Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Jiwa Protes

Ketika Jiwa Protes

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Nabi SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah hendaklah dia diam.” (HR. Imam Ahmad)

Sedang dalam keadaan yang hati terasa sesak dan dongkol?

Dalam hidup memang wajar kalau ada peristiwa-peristiwa yang membuat kita marah dan kecewa. Tapi cepat kendalikan emosi Anda kembali. Jangan biarkan rasa amarah, dendam, iri, kesal atau kecewa kepada teman, pasangan, rekan kerja, atau atasan di kantor bercokol lama di hati kita.

Susah?
Kenalilah amarah kita…

Mengenal Amarah Kita

Mengapa kita perlu mengenali perasaan marah? Pentingkah? Karena beragamnya perasaan yang hinggap dalam setiap sesi hidup kita, hati kita memang seperti udara… teramat dinamis (sampai-sampai susah banget mempelajari mata kuliah Meteorologi Dinamis).

Kita sering bingung dengan apa yang sebetulnya kita rasakan. Apakah sedih, terluka, kesal, tersinggung, merasa terzhalimi, dan lainnya. Kemampuan mengenali “saya sedang marah” menjadi bekal yang sangat penting jika kita ingin berdamai dengan amarah.

Saat merasakan ketidakadilan, menerima perlakuan yang menyinggung, atau tindak agresi dari pihak lain sangatlah wajar jika dalam dirinya muncul emosi marah. Dengan marah, ada energi yang menodong kita untuk mengubah keadaan dan membela diri.

Secara definisi, marah merupakan kekuatan setan yang disimpan oleh Allah Taala di dalam diri manusia. Al-Ghazali mengatakan adanya marah di dalam diri manusia untuk menjaga dari kerusakan dan untuk menolak kehancuran. (Najar, 2001)

Al-Jurjani (2001), marah adalah perbuatan yang terjadi pada waktu mendidihnya darah di dalam hati untuk memperoleh kepuasan yang terdapat di dalam dada. Imam Nawawi mendefinisikan marah dari perspektif ilmu tassawuf bahwa marah adalah tekanan nafsu dari hati yang mengalirkan darah pada bagian wajah yang menimbulkan kebencian pada diri seseorang.

Pemicu Amarah

Setelah mengenal amarah dalam diri kita, lalu kenali apa yang membuat kita marah. Umumnya orang marah karena memiliki persepsi tentang sesuatu yang tidak sesuai dan tidak adil bagi dirinya, orang lain, atau sesuatu yang ia peduli terhadapnya. Ia terluka karena kondisi tersebut dan ingin melakukan sesuatu sebagai kompensasi dari perasaan itu. Hal ini yang kerap mendorong orang untuk berlaku buruk (merugikan).

Sebenarnya, apabila kita kesal kepada pasangan atau kawan yang mengingkari janji, lalu kita menyalahkan mereka atas kekacauan semua itu, maka kita akan mendapatkan kembali keadaan yang dipersalahkan itu. Kekesalan, amarah dan kekecewaan hanya akan mengaktifkan hukum tarik menarik, membuat kita menerima apa yang kita berikan… percayalah. Kembalinya keadaan itu tidak harus selalu dari orang yang kita salahkan, tetapi sejatinya kita akan mendapatkan kembali keadaan yang kita salahkan itu. Ibaratkan ujian Allah…. kita remedial dengan hasil ujian itu.

Jangan rugikan waktu-waktu kita hanya berkutat dalam tantangan kehidupan yang sama. Ikhlaskanlah, maafkanlah. Hati akan terasa lebih lega dan ringan dalam menjalani hidup, lebih fokus terhadap tujuan hidup tanpa terbebani penyakit-penyakit hati yang hanya akan menghabiskan energi positif.

Melatih kesabaran diri mengendalikan emosi amarah terkadang membutuhkan pula kesabaran waktu yang cukup panjang. Tidak cukup dengan satu atau dua kali ujian. Diperlukan latihan yang terus menerus dan berkelanjutan. Meski demikian bagi mereka yang memiliki kebijaksanaan hati, tidak akan mengeluh karena panjangnya waktu yang harus dilalui. Dia juga tidak merasa bosan karena cobaan yang datang tindih-bertindih. Kesabaran seperti itu pula yang harus ada pada setiap orang yang ingin menjadi pemenang dalam kehidupan ini.

Mengontrol Amarah

Untuk mengetahui seberapa bisa kita mengendalikan emosi, cermati hal berikut. Saat kamu mengalami sebuah kondisi yang memancing kemarahan, berapa lama kamu bisa meredakan perasaan itu? Dan sejauh mana efek kejadian itu terhadap kehidupan mu? Apakah aktivitasmu terganggu karena hal itu? Jika jawabnya tidak, apalagi hanya butuh waktu sebentar untuk meredakan kemarahan, berarti kamu termasuk sosok yang cerdas emosi.

Tidak mudah untuk menahan amarah, apalagi kalau menemui hal-hal yang pantas mengundang emosi amarah seseorang. Memang fitrah dan dapat dimengerti apabila seseorang mengalami kekesalan, kecemasan, sakit hati yang dipicu oleh hal-hal yang mengundang emosi ini. Tetapi sangat tidak dibenarkan mengekspresikan rasa marah dengan cara agresif dan merugikan orang lain. Diperlukan kesabaran hati agar mampu mengontrol diri untuk tidak melampiaskan emosi kemarahan dengan membabi buta.

Melatih kesabaran hati sangat berhubungan erat dengan suasana hati seseorang. Menurut Richard Wenzlaff, ahli psikologi dari University of Texas, mengalihkan suasana hati agar menjadi positif dapat dilakukan dengan melakukan selingan yang positif seperti menonton peristiwa olahraga yang dinanti-nanti, film komedi atau dengan membaca buku-buku bacaan ringan.

Melatih kesabaran hati selain menyangkut dimensi emosional seseorang, juga sangat berhubungan dengan dimensi spiritual seseorang. Manusia yang memiliki orientasi pada nilai-nilai spiritualiasme yang bersumber dari hati nurani ketika terjadi rangsangan-rangsangan pada emosinya, emosinya akan tetap tenang dan terkendali. Karena aspek mentalnya telah diperkuat oleh nilai-nilai spiritualnya dan dimensi spiritual akan menjadi pembimbing untuk bereaksi normal terhadap rangsangan emosi yang datang.

Melatih kesabaran hati terus menerus sangat penting dalam pengendalian emosi. Kesabaran hati dalam pengertian mampu menerima keadaan, memahami situasi dan dapat mengendalikan emosi dan amarah sehingga tidak sampai bertingkah aneh dan melampaui batas.

Kesabaran hati adalah akar dari rahasia kebijaksanaan hidup. Kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan, betapa pun beratnya dan tetap selalu menebarkan cinta dan kasih sayang.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Berdamai dengan diri sendiri adalah cara bijaksana dalam mengendalikan emosi amarah. Setiap orang yang mencintai dirinya sendiri, pada akhirnya akan memaafkan kesalahan dan kekurangan diri sendiri. Jadi maksud dari berdamai dengan diri sendiri adalah mampu mencintai diri sendiri dan memenuhi hati dengan cinta dan kasih sayang.

Berdamai dengan diri sendiri dapat juga dimaknakan memahami setiap keadaan yang datang, tidak menyalahkan orang lain, dapat menerima sesuatu yang menimpa diri kita dengan lapang. Karena hidup tidak jarang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang membuat emosi tergerak seperti frustrasi, depresi, rasa sakit hati, bersedih, bahagia dan hal-hal yang tidak dapat diramalkan. Kalau kita mampu berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri sendiri, maka hati akan menjadi lebih lapang. Memiliki hati yang lapang menjadikan kesabaran dan kemampuan mengendalikan emosi kemarahan.

Berdamai diri sulit?

Bagaimanapun juga ada kala tembok kesabaran kita memang jatuh, dan saya rasa hal ini pun fitrah. Seorang Rasulullah saja pernah tidak sengaja acuh dengan Abdullah bin Ummi Maktum (seorang buta) kemudian diabadikan dalam Q.S. Abasa.

Yah, mungkin kita tidak dapat mengontrol setiap kejadian yang datang, tetapi bagaimanapun juga kita tetap dapat “memaksa” diri kita dengan melakukan hal lain. Kita dapat mengontrol bagaimana kejadian-kejadian tersebut dapat mempengaruhi kita. Menyuburkan benih-benih cinta, berbagi cinta dengan sesama, meningkatkan kesabaran dalam hati, mudah memaafkan, membalas dengan kebaikan dan mampu berdamai dengan diri sendiri merupakan sarana mengendalikan emosi. Emosi yang terkendali menjauhkan diri dari tindakan agresif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tumbuhkan Karakter SIQ

“Jika saya mengikhlaskan diri saya, saya menjadi yang saya inginkan. Jika saya mengikhlaskan yang saya punya, saya akan menerima apa yang saya butuhkan” (Tao Te Ching)

Saya lebih suka menyebutkan karakter SIQ sebagai solusi yang mendasar dan ampuh. SIQ adalah mental Spiritual, Ikhlas dan Qana’ah.

Spiritual sebagai aspek pengingat kita akan hakikat Allah. Bahwa sombong adalah selendang milik Allah yang tak boleh makhluk satu pun yang menyandangnya. Hanya Dia.

Ikhlas sebagai aspek yang akan mengingatkan diri kita kepada sesama. Ikhlaskan diri untuk mendamaikan keadaan. Mundur satu langkah bukanlah hal yang salah jika untuk mendapatkan jarak lompatan yang lebih jauh. J

Qana’ah sebagai aspek penerimaan kepada diri kita. Menerima dengan tenang akan turut menenangkan hati kita

Inilah aspek-aspek penting yang ada dalam diri manusia, yang ikut menjadikan mereka mampu menumbuhkan energi spiritual dalam menghadapi kehidupan. Mereka mampu mempengaruhi orang lain, dan akhirnya membuat orang lain menghargai kepribadian mereka. Karakter perilaku seperti inilah kalau terus dilakukan menjadi kebiasaan dapat melahirkan perilaku yang bijaksana. Perilaku yang meninggikan kemuliaan hidup kita di hadapan orang lain dan di hadapan Tuhan, serta menjadikan kehidupan penuh potensi dan keagungan.

Semoga Allah mengaruniai sabar yang tak terbatas dan ikhlas yang tak bertepi untuk kita semua, sehingga apapun rintangan dan cobaan yang dilalui akan terasa lebih ringan. Aamiin.

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Teguh Setyawan
Taruna di Sekolah Tinggi Teknologi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta. Bekerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Lihat Juga

Ilustrasi. (markazimammalik.com)

Lentera Jiwa