Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ayat Cinta untuk Bapak

Ayat Cinta untuk Bapak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ist)
Ilustrasi. (ist)

dakwatuna.com“Jika aku tak ada di sampingmu nanti, jangan pernah berpikir aku tak menyangimu. Dan jangan pernah kamu tangisi kepergianku. Jika kamu rindu padaku, cukup kenang aku dalam ingatanmu saja” kata-kata terakhir sebelum akhirnya bapak mengalami koma. Aku dan mama masih mondar-mandir mencari dokter yang bertugas di ruang UGD itu. Pikiranku lumpuh seketika, aku tak mau memikirkan apapun yang aku tahu saat ini adalah bagaimana caranya bapak bisa dipindahkan ke ruang ICU.

Di dalam lorong RSUD Cengkareng, aku pun menghampiri bagian informasi dan mengecek apakah ruang ICU sudah ada yang bisa terisi. Jawaban yang masih sama, entah mengapa di hari itu banyak orang yang masuk rumah sakit. Sedikit dari pikiran normalku mengatakan, semua ini akan baik-baik saja karena tahun lalu pun bapak pernah mengalami ini dan pada akhirnya sembuh. Tapi setelah satu tahun, bapak kembali mengalami gejala yang sama seperti tahun lalu. Tak ada catatan medis yang dapat dikatakan mengkhawatirkan. Dokter kala itu hanya berkata bapak sedang drop karena kelelahan fisik dan memang faktor usianya yang tak lagi muda.

Tapi mengapa tahun ini pun ia kembali seperti itu. Aku masih mondar-mandir mencari dokter yang sedang sibuk dengan pasien lain. Aku tak tega bapak harus berkali-kali dipompa dan distrum untuk mengembalikan denyut nadinya. Selama 11 jam kami menunggunya, akhirnya dokter berkata “Bapak sepertinya sudah tidak ada lagi di dunia kalaupun kurva osiloskop masih membentuk gelombang sinus itu bukan karena nadinya yang bergerak tapi karena bantuan alat yang tim dokter berikan. Mungkin bapak masih menunggu orang yang disayanginya untuk berada di sampingnya. Lebih baik keluarganya menemaninya dengan mendoakan beliau”.

Hatiku dalam seketika remuk, itu tidak mungkin terjadi pada bapakku yang hebat. Beliau sehat-sehat saja sebelumnya. Minggu lalu bahkan bapak masih mengunjungiku di asrama, bagaimana mungkin ini dapat terjadi padanya. Pikiranku masih menolak kenyataan tersebut. Akhirnya mama menelepon adikku yang saat itu masih bekerja. Setibanya adikku di rumah sakit, bapak masih mengalami koma. Aku ingat selama ini bapak sangat ingin belajar membaca Al-Qur’an, walaupun beliau masih belum bisa tapi beliau sering mendengarkan murattal di MP3 yang pernah aku berikan.

Alunan murattal dalam MP3 aku sambungkan ke telinga bapak, tapi tidak ada respon. “Bapak ini orang yang tidak pandai mengaji, kelak yang dapat membantu bapak adalah anak-anak bapak jadi pandai-pandailah belajar agama dan mengajikan bapak nanti” kata-kata itu yang sepintas teringat dalam memoriku. Aku pun membacakan dua surat kesukaannya yaitu surat Yassin dan Ar-Rahman. Selama menemaninya di dalam ruang UGD dengan membacakan ayat-ayat tersebut, bapak sedikit-sedikit merespon seperti napas yang tersengal. Sepertinya saat itu malaikat maut sedang sangat dekat denganku. Ku bisikkan ke telinganya “Bapak, aku ikhlas melepasmu. Aku mencintaimu seperti halnya kau mencintaiku dan Allah-pun mencintaimu. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang dapat kau dustakan? Aku berjanji akan terus membawamu dalam ingatan ku di manapun nanti aku berada. Dua surat yang ku baca ini semoga menjadi penemanmu kelak. Aku sayang padamu” kata terakhir ku pada beliau dengan air yang perlahan menetes di sudut mataku, aku yakin beliau mendengarnya. Setelah ayat terakhir dari Ar-Rahman ku bacakan, bapakpun kini tenang bersama penciptanya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 6,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan IV. sekarang menjadi volunteer sebagai Sekretaris KLIPNUS (Klinik Pendidikan Nusantara) menangani Training untuk Guru dan Siswa. serta KLIPNUS memiliki rumah baca yang disebut Kolong Ilmu. beberapa kegiatan kami diantaranya Indonesia Ceria dan Training for Teacher. Semoga Kami senantiasa bermanfaat. Klipnus : Build Better Indonesian Education
  • Wiryawan Budiharjo Wibowo

    Terimakasih telah mengingatkanku tentang almarhum bapakku. Sekilas mirip sekali dengan yg aku alami. Semoga Alloh mengampuni bapak dan menerima taubat serta amal ibadahnya. Aamin…

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang