwan-ilmuwan baru menjadi lebih cepat, karena tidak adanya awan penghalang sinar matahari yang akan mencerahkan dunia keilmuan di negeri ini. Anak-anak akan jarang ditemui yang frustasi karena kesulitan menyelesaikan studi yang bukan merupakan bakat dan kesenangannya. Perlahan semua siswa akan menikmati masa-masa mereka menuntut ilmu, tanpa ada tuntutan dan tanpa adanya beban moral.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hari Anggit Cahyo W
Mahasiswa Magister Pengajaran Fisika ITB, Aktif di KAMIL Pascasarjana ITB,

Lihat Juga

Jamie Edwards, ahli fusi nuklir termuda di dunia - Foto: liputan6.com

Jenius, Bocah 13 Tahun Bangun Reaktor Nuklir