Home / Pemuda / Cerpen / Ketika Merpati Hinggap di Atap Masjidil Haram

Ketika Merpati Hinggap di Atap Masjidil Haram

(Lanjutan CerpenLelaki Tampan di Sudut Masjid Nabawi)

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comLabbaik AllahumaLabbaik… Labaika La Syarika Labbaik… Innal Hamda Wa ni’mata LakaWal Mulk… La Syarika Laak…”

Mobil bus Ar-Raheel yang kami tumpangi memasuki tanah suci Mekah. Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam dari kota Madinah, kini kami mulai memasuki kawasan tanah haram Mekah. Cukup meletihkan perjalanan ini, namun semangat untuk segera melihat Ka’bah, bertawaf mengitarinya dan mencium hajar aswad telah berhasil membunuh rasa kantuk dan letihku.

Kuperhatikan jamaah yang umumnya telah sepuh, mereka mulai terbangun dari tidurnya. Perjalanan Madinah – Mekah memang menakjubkan. Meski bukan jalan tol, namun jalanan sangat lancar. Sepanjang perjalanan adalah gunung batu dan hamparan pasir. Aku teringat bagaimana dulu Rasulullah berangkat menunaikan haji dari Madinah ke Mekah. Berhari-hari melewati jalan batu ini. Sungguh, jamaah haji dan umrah sekarang sangat dimudahkan.

Kini, bus kami telah benar-benar berhenti di depan hotel. Ya, di depan hotel Darul Eman Mekah. Benarlah kata Pak Endang, tour leader kami; bahwa sepanjang perjalanan umrah ini menggunakan fasilitas Darul Iman Group. Top deh travel-nya. Dan kami mulai check in sekitar pukul delapan malam.

Pak Endang berpesan, “Selesaikan dulu makan malamnya, nanti sama-sama berkumpul lagi di lobby, kita bersiap umrah.” Umrah! Seakan aku tak percaya, sebentar lagi kami akan ke Masjidil haram, menunaikan ibadah umrah. Tak sabar rasanya untuk segera melihat Ka’bah; melihat “bangunan sederhana” yang menjadi kiblat setiap muslim menunaikan ibadah shalatnya.

Aku teringat ceramah ustadz Faishol saat manasik tempo hari. “Ka’bah adalah rumah ibadah paling tua yang dibangun oleh umat manusia. Al-Qur’an menegaskan, “sesungguhnya, rumah ibadah yang pertama kali untuk umat manusia adalah yang ada di Bakkah / lembah.” Karena itu, Ka’bah dinamakan sebagai “baitullahi al-atieq”; rumah Allah yang sangat antik.”

Tak sabar rasanya ingin segera bertawwaf, mengitari Ka’bah bersama ribuan umat muslim lainnya. “Mba Nisa, makan dulu yuk…” suara Linda membuyarkan lamunanku. Selesai makan malam, kami berkumpul kembali di lobby hotel. Kulihat Pak Endang juga sudah menunggu di lobby. Kali ini dia tidak sendiri. Kulihat ada seorang laki-laki, berperawakan tinggi, putih, agak kurus, bermuka tirus dan berhidung mancung tengah terlibat percakapan dengan Pak Endang. Aku tak mengenali laki-laki itu, sebab tak ada dari rombongan umrah kami anak muda itu.

Setelah jamaah semua berkumpul di lobby, Pak Endang bilang, “Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mengingat jumlah kita banyak; lima puluh orang; maka, khawatir terpisah-pisah, kita akan dibantu Mas Idil.” Oh…Jadi dia mutawwif, pantas aku tak melihatnya. Hm…

— *** —

Akhirnya, sampailah kami di depan Ka’bah. Ya, benar-benar di depan Ka’bah. Aku langsung sujud syukur saat pertama menatap bangunan mulia itu. Ya Allah, betapa beruntungnya aku, saat jutaan umat muslim tak mampu ke tanah suci, aku telah berada di sini. Menatap Ka’bah dengan mata kepalaku sendiri. Aku menangis sejadi-jadinya.

Dalam sujud-ku, aku teringat almarhum Papa, Mama, Bang Indra dan Airin, adik-kakakku. Kami memulai tawwaf dari sudut bertanda lampu hijau. Pak Endang di depan kami, memulai aba-aba… “Bismillahi allahu akbar..” melangkahlah kaki kami dalam putaran tawwaf bersama ribuan malaikat yang terus bertasbih pada-Nya.

Putaran pertama selesai, lalu kedua, ketiga, keempat – dan kulihat rombongan kami yang berjumlah lima puluh orang ini semakin terberai. Aku tak melihat lagi Pak Endang dan bapak-ibu lainnya. Aku bersama Linda, bu Wiwin dan dua bapak tua (maaf aku tak hafal namanya) kini didampingi Mas Idil. Kami terus melanjutkan tawwaf hingga selesai tujuh putaran.

Selesai tawwaf, kami shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, memanjatkan segala doa (tentu termasuk doa dapat jodoh :), lalu bersegera menuju bukit Shafa untuk bersa’i. “Sesungguhnya, Safa dan Marwa adalah bagian dari syiar Allah…”. Lamat-lamat terdengar suara orang-orang melafalkan bagian dari ayat tersebut. Kami memulai rangkaian perjalanan sa’i dari bukit Safa menuju bukit Marwa. Jauh juga ternyata, setidaknya satu perjalanan dari bukit Safa ke Marwa dibutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Kami menuntaskan seluruh prosesi umrah sekitar dua jam.

Kami tahalul (menggunting rambut sedikit) di atas bukit Marwa sebagai pertanda ibadah umrah kami telah sempurna. Aku, bu Wiwin dan Linda mengucapkan terima kasih pada Mas Idil yang telah sabar membimbing kami.

— *** —

Ini adalah hari kedua di Mekah. Tak ada agenda resmi dari pihak travel agent-ku kecuali nanti malam berkumpul di restoran untuk sekadar siraman rohani. Aku dan Linda memutuskan untuk mengisi pagi menunggu Zhuhur dengan belanja oleh-oleh. Sebenarnya sih, koperku sudah penuh sejak di Madinah, tapi ada saja yang belum terbeli. Biasa, ibu-ibu, eh belum yah.

Saat turun ke lobby hotel, aku bertemu Mas Idil.

“Mau ke mana, Mba?”

“Beli oleh-oleh” kataku sekilas.

“Kalau mau ikut denganku. Banyak oleh-oleh dengan harga murah dibandingkan di dekat Masjidil haram ini” Katanya.

Aku melirik Linda; ia nampak tak keberatan.

“Jauh?” tanyaku.

“Nggak, daerah di ujung Misfalah.” Katanya sambil menunjukkan jari ke arah Misfalah. “Aku kebetulan bawa mobil, jadi nanti terkejar shalat Zhuhurnya di masjid.”

Kami berangkat ke Misfalah. Sesaat aku teringat pesan orang-orang tua di kampung; jangan pernah naik taksi di Arab.

“Tenang saja, Mba. Ini bukan taksi.” Kata Mas Idil seakan membaca pikiranku.

“O yah. Namanya siapa?” Katanya lagi. Aku perkenalkan diriku dan Linda. Dari balik kaca spion, kulihat wajah Mas Idil sumringah. He… kurang kerjaan banget aku yah!

Jam sebelas kami sudah sampai kembali ke hotel. Aku ucapkan terima kasih untuk Mas Idil yang sudah berbaik hati mengantarkan “nyonya besar” belanja. Aku melihatnya tersenyum dan lalu izin pergi mau balik ke rumahnya. Katanya sih rumahnya di sekitar Subaikah. Mana aku tahu Subaikah; Pulo Gadung aku tahu.

