Home / Pemuda / Cerpen / Hijab untuk Siapa?

Hijab untuk Siapa?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: fb.com/DakwahMuslimah)
Ilustrasi. (Foto: fb.com/DakwahMuslimah)

dakwatuna.com “Rin, kamu kenapa sih pake kerudung?” tanya Mimi tiba-tiba, seperti memecah keramaian kampus sekalipun yang mendengar hanya diriku seorang.

“Eh? Lah kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?” aku kaget sambil tertawa kecil. Sahabatku ini rupanya mulai penasaran. Mungkin ini celah yang Allah berikan padaku agar aku bisa mulai berdakwah padanya.

“Habis kan ada yang pakai kerudung ada yang nggak. Udah tau Jogja lagi panas-panasnya begini, kamu masih aja tahan pakai kerudung dan baju tertutup. Aku aja yang nggak pakai udah gerah[1] banget, apalagi kamu coba yang ditutup-tutupin…”

“Siapa bilang aku pakai kerudung terus jadi gerah? Biasa aja kali Mi… Paling sekarang derajat gerahku sama gerahmu sama aja, nggak ada bedanya…”jawabku sambil memasang muka menggoda Mimi. Akhir-akhir ini memang cuaca Jogja sedang panas-panasnya.

“Bohong ah Rin, masa sama? Nggak mungkin…” Mimi tak percaya. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.

“Beneran pengen tahu nih, kenapa meski sepanas ini aku tetap pakai kerudung?” aku tambah iseng menggoda Mimi.

“Iya Airin….beneran…” wajah Mimi terlihat kesal.

“Hehehe, oke Mi. Jadi…Aku pakai kerudung dan baju tertutup lengkap bahkan sampai pakai kaos kaki segala adalah karena…ini perintah Allah untuk selalu menutup aurat, begitu Mimi sayang!” kataku.

Mimi terdiam sejenak. “Rin, kalau kata Allah, apa berarti setiap perempuan yang beragama Islam harus memakainya untuk menutup aurat?” tanya Mimi.

“Nah, siiiip. You’ve got the point! Itu dia, karena ini perintah Allah, maka semua muslimah harus memakainya. Muslimah itu ya tentu saja semua perempuan yang beragama Islam! Termasuk aku dan kamu,” kataku berseri-seri. Aku mulai melihat celah bahwa Mimi sedang berpikir lebih dalam.

“Tapi Rin, Mamaku nggak pakai kerudung, keluarga besarku juga nggak semuanya pakai kerudung, bahkan teman-teman kita dan mungkin masih banyak perempuan lainnya yang nggak menutup aurat. Apa menutup aurat itu bukan pilihan Rin?”

“Mi, kalau Allah bilang perintah menutup aurat adalah wajib. Maka itu namanya bukan pilihan Mi. Kita nggak punya hak untuk memilih antara melakukannya atau meninggalkannya. Mutlak bahwa itu harus,” aku menjelaskan pelan-pelan. Masalah seperti ini tidak boleh disampaikan dengan cara menggurui, apalagi seolah-olah kitalah yang paling benar. “Seperti perintah shalat. Allah bilang shalat itu wajib. Makanya semua muslim harus menunaikannya.”

“Kalau wajib, kenapa masih banyak juga yang nggak menutup aurat, Mi? Kenapa nggak sedari kecil kita diajari begitu? Bahkan pelajaran agama di sekolah pun nggak membahas tentang aurat. Kami dulu hanya diajarkan tentang shalat, zakat, bahkan mungkin pembagian waris yang sebenarnya terlalu detil padahal penerapannya tidak sesering keharusan menutup aurat?” Mimi bertambah kritis. Aku kembali memutar otak agar menemukan jawaban yang baik untuk menjawab pertanyaannya.

“Karena masih banyak yang belum paham, Mi,” aku terdiam sebentar, menata kata-kata yang bermunculan di kepalaku, “Masih banyak yang belum paham itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada yang belum tahu dan memang belum mencari tahu, tapi ada juga yang sudah tahu tapi menyepelekan. Karena paham dan tahu adalah dua hal yang berbeda. Masih sedikit orang Islam yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir mendalam.”

“Mmm…maksud berpikir mendalam itu gimana?” Mimi bertanya.

“Jadi gini Mi. Misalnya ada orang yang belum tahu tentang kewajiban menutup aurat. Kemudian dia nggak cari tahu, nggak belajar Islam dengan baik akhirnya nggak dapat ilmunya juga kan? Padahal kewajiban menuntut ilmu itu nggak cuma ilmu dunia saja. Ilmu agama juga penting banget, apalagi diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.”

“Kalau nggak kepikiran buat menuntut ilmu bagian menutup auratnya Rin? Misalnya dia udah belajar agama dengan baik tapi masalah ibadah kayak shalat, baca Quran, zakat, puasa kayak gitu gimana?”

“Berpikir mendalam itu kaitannya juga dengan kehidupan sekitar Mi. Harusnya kita berpikir kritis ketika melihat di sekitar kita ada orang yang menutup aurat dan ada yang nggak. Kenapa bisa begitu? Harusnya di hati kecil kita terbesit rasa ingin tahu dan sejak saat itu rasa penasaran membawa kita pada kemauan mencari tahu yang tinggi. Dan ketika tahu bahwa menutup aurat wajib, misalnya, harusnya yang kita lakukan segera adalah menerapkan ilmu tadi pada kehidupan kita. Apalagi contohnya tadi menutup aurat yang sifatnya wajib. Wajib itu bukan perkara aku mau dan aku tidak mau. Itu nanti jatuhnya jadi masalah nafsu manusia yang mudah digoda setan. Wajib itu perkara kita diperintahkan untuk harus melakukan. Kalau masalah aku mau dan tidak mau nanti jadinya nyambung ke aku mau surga dan aku tidak mau surga. Nah lho, dampaknya malah jauh banget!” kataku dengan hati-hati. Aku takut kalau kata-kataku malah ada yang menyinggung perasaannya. “Nah, bagus kamu tadi udah mau tanya tentang kerudung. Itu namanya kamu sudah kritis dan mau menggunakan akalmu untuk berpikir mendalam. Aku doakan biar kamu segera menerapkan ya cantik…” lanjutku.

“Tapi Mimi belum pede Rin kalau mau pakai kerudung dan baju panjang kayak kamu. Orang nanti bilang apa, Mama Papa juga belum tentu setuju.”

“Mi, kamu pikirin dulu supaya semakin mantap. Berdoa semoga dimantapkan, berdoa agar Allah membulatkan niatmu dan membuatmu berani untuk menerapkannya. Insya Allah dimudahkan, Mi…”

“Gitu ya Rin? Airin nanti bantu Mimi ya kalau sudah yakin…” Aku mengangguk pelan, mengiyakan.

***

Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu. Tidak ada perubahan pada Mimi. Entah apa yang sekarang sedang ia pikirkan. Yang jelas aku tidak berani menanyakannya. Aku ingin membiarkan ia benar-benar memikirkannya sendiri sampai kemantapan itu hadir dalam dirinya, bukan karena suruhan, apalagi paksaan. Mimi adalah teman yang cerdas, aku tahu itu. Kalau satu minggu masih tidak ada perubahan, baru aku akan menanyakannya, tekadku.

***

Tapi ternyata satu minggu berlalu pun tak ada perubahan pada diri Mimi. Mimi masih dengan setelan jeans dan kaos berkerah atau kemeja lengan pendeknya ketika kuliah. Setidaknya hubungan kami tidak merenggang, itu yang sangat aku syukuri. Sejujurnya aku takut percakapan kami minggu lalu membuatnya menjauhiku.

“Mi, ke kantin yuk! Aku lapar belum sarapan hari ini,” ajakku.

“Ayo Riiiin! Sehati banget kita. Aku juga belum makan apapun hari ini. Sampai tadi aku hamper puasa kalau nggak ingat tadi pagi habis bangun tidur aku langsung minum air, hehehe…” Aku senang mendengar renyah tawanya. Mimi ceria seperti biasa. Kami pun segera beranjak ke kantin fakultas.

“Airin, aku…bingung…” katanya tiba-tiba. Tentu saja aku kaget, tapi aku tidak menyangka bahwa ia akan memulai duluan.

“Kenapa Mi? Cerita dong…” pancingku.

“Yang waktu itu lho Rin, yang kita cerita-cerita tentang menutup aurat. Eh sebenarnya yang aku nanya-nanya sih ya, hehehe…” tawanya kembali menghiasi wajahnya walau sejenak. “Waktu Mama telepon aku cerita-cerita ke Mama. Terus aku nggak boleh pakai kerudung dan baju-baju panjang gitu…”

“Mmmm, alasannya?” tanyaku penuh selidik.

“Mama bilang baju-baju kayak gitu nanti malah membatasi aku dalam kegiatan kuliah dan organisasi. Bahkan Mama sampai bilang nanti susah dapat kerja dan dapat jodoh. Aku bingung harus bilang gimana sama Mama Rin….”

“Kamu sendiri yakin nggak kalau yang Mamamu bilang itu benar?”

“Aku nggak yakin sih Rin. Mungkin memang nanti aku jadi nggak bisa petakilan atau banyak gerak kayak sebelumnya. Tapi aku pikir itu bagus, sekalian biar cewek dikit akunya, hehe…”

“Yang alasan lainnya gimana? Yang katanya nanti kegiatan kuliah sama organisasi jadi terbatas, kerja dan jodoh juga,” cecarku.

“Kalau kuliah sama organisasi kayaknya nggak deh. Buktinya aku lihat kamu masih aktif-aktif aja di kampus tanpa ada yang melarang-larang kamu aktif gara-gara pakaianmu. Tapi kalau kerja dan jodoh…aku agak ragu sih sebenarnya…”

Pesanan kami datang, tapi perbincangan ini rasanya tak bisa dijeda. Mimi pun tidak lantas menyentuh makanannya seperti biasa.

“Ragunya gimana Mi?”

“Misalnya gini lho Rin, kalau lowongan pekerjaan kan biasanya tulisannya dicari yang berpenampilan menarik. Nah, apa dengan menutup aurat aku jadi menarik? Jodoh juga, apa laki-laki tertarik pada perempuan yang keindahannya justru ditutup-tutupi, Rin?”

Aku terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Mimi barusan. “Mi, banyak kok lapangan pekerjaan yang tidak mensyaratkan penampilan. Jangan mau jadi perempuan yang dinilai karena penampilan. Lebih baik kita dipilih karena kita memang berkompeten pada suatu bidang, karena ilmu kita. Apalagi Allah menilai seseorang dari kemuliaan akhlaknya. Fisik itu tidak ada artinya kalau pribadinya buruk!” kataku meyakinkan. “Kemudian kalau masalah jodoh…gini deh logikanya Mi, kalau seorang laki-laki memilih istri seorang perempuan yang tidak menutup aurat, itu artinya ia memilih seorang perempuan yang tidak menaati perintah Tuhannya. Nah, logikanya kalau sama Allah saja dia nggak mau taat, apalagi sama suaminya Mi?” tanyaku retoris.

Mimi mengangguk-angguk. Aku lihat binar matanya mulai cerah dan semakin yakin. “Aku suka jawabanmu yang kedua Mi. Iya ya, kalau sama Allah saja nggak mau taat, bagaimana nanti sama suaminya?”

“Nggak usah takut sama jodoh Mi. Perempuan baik tentu akan dapat laki-laki baik yang akan jadi jodohnya, insya Allah.”

“Sekarang aku harus ngomong gimana ya Rin sama Mama. Aku juga pengen Mama ikut sadar kalau menutup aurat itu harus, bahkan wajib…”

“Mmm…gimana kalau kamu ada kesempatan pulang ke rumah, kamu bicarakan baik-baik sama Mamamu. Bilang saja terus terang. Kamu boleh banget kok menceritakan obrolan kita selama ini. Mudah-mudahan Mamamu ikutan kepengen menutup aurat juga, dan bukan karena tren, tapi karena memang itu perintah Allah pada kita.”

“Gitu ya Rin? Kalau gitu…weekend ini insya Allah aku pulang. Oke Rin, aku nanti akan segera bilang. Doain ya Rin!” Binar cerah menghiasi matanya.

“Iya Mi, selalu…” kataku. Aku sayang banget sama temanku yang satu ini. Mana pernah aku berhenti mendoakan kamu agar kamu benar-benar bisa menghijabi dirimu, Mimi?

Suasana kantin terasa lebih lega dari biasanya. Nampaknya sejalan dengan perasaan legaku tahu Mimi akan segera berhijab. Kami pun segera menyantap makanan pesanan kami masing-masing.

***

“Airiiiiiiiiiiiiiin ‼” sebuah teriakan keras memanggil namaku ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke gedung kuliah. Aku reflek menoleh dan kaget.

Aku kaget bukan hanya karena melihat Mimi yang sekarang mengenakan kerudung, tapi juga karena pakaian Mimi dari ujung ke ujung itu…terlalu berlebihan!

“Mimi nih ngagetin, teriak-teriak segala…” sungutku pura-pura marah ketika Mimi menghampiriku.

“Maaf deh maaf…. Rin, hehehe. Mamaku akhirnya ngebolehin aku berhijab, lho! Mama bilang sekarang banyak model berhijab yang tetap mengikuti mode jadi nggak ketinggalan zaman. Jadi tetap stylish deh! Mamaku juga sekarang mulai suka hunting model-model hijabers-hijabers gitu Rin! Katanya lagi model sekarang yang beginian. Gaya kerudung sama baju muslim jadi banyak modifikasinya, makanya Mama mulai tertarik.”

Aku sedikit menahan sesak. Rupanya aku masih kurang memberi tahu Mimi bahwa menutup aurat juga ada ketentuannya, bukan asal tertutupi. Hari ini aku melihat Mimi dengan penampilan berbeda. Kerudung dan baju panjang memang menutupi kepala dan tubuhnya. Tapi lilitan dan tarikan di sana-sini kerudungnya membuat lehernya yang terbalut dalaman kerudung ninjanya terlihat membentuk jenjang lehernya sempurna. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga membuat kepalanya menyerupai punuk unta. Bajunya panjang tapi…masih sedikit menerawang. Bajunya dimasukkan ke dalam jeans ketatnya, membuat lekuk tubuh dari pinggul ke kakinya terlihat saking ketatnya. Belum lagi, aksesoris kalung panjang dan aksesoris yang ‘meramaikan’ kerudungnya.

“Kamu merasa nyaman nggak Mi, pakai baju seperti sekarang ini?” tanyaku sepanjang kami menaiki tangga menuju kelas.

“Aku…mungkin karena baru pertama kali aja Rin masih kurang nyaman. Pakai kerudung begini aja lama banget. Kayaknya ada deh satu jam aku di depan cermin mematut-matut, nyoba-nyobain model kerudung, padu-padan baju. Gitu-gitu deh Rin!”

Beberapa teman yang berapapasan dengan kami menyapa Mimi yang tampil berbeda hari ini. Mimi menanggapinya dengan senyum manisnya sekalipun sapaan teman-teman hanya berupa ledekan.

“Kamu percaya nggak Mi, bahkan untuk orang yang baru pertama kali pakai kerudung dan baju tertutup, dia nggak perlu menghabiskan waktu selama itu untuk memakai baju yang menutupi auratnya. Bahkan 15 menit pun cukup untuk memakai baju dari awal sampai tertutup rapi dengan kerudung dan kaos kaki.”

“Ah, masa sih Rin? Boong aaah…. Kalaupun ada paling juga bajunya nggak terlalu di mix and match, kerudungnya juga nggak kayak model zaman sekarang…”

“Naaah, itu dia poinnya. Bukan masalah mode, tapi memang ternyata ada hal yang lupa aku sampaikan ke kamu. Perintah Allah untuk menutup aurat itu bukan hanya tertutup lalu selesai segala urusan. Ada hal-hal yang harus dipenuhi ketika kita menutup aurat. Mmm…semacam syarat-syarat gitu deh Mi biar aurat itu tertutupi secara sempurna.”

“Misalnya?” tanya Mimi.

“Aku kasih gambaran singkat aja ya Mi, nanti aku pinjemin buku yang membahas aurat wanita dan bagaimana muslimah harus berpakaian deh buat kamu baca. Kalau aku ceritain panjang lebar sampai ke dalil-dalilnya nanti aku kayak ustadzah lagi ceramah, terus nanti kamu bete lagi ngeliatnya…” aku tersenyum lebar memperlihatkan sederetan gigiku.

“Siap Bu Ustadzah Airin yang baik hati,” kata Mimi dengan gaya seperti orang hormat.

“Tuh kan belum apa-apa aja aku udah dibilang ustadzah. Aamiin aja deh,” aku memperlihatkan muka bersungut-sungut untuk menggoda Mimi. “Jadi gini Mi, meskipun kita sudah menutup aurat, pakaian yang kita kenakan tidak boleh ketat sehingga membentuk bentuk tubuh, tidak boleh transparan, tidak boleh mengikuti cara berpakaian lawan jenis, dan tidak boleh berlebihan. Satu lagi, kerudung yang kita gunakan harus menutup dada dan tidak boleh menyerupai punuk unta di kepala. Artinya ikat rambut atau gelungan rambut kita tidak boleh terlalu tinggi sehingga menyerupai punuk unta. Atau misalnya zaman sekarang ditambah-tambahi dalaman kerudung atau ciput bercepol yang sengaja dibuat agar kerudung yang kita kenakan menyerupai punuk unta.”

“Kenapa begitu, Rin?”

“Memang aturannya begitu, Mimi shalihah…. Bahkan hadits yang melarang kerudung menyerupai punuk unta itu mengatakan bahwa pelakunya tidak akan mencium wangi surga. Nah…bagaimana mau masuk, bahkan mencium wanginya saja tidak bisa? Aku memperhatikan raut muka terkejut Mimi. “Begitu juga dengan pakaian yang ketat yang membentuk tubuh atau transparan. Kalau begitu, apa gunanya pakaian yang dikenakan? Bukannya menutupi malah menonjolkan bagian-bagian yang seharusnya ditutupi. Apa bedanya dengan orang yang tidak menutup aurat?”

“Tapi kan setidaknya tertutupi, Rin.” Mimi tampaknya membela diri. Sepertinya ia merasa pakaiannya masih seperti apa yang aku katakan tadi.

“Tertutupi itu bukan hanya setidaknya. Tubuh kita itu ibarat perhiasan kita yang tidak boleh kita pamerkan keindahannya pada orang yang bukan muhrim kita. Kalau hanya kita beri tirai sedikit, orang-orang masih bisa melihat walau samar, menikmati keindahannya padahal bukan haknya. Jangan sampai kita punya dobel dosa Mi, menutup aurat yang tidak sempurna dan membuat orang lain berdosa karena melihat aurat kita. Menutup aurat yang tidak sempurna itu seperti berpakaian tapi telanjang. Ganjarannya? Sama seperti kerudung yang menyerupai punuk unta tadi, tidak mencium wanginya surga. Na’udzubillahimindzalik…”

“Rin, itu serius ada dasarnya?”

