Home / Berita / Daerah / Dapur Umum, Mengikis Apatisme dan Menggugah Kepedulian

Dapur Umum, Mengikis Apatisme dan Menggugah Kepedulian

Dapur Umum Adira Grup yang diadakan selama 4 hari 25-28 Januari 2014 oleh ADIRA Group (Foto: act)
Dapur Umum Adira Grup yang diadakan selama 4 hari 25-28 Januari 2014 oleh ADIRA Group (Foto: act)

dakwatuna.com – Jakarta. Melanjutkan misi pemenuhan pangan korban banjir Jakarta lewat Dapur Umum, yang diadakan selama 4 hari 25-28 Januari 2014 oleh ADIRA Group (Adira Finance, Adira Kredit, dan Adira Insurance).

Adira group juga menurunkan lebih dari 20 karyawan perharinya untuk menjadi relawan Dapur Umum, serta didampingi beberapa direksi, antara lain Swandajani Gunadi Head of HRD, Dedi Nathan selaku Business Support Director juga Silvi Tirawaty sebagai Head of Corporate Communication.

Dalam momen tersebut, atas arahan Swan, tim ADIRA Group sontak membuat alur pekerjaan dengan rapi. Mulai dari menuangkan nasi, sayur dan lauk, hingga pembungkusan. Sehingga 30 menit kemudian seluruh bahan makanan habis dibungkus. Tak membuang waktu, masing-masing anggota tim membawa sendiri paket makanan untuk diberikan ke pengungsi maupun ke warga yang baru pulang untuk membersihkan rumah.

“Pada momen Dapur Umum ini, luar biasa sekali banyak teman ADIRA yang mendaftar untuk ikut terjun. Kami berharap bisa mewadahi antusiasme mereka lewat program ini,” tutur Dedi Nathan sembari berkeliling ke titik-titik pengungsian.

“Memang kami memiliki misi Prosper With the Nation, dan inilah salah satu yang kami lakukan. Melibatkan sebanyaknya karyawan, agar kami semua terbiasa memiliki jiwa-jiwa sosial dan kepedulian terhadap sekitar kita,” tambahnya.

 

Mengikis Apatis

Dedi percaya, masih banyak orang Indonesia yang memiliki jiwa kepedulian terhadap sesama. “Sejarah dan kultur negara kita adalah gotong royong,” tandasnya.

Apalagi iklim yang kian tak bersahabat, membuat tempat tinggal siapapun terasa tak nyaman dan rentan bencana. Alam pun seolah terlanjur berantakan, dan satu-satunya yang harus berupaya untuk membenahinya adalah diri sendiri. Karena itu, sudah semestinya setiap orang mulai menjunjung kembali nilai gotong royong tersebut, bahu membahu untuk mengantisipasi hal-hal yang merugikan di masa mendatang.

Dedi juga berharap hal tersebut bisa terbangun di masyarakat perkotaan yang terkenal dengan individualistisnya. Ia mengapresiasi inovasi pemerintah yang mulai membuka ruang publik bagi masyarakat.

“Lihat saja taman-taman sudah mulai dibenahi. Ruang terbuka mulai dibenahi sehingga bisa dinikmati masyarakat untuk berkumpul. Saya percaya hal tersebut bisa mengikis nilai-nilai individualistis dan apatisme masyarakat, sehingga jiwa-jiwa kepedulian masyarakat perkotaan semakin meningkat” tandas Dedi. (Desmalia/act/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Pemberangkatan Tim Kemanusiaan ACT ke Aleppo Suriah

Aleppo Suriah Memerah Darah, ACT Kirim Tim Kemanusiaan