Home / Narasi Islam / Dakwah / Robohnya Dakwah Di Tangan Dai

Robohnya Dakwah Di Tangan Dai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ustadz Fathi Yakan merupakan seseorang yang banyak menghabiskan hidupnya di lapangan dakwah, melihat bahwa gerakan dakwah telah marak digerakkan oleh para aktivisnya. Lembaga dakwah dengan berbagai kecenderungan muncul di mana-mana, baik yang hadir secara formal maupun informal telah memberikan kegembiraan dan nuansa tersendiri. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula realitas lain yang dapat menghambat laju gerakan dakwah dan tak lain justru lahir dari internal gerakan dakwah itu sendiri.

Adapun penyebabnya adalah:

1. Hilangnya Mana’ah I’tiqadiyah (Imunitas Keimanan)

Imunitas keimanan yang hilang akan menyebabkan tidak tegaknya bangunan di atas pondasi pemikiran dan prinsip yang benar. Adakalanya sebuah organisasi hanya berwujud organisasi tokoh yaitu organisasi yang tegak di atas landasan loyalitas kepada pemimpin yang diagung-agungkan. Tak hanya itu, ada pula organisasi figur yaitu berupa organisasi yang dibangun di atas bayangan figur seseorang atau organisasi kepentingan yang hanya berorientasi pada materi semata. Tak heran bila bangunan organisasi itu pun menjadi lemah dan rapuh serta tidak mampu menghadapi kesulitan dan tantangan zaman serta mudah tercerai-berai.

2. Perhatian Tertuju Hanya Pada Segi Kuantitas

Salah satu hal yang paling sering terjadi dalam organisasi dakwah adalah kebanggaan dan perhatian terhadap kuantitas. Bilangan anggota seringkali menyibukkan dan menguras perhatian para pemimpin. Seringkali packaging dan proses yang baik hanya dilakukan pada saat rekrutmen tetapi aspek pembinaan yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kader seringkali terabaikan. Banyak yang beranggapan bahwa jumlah yang banyak selalu menjadi penentu sebuah kemenangan. Tetapi di lain pihak, jumlah yang banyak juga seringkali menjadi pemicu setiap problem dan pembakar api pertikaian.

Cukuplah sebagai bukti apa yang terjadi di perang Hunain, tatkala pasukan Islam berbangga dengan jumlah pasukan yang besar.

“Dan ingatlah Perang Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas ini terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (At- Taubah: 25)

Perang Hunain pun menjadi saksi hancurnya kuantitas yang dibarengi dengan penyakit sejenis riya dan takabur. Berbeda halnya dengan Perang Badar yang dimenangkan oleh pasukan Islam dengan jumlah personil yang sedikit karena mengedepankan aspek kualitas dan ruhiyah yang baik.

3. Tidak Ada Keamniahan Dalam Dakwah

Berbicara tentang dakwah berarti berbicara tentang strategi. Seringkali para da’i tidak menyadari bahwa tidak semua hal dapat diketahui oleh khalayak umum baik proses ataupun orang yang terlibat. Contohnya adalah saat mendapat SMS berupa ta’limat dari Murabbi dengan kalimat “HANYA UNTUK ANTUM”. Ternyata banyak da’i yang masih tidak bisa menjaga kerahasiaan yang telah dibentuk sehingga musuh dapat dengan mudah “membaca” gerak yang telah dipersiapkan serta membongkar aktivitas gerakan dakwah.

“Hai orang-orang yang beriman, ambillah kewaspadaan lantas majulah berkelompok-kelompok atau bersama-sama (An-Nisa: 71)

4. Tidak Sabar Dengan Budaya Proses

Hasan Al-Banna pernah berkata, “Sesungguhnya kepahlawanan itu hanya dapat terlihat melalui kesabaran, ketahanan, kesungguhan dan kerja yang tak mengenal lelah. Barang siapa di antara kalian yang tergesa-gesa ingin menikmati buah sebelum masak atau memetik bunga sebelum mekar, maka saya tidak bersamanya sejenakpun. Ia lebih baik minggir dari dakwah ini untuk mencari medan yang lain”.

Perubahan Islami yang terjadi di masyarakat bukanlah hal yang mudah dan dapat ditempuh dalam waktu singkat. Faktor waktu memiliki kedudukan tersendiri dalam setiap aktivitas perubahan, bahkan meskipun sekadar langkah perbaikan. Perubahan Islam dalam bentuknya yang khusus bukan sekadar masalah memperindah dan mengubah bentuk, tetapi ia mengganti dengan realitas baru, termasuk prinsip-prinsip aqidah, pemikiran, dan juga budaya.

5. Budaya Akhlak Yang Buruk

Salah satu faktor yang merusak barisan adalah akhlak buruk yang masih ada dalam diri para da’i seperti suka menggunjing, mengadu domba, su’uzhan, fitnah, dengki, banyak bicara, dan tersebarnya itu semua tanpa kendali dengan alasan memperbaiki keadaan melalui amar ma’ruf nahi mungkar.

6. Tidak Tsiqah (Taat) pada Qiyadah

Sebuah gerakan apapun namanya apabila memiliki ketsiqahan yang bercabang dengan pihak lain, maka akan menjadi gerakan potensial yang melahirkan pertikaian dan memunculkan ambisi-ambisi pribadi.

7. Tidak Professional Dalam Manajemen

Melihat lemahnya manajemen pada bangunan organisasi menyebabkan keringnya keyakinan baik di tingkat anggota maupun pemimpin. Di samping itu, beban dakwah baik material maupun spiritual begitu berat sehingga akhirnya menjadi bangunan yang rapuh dan pintu-pintunya terbuka lebar.

8. Rendahnya Pemahaman Politik

Hal ini terkadang menjadi faktor penyebab lepasnya elemen-elemen bangunan dan kehancurannya. Sebuah gerakan di mana saja apabila tidak memiliki kesadaran politik yang tinggi dan baik, maka tidak bisa hidup dan mengimbangi zaman.

Lantas, bagaimana menjaga bangunan dakwah?

1. Berjamaah Atas Dasar Takwa

Menegakkan bangunan atas dasar takwa kepada Allah SWT pada seluruh elemennya adalah suatu keharusan. Selain aktivitas tarbawi (pendidikan), maka aktivitas siyasi (politik) pun mesti dibangun atas dasar takwa.

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaanNya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” (At-Taubah: 109)

Gerakan dakwah yang mampu menjaga nilai-nilai ajaran Allah dan takwa kepada-Nya, maka gerakan dakwah tersebut akan menjadi gerakan yang mapan dan kukuh pijakannya.

2. Tingkatkan Amalan Yaumiah

Amalan yaumiah merupakan sumber energi utama bagi gerakan dakwah. Ibaratkan sebuah motor, apabila akan menempuh perjalanan yang jauh maka motorpun akan diisi dengan bensin yang banyak. Begitu pula dengan kegiatan dakwah, semakin banyak aktivitas yang digarap, maka seharusnya semakin dekat pulalah kita kepada Allah dengan memperbanyak amalan yaumiah.

3. Perbaiki Akhlak

Di dalam perjalanan dakwah seringkali terdapat perselisihan dan pertentangan. Hendaknya dalam penyelesaian masalah tersebut tetap menggunakan adab, etika dan sesuai pada forumnya sehingga tetap menjaga kehormatan saudara kita.

4. Berlaku zuhud sebagai Qiyadah

“Zuhudlah kamu akan harta dunia, niscaya Allah akan menyukaimu. Zuhudlah kalian akan apa-apa yang ada di tangan orang. Niscaya orang akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah)

5. Mempererat Ukhuwah Persaudaraan

Ukhuwah (persaudaraan) merupakan elemen bangunan yang paling kuat dan faktor cukup berpengaruh dalam pertahanan internal.

Seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana bangunan yang saling mengukuhkan antar sesamanya” (HR. Bukhari)

6. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar ma’ruf berarti memerintahkan keutamaan dan kemuliaan akhlak secara lisan maupun tindakan. Sedangkan nahi mungkar berarti mencegah perbuatan keji dan merusak baik secara lisan maupun tindakan.

Beberapa cara yang merupakan amar ma’ruf nahi mungkar dalam gerakan dakwah adalah:

a) Menjaga mekanisme syura

Syura (musyawarah) dalam mengambil keputusan dapat menjauhkan rasa egoisme, kediktatoran dan menyaring emosi dari masing-masing anggota syura.

b) Tingkatkan manajerial organisasi

Seluruh aktivitas hendaknya ditegakkan di atas perencanaan dan manajemen dengan melibatkan seluruh anggota dalam memikul tanggung jawab.

7. Menjaga Keseimbangan Dakwah

Amal islami ditegakkan di atas prinsip saling melengkapi dan seimbang. Aktivitas pendidikan (tarbiyah) wajib memperoleh perhatian istimewa betapapun dinamisnya aktivitas kehidupan secara umum. Bila aktivitas tarbiyah ini mengalami kemacetan, maka akan terlihat dampak negatif dalam bangunan gerakan dakwah.

8. Menjaga Aspek Pembinaan

Salah satu penyebab hancurnya berbagai kelompok Islam adalah lemahnya pembinaan. Dalam hal ini terlihat saat lemahnya sang murabbi (pendidik) dalam membina dan acuh tak acuhnya mutarabbi dalam proses tarbiyah. Lemahnya aspek pembinaan ini akan mengancam kualitas takwa anggota dan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya penyakit hati yang dapat memecah belah kehidupan berjamaah.

Semoga Allah tetap menjaga keistiqamahan kita dalam mengemban amanah-amanah dakwah ini.

Sumber: Robohnya Dakwah Di Tangan Da’i (Fathi Yakan)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Juli Trisna Aisyah S
Mahasiswi Institut Teknologi Telkom, Bandung. Berada di lingkungan pendidikan yang cukup kondusif dan penuh seni. Seseorang yang sedang aktif di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan sedang berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta menebarkan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.
  • imamfadloli

    Tulisan yang sangat menggugah tentang bagaimana seharusnya berdakwah.
    Salam kenal dari sesama alumnus telkom university mba(atau ibu?). ^_^

  • rudi cahyono

    Menggugah sekali mbak ,lanjutkan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers