Home / Berita / Perjalanan / Backpacker Amatir

Backpacker Amatir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Nabilah Hurin)
(Foto: Nabilah Hurin)

dakwatuna.comIni adalah perjalananku pertama kali, jauh, sendirian dan persiapan yang ala kadarnya hingga tempat menginap pun harus numpang di rumah teman sebagai bentuk penghematan tapi alasanku dengan niat silaturahim. Pengalamanku ke daerah yang terkenal dengan “Jam Gadang” dan penuh dengan rasa deg-deg dan was-was. Aku berangkat ke kota “Jam Gadang” ini dengan tujuan mengikuti seleksi tes masuk Sekolah Guru Indonesia yang dikelola oleh divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang berdomisili di kota Bogor. Pada tanggal 13 Agustus 2012 tes interview akan berlangsung. Namun sebelumnya, pada tanggal 7- 9 Agustus 2012 aku  masih mengurusi Pesantren Kilat di salah satu sekolah swasta di Medan bersama dengan teman-teman yang lain. Tiket bus pun belum sempat dibeli karena padatnya agenda di bulan Ramadhan.

Pada tanggal 10 Agustus, aku pergi membeli tiket untuk ke Padang. Alhamdulillah masih ada bangku kosong dengan harga bus yang terjangkau.  Alhamdulillah juga masih diberikan rezeki untuk berangkat ke Padang. Sepertinya Allah memberikan segala kemudahan dalam menjalani tes di Padang. 7 hari sebelumnya, aku menghubungi teman yang ada di Padang, namanya Zola kuliah di UNAND jurusan Farmasi. Aku menghubunginya untuk memberikan izin menginap satu malam saja di kosnya dan meminta mencarikan tiket pulang ke medan juga, karena ada kekhawatiran tidak dapat tiket pulang berhubungan kurang lebih seminggu lagi sudah lebaran dan anak kuliah yang merantau di padang akan pulang dalam waktu yang sama juga. Aku berkemas-kemas

 

*******************

11 Agustus 2012

Berangkat dari rumah jam 09.00 WIB diantar adik naik motor sampai jalan Setia Budi dan lanjut naik angkot lagi sampai ke Amplas. Pukul 10.00 WIB sampai juga di loketnya NPM. Karena belum pernah naik bus sendirian apalagi jauh dari Medan, jadi agak canggung juga. Orang lain pada sibuk menukarkan tiket berangkatnya di loket tempat membeli tiket. Padahal, aku juga ikutan menukarkan tiket, tapi dengan bahasa Minang mengatakan busnya yang ber-AC dan berangkatnya jam 11.00WIB. Padahal aku mau menukar tiket pada saat dibeli dengan tiket berangkat.  Tolong…tolong, aku tak mengerti bahasa ibu yang mereka pergunakan. Begitu lancarnya mereka sampai-sampai bagaikan air yang mengalir hingga akupun tak mengerti ke mana air itu akan bermuara. Dengan wajah lugu dan senyum yang dipaksakan, seolah memasang wajah yang paham akan apa yang mereka sampaikan. Tapi aku katakan jujur, ketika penumpang lainnya baik Bapak-Bapak ataupun Ibu-Ibu yang mengajakku bicara, aku katakan bahwa aku bukan suku Minangkabau, jadi tidak bisa berbahasa ibu seperti mereka, sehingga mereka pun menggunakan bahasa Indonesia agar dapat berkomunikasi denganku, untuk menanyakan perihal tujuan kepergianku ini.

Dan bus pun datang, semua penumpang menuju bus tersebut. Akupun naik dengan beberapa barang bawaan dan kernet bus memanggil nama penumpang satu-satu untuk di absen, setelah pemanggilan nama selesai sang kernet pun turun untuk konfirmasi tiket berangkat, ternyata ada 3 orang yang dipanggil namanya, salah satunya Farida.

”Coba tunjukkan tiket yang kemarin dibeli sama aku! Kenapa tidak di tukar dulu sebelum berangkat dek?”, sahut sang kernet. “Please deh bang! dari tadi aku ngantri di loket, bukannya dilayani dan ditukarkan karcisku, malahan menginfokan tentang bus…hmmm”, gerutuku dalam hati. Aku sebenarnya males untuk berkata-kata apalagi untuk bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini, karena aku kan tadi sudah konfirmasi untuk menukarkan tiket, tapi bagian operasional busnya entah mengatakan apa, karena aku tak mengerti yang dikatakannya. Dengan muka jutek, aku berikan saja tiketnya dan sekembalinya sang kernet, aku menggerutu dengan teman 1 tempat duduk.

Perjalanan pun berlangsung. Perjalanan ini adalah kali pertama aku ke Padang, jadi aku tak akan sia-siakan untuk melihat pemandangan dan sejenak merenungi perjuanganku sebelum berangkat yang penuh dengan semangat! Akupun tak akan menyia-nyiakan perjalanan ini hanya dengan diam-diam saja, karena akan tersesat dan tidak ada teman dalam perjalanan. Teman satu tempat duduk syukurnya wanita dan ternyata dia adalah juniorku yang kuliah di Pertanian USU, paling tidak mengorek-ngorek mengenai hidupnya dan terutama kehidupan di Padang apalagi perjalanan di Padang. Karena perjalanan jauh, matapun tak kuasa untuk menahan kantuk apalagi dalam keadaan puasa juga pada saat itu. Setelah berada di Barangkinang-Riau, aku menantikan adzan namun tak terdengar suara adzan. Akhirnya akupun menggencarkan sms untuk menanyakan apakah sudah adzan di Medan, paling tidak beda waktu shalat 20 menitlah. Dan sang supir pun menghentikan sejenak perjalanan untuk melaksanakan shalat Maghrib. Aku pun bergegas turun untuk shalat Maghrib dan Isya.

Mataku selalu beroperasi dengan detail, karena tempat yang aku sedang jelajahi ini adalah tempat yang asing, bertemu dengan orang-orang yang asing pula. Kepergianku bisa dikatakan nekat juga karena aku memberitahukan kepada orang tuaku setelah aku fix mendapatkan bus. Aku pikir, kalau belum jelas untuk apa dikabarkan hal yang belum pasti itu. Dan kupikir tidak perlu membuat mereka khawatir akan kepergianku yang kurang lebih 4 atau lima hari ini. Tapi benar pikirku, kapan ku aku minta izin kepada mereka, tetap saja kekhawatiran mereka akan kepergian putri ini membuat hati mereka was-was dan tak tenang. Ya, baru kali ini aku pergi sendirian dan tujuannya juga mengikuti tes yang tempatnya jauh hingga melintasi provinsi dan keluar dari Medan. Wajar saja mereka khawatir, karena biasanya kalaupun jauh aku pergi bersama dengan teman-temanku.

Sms orangtua pun beredar, telepon juga berdering menanyakan kabar, apa yang sudah di makan dan sudah sampai di mana. Ya, sekelumit pertanyaan yang mereka antarkan untukku. Bagaimanapun itulah tanda sayangnya mereka kepadaku.

12 Agustus 2012

(Foto: Nabilah Hurin)
(Foto: Nabilah Hurin)

Pukul 02.00WIB, aku mencari-cari di mana keberadaan bus kami sekarang. Karena teman sebelah tertidur pulas, maka mataku pun lalu lalang ke sana-kemari mencari keberadaan tepatnya kami sekarang.

Aku hanya berkemas dengan barang bawaan seadanya seolah-olah sang Backpacker sejati sedang mengarungi samudera kehidupan yang panjang dan penuh rintangan tapi selalu menarik dan mengasyikkan karena penuh dengan petualangan yang menantang, pesona dan pancaran untuk berbagi itu indah. Backpackeran ala Farida dengan pakaian, makanan dan minuman yang seadanya cukuplah untuk stok makanan dalam perjalanan sebagai bentuk penghematan dan bekal yang bisa di simpan.

Terkadang bus berhenti menghampiri restoran untuk sejenak mengisi lambung yang sudah mulai keriuk-riuk terdengar bunyinya. Tapi, karena sendiri aku tak selera makan, alhamdulillah ada bekal roti dan snack yang bisa menjadi bekal sampai satu harian dalam perjalanan bisa ku pertahankan. Nafsu makanku pun tak bisa ku paksakan karena tak ada teman perjalanan yang bersedia makan juga. Ya teman dudukku pun tak selera untuk mengisi lambungnya.

Aku berlagak memasang wajah dengan penuh rasa tahu dan merasa pernah mengunjungi kota ini. Karena khawatir, jika aku pasang tampang lugu dan tidak tahu takutnya aku menjadi orang yang dibodoh-bodohi atau juga ditipu.

