Home / Pemuda / Essay / Ukhti, Bantu Mereka Menjaga Hati

Ukhti, Bantu Mereka Menjaga Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pheezank.blogspot.com)
Ilustrasi. (pheezank.blogspot.com)

dakwatuna.comAhad yang cerah saat aku mendengarkan ceritanya. Di ujung sana dia menangis, terluka karena binaannya terlibat kasus merah jambu. Tak tanggung-tanggung, kasusnya dengan ikhwan yang tampak keren, seorang qiyadah di sebuah bidang amanah. Ah, kasus lama. Aku sungguh bisa merasakan perihnya. Aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya. Ada marah, ada kecewa, ada benci, bahkan ada keinginan untuk berhenti menjadi pembinanya. Astaghfirullah…

Zaman memang sudah berubah. Dulu ikhwan-ikhwan di sekolahku sungguh menjaga. Ghadhul bashar, jaim –jaga iman, tegas, bertanggung jawab. Kurasa mereka (sesama ikhwan) tercukupi kebutuhan ukhuwahnya sehingga tak merasa perlu untuk tebar pesona, bercanda-canda, apalagi curcol sama akhwat. Tapi kini kita dapati satu dua dari ikhwan-ikhwan keren itu, yang tampak kuat dalam amanah, yang tampak menjaga ibadah, yang memperjuangkan kebenaran, harus kalah pada ujian ketertarikan. Menyedihkan…

Dan pada saat itu selalu saja kita mencari siapa yang patut dipersalahkan. Dan seringkali kita menyalahkan IKHWAN. Ah, mungkin karena kita perempuan. Dengan dalih mereka yang menyatakan perasaannya, bukankah dalam hal cinta perempuan hanya menunggu, jadi mereka yang salah. Atau dengan dalih mereka adalah ikhwan keren, dengan amanah segitu harusnya kafaahnya mumpuni dan mestinya sudah mengerti. Atau dengan makian, ikhwan genit sih, godain akhwat pemula gimana ga tertarik sama ketua. Yaa Allah…

Wahai muslimah, mungkin memang benar mereka tebar pesona, mereka memang yang memulai, mereka memang yang seharusnya memperlakukan kita dengan mulia bukan justru menggoda. Tapi mari sejenak kita lihat ke dalam diri kita. Lebih cermat. Kita mungkin tidak cantik, tapi mengertilah setiap kita punya daya tarik. Maka berhati-hatilah. Kenapa? Karena dalam hal ini kita-lah kuncinya. Dan kita-lah yang sebenarnya perlu dipersalahkan.

Pagi ini aku berhenti di QS An-Nur: 2. Beberapa hari yang lalu aku bertemu QS Al-Maidah: 37. Dan ini menarik. Keduanya memuat syariat tentang sanksi. Yang satu sanksi untuk pencuri, yang satu sanksi untuk pezina. Kita teliti di sana, pada ayat tentang hukuman bagi pencuri Allah sebutkan subjek pencuri laki-laki terlebih dahulu baru pencuri perempuan. Tapi di ayat tentang hukuman bagi pezina Allah sebutkan subjek pezina perempuan terlebih dahulu baru pezina laki-laki. Dalam kitab Tafsir Ahkam, Ash Shabuni menjelaskan ibrah dari hal tersebut adalah pada dasarnya pencurian memang lebih berpotensi dilakukan oleh laki-laki. Allah tau itu, karenanya Allah sebutkan terlebih dulu. Tapi dalam hal zina, ternyata kita, perempuan, adalah yang menjadi kunci. Astaghfirullah…

Ukhti, ternyata kita-lah yang menjadi penentu. Ibarat pintu, kita yang memegang kuncinya. Maka jangan beri mereka celah. Bantu mereka menjaga hati. Aku tahu itu tidak mudah. Perempuan itu mudah jatuh cinta. Tapi seberapapun sulitnya, berusahalah.

Aku sangat ingat nasihat seseorang yang dalam hidup aku memanggilnya papah. Sebelum aku berangkat merantau untuk kuliah, beliau berpesan “anak perempuan itu penentu bagi ayahnya. Jika anak perempuan terjaga kehormatannya hingga dia menikah, maka surga untuk ayah tersebut. Itu sabda Rasul, nduk. Jadilah tiket surga untuk papah. Jaga diri baik-baik, kalau memang Allah sudah memberi jodoh, semester berapapun pasti papah nikahkan. Jangan risau soal kuliah” ah, papah…

Aku juga ingat nasihat salah seorang murabbiyah yang kucintai karena Allah. “Dakwah ini, ukhti, tidak hanya butuh strategi. Tapi juga kedekatan jundinya dengan Allah. Dan kita tak bisa berdekatan dengan Allah bersama kemaksiatan yang dibenci-Nya. Mungkin strategi kita bagus, tapi kemaksiatan kita menghilangkan keberkahannya. Bukankah itu menyedihkan?” ah, mbakku sayang…

Muslimah, tolong bantu mereka menjaga hati. Kalaupun kita tak peduli pada diri kita sendiri, setidaknya lakukan untuk ayah kita. Jangan sampai kita membebaninya di akhirat sana. Sedangkan di dunia kita sudah begitu merepotkannya. Atau lakukan untuk dakwah yang kita cintai. Allah telah begitu baik mempertemukan kita dengan jalan ini. Yang di sini kita bisa mengenal-Nya lebih dekat. Pada siapa lagi kita percayakan dakwah ini jika bukan pada saudara-saudara kita, para ikhwan, yang akan menjadi qiyadah dan mengemban dakwah bersama kita? Lalu apa yang bisa kita harapkan dari mereka jika hal ini tidak segera kita hentikan?

Semoga Allah menjaga kita dan memampukan kita untuk menjaga kehormatan kita. Semoga Allah menjaga saudara-saudara kita dan menguatkannya untuk semakin kokoh di jalan dakwah. Semoga Allah berikan rahmat dan berkah-Nya kepada jalan dakwah ini.

Ya Allah, jadikan aku mencintai mereka dengan benar…

Griya Qur’an, di suatu pagi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (32 votes, average: 9,28 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ineke Farid
Santri tahfizh Griya Quran Depok, di bawah asuhan Ustadz Drs. H.M. Taufik Zoelkifli, M.M.. Sempat menyelesaikan studinya di Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Tidak pandai menulis, tapi cinta menulis. Semoga cinta menemukan jalannya.
  • a’yun

    membaca catatan anty Ukh, ana teringat sebuah hadis yang pernah ana baca. Di sana diterangkan bahwa jika orang tua bisa menjaga dua anak perempuannya hingga menikah, maka surga baginya.
    Dan itu bukan perkara mudah menurut ana. Dua anak perempuan dengan dunia dan impiannya. Syurga begitu mahal tiketnya, tapi itu tak cukup untuk membeli kenikmatannya barang sedetikpun. Dan Allah Maha Pemurah Kasih-Nya

Lihat Juga

Ilustrasi. (freepik.com)

Pesona Selfie dan Hati