Home / Pemuda / Cerpen / Lingkaran Cahayaku…

Lingkaran Cahayaku…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: albirru.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: albirru.deviantart.com)

dakwatuna.com Rara menghela nafas… sebuah buku yang berjudul “catatan cinta untuk murabbi” ia taruh di atas wajahnya. Ia teringat pada kelompok halaqahnya yang sekarang. Rara beberapa waktu yang lalu pindah ke sebuah kota besar, mau tak mau ia harus ditransferkan kepada Yah yang baru. Untuk akhirnya mendapatkan Yah yang baru Rara harus menunggu satu bulan. Bisa dibayangkan betapa rindunya Rara melingkar dalam halaqah cahaya. Di kota sebelumnya ia begitu menikmati lingkaran cahaya tersebut. Dengan taushiyah-taushiyah dari Yah yang membuat Rara ingin menjadi muslimah yang semakin baik serta teman-teman yang membuat ia termotivasi untuk beribadah. Alhamdulillah Rara begitu menikmati lingkaran cahaya tersebut.

Dan ketika sudah berada di kota yang baru, Rara pun menghubungi seorang teman yang menurut Rara bisa membantunya. Surat keramat itu pun Rara berikan kepada temannya, ia berjanji akan mengurus segera transferan Rara. Seminggu berlalu, Rara pun menghubungi temannya tersebut, temannya bilang agar Rara bersabar karena transferan sedang diurus. Rara pun mengangguk, tapi hingga tiga minggu pun belum ada tanda-tanda Rara segera mendapatkan kelompok baru, hingga di minggu keempat pun sebuah sms menghampiri hp Rara. Alhamdulillah….ujar Rara usai membaca sms tsb. Tak menunggu waktu lama ia pun mengirim sms ke sebuah nomor.

Assalamu’alaikum… Afwan apa bener ini Mba Ayu? Perkenalkan Mba saya Rara. Saya dapat nomor Mba dari Vina… Beliau bilang saya halaqah dengan Mba Ayu. Kalau boleh tau… Hari apa ya Mba halaqahnya?”

“Wa’alaikumsalam wr wb, iya bener… Rara maaf ya… kelompok halaqah sudah penuh… Rara coba hubungi Ibu Hani, nomor ini beliau 081xxxxxxxxxx insya Allah Rara liqa sama beliau”.

“Hmm… Begitu ya Mba. Baiklah nanti Rara hubungi beliau…jzk Mba”.

Segera Rara menghubungi nomor yang diberikan oleh Mba Ayu…

“Assalamu’alaikum… Afwan apa bener ini Ibu Hani? Ibu… perkenalkan saya Rara… saya dapat nmor Ibu dari Mba Ayu… saya diminta beliau menghubungi Ibu, karena beliau mengatakan saya halaqah dengan Ibu. Kalau boleh tau…halaqah untuk minggu ini hari apa ya Bu?”

Rara… pun menunggu balasan dari sms tsb. Menit berganti jam hingga berganti hari. Tapi sms dari Rara belum juga ada balasan dari Bu Hani.

Hmm… Mungkin beliau lagi sibuk” ujar rara dalam hati. Rara memilih untuk menunggu balasan sms tersebut. Hingga hari kedua sejak sms dikirimkan, hp Rara berdering

“Wa’alaikumsalam… maaf minggu ini memang tidak ada liqa. Liqa biasanya hari Sabtu, nanti Ibu hubungi Rara kembali ya terkait jadwalnya”

“Baik Bu…jzk khair sebelumnya Bu”.

Alhamdulillah… akhirnya punya kelompok baru lagi… seperti apa ya teman-teman baru ku? Apakah seperti teman-teman di kota sebelumnya..Aktivis-aktivis dakwah yang begitu bersemangat…” Rara bergumam dalam hati

Rara tak sabar menunggu Sabtu. Jumat malam, hp rara berdering…

Assalamu’alaikum Rara…besok Ibu tunggu di kantin Prima jam 11 ya… Kantin Prima ada dijalan Kemerdekaan… Kantin itu persis ada di samping kantor Ibu. Kebetulan Ibu bekerja di kantor Asuransi Syariah, di sebelah kanan kantin Prima”

“Wa’alaikumsalam… insya Allah Bu..Nanti akan coba Rara cari, kalau tidak ketemu Rara akan hubungi Ibu. Jzk Bu”.