Prediksi waktu tiba di Padang siang jam 13.00WIB, teman satu tempat duduk yang mengatakan. Perasaan pun tenang saja karena ada sedikit kepastian. Sms pun masuk yang isinya: ”Assalamu’alaikum wr wb, ni kak Farida ya? Kakak nyampe Padangnya jam berapa? Kakak berangkatnya dari terminal jam berapa? Risa”.

Risa adalah teman satu organisasi ekstra kampus yang ada di Padang untuk menjemput aku di terminal, karena aku benar-benar buta akan peta kota Padang (Soalnya Dora lagi sibuk banget gak bisa diganggu dengan petanya). Namun, karena kos-kosannya Risa penuh dengan laki-laki, jadi tidak mungkin menempatkan aku di sana apalagi cukup jauh ke Dompet Dhuafa Singgalang. Akhirnya Desi, teman organisasi ekstra kampus yang berbeda departemen dengan Risa, kuliah di UNP jurusan Bahasa Inggrislah yang menjemputku di Mall yang ada di Padang.

13 Agustus 2012

(Foto: Nabilah Hurin)
(Foto: Nabilah Hurin)

Tiba saatnya beraksi, jam di dinding menunjukkan pukul 07.00WIB. Desy dan aku bergegas untuk berangkat dengan angkot yang ke arah Singgalang. Kami turun agak kelewatan, karena Desy juga lupa di mana pastinya Dompet Dhuafa Singgalang berada. Dengan berjalan sedikit dan menyeberang jalan raya, akhirnya kami temukan juga Dompet Dhuafa Singgalang.

Dan ternyata, aku bertemu dengan Risa di sana bersama dengan abangnya yang tak lain adalah Danil. Aku dapati, rekan Dompet Dhuafa Singgalang sedang Apel pagi. Aku rasakan bahwa teriakan-teriakan mereka sebagai penyemangat setiap paginya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.05WIB, mas Aslampun menyapa kami dengan hangat dan mengatakan, “ruangan kita ada di lantai 3, ayo kita segera naik”, sapanya. Di sana ada Anit, Nova, Hani dan Danil. Pembukaan dari mas Aslam pun di mulai, sambil menantikan kehadiran direktur Dompet Dhuafa Singgalang. Sang direktur memberikan kata sambutan dan menjelaskan program kerja Dompet Dhuafa Singgalang yang membuat diriku terpukau karena sangat menakjubkan dan dalam hatiku berkata, “Subhanallah semoga langkah ini tidak sia-sia untukku melanjutkan langkahku dan jika ini adalah rezeki yang Engkau berikan padaku maka permudahkanlah jalannya dan lancarkan segalanya dengan baik. Aamiin.

14 Agustus 2012

Alhamdulillah aku telah mendapat tiket pulang dari Zola. Kekhawatiranku benar bahwa tiket pulang ke Medan bisa habis jika saja aku tak mengambilnya di awal. Alhamdulillah ancang-ancangku untuk mempersiapkan keberangkatan dan kepulangan berjalan lancar. Aku naik bus yang saa bus NPM namun harganya lebih mahal sedikit, biasalah karena permintaan banyak sementara jasa yang bisa dimanfaatkan hanya sedikit sekali sehingga mempengaruhi harga jasa bus nya. Dalam jalan pulang ke Medan ini, aku hanya bisa mengingat perjalananku hingga sampai ke Padang dengan bekal dan uang saku yang ada di tangan, mempertaruhkan uang bulanan yang selalu diberikan orangtua ditambah uang beli baju baru sebagai penyambutan hari raya kuletakkan untuk perjalananku ke Padang. Alhamdulillah masih ada sisa. Dan perjalanan yang sangat menarik karena aku sendirian, perjalanan yang memakan waktu paling lama yaitu 27 jam yang dijadwalkan hanya 1 hari atau 24 jam saja. Dengan gaya ala backpacker dan tinggal menumpang dari kos teman yang satu ke kos teman yang lain. Tapi, masih ada saudara yang bisa diandalkan jadi masih bisa berjalan lancar. Semoga Allah yang bisa membalas segala yang saudara-saudariku lakukan untuk kepergian dan keberangkatan serta tempat tinggalku di sana. Hanya doa dan ucapan terima kasih yang bisa kuucapkan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang lebih banyak dan lebih berkah lagi aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.