Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Catatan Hati Sang Guru

Catatan Hati Sang Guru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Kisah yang diangkat dari cerita nyata

dakwatuna.com Jam di-HP-ku menunjukkan pukul 05.30 pagi. Tak biasanya pagi ini aku agak digerogoti rasa malas. Membayangkan pundi-pundi di kamar mandi yang kini kerontang tanpa air untuk mandi pagi ini. Beberapa hari ini aku tak mendengar teriakan Ibu Er. Tetanggaku yang sederhana, pekerja keras dan baik hati. Rumahnya tepat di belakang rumah dinasku. Biasanya beliau akan lantang memanggil saat air sumur bor yang dialirkan dua kali seminggu itu mengalir.

Aku yakin, tak lama lagi para malaikat kecil itu akan mengerumuni pintu rumahku yang letaknya di area sekolah. Selama beberapa bulan ini, aku memang menginap di rumah dinas ini. Tepatnya kantor sekolah yang disulap jadi rumah. Dan pagi ini aku seharusnya bergegas. Bersiap menyambut pagi dengan semangat 45. Menyapa mereka siswa SDN Akademi Semut Merah. Sekolah tempatku mengabdi selama setahun. Sudah beberapa bulan guru dua belas purnama kulakoni di daerah ini. Tentu saja langkah sebagai guru takkan berakhir di tempat ini. Ini hanyalah awal, Awal untuk mendidik diri sendiri. Menempa dan menggembleng jiwa sebagai pendidik yang akan tetap menebar inspirasi di tempat lain. Bukankah kondisi pagi ini juga bagian dari proses pendidikan? Keikhlasan dan ketulusan untuk tetap berbagi walau dalam keterbatasan?

Aku menghembuskan napas yang agak berat. Melepaskan segala rasa malas yang bersarang. Tak boleh berlama-lama seperti ini. Bangkit dan bergegaslah! Kumatikan laptop. Melangkah secepat kilat ke kamar mandi. Kamar mandi sederhana dengan keramik berwarna hijau yang kini rusak di sana-sini. Kulirik ember besar berwarna merah. Kering kerontang. Tak ada setitik air pun di sana. Bak 130 liter itu telah terkuras habis sejak kemarin. Kulihat ember merah. Lalu ember abu-abu dan hitam. Sama saja. Semuanya berada pada limit-limit; titik penghabisan. Aku melangkah menuju rumah Bu Er. Harapan satu-satunya untuk bisa mandi pagi ini. Seringkali menumpang mandi dan mencuci jika bak-bak penampungan air di tempatku kehabisan

Assalamu’alaikum…ibu,” di depan lawang rumahnya kuucap salam.

Wa’alaikumsalam. Masuk buk guru,” teriaknya dari dalam rumah. Oh, iya, pasti beliau sedang sibuk menyiapkan jajanan untuk dijual hari ini. Perkiraanku benar. Satu ember adonan donat dan roti goreng sedang sibuk dibentuknya. Saat melihatku, ia pun tersenyum.

“Uwah sarapan buk guru, Ayo, sarapan dulu!” Katanya sembari mengaduk adonan kue. Tetangga memang keluarga yang paling dekat. Aku bersyukur di tanah rantau ini kutemukan orang sebaik beliau.

“Mele mandi di kamar mandinya, ya Bu. Air di sekolah habis,” Kataku

“Ya, ayoo deh…Silakan bu guru. Oh, iya, buk guru, saluran air sedang rusak, diperbaiki,” Katanya sambil memasukkan adonan yang sudah dibentuknya ke dalam minyak panas.

“Oh…pantas saja, beberapa hari ini air tak ngalir, ya Bu?” Wah, mengalir dua minggu sekali saja aku kekurangan dan sering kehabisan air. Apalagi, kalau rusak….Aku menuju kamar mandi yang letaknya di luar rumah. Ini kemudahan juga bagiku. Kadang di subuh atau malam hari bersama anak-anak yang menginap di tempatku, kami ke tempat ini.

*******

Anak itu tergelincir dan berguling. Tertawa riang di atas air. Air yang kini berubah warna menjadi coklat susu. Deras guyuran hujan yang memanah tubuh tak mereka hiraukan. Seorang anak lelaki kurus bertelanjang dada, berlari menghadang temannya. Membawa bola ke mulut gawang. Dan ciaaahhhh…gooool. Yeeyyeee…teriak mereka kegirangan.

Musim hujan menjadikan suasana di tempat ini begitu semarak dan meriah. Hujan membawa kegembiraan, tidak hanya bagi para petani yang akan kembali menanami lahannya. Atau memberi keceriaan bagi anak-anak yang kini bisa bermain sepuasnya di bawah guyuran hujan. Berlarian, berlompatan, dan meluncur di lantai-lantai sekolah. Tetapi jika musim hujan datang di tempat pengabdianku ini, seolah menjadi sarana hiburan tersendiri bagi semua.

Guyuran dan rintik hujan menjadi hiburan di kampung ini. Memberikan keceriaan bagi anak-anak, remaja juga para orang dewasa. Seringkali para orang dewasa turut serta bermain hujan bersama anak-anak. Berlarian sambil menggiring bola dalam keciprat air di lapangan sekolah kami. Keterbatasan sarana permainan di pelosok tak menyurutkan kegirangan mereka. Pemandangan unik yang tak pernah kutemui di tempat lain sebelumnya. Dan hanya kutemukan di tempat ini. Mulai dari warga desa yang sangat cinta bola dapat bermain bola sepuasnya, hingga para dedarededare (remaja) dan dewasa pun tak mau kalah. Laki-laki perempuan semua menikmati datangnya hujan. Semua bergembira menyambut hujan. Suasana hujan membuat dan memberikan warna indah bagi penduduk warga Semut Merah, SPA.

Sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai petani, selebihnya berdagang. Desa ini terletak di pelosok kepulauan NTB. Wilayah Kecamatan yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Di sepanjang jalan, kita akan disuguhi dengan landscape-landscape yang mengagumkan. Juga sawah-sawah yang selalu menakjubkan mata. Di pagi hari, kau akan menemui kedamaian kampung. Kontur wilayah berbukit-bukit membuat tempat ini menjadi salah satu Kecamatan penyumbang penghasil jagung di kabupaten. Bahkan di wilayah kecamatan ini satu pabrik pengering jagung telah didirikan. Desa Semut Merah yang berada di tengah kecamatan. Dikenal dengan Dusun Oi Mangge karena banyak asamnya. Berada di atas bukit, memungkinkan tempat ini untuk menjadi salah satu wilayah yang agak susah akses airnya.

Setahun lalu, orang-orang bahkan harus berjalan beberapa ratus meter hanya untuk memperoleh air bersih. Mengisi pundi-pundi air mereka di danau kecil yang disebut Embung. Sebenarnya, hanya bendungan yang lebih mirip danau. Tempatnya sangat damai dan nyaman. Terkadang warga harus membeli air. Air bersih yang harganya bisa mencapai ratusan ribu. Air yang dibawa mobil-mobil tank. Ya, semua demi kebutuhan air bersih mereka. Mahal memang, tapi mereka butuh. Beruntunglah setahun ini air sumur bor yang dirintis oleh desa dapat mengairi wilayah penduduk yang jumlahnya sekitar ribuan ini. Air yang mengalir dua kali seminggu itu di tampung dalam bak-bak besar yang dibuat oleh warga.

**********

Hampir dua minggu air bersih di tempat kami tak mengalir. Bukan hanya di tempatku yang kekurangan air, semua tetangga di sekitar sekolah mengeluhkan hal yang sama. Saluran masih rusak, membuatku harus berpikir cerdas mengatasi kekurangan air ini. Kadangkala, dengan dibantu siswa mengambil air dari tetangga, Bu Er atau dibantu siswa menampung air pada bak-bak saat hujan datang.

Tetapi, kali ini bagaimana? Langit pun nampaknya cerah-cerah saja. Tak ada tanda-tanda akan hujan. Sementara, untuk meminta air ke rumah tetangga rasanya pun tak memungkinkan saat ini. Kulirik tempat cucianku di kamar, baju kotor telah menumpuk. Sudah berhari-hari tak pernah mencuci. Piring pun sama, kini menumpuk. Membayangkan kondisi ini, diriku mulai beriak tak tenang. Bahkan untuk wudhu shalat subuh kali ini aku harus menguras air bersih di penampungan air minum.

“Ya, guru jangan menyerah pada kondisi apapun” gumamku menyemangati diri sendiri. Kutipan kata-kata Bu Muslimah; Guru SD Andrea Hirata yang kudapatkan di perkuliahan semasa menjalani pembinaan enam bulan di SGI Bogor, kembali terngiang-ngiang. Dalam shalat, pun aku berdoa. Berharap pada-Nya. Benar-benar, tak ada tempat berlari dan mengadu selain hanya pada-Nya. Kuadukan semua keresahanku. Kuadukan segala kekurangan dan kesulitan. Ya, bukankah doa musafir begitu mustajab. Dan aku percaya itu. Sudahlah, jangan mengeluh…insya Allah ada jalan,” gumamku lagi.

*********

Assalamu’alaikum, bu guru,” sahut mereka di depan lawang rumahku. Jarum jam dinding yang tertempel tepat di atas pintu kamar masih menunjuk angka 06.00. Beberapa bocah mungil berseragam merah putih ini telah muncul. Siswa yang selalu bersemangat berangkat sekolah. Jangan salah, bahkan anak yang dicap suka mengganggu ini adalah salah satunya. Khairuman. Ruman; demikian teman-temannya memanggil. Melihat antusias dan semangat bocah-bocah ini menjadi vitamin tersendiri buatku di tempat ini. Ya, anak-anak yang selalu rindu belajar. Yang selalu datang tepat waktu, bahkan in time dari guru-gurunya. Sayangnya, mereka kadang harus pulang dengan kecewa. Atau hanya menghabiskan waktu untuk bermain kelereng dan bola bersama teman-temannya hingga jam pulang tiba. Kadang aku harus menangis dalam hati mendengar ajakan mereka. Memanggilku mengajar di kelasnya.

“Bu guru, bu guru…masa’ dari kemarin kelas IV saja yang selalu diajarin. Kita kapan bu Guru?” cecar Aska, siswa kelas V di depan kelasnya. Ya, hari ini memang aku tidak punya jadwal di sana. Kebetulan kemarin hari senin tidak masuk karena aku punya jadwal pelatihan di kabupaten. Lain pula, dengan salah satu siswa yang berkata:

“Ibu guru, bu guru…utang bu guru belum lunas!” Kata Asti di lapangan sekolah. Setelah barisan untuk morning session pagi itu selesai. Aku tak paham maksudnya, membuatku bertanya lebih lanjut.

Berapa utang ibu, Nak?” tanyaku

Itu, kan kemarin bu guru tidak masuk ke kelas kami, ayo dong bu…ajar kita,” katanya memohon. Lihatlah kerinduan mereka untuk belajar! Ya…itulah realitanya. Mereka selalu punya semangat. Bahkan lebih menderu-deru dari angin. Hanya saja, kadang tak mereka dapatkan harapan dan asa yang mereka bawa dari rumah. Lebih banyak menemukan guru-guru yang mangkir, asal mengajar. Padahal, jarak yang harus ditempuh berkilo-kilo dengan jalan kaki pula.

********

Jarum jam di dinding rumahku, tepatnya kantor sekolah menunjukkan Pukul 13.20 WITA. Langit begitu kelam. Awan hitam begitu tebal. Sepertinya, hari ini akan hujan deras mengguyur tanah kami. Benar, tak lama kemudian hujan seolah tercurah dari langit. Alhamdulillah, semoga hujan membawa rahmat buat semua. Allahumma shayyibannafi’an.

Ribuan jarum hujan berjatuhan dua harian ini. Terima kasih, ya Robb…air hujan yang mengalir dua harian ini mampu mengisi inchi demi inchi penampungan airku. Bak air berwarna merah 130 liter dan beberapa penampungan air lainnya. Hujan yang katanya dingin, muram dan kadang menjengkelkan bagi sebagian orang. Namun, tidak di tempat kami, hujan adalah hiburan, kegembiraan, rahmat juga rezeki. Ya benar-benar rezki. Rabbku, seperti ribuan rintikan hujan yang menyuburkan dan menghijaukan tanah kami, suburkan pulalah harapan dan mimpi-mimpi kami, mimpi-mimpiku dan juga mimpi anak-anakku.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Naia Athiyah
Prakstisi pendidikan, guru bantu di sekolah pelosok SDN 29 Manggelewa, Dompu NTB (Sekolah Guru Indonesia angkatan 4, Dompet Dhuafa). Pembelajar. Ingin seperti padi. Makin berisi makin merunduk

Lihat Juga

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku