Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kumerindu Padanya

Kumerindu Padanya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comAroma tandus tanpa terpaan angin berselimutkan mentari panas, sangatlah funtastis memacu adrenalinku bekerja dengan lebih cepat dan membakar semangat serta tubuh kecilku. Sudah hampir memasuki tiga bulan kemarau melanda bumi Laskar pelangi dengan pandanganku bahwa kegersangan merupakan rahmatnya tertunda di bumi ini. Bukan berarti aku mencela datangnya musim kemarau itu adalah musibah, namun persiapankupun belumlah cukup.

Saat kuinjakkan kakiku di negeri laskar pelangi, negeri segala macam mimpi. Mimpiku pun bergemuruh di sini, berkecambuk dengan ombak yang menghantamnya, penuh dengan lika-liku perjalanan hati. Aku yakin, hati ini akan dapat menjawab semua teka-teki yang telah dijabarkan di lembaran langit-Nya. Terjun di dunia pendidikan dan ditempatkan di negeri dengan tingkat putus sekolah yang tinggi, minat baca yang sangat rendah dan akhlak anak-anak yang sangat menyayat hati.

Baru kali ini aku merasakan hal-hal yang tak pernah kulakukan di dalam hidupku penuh dengan perjuangan dan apakah itu yang dikatakan seorang pejuang? Harus melewati rintangan hingga kesabaran, keikhlasan dipertanyakan. Terkadang bibir tak sanggup menahan apa yang terjadi padaku, mengelus dada dan berjuang menjadi orang yang sabar. Dengan kondisi air yang sangat miris, karena sedang di landa kemarau panjang. Kebetulan saat ini, aku ditempatkan di Belitung Timur, tepatnya sebuah SD Negeri di Aik Asam penuh dengan kontradiksi hati. Air…aku mencarinya hingga letih, pagi, siang, sore, mengangkutnya tanpa henti dengan jarak yang jauh. Sebulan kemarau pun telah berjalan, air di sungai dan air di dalam sumur masih terlihat jernih walaupun volumenya semakin berkurang. Dua bulan berjalan, air lama-kelamaan terlihat berkurang dan berwarna kecoklatan dan sekarang sudah coklat pekat persis susu dicampur dengan kopi, maknyuss.

Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya dengan tingkat keimanan yang mampu dilewati seorang hamba, pasti dan yakinlah bisa di hadapi. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Makna dari QS An-Nashr itu yang selalu menguatkanku. Mulai dari air yang tak ada hingga segala keperluan yang berhubungan dengan air, kupasrahkan dengan menggunakan air galon, dalam satu minggu dapat menghabiskan 3 galon yang cukup menguras kantongku dalam sebulan. Piring-piring dan bekas memasak makanan yang akan kunikmati kala itu harus kubersihkan dengan air yang harus diangkut dengan jarak 150 meter dari rumahku dan kondisi airpun tak begitu jernih. Sehingga, untuk mencuci bajupun harus kutanggahkan untuk melakukannya di kota tempat mba Yusi teman sejawatku, di penempatan Belitung bertugas. Hanya tempat ini yang menjadi tujuan satu-satunya yang aku melangkah. Belum lagi kondisi kendaraan umum yang hanya lewat dua kali saja waktunya. Damri dari rumahku pukul 15.00wib menuju kota dan akan kembali ke rumahku pada pagi hari jam 06.30 WIB, sedangkan mobil penumpang melewati rumah dinasku pada pukul 06.00WIB menuju ke kota dan kembali ke rumahku kembali pada pukul 11.00 WIB. Sangat menyayat hati, bila kubandingkan dengan kondisi sebelumnya yang bisa mendapatkan angkutan untuk tujuan perjalananku ke manapun aku mau, hanya tinggal menunggu beberapa menit datanglah sang mobil yang kunanti. Tapi, aku berfikir kembali, untuk apa frustasi di tempat ini? Lebih baik aku memohonkannya kepada sang Maha Pemilik menyelesaikan masalah yang ada Allahu Rabbi.

Hanya ikhlas yang dapat teruang di dalam perjalananku di negeri Laskar Pelangi selama setahun ini karena problematika kehidupan kuhadapi dengan sangat detail di sini. Belajar banyak hal dan belajar menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Inilah momentum perjalanan ikhlasku yang suatu saat akan dipertanyakan oleh malaikat-Nya.

Hujan adalah rahmat yang tertuang dengan sempurna. Dalam setiap bait doaku, aku meminta kepada sang Maha pemilik alam semesta bahwa turunkanlah rahmat dan rahimmu dalam bentuk curahan air yang mampu mengubah tanah yang gersang menjadi subur, sumur yang kering menjadi cerah dan banyak ikannya lagi jernih nan bisa dimanfaatkan untuk keperluan hidup, mengubah sumur yang hanya mengandalkan hujan untuk tertuang dan terisikan dengan air hujan dan mengubah segalanya menjadi lebih berwarna dan lebih hidup lagi. Tiada yang tidak mungkin terjadi dengan izin-Nya, karena itu sangat mudah dan hanya sekejap bisa dilakukan kalau Allah berkehendak, tiada satu makhluk pun yang bisa berucap.

Kemarau membuatku harus merogohkan kantongku lebih dalam, pasalnya banyak air yang aku perlukan begitu juga dengan mandi, mencuci baju, piring dan membersihkan lantai. Karena air sangat vital. Akupun harus membei galon sebanyak 3-4 dalam seminggu. Karena, kalau aku mengangkatnya dari sungai, aku tak sanggup juga di samping letih, aktivitasku yang berlangsung dari pagi sampai sore seperti tak membuatku efektif untuk bolak-balik rumah dan sungai. Sebelum ke sungaipun, tubuhku sudah sangat letih teramat karena mengajar mengeluarkan energi yang sangat besar sama seperti tidur dan berolahraga.

Air menjadi hal yang penting dan selalu dicari-cari. Bagaimana bisa hidup tanpa air? Karena air menjadi hal yang sangat penting dan dicari-cari. Hidup tanpa air, akan terasa sangat sulit. Musim kemarau melanda Kab Belitung dan Belitung Timur, namun di Belitung sudah terdapat curahan air hujan yang berasal dari langit yang merupakan berkah dan rizki dari Allah SWT.

Aku menjelajahi Belitung Timur dan sekarang telah memasuki bulan ke-enam tepatnya di bulan September. Namun, kemarau sudah terlihat tanda-tandanya di bulan Agustus. Di pertengahan Agustus itu, kemarau memberikan tanda kepada masyarakat yang ada d Belitung dan Belitung Timur, agar bersiap-siap dan pasang sabuk pengaman untuk mengencangkan ikat pinggang.

Dari sekian banyak masyarakat di sini, mungkin hanya aku saja yang tidak bersiap-siap memasuki bulan yang satu minggu pun tanpa curahan rahmat dari-Nya.  Penuh rasa haru ketika hujan turun. Di belitung, sudah sering hujan dengan keadaan awan columunimbus yang terlihat mengumpul dan berwarna gelap sedang berjejer dan ingin menumpahkan air yang ditampungnya sejak lama tertahan di dalam perut awan. Entah kenapa, hal itu tidak terjadi di Belitung Timur.

Hujan kehadiranmu selalu menjadi tamu yang kutungggu-tunggu kehadirannya. Penuh dengan rona wajah bahagia dan cerah tak tertutupi awan ataupun debu yang menerpa. Semangat dan senyum sumringah selalu hadir di saat semua orang menantinya. Hujan tak pernah memandang kapan blan itu berada, yang aku yakini bahwa setiap makna bulan September, Oktober, November dan Desember, maka siap-siap untuk menengadahkan ember menampung curahan air yang langsung turun dari langit berdasarkan titah sang Khaliq penyeru segala permintaan hamba-Nya. Tapi mengapa sudah dua bulan titah-Nya pun tak kunjung tiba menghampiri rimbunan dedaunan dan turun dengan lebatnya..?

Allah, hanya kepada-Mu aku meminta dan hanya kepada-Mu aku memohon segalaNya agar hidupku terasa bernyawa dan menjadi hamba yang semakin bersyukur pada-Nya. Karena pada saat hujan, doapun diijabah karena saat yang tepat salah satunya ketika saat hujan turun. Allah aku rindu pada hujanmu agar sedikit nelangsa hidupku menjadi terobati akibat air yang tak tersisa. Hujan aku rindu padamu dan pada zat yang menurunkanmu.

November pun menyapa dengan menari dan semburan awan cerahnya. Cerahnya mentari senada dengan cerahnya wajahku menatap langit sudah mulai menampakkan awan Culumunimbusnya. Hujanpun mengalir dengan seketika walaupun hanya beberapa tetes saja menumpahkan butiran yang langsung berasal dari langit.

Seminggu, dua minggu berlalupun wajah yang tampak adalah hujan yang hanya berupa guratan garis yang menyibakkan butiran air-air di hamparan tanah Belitung Timur. Sementara di tempat yang berbeda, Belitung air-air yang merupakan guratan garis itu mengalir terus-menerus dengan volume yang begitu deras dan terus mengalir tiada henti. Dan itulah dikatakan rahmat-Nya selalu tercurah. Kata-kata kemarau pun tak pernah hinggap di Belitung, namun berbeda dengan Kabupaten Belitung Timur, curah hujan yang masih sangat jarang dan intensitasnya hanya satu atau dua kali dalam seminggu dengan kadar airnya masih sangat mini. Sementara, sumur-sumur dan juga sungai membutuhkan pertolongan si air hujan untuk meneduhkan hidup orang kebanyakan yang tinggal di tempat itu. Untuk mencuci, mandi dan segala keperluan yang menyangkut kehidupan, bahkan juga ada yang memancing.

Kemarau menyisakan pilu di hatiku, karena ku tak bisa menadah hujan di antara derasnya air yang turun agar tak perlu lagi pergi dengan kerja keras mengambil air dari sungai. Tapi ketika hujan turun, maka air sumurpun terisi dengan butiran air yang jernih mengelompokkan dirinya menjadi air yang kini aku dan tetangga lainnya gunakan. Air sangat vital bagi kehidupan makhluk hidup, jadi kemarau merupakan cobaan yang berarti. Apalagi aku merasakannya baru kali ini dan alhamdulillah kemarau yang ku alami termasuk cepat, karena biasanya kemarau terjadi bisa mencapai 3 sampai dengan 6 bulan lamanya. Sehingga, aktivitas warga akan bertambah lagi yaitu mengangkut air dari rumah ke sumur yang digali dengan begitu saja tanpa diberikan lapisan semen. Dan dimanfaatkan sebagai air minum, mandi, mencuci dan keperluan lainnya.

Namun kini, hujan pun sekan mengguyur dan memberikan pertanda bahwa rahmat Allah melimpah di dunia ini. Tinggal bagaimana kita sebagai seorang manusia dan makhluk yang diciptakanannya bersyukur atas curahan yang ditumpahkanNya di bumi ini. Suasana hujan bukan aku saja yang merasakannya, namun tumbuhan, hewan dan seluruh alam pun bernyanyi merdu karena tasbihnya kepada sang pencipta alam semesta yang begitu sempurna. Hujan adalah moment yang selalu kutunggu, ketika ku dapat menadah hujan di antara ember-ember yang masih kosong dan ingin segera diisi agar bisa termanfaatkan untuk kepentingan sehari-hari.

Hujanpun kelak bercerita bahwa perjuanganku memang tidaklah mudah untuk mendapatkan sebuah sumur yang memiliki air bersih, karena harus berhadapan dengan kemarau yang berlangsung 2 bulan lebih. Bagi yang tidak siap menerima, maka akan banyak keluhan dan mencela apa yang telah ditakdirNya. Suatu saat hujan pun akan bersuara lirih dengan penuh tanya dan pesona akan keselamatan yang diberikannya kepada musim kemarau agar aku bisa merasakan, ikut dalam nyanyiannya yang menunggu hujan datang untuk sejenak menghampirinya. Hujan, aku selalu ingin nyanyian suara katak, jangkrik yang selalu bersenandung merdu akan ciptaan-Nya yang Maha luas Biasa Indah dengan pesona yang tak akan pernah tertandingi oleh siapapun. Hujan, aku ingin selalu bersamamu bernyanyi merdu dan ikut senang dengan bermandikan hujan seperti aku masih kanak-kanak dulu. Hadirmu selalu menyapa rerumputan dan pepohonan agar menjadi subur dan berseri sepanjang hari. Aku tetap merindumu di sini, di kala dirimu datang. Aku akan selalu tersenyum dan mengatakan pada-Nya, terima kasih ya Allah rahmat yang luar biasa kau turunkan di bumiku tercinta, bumi jutaan sahang dan ribuan timah dan pepohonan karet berjejer rapi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.

Lihat Juga

Di Penghujung Rindu