Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Suci di Kala Sepi

Suci di Kala Sepi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (nurmuhammad.web.id)
Ilustrasi. (nurmuhammad.web.id)

dakwatuna.com Ada satu bagian paling penting pada tubuh seorang manusia. Bagian yang menjadi pemimpin. Segumpal daging yang menentukan nasib keseluruhan jasad manusia. Saat hendak mengenalkannya, Rasulullah menunjuk ke dada. Segumpal daging itu bernama hati. Ya, segumpal daging inilah yang menjadi penentu. Yang menjadi penanggung jawab. Bila ia baik, maka baiklah keseluruhan badan. Namun, sebaliknya, bila ia kotor, maka kotorlah keseluruhan jasad.

Maka, di antara banyak hal yang harus dilakukan manusia, hal yang sangat urgent untuk diperhatikan adalah mengurus hati. Di permulaan, Allah menciptakan hati dalam kondisi suci, bersih, bening, dan tak bernoda. Kondisinya tetap begitu. Sampai lingkungan dan kebiasaan yang menyebabkannya perlahan memudar. Sebabnya pula, beragam tingkah-polah manusia tak lagi sama seperti perintah dari-Nya. Bahkan, yang paling parah, banyak manusia yang tak lagi kenal dengan-Nya.

Begitulah manusia. Sifatnya memang selalu salah, lupa, khilaf, dan lalai. Kondisi hati manusia pun beragam. Sebab sifatnya yang tersembunyi, si empunya pun kerap tertipu, tidak tahu bagaimana keadaan hatinya. Membatu, buta, tertutup, murni, baik, beragam sifat itu sering tak terindentifikasi lagi. Bagaimana tidak? Di lisan orang bisa berdusta. Di hati orang bisa menipu. Tingkah pun bisa saja merupakan kepura-puraan.

Hati yang suci adalah tempat bersemayam iman yang meninggi. Iman yang kokoh. Iman yang sejati. Sehingga hadirlah ketakwaan. Hadirlah ketaatan. Hadirlah rasa takut pada Allah. Namun, bila hati sudah terkotori oleh banyak noda, yang adalah keburukan, kemaksiatan, dan kebodohan.

Di antara berbagai macam sifat hati yang buruk itu adalah lalai di kala ramai, lesu di kala terbersamai, dan hanya bening kembali ketika sendiri. Suci di kala sepi. Apa maksudnya ini? Baiklah, inilah yang ingin saya bahas dalam tulisan sederhana ini.

Sebagai manusia biasa, memang kita kerap melakukan kesalahan. Hanya saja, cita-cita dan keinginan kita—saya yakin—adalah hal-hal yang hebat, luar biasa, mahal, dan butuh pengorbanan untuk menggapainya. Surga… Siapakah yang tidak merindukannya? Satu yang tentu, usaha menujunya tidak lah mudah. Butuh pengorbanan besar.

Inilah salah satunya. Ketaatan kita sering meninggi hanya saat kita sendiri. Saat tak bersama banyak orang. Saat hening. Saat tak ada lagi yang memperhatikan. Saat hidup terasa tak bermakna kecuali dengan mengingat dan meminta pada Allah. Akan tetapi, ketika ramai, banyak teman, dan banyak aktivitas, kita menjadi lengah. Urusan ibadah, shalat misalnya, tak lagi kita pentingkan. Suara adzan berlalu, namun kita masih asyik mengerjakan tugas kantor, tugas kuliah, urusan bisnis, atau aktivitas lainnya. Lalu, tidakkah timbul rasa bersalah pada Sang Khaliq?

Padahal, Allah tak pernah berhenti memperhatikan. Tidak pernah silap untuk mendengar. Allah Mahatahu segala yang dilakukan oleh manusia. Tak pernah pengawasan Allah kebobolan. Dan, anehnya, kita yakin itu saban waktu. Kita yakin Allah Maha Melihat, tapi di hadapannya kita merasa tak diawasi. Kita yakin Allah Maha Mendengar, namun lisan kita masih kerap berdusta, memfitnah, ghibah, dan terus membuncah kalimat cerca nan buruk. Apakah artinya ini?

Satu jawaban untuk itu; iman kita belum baik. Iman kita belum kokoh. Iman kita belum sejati. Kita datang pada Allah, hanya saat tak ada lagi yang mengisi hati kita. Kita ingat pada Allah, hanya saat ada keperluan. Kita kembali pada Allah, hanya saat terdesak. Kita mengaku mencintai dan hanya mencintai Allah, saat tak ada lagi harapan kebaikan dari sesama manusia. Saat seperti itu, barulah kita sadar, bahwa memang hanya pada Allah segala sesuatu harus digantungkan. Bukan pada yang lain. Saat seperti itu, barulah kita tahu bahwa manusia bukanlah tempat pengharapan.

Saudaraku…, mari melirik ke dalam hati kita masing-masing. Mari kita raih keimanan sejati. Agar kita layak berbahagia saat bertemu dengan Rasulullah nanti di alhaudh.

Hamba yang sedang bertanya pada hatinya,

Akhukum..

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati