Home / Narasi Islam / Life Skill / Tips Meraih Kebahagiaan

Tips Meraih Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menulis sebuah kitab berjudul Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah. Kitab ini berisi 23 kiat menggapai kebahagiaan. Beliau menulis kitab ini secara ringkas dan dengan bahasa yang mudah. Berikut ini beberapa kiat menggapai kebahagiaan.

Beriman dan Beramal Shalih dengan Sebenarnya

Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl: 97)

Memusatkan Pikiran untuk Melakukan Pekerjaan Hari Ini dan Tidak Dihantui Oleh Pikiran-pikiran Masa Depan atau Kesedihan Masa Lalu

Termasuk yang dapat mengusir perasaan cemas dan gelisah adalah memusatkan semua pikiran untuk mengerjakan sebuah pekerjaan pada hari ini dan memutuskan diri dari pikiran-pikiran yang akan datang serta kesedihan atas waktu-waktu yang lalu. Rasulullah berlindung dari al-hamm dan al-haznAl-hazn adalah perkara-perkara yang telah lalu yang tidak mungkin diulang dan didapati kembali, sedangkan al-hamm adalah sesuatu yang diakibatkan oleh ketakutan pada masa yang akan datang. Maka hendaklah seseorang menjadi manusia hari ini, mengerahkan sekuat tenaga kesungguhannya dalam memperbaiki hari dan waktunya saat ini.

Melupakan Berbagai Penderitaan Masa Lalu yang Tidak Dapat Ditolak

Di antara upaya menyingkirkan sebab-sebab yang mendatangkan kegelisahan dan meraih sebab-sebab yang mendatangkan kebahagiaan adalah melupakan berbagai kesulitan yang telah berlalu yang tidak dapat ditolak. Ia harus memahami bahwa menyibukkan diri dengan memikirkan hal tersebut merupakan perbuatan orang bodoh yang sia-sia. Oleh karena itu, ia harus berusaha memalingkan hatinya untuk tidak memusatkan pikiran terhadap masalah tersebut dan agar tidak khawatir terhadap masa depannya dari dugaan kefakiran dan ketakutan atau kesulitan-kesulitan lain yang dia bayangkan.

Ia juga memahami bahwa kehidupan masa depan tidak ada yang mengetahui, apakah ia akan mengalami kebaikan atau keburukan, terpenuhinya harapan atau kepedihan. Karena sesungguhnya semua itu berada di tangan Yang Maha Perkasa dan Bijaksana. Manusia tidak berwenang sedikit pun di dalamnya kecuali berusaha untuk mendapatkan kebaikan masa depannya dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan. Seseorang yang mengetahui bahwa ketenangan dapat diraih jika dia menyingkirkan pikirannya dari kekhawatiran terhadap masa depannya, kemudian bertawakal kepada Allah dengan memperbaiki nasib kehidupannya, maka hatinya akan tenang, kondisinya akan membaik serta rasa rasa gundah dan kekhawatiran dalam hatinya akan hilang.

Tidak Tenggelam dalam Kesedihan Mendalam

Orang yang berakal mengetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang berbahagia nan tenteram, dan bahwa waktunya sangat singkat sekali. Maka tidak layak bagi seseorang untuk membatasi kehidupannya dengan perasaan gundah dan resah yang berkepanjangan karena semua itu bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya, dia merasa rugi sekali jika banyak bagian dari kehidupannya dihabiskan dengan perasaan gundah dan resah dan hal ini tidak ada bedanya antara orang yang baik atau orang yang jahat. Akan tetapi orang yang beriman lebih memiliki kemampuan yang besar untuk mewujudkan sifat-sifat ini serta mendapatkan ganjaran yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Berpikir Positif

Ketahuilah bahwa pola pikir Anda akan mempengaruhi kehidupan Anda. Jika pikiran Anda selalu tertuju kepada apa yang bermanfaat bagi agama maupun dunia, maka hidup Anda akan bahagia dan sejahtera.  Jika tidak, maka Anda akan mengalami hal yang sebaliknya.

Pandai-pandailah Memilih dan Memilah Pekerjaan

Seyogianya Anda memilih yang terpenting dari sekian pekerjaan yang bermanfaat, lalu yang berikutnya dan berikutnya, sesuai urutan nilai kepentingannya. Juga, hendaklah Anda memilah mana yang dicenderungi dan sangat diminati oleh hati Anda. Karena, hal sebaliknya akan membuahkan kebosanan, menurunnya semangat dan keruhnya pikiran. Jadikanlah pemikiran yang benar dan bermusyawarah sebagai penolong Anda untuk itu. Maka, tidak akan menyesal seseorang yang meminta pendapat orang bijak. Pelajarilah dengan cermat apa yang hendak Anda lakukan. Jika Anda telah yakin akan kemaslahatan dan bertekad kuat untuk melakukannya, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sukrisno Santoso
Seorang pecinta ilmu. Mengelola blog: www.risalahtarbiyah.blogspot.com dan www.sukrisnosantoso.blogspot.com Seorang guru di SMP IT MUTIARA INSAN SUKOHARJO. Saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Forum IMTAQ WA ROHMAH Sukoharjo.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Menemukan Kebahagiaan