Malam hari, siraman rohani diagendakan mulai jam delapan. Biasa lah, molor sedikit dari jadwalnya. Maklum, banyak ibu-ibu sepuh. Biasanya juga Pak Endang yang menyampaikan taushiyah. Tetapi malam ini berbeda. Laki-laki berpakaian Arab dengan sangat rapi duduk di depan jamaah. Sekilas, aku tak mengenali laki-laki itu; Sejurus kemudian baru aku tersadar bahwa itu Mas Idil.

Ya ampun, saat ia memakai gamis (baju panjang), sungguh tak terlihat sebagai orang. Pak Endang lalu “memperkenalkan” ustadz muda itu.“Bapak – ibu sekalian, taushiyah malam ini akan disampaikan olehal-mukarram sahabat dan guru kita semua; Aidil al-Atas.” oh, berdarah al-Atas toh, pantesan… gumamku.

Mas Idil, eh ustadz Aidil al-Atas itu kemudian menyampaikan tausiyahnya. Sungguh terlihat penguasaannya pada ilmu agama. Ia fasih menyitir ayat-ayat al-Qur’an, hadits dan tentu cerita-cerita menarik seputar Ka’bah.

Tentang Ka’bah, ustadz Aidil menceritakan bagaimana bangunan itu telah menjadi “centre of attraction” para peziarah sejak zaman sebelum Islam. Caranya menceritakan surah al-Fil (gajah) sungguh berbeda dengan para da’i di teve Indonesia yang umumnya kering, penuh lelucon dan tak berisi. Lalu, ia menceritakan tentang Tahun Gajah.

“Disebut demikian, sebab pada tahun ketika Nabi lahir itu, pasukan Abraha dari Yaman tengah menuju Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Peristiwa itu, menurut Ibn Hisyam, “coinsident” dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Awalnya, raja Abraha di Yaman telah membangun al-Qullaiys – gereja Ekanola – di Yaman. Abraha sendiri adalah raja Yaman yang berdarah Ethiopia. Saya lebih suka menyebutnya sebagai gubernur wilayah Yaman sebab pusat kekuasaan Kristen ketika itu adalah kerajaan Aksum di Ethiopia. Kerajaan itu sangat besar. Mereka menguasai perdagangan kawasan Arab dan India. Maka itu pula, Rasulullah sendiri pernah mencoba ber-hijrah ke Ethiopia; menunjukkan kawasan itu adalah “land of opportunity”.

Abraha berharap al-Qullaiys yang ia bangun menjadi “daya tarik” untuk mengembangkan industri turisme Yaman. Namun, pesona Ka’bah di lembah Mekah lebih menarik perhatian para peziarah. Sehingga, ia mengkonsolidasikan pasukannya untuk menghancurkan “bangunan kubus” di Mekah itu.

Peristiwa itu diabadikan al-Qur’an dengan diturunkannya surah al-Fil. Ketika menceritakan tentang proses penghadangan mereka, Allah SWT berfirman, وأرسلعليهم طيرا أبابيل Selama ini, pemahaman atas ayat itu adalah, Allah mengirim burung Ababil. Saya lebih suka memahaminya, “Dan Aku utus untuk menghadang mereka burung yang berbondong-bondong.” Sebab, burung-burung itu diutus untuk menghadapi empat puluh ribu tentara Abraha, maka wajar-lah jika mereka datang bergelombang.” Maka, sejak itu semua musuh Allah takut dengan kesucian Ka’bah.

Mas Idil lalu menutup ceramahnya dengan gurauan, “Perhatikan deh, ribuan merpati di dekat Masjidil haram ini juga takut dengan Ka’bah, tak ada satu pun yang hinggap di atas-nya.”

Iya kah? Pikirku. Diam-diam aku memperhatikan Ka’bah saat tawaf di hari berikutnya; memang tak ada merpati hinggap di atapnya. Padahal, kota ini dipenuhi ribuan burung jinak itu.

—***—

Hari demi hari berlalu. Tak terasa sudah sepekan kami di tanah suci Mekah. Seluruh rangkaian ziarah telah dilaksanakan; mengunjungi Arafah, Mina, Mudzhalifah dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Bahkan, aku dan Linda dapat bonus dari Mas Idil. Ya, kami berdua diajak mengunjungi museum Ka’bah dan mampir makan di restoran di tengah padang pasir. Aku tak tahu nama daerahnya, tetapi jelas di luar kota Mekah; sebab di restoran itu banyak anak-anak muda Arab yang nongkrong sambil nonton bola. Pengalaman yang menakjubkan. Sesekali Mas Idil menelpon ke kamarku, sekadar tawarkan buah dan makanan kecil lainnya. Bu Wiwin pasti menggodaku.

Setelah selesai menunaikan seluruh rangkaian perjalanan ibadah umrah ini, kini kami bersiap-siap kembali ke tanah air. Jam sepuluh pagi kami telah berkemas; menyiapkan seluruh bawaan untuk dimasukkan ke koper. Mas Idil menghampiriku;

“Aku akan ikut kalian ke Jeddah” Katanya, seakan memberi tahu aku; padahal aku tak pernah bertanya.

Aku hanya tersenyum. Bu Wiwin dan Linda saling melirik. Aku tahu apa maksud mereka. Sekali waktu, Bu Wiwin juga pernah menggodaku; “Sudahlah, dipikir apa lagi. Tampan lho dia. Kalau di Jakarta sudah jadi bintang sinetron tuh” Aku hanya senyum-senyum saja.

Terus terang, aku mulai bimbang. Ada Nael Al-Zaydan yang kukenal hanya sekilas di Madinah namun mampu memberikan kesan yang mendalam. Dia sungguh sangat tampan, simpatik dan – shalih. Tapi, apa iya dengannya. Pria asing yang bahkan aku tak tahu asal-usulnya. Bagaimana pula nantinya, jauh sekali. Eh, aku kok jadi berfikir aneh.

“Nis…” suara Mas Idil memecah lamunanku. “Aku titip ini; baru boleh dibaca saat di mobil nanti.” Mas Idil memberikan sepucuk surat. Kini aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Dosakah aku? Salahkah aku dengan Nael; seseorang yang baru saja melintas di benakku. Tapi kan, dia bukan siapa-siapa aku…

Di dalam bus, aku membuka surat Mas Idil. Ini isi suratnya:

Assalamu’alaikum,

Nisa yang baik hati.

Bertahun sudah aku tinggal di Mekah; mula-mula ikut ayah yang merantau ke tanah suci ini, hingga akhirnya kuselesaikan studiku di Universitas Ummul Qura’. Kini, ayah telah wafat dan aku selalu ditanya ibu: kapan mau berumah-tangga. Tahu apa jawabanku, selalu. “Aku belum melihat merpati hinggap di atap Masjidil haram, bu.” Ibu lalu tersenyum.

Aku bangga mengenalmu, Nis. Aku bahagia sebab mendapati merpati yang kini hinggap, tidak lagi di Masjidil haram, tetapi di sini – di lubuk hatiku. Ia terbang jauh dari negeri nan hijau ke kota nan tandus ini, lalu menyirami hatiku yang gersang. Ia terbang bersama jutaan suara dalam irama talbiyah, dan aku menemukannya di antara jutaan suara itu.

Saat menulis surat ini, aku teringat Qais bin Maluh – itu lho penyair yang sampai gila karena cintanya tak tertunaikan pada Layla.

تعَلَّقتُ لَيْلَى وهْيَ غِرٌّ صَغِيرَة ٌ *** ولم يَبْدُ لِلأترابِ من ثَدْيها حَجْمُ

صَغِيرَيْنِ نَرْعَى البَهْمَ يا لَيْتَ أنَّنَا *** إلى اليوم لم نكبر ولم تكبر البهم

Aku mengagumi Layla saat ia bermain boneka; seorang anak kecil ***

bahkan gundukan pasir debu lebih besar dari ukuran tubuhnya

Kami adalah dua anak yang merawat domba bersama; sekiranya kami ***

hingga hari ini tak pernah menjadi dewasa; dan domba-domba itupun tak pernah menjadi tua.

