Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jika Cinta Dia

Jika Cinta Dia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Kemarin di sekolah pak guru nanya, siapa yang cinta nabi Muhammad saw?” putriku membuka pembicaraan malam itu, usai mengerjakan tugas dari guru agamanya.

“Terus?” tanyaku sambil memeriksa hasil pekerjaan rumahnya

“Semua tunjuk jari. Kemudian pak guru nanya lagi, apa bukti kalau kalian cinta nabi Muhammad saw?”

“Kalian jawab apa?”

“Tidak ada yang menjawab, semua diam. Termasuk aku!”

***

Pertanyaan yang sama, apakah kita mencintai nabi kita, nabi Muhammad saw? Dengan mantap kita pasti akan menjawab, ya! Tapi jika ditanya, apa bukti kalau kita cinta beliau, maka terkadang kita seperti anak kecil yang bingung dan membingungkan. Kita bingung menunjukkan bukti kecintaan kita pada sang nabi karena perbuatan kita yang terkadang bertolak belakang dengan apa yang kita ucapkan.

Banyak cara dan acara yang digelar dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw. Apakah ini sebuah bukti kecintaan kita pada sang nabi? Tentu saja! Begitulah jawaban mereka yang melakukannya. Namun benarkah ini bukti cinta kita pada sang nabi? Belum tentu di mata Allah dan sang nabi.

Rasulullah mencontohkan kita untuk bersedekah dengan harta kita, tapi bukan dengan cara mubazir, menghanyutkan ke laut misalnya. Untuk apa dan untuk siapa? Bukan pula dengan cara untuk diperebutkan hingga tak jarang menimbulkan kericuhan.

Rasulullah menyuruh kita untuk mencari ilmu, meskipun umpamanya sampai ke negeri China. Mengadakan dan mengikuti pengajian adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan agama, tapi bukan kemudian mengotori masjid dengan berbagai sampah makanan dan minuman. Bukan pula dengan melalaikan shalat subuh lantaran pengajian diadakan hingga larut malam.

Rasulullah tak pernah memberikan contoh atau perintah khusus untuk merayakan hari kelahiran beliau. Kalaupun kemudian ada yang mengadakan berbagai acara dalam rangka memperingati hari kelahiran beliau, meski sebagian mengatakan itu bid’ah namun ada sebagian lagi menganggap acara-acara yang mereka gelar hanya sekadar memanfaatkan momen ini untuk mengarahkan semangat kaum muslim ke jalur yang benar dan lebih bermanfaat. Semua tentu kembali bagaimana niat dan tata caranya.

Ada satu hal yang terkadang kita lupakan, padahal itulah inti sesungguhnya dari momen peringatan hari kelahiran nabi. Peringatan hari kelahiran nabi semestinya menjadikan kita lebih dekat dengan sosok mulia beliau. Bukan sekadar menyegarkan ingatan kita akan sejarah hidup beliau, tapi membangkitkan semangat kita dalam meneladani segala akhlak dan perbuatan beliau yang sangat mulia.

Jika benar kita cinta nabi, semestinya kita tahu apa dan bagaimana sosok sang nabi, akhlaknya dan segala kemuliaannya. Jika benar kita cinta nabi, semestinya akhlak dan perbuatan kita didasarkan pada contoh yang beliau berikan.

Jika kita cinta nabi, semestinya ibadah wajib tak pernah kita tinggalkan karena ibadah sunnahpun senantiasa dijalankan. Ibadah bukan lagi sekadar kewajiban, tapi kebutuhan. Rasulullah yang sudah dijamin Allah masuk surga saja sangat taat dan tekun beribadah, apalagi kita yang masih berlumur dosa seharusnya memastikan segala tingkah laku kita menjadi amalan yang bernilai ibadah.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi orang yang sangat memuliakan orang tua, menghormati tamu dan tetangga, menjaga akhlak dalam pergaulan, bukan menganggap orang tua hanya sebagai beban, tamu dan tetangga hanya akan merepotkan sementara teman hanya sekadar tempat untuk kita meminta bantuan.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi orang yang mudah memaafkan, bukan membesar-besarkan permusuhan, apalagi sampai mewariskan dendam pada keturunan.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita peduli dengan kesusahan yang dialami tetangga, bukan menutup mata, menganggap kesulitan mereka sebagai urusan mereka, di luar urusan rumah tangga kita.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi seorang dermawan yang gemar membantu kaum fakir miskin, bukan dengan mudah memberikan label malas pada mereka tanpa kita memberikan bantuan apa-apa.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita mengasihi anak-anak yatim, bukan membiarkan mereka dengan anggapan toh masih ada kerabat yang lebih wajib mengurus segala keperluannya, sementara kita hanya ‘orang lain’ yang tak ada pertalian darah dengan mereka.

Kita memang hanyalah manusia biasa yang tak sesempurna Rasulullah, namun kita bisa meneladani beliau sampai batas maksimal kemampuan kita. Mari kita jadikan momen peringatan maulid nabi ini sebagai titik awal untuk mengikuti jejak-jejak surga sang nabi. Mari kita rubah senandung harian kita dengan shalawat. Sesungguhnya Rasulullah tak memerlukan doa kita, tapi kitalah yang membutuhkan syafaatnya.

Allahumma shalli ala Muhammad ya rabbi shalli alaihi wasalim.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang