Home / Pemuda / Essay / Say No to Apatis, Pemuda!

Say No to Apatis, Pemuda!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Di awal tahun 2014 ini, mengingatkan saya pada sebuah frase yang sering disebut-sebut dalam salah satu stasiun televisi di tanah air yaitu “Tahun Politik”. Alasan kenapa disebut demikian adalah karena di tahun ini, negeri kita, Indonesia, akan menggelar sebuah ajang spektakuler. Bukan sebuah konser musik yang terdiri dari berbagai artis ternama ibukota, bukan juga kedatangan tamu yang luar biasa kiprahnya, tetapi bangsa ini akan melakukan regenerasi secara besar-besaran. Jelas saja, dia adalah Pemilihan Umum yang akan diadakan di seluruh penjuru bangsa ini. Terkait dengan hal ini, malangnya tidak sedikit pemuda Indonesia yang kurang peka terhadap momen ini, padahal mereka adalah generasi unggul calon penerus bangsa.

Hanya tinggal menunggu giliran bulan saja, momen ini akan terjadi. Sejauh ini berbagai pamflet, baliho, sticker dan atribut-atribut kampanye tulis bertebaran di mana-mana. Tak hanya di Malang, tempat saya belajar, tapi juga di Kediri, Nganjuk, Jombang, Tuban, Jawa Tengah dan luar pulau sekalipun. Hal ini mengartikan bahwasanya para calon pengisi birokrasi dari berbagai bendera ingin menunjukkan bahwa mereka ingin berkontribusi demi Indonesia. Lalu apa yang seharusnya dilakukan pemuda? Muncullah sebuah tanda tanya besar yang harus dijawab. Pemuda di sini harusnya bisa melihat secara jeli, bisa melihat siapa yang lebih patut untuk dipilih dan bukan yang mengobral janji. Memang kebanyakan para calon pengisi kursi entah di daerah maupun pusat tersebut, tak banyak yang diketahui, tetapi bukannya yang muda yang sering ingin tahu, bahasa kerennya KEPO (Knowing Every Particular Object) tentang segala hal? Harusnya ini juga dilakukan untuk menimbulkan keingintahuan pada masing – masing calon, yang akan mengisi alur kepemimpinan negeri ini.

Sebenarnya, faktor utama yang melandasi pemuda itu aktif atau pasif pada pesta politik ini adalah pemikiran. Pemikiran yang terpilin dalam benak otaknya sehari-hari. Sudah menjadi kesimpulan akhir bahwa hiruk pikuk yang terjadi di Indonesia, menurut pemuda yang pasif adalah tidak penting. Benar sekali, ada sesuatu yang tak bisa dilepas dari benak mereka, sebut saja misalnya berbagai bentuk KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) yang para birokrasi Indonesia pernah lakukan, yang sampai di awal tahun ini masih sedang diusut benang aslinya. Hal ini  menjadi salah satu faktor kenapa pemuda  enggan sekali menggunakan hak pilihnya sebagai WNI (Warga Negara Indonesia). Lalu ada juga yang lebih memikirkan diri sendiri. Pemuda tipe ini adalah pemuda yang “terserah siape aje, yang penting gue hepi”. Pemuda ini lebih parah daripada tipe yang pertama, karena mereka hanyalah puing-puing terserak yang belum menggunakan pemikirannya untuk mencoba memikirkan hal-hal yang mencakup orang lain. Dan biasanya, pemuda ini lebih enak hura-hura daripada membaca realitas Indonesia yang ada. Dan yang ketiga adalah pemuda yang ngebet sama gaya dan budaya luar Indonesia, boro-boro ngejamah berita dalam negeri, melihatnya saja tak mau. Inilah pemuda yang patut dipertanyakan lagi kecintaannya pada Indonesia. Dan diri kita, termasuk yang mana?

Pemuda adalah agen utama dari perubahan baik yang selalu diagung-agungkan untuk dapat terealisasi. Mengutip dari pernyataan Bung Karno bertahun-tahun silam yaitu “Berikan aku 10 pemuda, maka aku akan mengubah dunia”. Penyataan ini mengisyaratkan bahwa pemudalah yang mempunyai kualitas tinggi nan unggul yang dengan kekuatannya bisa merubah Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat. Sayangnya, masih sedikit sekali pemuda yang memahami, memikirkan dan mengkritisi tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dan kebijakan-kebijakan  yang diambil oleh pejabat di pusat Jakarta atau daerah.

Memang harus dibuka selebar-lebarnya dan dicanangkan sekeras-kerasnya bahwa peran pemuda harus dikembalikan pada ranah asli yang harus tetap menyala yaitu keaktifan yang berwujud dalam langkah nyata. Sebuah kepastian dan tanpa adanya keragu-raguan lagi bahwa hanya mereka yang bisa merubah situasi dan kondisi negeri, bahkan yang buruk dan terjerembab dalam jurang kenistaan menjadi baik dan bersih murni seperti kain putih. Tetapi sebuah pertanyaan besar menganga sempurna sebelum mencapai tujuan tersebut yaitu seberapa banyak pemuda yang mau melakukan hal tersebut? Kemauan. Inilah hal yang sulit diprediksi siapa yang memiliki, karena ia hanya ada pada mereka yang senantiasa memiliki kepekaan nurani untuk melihat Indonesia tercinta berubah menjadi lebih baik dan tentunya ikut andil dalam memperbaikinya.

Benarlah hal yang terjadi demikian, masih sedikitnya kemauan pemuda untuk lebih banyak bersinergi dalam pemikiran dan nurani dalam dunia perpolitikan Indonesia. Mungkin ada pemuda yang tidak suka politik, karena tokoh-tokoh  yang memerankannya kotor, tapi pikirkanlah sekali lagi wahai pemuda, kalau engkau tahu mereka kotor, kenapa kau tak ikut andil dalam berkontribusi memperbaikinya? Sebuah keniscayaan bahwa menjadi penonton jauh lebih nyaman dibanding menjadi pemain, karena mereka hanya bermodal indera mata untuk melihat dan mulut untuk berbicara tapi hal yang perlu diketahui adalah hanya mereka yang berlaga pada arena sebenarnya yang bisa merasakan dan yang patut diberi jempolan.

Dan sekarang tunggu apa lagi? Cepat bergerak dan segera persiapkan amunisi untuk menyongsong negeri Indonesia yang lebih baik lagi, pemuda harapan bangsa!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lutfiyah F
Mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Negeri Malang. Berkecimpung dalam Dewan Mahasiswa Fakultas Sastra dan Sentral Kegiatan Islam Fakultas Sastra.
  • Abdurrahman

    lalu siapa yang menjamin ketika pemuda terlibat dunia kotor tidak menjadi kotor?

    benarkan aqidah, perbaiki masyarakat. karena dengan itulah pemimpin yang baik akan muncul. bukan dengan cara melanggengkan politik kotor itu dengan ikut terlibat di dalamnya.

Lihat Juga

Pemuda dan Kejayaan Islam