“Yeee Si Eneng, masa aku mau ngarang-ngarang nakutin kamu? Ini karena aku sayang kamu Mimi, makanya aku ngomong gini. Kita mau masuk surga sama-sama, kan?” aku tersenyum.

“Airin, aku jadi malu pakai pakaian kayak gini….” Mimi terdiam sebentar. “Eh tapi aku jadi ingat Mama deh Rin. Mama kan tertarik sama model-model hijab sekarang, makanya Mama membolehkan aku berhijab. Dan Mama juga tertarik karena menurutnya model hijab-hijab sekarang itu modis. Nah, apa nggak boleh kita berhijab yang modis dengan tujuan agar orang lain yang belum berhijab tertarik untuk ikut berhijab juga? Kalau begitu kan nanti akan lebih banyak lagi orang yang berhijab…”

“Coba kita inget-ingat lagi Mi, kita menutup aurat, berhijab itu karena apa? Karena siapa?”

“Allah, Rin. Mematuhi perintah Allah, begitu kan kamu bilang dulu?”

“Nah..Sekarang sudah paham, belum?”

“Belum Rin,” Mimi menggeleng pelan.

“Dengan memakai pakaian yang mengikuti mode, berarti menggunakan pakaian dengan mengutamakan fungsinya sebagai tren fashion, bukan penutup aurat, padahal batasan yang Allah tentukan untuk standar menutup aurat itu sudah jelas. Dan ini jelas melenceng karena tujuan mengenakannya saja sudah salah, bukan menunjukkan ketaatan pada Allah. Kedua, orang yang melihat pakaian kita, sesuatu yang tadi kamu bilang upaya kita mengajak orang lain untuk turut berhijab, jika nanti kemudian mereka berhijab, tentu cara berhijabnya akan mengikuti cara berhijab kita yang salah tadi. Nah lho, dakwah berhijabnya tepat sasaran, tapi salah penerapan. Salah-salah malah jadi dosa jariyah, mengalir terus dosanya selama orang masih ngikutin cara berhijab kita yang salah. Jadi, pilih mana?”

“Yang benar dan sesuai apa yang Allah perintahkan, dooong,” kata Mimi. Wajahnya gembira, seperti puas sudah menemukan jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Memang terlalu banyak modus-modus fashion untuk pemenuhan materi yang disampaikan lewat penerapan perintah Allah yang salah. “Nanti temenin aku beli baju ya Rin, aku mau bisa berhijab sempurna kayak kamu.”

“Siiip, aku juga masih belajar untuk terus memperbaiki diri, kok. Kita sama-sama belajar ya Mi Kalau aku salah, kamu harus ingetin aku juga.” Kataku.

“Oke Bos Airin! Siap!”

Kami pun tertawa bersama. Aku tidak sabar menemani Mimi membeli baju dan menunggu besok melihat penampilan Mimi yang baru dengan hijab syar’inya.

 


Catatan Kaki:

[1] gerah di daerah Jawa Barat diartikan sebagai keadaan panas yang dirasakan seseorang, di Jawa Tengah lebih sering diartikan sakit. Dalam cerpen ini konteks gerah yang dipakai adalah gerah yang diartikan sebagai sebagai keadaan panas yang dirasakan seseorang.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (45 votes, average: 8,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fitri Hasanah Amhar
Tergabung di Forum Lingkar Pena wilayah Yogyakarta. Staf Media Informasi Islam di Keluarga Muslim Fakultas di kampusnya Bercita-cita menjadi penulis yang dapat menginspirasi sekitarnya dan tidak hanya berkarya untuk kepentingan dunia.
  • Mikasa :ngacir:

    • Nanda Ananta

      wkwkwk, pertama kali liat gua kira juga mikasa :hammers

    • Aisy Farros

      well, same with me. aku pikir juga mikasa. hahahaha…. mikasa nyasar ke indo… tapi, subhanallah, cerpennya bagus. (well, otaku juga? )

  • Donita Maharani

    bagus banget :)

Lihat Juga

Surga untuk Ayah