Home / Berita / Opini / Melacak Sejarah Maulid Nabi

Melacak Sejarah Maulid Nabi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Sungguh Aku mengutus engkau (Muhammad) dengan membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada satu umat pun kecuali telah pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan.” (QS. Fathir 24).

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang diciptakan secara maknawi, tapi menjadi Nabi terakhir yang diutus ke alam duniawi. Ucapannya adalah wahyu, langkahnya menjadi petunjuk, perilakunya merupakan cermin keteladanan.  Keagungan jiwa Rasulullah diakui kawan maupun lawan, keberaniannya mampu menggetarkan singa padang pasir, kelembutannya melebihi belaian kasih seorang ibu. Beliau sangat dicintai penghuni langit dan bumi, hingga potongan rambut dan bekas air wudhunya pun diperebutkan oleh sahabat-sahabatnya.

Rasulullah merupakan manusia termasyhur yang memancarkan keharuman alami. Tetesan keringat pun yang keluar dari tubuhnya diambil dan dimanfaatkan oleh para sahabat. Semesta raya memanjatkan doa, mengucap salam dan memohonkan kasih Allah baginya. Bahkan Sang Pencipta sendiri ikut mengucapkan salam kepadanya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi, dan berikan salam penghormatan untuknya.”€ (QS Al Ahzab: 56).

Kehadiran Rasulullah di bumi adalah anugerah terbesar yang membuat butiran-butiran gurun pasir seolah menjadi mutiara yang indah. Jejak langkahnya seolah menyejukkan padang tandus menjadi taman surga yang selalu membangkitkan rasa rindu dan ingin selalu diziarahi oleh setiap umat. Pengetahuan yang diajarkannya terus-menerus mengalirkan hikmah dan kearifan bagaikan mata air zamzam yang tak pernah kering sepanjang zaman.

Hingga detik ini Rasulullah tetap dikenang sebagai Nabi yang agung, pemimpin yang adil, panglima yang gagah berani. Bahkan salah seorang sejarawan terkemuka, La Martine pernah mengungkapkan kekagumannya kepada Rasulullah. Dalam bukunya Histoire De La Turquie,1854, ia menyatakan bahwa, “Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang, semua menjadi satu.”

Kini lebih dari 14 abad pasca hari kelahiran beliau, setiap bulan Rabiul Awwal masyarakat muslim dunia mengenangnya sebagai hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak sedikit di antara mereka memperingati hari Maulid Nabi tersebut pada tanggal 12 Rabiul Awwal dengan berbagai macam ritual peringatan. Namun muncul pertanyaan, benarkah tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad sebagaimana yang dianut oleh mayoritas masyarakat muslim dunia saat ini?

Tanggal Kelahiran Rasulullah

Pada umumnya masyarakat muslim dunia tentu sudah sepakat bahwa hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hari Senin. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim).

Sedangkan mengenai tanggal lahirnya masih diperselisihkan, ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 8 Rabiul Awwal, seperti pendapat Ibnu Hazm. Ada pula yang mengatakan tanggal 10 Rabiul Awwal dan yang masyhur menurut sebagian ulama adalah tanggal 12 Rabiul Awwal. Sedangkan pendapat Syeikh Shafiyuurrahman Al Mubarokhfury penulis kitab Ar Rahiq Al Makhtum yang merupakan ahli hisab dan falak menyebutkan dalam bukunya bahwa kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pada hari senin tanggal 9 Rabiul Awwal pada permulaan tahun dari peristiwa gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.

Memang telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad. Di antara mereka ada yang mendasari pendapatnya dari riwayat yang sampai kepada mereka dan ada juga yang mendasarinya pada perhitungan falak. Namun Al Mubarokhfury mendasari pendapatnya kepada hasil penelitian seorang ulama terkenal yang bernama Muhammad Sulaiman al Manshurfury dan seorang pakar astronomi, Muhammad Basya. Dan pendapat inilah yang diyakini tepat oleh sebagian besar ulama salaf, apalagi kitab yang ditulis Al Mubarokhfury tersebut adalah pemenang pertama dalam lomba penulisan Sirah Nabawiyah (Sejarah Nabi) yang diselenggarakan oleh Rabithah Al Alam Al Islamiy yang bermarkas di Mekah pada tahun 1399 H / 1978 M.

Jika memperhatikan lebih jauh pendapat jumhur ulama dan para ahli sejarah, ternyata yang paling dekat dengan tanggal 12 Rabiul Awwal adalah hari wafatnya Rasulullah ­Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dalam tinjauan histori dapat dikatakan ada ‘sedikit’ kekeliruan dalam peringatan Maulid Nabi yang diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awwal, karena sejatinya hari itu adalah hari kematian beliau.

Perbedaan pendapat yang tak berujung tersebut menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi pada dasarnya tidaklah begitu urgent bagi setiap umat. Seandainya moment bersejarah itu dianjurkan untuk diperingati setiap tahun, maka seharusnya ada konsensus para ulama yang menetapkan tanggal pasti perayaan Maulid Nabi agar umat Islam di seluruh dunia tidak berselisih waktu dalam memperingatinya.

Apalagi jika kembali membuka lembaran-lembaran sejarah dari kehidupan Rasulullah, maka tidak akan dijumpai ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para sahabat beliau sekaliber Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib tidak pernah tercatat dalam sejarah mengadakan ihtifal (perayaan) secara khusus setiap tahun untuk mengekspresikan kecintaan dan kegembiraan atas hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sejatinya, cinta kepada Nabi Muhammad tidak hanya mengingatnya tatkala bulan Rabiul Awwal tiba tapi dengan berpegang teguh di atas sunnahnya, mengikuti segala sesuatu yang datang darinya dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnahnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan apapun yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasy: 7)

Wallahua’lam bisshawaab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 8,94 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Achmad Firdaus
Pengurus International Student Society NUS Singapore.
  • Hamba Allah

    1. MEmang benar terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, tentang tanggal kelahiran rasulullah, namun mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau lahir pada tanggal 12 rabiul awwal, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir.
    2. Perlu diperhatikan bahwa, tanggal lahir rasulullah 8 atau 10 atau 12, bukanlah hal yang penting. ini hanya momen saja,,, oleh karena itu, sebagian masyarakat mengadakannya tanggal 12, sebagain lagi sebelumnya ataupun setelahnya. terserah..Jadi tanggal itu bukan syarat. Tidak ada orang mengatakan, bahwa mengadakan maulid nabi selain tanggal 12, maka tidak sah..ngak ada orang mengatakan demikian.
    3. Rasulullah memperingati hari lahirnya dengan puasa, artinya memperingati hari lahir dengan puasa atau dengan perbuatan baik itu tidak masalah karena Rasulullah melakukkannya. Ditambah lagi senang dengan rasulullah, mengungkapkan cinta pada rasulullah, mengajarkan sunnahnya, membaca al qur’an yang diturunkan kepadanya, memberi makan ummatnya, itu semuanya dianjurkan.Kapan saja.. dan dengan cara apa saja selagi tidak bertentangan langsung dengan nash al qur’an dan sunnah, serta ijma’ dan qiyas. jadi jangan membatasi sesuatu didalam agama, tanpa dalil yang membatasi.
    4. “cinta kepada Nabi Muhammad tidak hanya mengingatnya tatkala bulan
    Rabiul Awwal tiba tapi dengan berpegang teguh di atas sunnahnya” > seakan2x saudara menuduh orang yang memperingati maulid nabi, hanya cinta nabi pada hari itu saja. dan mengkalim diri sendiri cinta rasul selamanya. Itu sombong namanya..kan biasa saja, cinta pada rasulullah disetiap nafas, dan minimal mengajarkan masyarakat akan kecintaan pada rasulullah sekali setahun. kan baik2x saja.
    5. sahabat, tabi’in, tabi’ tabiin, tidak melakukkkanya bukan dalil. Mayoritas ulama tidak mempermaslahkannya.
    6. Menyebutkan ayat al qur’an diatas seakan2x anda menuduh orang yang melakukan maulid,telah melanggar perintah rasulullah. Aneh..buktikan itu pelanggaran baru klaim. sebutkan dulu satu hadis atau satu ayat al qur’an yang mengatakan melakukan ceramah keislaman dihari kelahiran rasulullah itu haram..! sebutkanlah kawan jika memang ada..

    • Ordinary Fighter

      Bismillah
      Pertanyaan sederhana dengan sebuah jawaban yg sederhana, apa tujuan orang-orang melaksanakan maulid? Sebagian besar bahkan mengatakan bahwa tujuannya adalah ibadah atau dengan kata lain ingin mendapat pahala. Pada poin ini mari kita pahami bersama. Karena bila tidak berniat ibadah maka sia-sia lah apa yg dilakukan. Yang menjadi titik tekannya adalah, apa hukum asal ibadah? Hukum asal ibadah bukan boleh sampai ada dalil yang melarang tapi justru sebaliknya terlarang sampai ada dalil yang memerintahkannya. Poinnya jangan dicampur, saat anda berkata soal dalil yg melarang ceramah di hari kelahiran Rasulullah. Semestinya fokus pada perayaan maulidnya. Menyengaja kan sesuatu, merasa ada yang kurang jika tidak melaksanakan maulid mungkin akan menjadi “dalil” bagi yg merayakannya dengan segala macam bentuknya.
      Kemudian, siapakah yg lebih utama? Salafushshalih yg dekat dengan Rasulullah, yg faham Islam dengan baik, dan tidak melakukan maulid dibandingkan dengan ulama? Kalau tidak ada dalil yang memerintahkan, jangan cari dalil yang melarang. Karena dalil yang memerintahkan didahulukan dibandingkan dalil yang melarang. Inilah kaidah pentingnya memahami penggunaan dalil. Wallahu ta’ala a’lam.

