Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Guru (Bukan) Idola Siswa

Guru (Bukan) Idola Siswa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Kita bisa terinspirasi dari sebuah cerita, film atau buku, perjalanan tokoh bahkan orang-orang yang dikenal di sekitar kita. Dan dengan inspirasi tersebut mendorong kita untuk mencapai sesuatu. Memiliki ledakan semangat untuk mewujudkan keinginan dan impian kita. Inspirasi merupakan kata yang paling tepat bagi sesuatu yang dapat mempertahankan motivasi dalam jangka waktu sangat panjang.

Siapakah sosok atau figur yang menginspirasi hidup Anda? Tentunya ia adalah sosok yang kita idolakan. Setiap kita mungkin punya idola. Seseorang yang telah memberikan inspirasi ataupun mengajarkan banyak hal dalam perjalanan hidup. Figur yang diidolakan atau diteladani bisa jadi membawa dampak sangat besar dalam kepribadian seseorang.  Memengaruhi cara ia berbicara, berpikir, bertindak dan berperilaku. Lalu bagaimana dengan anak-anak atau siswa di sekolah? Kita tahu bahwa anak-anak mencari figur atau sosok untuk diteladani dan ditirunya. Hal yang paling mudah kita lihat misalnya, anak-anak yang mengidolakan seorang artis atau tokoh dalam sebuah film; lihat bagaimana ia berbicara, dan berpakaian. Meniru apa yang dilihat, dan didengarnya.

Ingatlah pula asal dari kata “guru” itu. Singkatan kata dari digugu dan ditiru. Yang berarti bahwa seorang guru yang kata-katanya dipatuhi. Perilakunya senantiasa dicontoh oleh anak-anaknya. Namun, pada kenyataannya, nilai-nilai “digugu dan ditiru” dari seorang guru kini tak terlihat lagi. Guru yang asal mengajar, mangkir pada jam mengajar dan ketidakdisiplinan lainnya. Jangan harap kita bisa mendisiplinkan siswa membuang sampah pada tempatnya jika perilaku guru masih saja membuang sampah sembarangan. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan lain yang mungkin secara sadar dan tak sadar dilakukan oleh seorang guru. Hati-hati saja, karena hal ini bisa saja membuat “kecelakaan pendidikan” yang akan berdampak dalam jangka waktu yang panjang. Siswa bisa saja membenarkan perilaku “menyimpang” itu. Jika sudah demikian, mengajarkan, mendidik, dan mendakwahkan kebatilan bisa saja dilakukan seorang guru. Kita berlindung kepadaNya.

Sebaliknya, kita sering pula mengidolakan karakter atau perilaku seorang guru yang mengajarkan kita arti keikhlasan. Guru yang mendidik dengan hati dan menginspirasi. Mendidik atau mengajar bukan hanya dianggap bagian dari pekerjaan atau profesi tapi dimaknai sebagai pengabdian dan ibadah. Siswa bukan hanya sebagai objek tetapi insan seperti anak yang tidak hanya dididik tapi juga didoakan. Karenanya, profesi guru adalah sebuah amanah besar yang menggabungkan antara intelektualitas seseorang, spiritual, usaha dan doa.

Kita mungkin masih sering mengingat guru-guru yang begitu menginspirasi kita Dalam dunia pendidikan dan belajar, seorang guru yang menjadi inspirasi bagi siswa akan menjadi pendorong, penggerak bagi siswa untuk terus belajar dan menemukan hal-hal baik untuk dirinya. Dorongan itu akan terus diingatnya, walau waktu dan ruang telah lama memisahkan mereka. Begitulah kekuatan sebuah inspirasi

Lalu bagaimanakah kriteria atau sosok seorang guru idola bagi siswa? Apakah dengan menjadi seorang guru yang harus selalu menuruti setiap keinginan dan kemauan siswa? Apabila itu yang terjadi tentulah kita tak akan mampu menjalankan profesionalisme seorang guru ataupun agak sulit mendisiplinkan siswa. Karena yang dilakukan hanyalah melakukan yang disukai siswa. Ternyata menjadi guru favorit atau idola itu tidaklah gampang namun juga tidak sulit jika kita mau belajar.

Guru yang terus belajar, kompeten di bidangnya, religius dan kreatif bisa menjadi kriteria guru yang inspiratif. Selain itu, seorang guru yang menggunakan metode pembelajaran bervariatif dan menyenangkan. Setiap materi mempunyai cara penyampaian yang berbeda dan beragam serta mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif akan menjadi sosok idola siswa.

Pola komunikasi pun sangat menentukan. Misalnya; berbicara baik-baik jika marah atau kecewa pada siswa. Menebar senyum tulus kepada semua siswa. Siswa yang dicap sebagai anak bermasalah menjadi begitu berbeda, bersemangat dan rajin hanya karena senyum yang ditujukan kepada mereka. Pada saat memotivasi siswa dengan cara memotivasi bukan dengan menyindir. Menggunakan humor pada tempat dan saat yang tepat dan tidak menyinggung siswa. Berikutnya sifat sabar dan menganggap semua siswa sedang berproses. Serta tidak melanjutkan warisan guru lain dengan memberi cap buruk yang sudah diterima oleh siswa tertentu. Semoga kita selalu dibimbing oleh Allah Ta’ala dalam mendidik anak-anak yang diamanahkan kepada kita; di rumah atau pun di sekolah. Juga senantiasa diberikan kesungguhan dalam membekali jiwa-jiwa mereka dengan kecerdasan hati, perilaku dan akal.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Naia Athiyah
Prakstisi pendidikan, guru bantu di sekolah pelosok SDN 29 Manggelewa, Dompu NTB (Sekolah Guru Indonesia angkatan 4, Dompet Dhuafa). Pembelajar. Ingin seperti padi. Makin berisi makin merunduk
  • Lisma Gayo

    Assalamu’alaikum wrwb..Amazing isi Artikelnya mbak..Sy Suka sekali..Berulangulang sy membacanya..sy Share y mbak..Untuk Referensi Diri..karna Sy Juga sbagai Guru mbak..Suka sy baca Artikelnya..Syukran Naia..

  • Nurul Hidayat

    terima kasih tulisan ini sangat menginspirasi. pembelajaran buat saya.

Lihat Juga

Siswa dan Orangtua yang Terlibat Pemukulan Guru di Makassar Jadi Tersangka