Home / Berita / Daerah / Subang Terisolir, layak mendapat ‘treatment kemanusiaan’ seperti Jakarta

Subang Terisolir, layak mendapat ‘treatment kemanusiaan’ seperti Jakarta

Tim DERM ACT dan Masyarakat Relawan Indonesia melakukan evakuasi korban banjir subang, sabtu 18/1 (Foto: ACT)
Tim DERM ACT dan Masyarakat Relawan Indonesia melakukan evakuasi korban banjir subang, sabtu 18/1 (Foto: ACT)

dakwatuna.com – Jakarta.  ACT mengirimkan Tim Rescue Disaster Emergency and Relief Management (DERM) bersama Masyarakat Relawan Indonesia ke Subang, sejak hari pertama banjir terjadi, Sabtu (18/1). Sementara sebagian besar tim rescue masih fokus dengan penanganan banjir yang terjadi di Ibukota, Jakarta dan sekitarnya.

“Sejak hari pertama, kita telah melakukan aksi di Rawa Tanjung Kecamatan Ciasem, untuk memasok makanan ke daerah pengungsi yang terisolir,” lapor Iqbal Komandan rescue banjir Subang.

Tim juga melakukan evakuasi di Pamanukan Kota, terutama orang tua dan kaum ibu yang membawa bayi. Menurut Iqbal, banjir saat ini sudah mulai surut, dengan ketinggian air kurang dari satu meter.

Saat ini korban banjir di Subang sangat membutuhkan logistik (makanan siap saji, makanan instan, air mineral) pakaian, pembersih lantai dan kebutuhan lainnnya. Selain itu korban banjir juga sangat membutuhkan penanganan medis, karena banyak korban banjir yang mengidap penyakit pasca banjir, seperti penyakit kulit.

Dari informasi awal 13 Kecamatan terdampak, hari ini tercatat 24 Kecamatan atau tak kurang dari 140 desa terdampak banjir. M. Insan Nurrohman, Vice President Humanity Network Departmen ACT, menegaskan, besarnya skala dampak banjir Subang, layak mendapat perhatian dan “treatment kemanusiaan” seperti Jakarta.

“Kita lihat, titik pengungsian amat banyak. Perlu dukungan posko-posko agar penanganan pengungsi lebih terjamin. Masyarakat mengalami kelumpuhan sosial dan perlu pendampingan. Pegiat kemanusiaan amat berguna hadir mengorganisasi semua jenis bantuan agar merata dan signifikan dampaknya,” jelas Insan yang juga penanggungjawab Posko Bencana Nasional – ACT.

Kendati terbilang besar, ada harapan banjir Subang menyurut. “Pekalongan dilaporkan banjirnya surut, akses jalan raya Pantai Utara sudah bisa dilalui. Ini indikator surutnya banjir. Kita doakan, banjir Subang juga lekas berakhir,” harap Insan.

Kendati begitu, upaya antisipasi tidak dihentikan. Laporan pengungsian masih menunjukkan angka yang besar yakni 192 ribu jiwa. “Maka, mengirim dua tim saja, jauh dari cukup. Kita usahakan merekrut lebih banyak relawan agar skala penderitaan akibat banjir di Subang bisa dibantu lebih baik,” kata Insan.

Tanpa dampingan memadai lembaga kemanusiaan, warga Subang sudah berinisiatif mengungsi di sejumlah fasilitas umum. Mereka umumnya memilih bangunan sekolah, gedung pemerintah atau gelanggang olahraga guna menampung warga yang dievakuasi atau mengungsi. Keprihatinan menyeruak, namun kepedulian semoga mengimbangi agar derita korban banjir Subang dan wilayah lainnya bisa berkurang bahkan teratasi. (act/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Banjir darah di kota Dhaka Bangladesh akibat buruknya sistem drainase, pasca pemotongan hewan Qurban yang diiringi dengan hujan (14/9/2016). (indiatimes.com)

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah

Organization