Besok nya Rara pun berangkat menuju tempat ia janjian dengan Bu Hani. Ternyata di sana telah ada teman-teman yang menunggu… Satu orang ummahat membawa seorang anak kecil.

Ah… ternyata aku satu kelompok dengan seorang ummahat… Biasanya teman halaqah sebelumnya, akhwat semua… alias belum menikah

Tak lama halaqah dimulai… dibuka oleh seorang Mc, tilawah, ta’arufan dan materi dari Yah.

Ketika sampai di prosesi ta’aruf, ternyata ummahat yang membawa anak tadi juga ‘anak baru’ di kelompok tersebut. Jadilah Rara dan ummahat tersebut sebagai anak baru di kelompok tersebut. J

Tak lama selesai memperkenalkan diri… agenda pun dilanjutkan dengan materi dari Yah yaitu Bu Hani. Bu Hani mulai memberikan materi tentang bahaya lisan. Rara pun berkonsentrasi mendengarkan taushiyah dari Bu Hani… tapi ia tak bisa konsentrasi 100% karena saat Bu Hani memberikan taushiyah kondisi kantin lagi penuh-penuhnya soalnya sudah jadwal makan siang… Dua orang temannya sesekali juga sibuk sendiri, membuat ia semakin tidak konsentrasi. Belum lagi beberapa orang yang menyapa Bu Hani…

Allah….kenapa liqanya harus di kantin…?” rara mengeluh dalam hati.

Akhirnya liqa selesai… Setelah ditutup oleh MC… Rara pun pamit untuk pulang sedangkan teman-teman yang lain masih ada urusan.

Ya Rabb.. Setelah sebulan menunggu tapi pertemuan pertama ini sungguh mengecewakan… ”

Rara bersedih… hingga pertemuan kedua pun hanya ia sendiri yang datang, 2 orang temannya lagi mudik, 1 lagi sudah ditransfer karena berhubung jauh dari tempat tinggal dan 1 lagi tidak hadir karena kecapean menemani keluarga jalan-jalan. Karena hanya ia seorang diri, sang Yah pun memberikan ia tugas, karena kecewa Rara tak mengerjakan tugas yang diberikan Yah tersebut.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya, Rara mencoba kembali menghadirkan hatinya hingga di kelompok tersebut kedatangan teman-teman baru yang “baru ngaji”. Rara berharap kedatangan teman-teman baru bisa menghidupkan suasana, bisa memotivasi Rara dalam beribadah…tapi ternyata harapan itu tak bisa Rara dapatkan.

Allah mengapa ya? Kenapa Rara tidak lagi merindukan halaqah seperti yang pernah Rara rasakan dulu..? Materi dari Yah tidak bisa semuanya sampai ke hati…amalan yaumiyah pun rasanya tak ada peningkatan… Halaqah seperti sebuah aktivitas pelengkap saja… Tak hadir pun rasanya tak ada perasaan rugi…

Astaghfirullah…..

Rara pun curhat kepada seorang temannya.

De, Rara tak cocok dengan Yah dan teman-teman rara. Rara ingin pindah kelompok!!”

“Rara… setau Ade… pindah kelompok itu murabbi yang menentukan. Rara tingkatkan saja ibadah… nanti kalau murabbiyah melihat rara lebih dari teman-teman, nanti juga akan dipindahkan… ”

Sesampai di rumah, Rara mencoba introspeksi mengapa halaqah dengan kelompok sekarang tak seperti halaqah-halaqah terdahulu yang sangat ia rindukan tiap pekannya…apakah karena futur sehingga taushiyah dari Yah tak banyak yang menyentuh hatinya… atau apakah ini ujian dari sang Khaliq untuk melihat keteguhan hati Rara berada dalam majelis-majelis ilmu… Sejak sampai saat itu Rara pun mulai memperbaiki diri… meluruskan niat… tapi tetap saja tak ada perubahan… halaqah tak lagi Rara rindukan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 6,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dian Sari
Seorang Dosen muda disalah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bukittinggi. Aktivitas saat ini selain bekerja juga seorang mahasiswa pasca sarjana di perguruan tinggi negeri di Kota Depok. Mempunyai hobi membaca dan mempunyai impian menjadi seorang penulis.

Lihat Juga

Cahaya Akhirat yang Hilang