Aku Rindu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwautuna.com – Aku rindu dengan mereka yang di hatinya masih terselip semangat perubahan. Aku rindu dengan mereka yang di hatinya masih terpendam semangat perbaikan. Sebuah perubahan memang tidak akan terlahir dari orang-orang yang hanya diam, duduk manis berpangku tangan, menunggu dan hanya menunggu. Perubahan juga tidak akan terwujud tanpa pengorbanan dan keikhlasan. Sekali lagi, aku rindu pada mereka yang di hatinya tidak sedikitpun melirik akan jabatan. Aku juga rindu dengan ketulusan yang mereka simpan saat dunia tak sedikitpun memihak.

Aku rindu kisah masa lalu itu. Ketika Umar bin Khattab memilih Said bin Amir sebagai pemimpin Kota Syria. Menggantikan pemimpin sebelumnya yang terbukti melakukan penyelewengan. Tiada kata penyesalan, kasihan, maupun kekeluargaan di sana. Hitam tetaplah hitam, putih tetaplah putih, penyelewengan tetaplah penyelewengan.

Begitulah Said seorang pembawa perubahan yang dipilih langsung oleh Amirul mukminin atas izin Allah SWT. Tak ada sedikitpun rasa angkuh, sombong apalagi bangga di sana. Bahkan tak ada sedikitpun rasa bahagia di hatinya. Berbanding terbalik dengan calon-calon pemimpin saat ini. Bukan kerja yang utama, namun janji dan bujuk rayu yang menjadi senjata utama.

Aku Rindu dengan Said yang menolak tawaran Umar dengan cara yang sangat halus. “Wahai Amirul Mukminin yang mulia, saya berterimakasih atas kepercayaan engkau. Namun, mohon saya tidak diberi posisi penuh fitnah ini!”

Umar menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan engkau. Tegakah engkau memberikan amanat kepemimpinan di pundakku, lalu engkau tinggalkan aku sebatang kara?”

            Dengan desakan dan permohonan Umar dan dengan ketaatan yang disematkan Said kepada pemimpinnya, akhirnya Said menerima jabatan di Syria.

Aku rindu sesosok seperti Said. Seorang pemimpin kota Syiria. Kota yang dijuluki “Kufah Kedua” dan terkenal dengan kemajuan ekonominya. Namun kota itu terkenal dengan penduduknya yang temperamental. Aku rindu dengan Said. Dialah seorang yang sabar, sederhana, tak sedikitpun tergoda dengan dunia. Walau istrinya meminta ini itu. Aku tau bahwa itu bukanlah hal yang mudah untuk di hadapi. Namun Said ikhlas karena ia yakin akan janji Allah semakin dekat dengannya, yaitu Surga.

Aku rindu sosok seperti Said di saat kondisi negeriku seperti ini. Miskin moral, cacat akhlak. Para pemimpinku yang seolah buta akan kebenaran, buta akan keadaan yang semakin menghimpit nasib rakyat. Seorang pemimpin yang seharusnya siap menjadi teladan dan pembelajar bagi rakyatnya malah tega mencekik diam-diam dengan korupsi yang tak terhentikan. Sementara Said tak sedikitpun peduli dengan iming-iming dunia yang sudah begitu dekat, tak peduli dengan jabatan yang begitu menjanjikan. Bagaimana tidak. Lihathah apa yang dilakukan Said selama kepemimpinannya. Bahkan urusan dapur ia harus menanganinya sendiri.

Aku rindu Said yang begitu tangguh dan sabar menerima celaan dan bisik-bisik negatif terhadap kepemimpinannya. Walaupun begitu Umar bin Khattab tidak serta merta berprasangka negatif terhadap Said. Dengan segera Umar melakukan kunjungan ke kota Khams, Syria untuk mengecek langsung, menanyakan ke warga terkait berita miring yang sedang menimpa utusannya itu. “Benar ya Amirul mukminin, kami menolak kepemimpinan Said atas empat alasan. Pertama ia sering datang terlambat ke kantor. Kedua, setiap bulan selalu ada satu atau dua hari ia tidak masuk kantor. Ketiga, sering kali ia menolak kedatangan kami pada malam hari. Keempat, dan ini yang paling prinsip, dia sering pingsan ketika ia sedang melaksanakan tugas.”

Umar hanya diam, lalu Said dipersilakan untuk melakukan klarifikasi.

Aku rindu kepada Said yang begitu tulus berkorban demi kesejahteraan rakyatnya.

“Saudara-saudara, saya sebenarnya tidak ingin membuka persoalan ini di depan saudara-saudara. Biarlah apa yang telah saya alami hanya Allah dan saya yang mengetahuinya. Tapi apa boleh buat, karena saudara-saudara yang meminta, saya akan jelaskan satu persatu keluhan saudara-saudara terhadap saya.”

“Pertama, benar saya sering terlambat sedikit ke kantor. Ketahuilah, saya tidak memiliki pembantu sehingga harus mengaduk roti sendiri. Setelah shalat Dhuha, saya segera berangkat ke kantor. Kedua, benar saya absen ke kantor dua kali sebulan. Saya hanya memiliki baju yang menempel di badan. Saya perlu hari-hari tertentu setiap bulan untuk mencuci, mengeringkan dan kemudian saya pakai kembali. Ketiga, juga benar bahwa saya hanya menemui saudara-saudara hanya di siang hari. Ketahuilah, siang hari saya maksimalkan mengurus rakyat dan malam hari saya khususkan untuk bersujud kepada Allah. Keempat, tidak salah bahwa saya dikatakan sering pingsan sewaktu melaksanakan tugas. Perlu saudara-saudara ketahui, saya memiliki pengalaman pahit, yang tidak pernah bisa terhapus dari memori saya.”

Said pun bercerita:

Sebelum masuk Islam, ia melihat secara langsung seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Hubaib al-Anshari, disiksa secara keji oleh orang kafir. Saat itu Said hanya diam saja. Sambil bersiap melakukan penyiksaan, orang-orang kafir berkata kasar kepada Hubaib, “Bagaimana jika kamu saya lepas dan diganti nabimu, Muhammad?” Hubaib menjawab, “Aku tidak akan rela nabiku disiksa walaupun hanya dengan tusukan duri sekalipun!”

“Dengan sadis,” tandas said, “mereka mencincang-cincang tubuh hubaib dan saya hanya berpangku tangan. Saya takut kelak ditanya Allah SWT mengapa saya diam dan tidak melakukan pembelaan sedikitpun. Setiap kali saya mengingat kejadian itu, saya lemas dan langsung pingsan.”

Umar bin Khattab tidak bisa menahan haru. Ia memeluk erat dan mencium kening Said bin Amir. Umar berkata, “Saya bangga dan bersyukur! Saya tidak salah memilihnya sebagai seorang pemimpin.”

Aku rindu kepada Said yang begitu sederhana dan siap mendahulukan kepentingan publik daripada kepentingan pribadi. Aku rindu kepada Said yang kecintaannya terhadap rakyat lebih besar daripada kecintaannya terhadap diri sendiri.

Begitu rindunya negeri ini dengan sosok pemimpin yang sederhana seperti Said. Pemimpin yang tidak menganggap dirinya wah dan luar biasa. Pemimpin yang tidak menganggap dirinya di atas segalanya dan pemimpin yang tidak menganggap amanah adalah sumber kekayaan. Aku rindu pemimpin yang peduli pada rakyatnya. Peduli akan penderitaan yang kini sedang membayangi masa depan rakyat. Peduli dengan seorang anak harus menangis setiap harinya hanya untuk meminta uang jajan pada orang tuanya. Peduli dengan calon-calon generasi penerus bangsa yang setiap harinya harus belajar dalam sebuah bangunan reot dengan atap yang selalu bocor setiap kali turun hujan, dengan dinding yang harus disanggah agar tidak rubuh. Aku juga rindu pada pemimpin yang peduli pada saudara-saudaraku yang setiap hari harus bekerja banting tulang, para petani, nelayan, pedagang bahkan para pengemis hanya demi sesuap nasi.

Orang bilang negara ini adalah negara agraris, namun masih banyak petani yang harus menahan lapar setiap harinya. Orang bilang negara ini adalah negara maritim, namun tidak sedikit nelayannya yang kekurangan gizi. Bahkan orang bilang negara ini adalah negara hijau, namun mengapa masih saja mengemis penghijauan. Ada apa dengan negeri ini? Siapa yang mau bertanggung jawab? Siapa yang harus disalahkan?

Wahai Tuhanku yang Maha Besar masalah di negeriku saat ini sangatlah besar. Aku rindu pemimpin sederhana yang siap berjuang, siap mengorbankan harta, jiwa bahkan raganya untuk kesejahteraan rakyat. Aku rindu pemimpin yang waktu siangnya digunakan untuk melayani rakyat dan malam harinya digunakan untuk bermunajat kepada-Mu.

Sekali lagi aku rindu kepada sosok pemimpin seperti Said yang malu apabila dirinya sejahtera sementara rakyatnya menderita. Bukan omong belaka namun ketulusan cinta. Bukan kata-kata namun kerja. Bukan malapetaka namun keharmonisan sesama manusia dan Sang Pencipta.

Aku rindu. Semoga bukan hanya aku. Semoga seluruh penghuni seantero negeri inipun merindukan sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Terakhir, semoga ini bukan hanya rindu namun sebuah rasa yang cinta yang mampu menggerakkan hati dan raga untuk mewujudkannya. Sekali lagi, sebab perubahan tidak akan terjadi di tangan orang-orang yang malas namun perubahan akan terjadi di tangan-tangan orang yang mencintai siap berkorban untuk negerinya karena Allah SWT.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 5,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Benni Situmorang
Mahasiswa IPB.

Lihat Juga

Rindu Bergurau Berdua