Home / Berita / Nasional / Bagaimana Umrah Bisa Menjadi Sarana Pendidikan Anak

Bagaimana Umrah Bisa Menjadi Sarana Pendidikan Anak

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Penceramah dan pendamping haji Ustadz Anshori Abdul Djabbar mengatakan, terdapat tiga cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mengisi liburan anak-anaknya.

Liburan dapat dijadikan kesempatan untuk menambah pengetahuan agama, liburan sebagai momentum wisata keluarga, dan liburan sebagai kesempatan parenting atau mendidik anak. “Melalui kegiatan umrah, ketiga hal tersebut dapat tercapai,” tuturnya.

Menurut Anshori yang juga Pimpinan Dangau Aulia pusat pelatihan motivasi diri dan pesantren Sabtu Ahad yang terletak di kawasan Sentul, Bogor orangtua perlu melakukan upaya memperkenalkan konsep ibadah umrah kepada anak sejak usia dini agar ibadah yang dilakukan dapat optimal dilaksanakan dan anak mendapatkan tuntunan serta pondasi agama yang kuat sebagai bekal kehidupannya.

“Sejak jauh-jauh hari, orang tua dapat menceritakan tentang kebesaran Allah SWT, kisah-kisah perjalanan nabi dan Rasul, dan indahnya kota Makkah-Madinah kepada anak. Dengan begitu, anak bersemangat untuk berumrah ketika Allah memberikan rezki berupa kesempatan untuk berumrah bersama keluarga,” saran Anshori.

Sebagai orang tua, lanjutnya, kita diwajibkan untuk memberi nama yang baik, mendidik sebaik mungkin, memilihkan pasangan yang beriman, dan setiap kepala keluarga berkewajiban untuk meninggalkan keturunan yang lebih baik daripada dirinya. “Umrah merupakan sarana untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak dan menciptakan generasi yang lebih baik,” tuturnya.

Kebanggaan dapat dapat melaksanakan ibadah umrah ketika beranjak dewasa dirasakan oleh Nuri Izzah Afidati, 22 tahun, fasilitator dari Dangau Aulia. Bersama kedua orang tuanya dan adik-adiknya, Nuri berkesempatan berumrah ketika duduk di kelas 2 SMP.

Sudah sejak kecil Nuri selalu diceritakan berbagai kisah sejarah Islam dan keindahan kota Makah, Madinah, dan Masjidil Haram. “Saya merasa senang sekali ketika akhirnya saya berkesempatan untuk melihat sendiri segala kebesaran Allah di Tanah Suci. Di sana saya merasa selalu terharu ketika dapat menatap Ka’bah dan betapa tidak pantasnya kita merasa sombong atau merasa sudah beriman karena di Tanah Suci kita merasa diri kita kecil, khususnya dibandingkan dengan kebesaran Allah,” papar Nuri.

Sejak kepergiannya ke Tanah Suci lebih kurang 10 tahun yang lalu, hingga saat ini Nuri mengaku selalu rindu untuk dapat suatu hari nanti kembali ke Tanah Suci. “Sejak berumrah saya semakin termotivasi untuk giat belajar, supaya saya dapat menjadi orang yang berhasil dan mengumpulkan rezki Allah semata hanya untuk kembali ke sana,” tutur Nuri. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November