Saat pertama melihat-mu, aku sungguh merasa menemukan sahabat kecilku. Impian saat kami merajut cita-cita di Taman Kanak-kanak di masjid al-Ittihad, Tebet, sekitar lima belas puluh tahun lalu. Nama kalian pun sama: Annisa.

Maaf jika aku kurang sopan, membandingkanmu dengan sahabat kecilku. Aku hanya ingin mempertegas bahwa “rasa” ini datang bagaikan kolektif memori yang membangunkanku dari lamunan panjang. Kita hanya sepekan bertemu, namun aku mulai punya keberanian untuk bercerita pada Ibu di rumah, di Subaikah. Insya-Allah, bulan depan – kami sekeluarga akan kembali ke Indonesia, jika Nisa berkenan, aku – dan tentu dengan ibu – ingin mampir ke rumah.

Aku senang mengutip Qais bin Maluh sekali lagi:

وَجَدْتُ الحبَّ نِيرَاناً تَلَظَّى *** قُلوبُ الْعَاشَقِينَ لَهَا وَقودُ

فلوكانت إذا احترقت تفانت ***  ولكن كلما احترقت تعود

Aku mendapati cinta sebagai api yang menyala ***

di mana dua hati sejoli adalah bahan bakarnya

Semestinya, setelah terbakar – punahlah ia ***

Namun, semakin sering terbakar, keduanya penuh kembali

Demikian surat ini kubuat, malam ini – jam 22.30 Waktu Mekah. Sampaikan salamku untuk ibu dan keluargamu di Indonesia. Salam hormat, Idil.

Selesai membaca surat itu, aku terhenyak. Dahsyat sekali kekuasaan Allah; dua puluh tujuh tahun aku di Indonesia, tak pernah ada yang benar-benar membuatku “bingung”, kini hanya dalam hitungan hari, aku bertemu dengan dua laki-laki yang membuatku “melongo”, bahkan aku jadi terkesan bloon dan bego.

Saat kami akan masuk imigrasi di bandara Jeddah, Mas Idil menghampiriku dan bilang, “hati-hati di jalan. Take care!” Aku hanya tersenyum.

— *** —

Kini, aku benar-benar dalam pilihan sulit. Nael al-Zaydan – sosok tampan — di Madinah; dan Mas Idil – sosok mempesona — di Mekah. Keduanya bulan depan ke Jakarta dan berniat menemuiku. Ya Allah bimbinglah aku dalam menentukan pendamping hidupku. Jadikanlah umrah-ku sebagai umrah yang maqbul hanya karena-Mu. Dan dua laki-laki itu adalah “bonus” untuk shalat istikharahku.


Pembaca: sudah bisa ditebak kan siapa yang menjadi suamiku, akhirnya? :)
Salam. Nisa.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (30 votes, average: 9,10 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • meiyaa

    Cerpennya bagus banget n menyentuh…pd saat terbaca kata2 yg berhubungan dg rangkaian ibadah umroh n perjuangan Rosulullah SAW, hati ku tersentuh, merinding n mambayangkan bgmn Rosulullah pd masanya memperjuangkan agama اللّهُ n memikirkan nasib umantnYA.
    Smg Allahh melapangkan rezeki ku utk mampu berumrah brsma kelg ku. Aamiin
    Tp, dr cerita diatas mmgny yg menjadi suami anisa siapa yaa???

  • Sos Edwin Vidiyoga

    Mas, ada lanjutannya kah,.? kapan publish,.? :D
    ceritanya bagus,.
    subhanallah :)

  • ilda hardisa

    dari pertama sampai akhir tulisannya sangan menarik dan menyentuh, surat mas idil membuat hatiku tersentuh, pkoknya ceritanya subhanallah bagus, d tggu kelanjutannya :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (Aki Awan)

Kelu Lidah di Lelantai Haramain