      • Hamba Allah

        Terimakasih ukti/akhi..atas komentarnya. mari kita bahasa satu persatu:

        Pertama: Mari kita lihat, apa yang dilakukan didalam acara maulid. Sebagai contoh, yang biasa dilakukan adalah: baca qur’an, baca syair pujian terhadap rasulullah, ceramah agama, baca sirah nabawiyah seperti al barjanji dll, kalau para ahli hadis, memperingatinya dengan membaca As Syamil Al Muhammadiyah, hadis musalsal dan lain sebagainya, kemudian tutup doa, dan tarakhir ramah-tamah, seperti makan, membagiakan permen dan lainnya(jika ada).Jika kita perhatikan, maka yang dilakukan didalam acara maulid adalah IBADAH yang tidak dibatasi oleh waktu. ibadah yang bebas dilakukan kapan saja dan dimana saja kecuali waktu2x tertentu yang ada dalil yang melarang, dan hari maulid bukan satu diantara larangan itu. dengan demikian ini adalah ibadah yang ada dalilnya didalam al qur’an dan sunnah. Ketika saudara/i ingin membatasi waktunya dengan mengatakan (kecuali hari kelahiran rasulullah), maka anda harus mendatangkan dalil dari alqur’an dan sunnah, atau ijmah yang membatasi.silahkan. karena membatasi sesuatu yang umum, tanpa dalil adalah bathil sebagaimana kata ulama ushul fiqh. dengan demikian ini adalah ibadah dilihat dari sudut pandang ini.
        Kedua: Adapun pengkhususan hari kelahiran rasululah, hanya moment, dan tidak ada dalil yang melarangnya, karena boleh kapan saja, jadi silahkan setiap orang memilih moment yang menurutnya pas dan enak. pengkhususan ini tidak mempengaruhi hukum sama sekali. bahkan hukumnya boleh, sebagaimana dalam kaidah disebutkan” hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah boleh”, dan ingat: sesuatu yang hukumnya boleh jika diniatkan ibadah, maka akan bernilai ibadah, dilihat dari sudut pandang niat.
        Ketiga: Jika salaf As Shaleh melakukan sesuatu, mazhab 4 menjadikannya sebagai dalil, tapi jika mereka meninggalkan sesuatu, maka itu bukan dalil. Silahkan datangkan dalil dari al qur’an, sunnah, ijmah dan qiyas yang melarang memperingati maulid dengan cara2x yang saya sebutkan diatas. 4 itu dalil yang disepakati mayoritas ulama (4mazhab).
        Keempat: “Kalau tidak ada dalil yang memerintahkan, jangan cari dalil yang melarang”. ada dalil yang memerintahkan secara umum. lihat “pertama”.

        • Ordinary Fighter

          Bismillah

          Sekali lagi, mari fokus pada bahasan utamanya. Kita tidak sedang membahas kontennya dulu. Semoga sy tidak salah, sy menarik kesimpulan bahwa anda menganggap bahwa maulid merupakan syariat? Oh iya, tidak satupun kalimat saya yang mengatakan saya membatasi. Jadi, kita sedang tidak mengarahkan pernyataan yg tidak diungkapkan secara tendensius. Fokus saja pada pembahasan. Selanjutnya adalah, jika memang maulid adalah ibadah, kita pasti bisa menemukan konsensus ulama untuk memperingatinya.
          “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
          Wallahu ta’ala a’lam.

          • Hamba Allah

            Saudariku yang terhormat.
            Ibadah dua macam, ibadah yang terikat oleh waktu, dan ibadah yang tidak terikat oleh waktu.
            Ibadah yang terikat dengan waktu dibagi dua, pertama ibadah yang pelaksanaannya sama dengan waktunya (ibadah sempit (mudoyyaqoh) dimana hanya satu kali ibadah yang bisa dilakukan di waktunya, seperti puasa. waktunya dari terbit fazar sampe terbenam mata hari. diwaktu itu hanya satu puasa yang bisa kita lakukan. selain itu ada ibadah muwassa’ah: artinya di waktunya bisa dilakukan berkali2x ibadah itu seperti shaalt zuhur, umpamanya waktunya dari jam 12-15..selama itu bisa di lakukan berkali-kali.karena salat bisa dilakukan dalam waktu 5 menit. dan ini bukan pembahasan kita.
            Ibadah yang kedua adalah ibadah yang tidak dibatasi oleh waktu. Ibadah yang bebas dilakukan kapan saja, sambil duduk atau berdidri atau berbaring, diam atau bergerak, sendiri2x atau bersama-sama. seperti Baca qur’an, bertasbih, tahlil, takbir dan lain sebagainya. Adalagi perbuatan yang mubah namun jika diniatkan karena Allah bernilai ibadah, seperti mengajar, memberi makan orang lain, dan sebagainya dan ini juga tidak dibatasi waktu dan caranya.
            Jadi anda mau baca qur’an setiap jam 5 pagi, silakan.
            Mau ngajar setiap tanggal 1 silahkan.
            Anda gabungkan: baca qur’an, mengajar, memberi makan orang miskin setiap tanggal 1 hijriyah, silahkan.. boleh2x saja. karena ini adalah ibadah tanpa dibatasi waktu, jadi anda berhak untuk memilih waktu yang lebih cocok bagi anda.
            Mengenai hadis diatas: coba lihat kata: (ma laisa minhu), yang disitu anda terjemahkan (yang tidak ada asalnya). DIdalam hadis difahami ada dua hal yang baru:
            1. ada dasarnya didalam islam. ini boleh, sesuai dengan hadis ini karena yang dilarang hanya no 2, dan hadis lain yang mengatakan: barang siapa yang membuat kebiasaan baik, maka ia akan mendapatkan pahala perbuatannya dan pahala orang yang melakukannya hingga hari kiamat”.
            2. tidak ada dasarnya, artinya tidak masuk didalam ruang lingkup kaidah2x hukum wajib, sunnah dan mubah didalam islam. Seperti mencuri atm lewat internet. dan lain sebagainya.
            Jadi yang didilarang adalah hal-hal yang tidak ada dasarnya. Adapun acara maulid nabi, secara umum tidak ada masalah, namun secara khsusus, ketika menilai acara maulid yang dilakukan oleh orang tertentu, maka dinilai dari acaranya, jika yang dilakukan adalah perkara haram, maka hukumnya haram, dan jika yagn dilakukan masuk kategori ibadah yang tidak dibatasi oleh waktu, atau hal-hal mubah yang bermanfaat, maka hukumnya adalah boleh2x saja, bahkan bisa menjadi sunnah hasaan (kebiasaan baik) yang akan bernilai pahala.
            wallohu a’lam

          • Muhammad Kurniawan

            Sunnah hasan, kebiasaan baik, udah tau itu semua ga pernah ada contohnya dari Nabi atapun para sahabatnya, anda masih aja berpegang teguh pada ro’yu sendiri

  • Agustan Ahmad

    Justeru saya berpendapat sebaliknya. Peringatan Maulid Nabi sangat penting bagi umat yg semakin tidak mengenal/mengenang sipa sesungguhnya Nabi mereka, apa visi/misi risalhnya, siapa keluarga Nabinya, dan bagaimana jasa beliau terhadap mereka (umat ini). Bagi saya, peringatan Maulid merupakan salah satu strategi dakwah yang cerdas dan efeknya tidak bisa diremehkan. Umat ini ternyata masih mencintai Nabinya dan peringatan itu sama sekali bukan karena 12 Rabiul Awal. Terbukti, banyak yg memperingati maulid Nabi pada bulan di luar Rabiul Awal. Jadi, memperingati maulid Rasul itu sangat penting (tentu saja dengan cara-cara yang syar’i), kapan saja bisa, dan tidak terikat dengan hari dan tanggal.

    • Ordinary Fighter

      Bismillah
      Mari membuka mata dan hati, perhatikan dengan seksama. Saat ummat yang datang ke acara maulid Nabi, tanyakan pada mereka seberapa kenal mereka dengan Rasulullah? Seberapa cinta mereka dengan Nabi hingga rela membela beliau? Seberapa faham dengan sirah kehidupan dan perjuangan beliau?. Momen seremonial sekali dalam setahun tak mampu menjawab kecintaan seseorang pd sesuatu. Terlebih ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, jika Nabi berada ditengah kita hari ini maka beliau akan bersedih melihat keadaan kita yang hanya mau mengenalnya di hari yang tidak satu dalil pun yang memerintahkannya. Semestinya jika kita cinta pada beliau, maka kita akan mencari warisan beliau? Lantas apa warisan beliau? Dialah Al ilmu.
      Wallahu a’lam.

      • Hamba Allah

        Betul mari buka mata, telinga dan hati, dan mari melajar lebih giat tentang Islam. Mari mempelajari bahasa arab dengan baik, sehingga jutaan buku turots yang menjadi peninggalan ulama kita dimasa keemasan, bisa kita fahami. kembali kepermasalahan.

        Pertanyaan-pertanyaan yang saudara (atau saudari, entahlah saya tidak tahu) lontarkan, malah menjadi bumerang bagi anda, karena itu menjadi alasan pentingnya mempergunakan momen ini untuk mengajari ummat akan perjalanan rasulullah dan sunnahnya, dan untuk merefrest semangat untuk mencintainya.

        JIka anda baca sejarah sahabat, bagaimana mereka mengajari anak2x mereka tentang sejarah hidup rasulullah, anda akan tahu bahwa mereka mengajari anak2x tentang itu seperti mengajari al qur’an. Sampai hapal. jadi mereka tidak membutuhkan momen ini.
        Sekarang saya tanya; apakah anda sejak kecil didik seperti itu? apakah keluarga anda semua didik seperti itu? apakah masyarakat kampung anda didik seperti itu? apakah rakyat di negara anda semau didik seperti itu? Ditambah lagi saat ini perhatian terhadap da’i sangat lemah dari pemerintah. Dijaman sahabat dan tabii’n serta tabi’ tabiin, mereka mendapatkan santunan dari khalifah atau gubernur, pertahuan yang cukup untuk mereka, sehingga mereka bisa mengajar umat secara full, sekarang siapa yang peduli? dai juga butuh cari makan, akhirnya tugas mereka terbengkalai. akibatnya, masyarakat buta terhadap nabi sendiri. Disinilah kemudian muncul inisiatif, memilih satu hari untuk memperbaharui semangat, minimal satu kali setahun, dan momennya ternyata yang paling tepat adalah hari kelahiran rasulllah. Jadi apa yang salah? Didalam kaidah dikatakah: Sesuatu yang tidak bisa diambil semuanya bukan berarti ditinggalkan semuanya.

        Inilah realita kita saat ini setelah 1400 tahun sejak rasulllah ada. Jika saudara/i merasa mampu untuk mengajari ummat islam setiap hari dan setiap detik, maka silahkan. Tapi ingat, tidak semua orang bisa, jadi tidak usah menyesatkan sesuatu yang tidak sesat. Mayoritas ulama disetiap masa, sejak peringatan ini muncul, sampai sekarang, menganggap ini adalah acara yang baik, bukan bid’ah dhalalah. termasuk diantara para ulama itu adalah Imam Ibnu Hajar, imam Syuyuti dan ulama2x besar lainnya.
        Apakah anda menganggap bahwa mayoritas ulama itu tidak memiliki ilmu termasuk Imam Ibnu Hajar, imam Syuyut? alias mereka bodoh semua?
        Innalillahi wainna ilahi roji’un.

        • Ordinary Fighter

          Tidak ada kalimat diatas yang menuding siapa2, menyesatkan dan menuduh sesat. Terlebih jika anda menuduh saya menuduh bhwa ulama tidak berilmu. Na’udzubillah min dzalik. Kalimat diatas adalah ajakan untuk mempelajari addin dengan sebaik-baiknya. Wallahu waliyuttaufiq.

          • Hamba Allah

            Maaf jika kata-kata saya tidak baik..:D
            Namun, orang yang mengatakan bahwa memperingati maulid nabi Muhammad Saw adalah bi’dah, maka secara tidak langsung ia telah menuduh ulama2x besar diatas sebagai alhlul bid’ah.
            Jadi saya ingin bertanya kepada sudarai:
            Pemasalahan maulid nabi Muhamamd Saw ini: masuk pada masalah:
            1. Bid’ah atau tidak bid’ah. yang jika melakukan maulid berarti pelaku bid’ah, dapat dosa besar, dan jika ditinggalkan maka dia tidak berdosa?
            2, atau Masalah fiqhiyyah furu’iyyah. (cabang-cabang fiqh) atau masalah ijtihad. jika benar, maka dapat dua pahala, dan jika salah dapat satu pahala?

Lihat Juga

Via video call ponsel, Erdogan menyerukan rakyat Turki turun ke jalan melawan kudeta, Sabtu (16/7/2016).

(Video) Ponsel Bersejarah dalam Penggagalan Kudeta Turki Ini Ditawar Rp 3,5 Miliar