Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Sini Bisa Tidur Nyenyak, Ternyata di Sana Sedang Diuji Oleh Allah

Di Sini Bisa Tidur Nyenyak, Ternyata di Sana Sedang Diuji Oleh Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)

dakwatuna.com Di sini bisa tidur nyenyak, ternyata di sana sedang diuji oleh Allah. Hati ini selalu mendoakan, jiwa ini siap bergerak, ustadz!

Malam itu, curah hujan memang sedang tak terkendali, kadang rintik-rintik kadang sangat lebat kadang berhenti sejenak. Ya, intensitas cuaca yang tak bisa ditebak.

Yang pasti hal tersebut membuat sebagian tempat tinggal di berbagai daerah terendam air, meluap dari bantaran sungai atau kali setempat.

Ada kisah seorang pemuda yang tiba-tiba menanyakan kabar kondisi terkini kediaman guru-gurunya, ia memastikan apakah air yang turun dari langit mampir ke rumah mereka atau tidak, semoga tidak. Tentu di samping itu juga pemuda ini sambil mendoakan, semoga guru-guru dan keluarganya dalam keadaan sehat wal’afiyat.

Pemuda ini merasa sedikit aneh dan penasaran ketika mendapatkan kabar dari salah satu gurunya yang dikirim melalui pesan singkat (sms), “Alhamdulillah kondisi kami sehat wal’afiyat, semoga mas Ahmad (bukan nama sebenarnya) pun demikian. Alhamdulillah kami sedang menikmati air hujan yang masuk ke rumah”. “Hah? Menikmati?” tanda tanya Ahmad dalam hatinya, itu pertanda rumah sang guru kebanjiran.

“Ustadz, kalau begitu saya ke Rawa Lumbu (sebut saja nama daerah tempat tinggal sang guru di sana) sekarang”. “Tidak usah mas, nanti merepotkan mas sendiri, insya Allah kami bisa mengatasinya, lagipula jalan menuju ke sini pun tidak bisa dilalui karena banjir”, jawab sang guru, “Ya Allah.. Hatiku tidak tenang, jiwa ini merasa terpanggil untuk membantu ustadz di sana, aku ingin bersamanya ketika ia sedang diberi ujian, meskipun ia bilang sedang menikmati itu semua, aku ingin berbakti kepadanya”, renungan Ahmad dalam hati.

“Ustadz, maaf, saya harus ke sana, tenaga yang seadanya ini semoga bisa membantu, walau sedikit”, tekad kuat Ahmad di hatinya, dengan bijak sang guru menjawabnya pula, “Baik, kalau memang mas sudah berniat baik, silakan datang, tapi kalau di tengah jalan tidak bisa lewat karena banjir, tidak apa-apa mas balik ke rumah saja, insya Allah niat baik mas Ahmad sudah dicatat kebaikan”. “Ya Allah, adem sekali balasan beliau, serasa diguyur hujan spiritual di atas kepala ini, alhamdulillah ternyata niat baik ini dianggap baik juga olehnya, bahagia rasanya”, isi renungan Ahmad dalam hati.

Akhirnya Ahmad pun berangkat naik motor dengan memakai jas hujan dan atribut kendaraan lengkap lainnya menuju lokasi rumah sang guru.

Ternyata benar ucapan sang guru, ya, air menggenang sampai selutut bahkan sepinggang orang dewasa di lokasi tersebut, ditambah air hujan masih saja turun dengan lebat, “Ustadz, Ahmad sudah sampai Rawa Lumbu, sepertinya motor Ahmad tidak bisa masuk ke lokasi”, “Ya sudah, tak apa, mas Ahmad kembali saja, kami baik-baik kok di sini, tidak usah khawatir”. “Ya Allah, ustadz, Ahmad gak mau niat setengah-setengah, masa Ahmad lari dari ladang jihad”, “Ya sudah, motornya mas Ahmad titip di masjid terdekat saja, bilang ke penjaga masjidnya kalau mas Ahmad itu saudara saya, maaf saya tidak bisa menjemput mas karena di rumah hanya ada istri dan Husein (sebutlah namanya itu, anak bungsu ustadz yang berumur tiga tahun)”, “Ya ustadz, Ahmad paham”.

Motor pun akhirnya dititipkan, Ahmad berjalan menuju lokasi dengan celana digulung agak tinggi dan kedua sandal dipegang, sepertinya itu pengalaman pertama Ahmad turun ke lokasi banjir, Ahmad pun menikmatinya.

Akhirnya Ahmad sampai ke rumah sang guru, terlihat pelataran rumah sang guru agak tinggi, sengaja dibuat demikian agar terhindar dari banjir. Ternyata malam itu air tetap masuk, mungkin karena memang musimnya.

Ahmad pun mencium tangan sang guru, meski sang guru agak menariknya, itulah salah satu sifat ketawadhuan sang guru. Sepertinya sang guru lebih suka mu’anaqah (saling berangkulan, sunnah rasul ketika berjumpa dengan sesama muslim).

Ahmad melihat dengan mata kepala sendiri luapan air masuk ke dalam rumah sang guru. Terlihat ada ember, alat pel dan alat pendorong air, sang guru pun sebenarnya lagi mengeluarkan air dari dalam rumahnya menggunakan ember dan alat pendorong, sang guru melakukannya sendirian, ia pun hanya memakai singlet, ya karena para tetangganya juga melakukan hal yang sama di rumahnya masing-masing. Sedangkan sang istri dan putranya Husein di kamar, sedang beres-beres, karena air juga masuk ke dalam kamar.

Sang guru bercerita kalau luapan air yang sampai masuk rumah warga dan rumahnya itu terbilang cukup parah, uniknya ia tidak mengeluh dan menyalahkan, tapi ia malah bermuhasabah melakukan introspeksi diri, mungkin selama ini ia banyak melakukan kesalahan yang ia sadari ataupun tidak, sampai Allah menguji melalui air ini. Semoga saja sebagai penghapus dosa.

Tak panjang kalam, Ahmad pun langsung beraksi membantu sang guru mengeluarkan air dari rumah sampai kering dan bersih. Ahmad dan sang guru pun semakin akrab, menyatu seperti keluarga. Umi (istri sang guru) pun datang menawarkan kopi, tapi Ahmad lebih memilih air putih ketimbang kopi, karena memang Ahmad kurang suka kopi.

Akhirnya Husein pun keluar dari kamar, karena sang guru yang memanggilnya terdengar Husein belum tidur, “Husein, ada mas Ahmad nih, sini main sama mas Ahmad”, Husein pun keluar dan merasa senang, ya, karena Ahmad sering main ke rumah sang guru, dan mengajak main Husein, kebetulan Ahmad memang suka bermain dengan anak kecil. Apalagi dengan Husein, setiap Ahmad datang ke rumah sang guru untuk tabarukan (muraja’ah hafalan), Husein sering masuk ke ruang tamu ingin bermain, kadang ketika Ahmad sedang menghadap sang guru pun Husein menghampiri Ahmad, “gelendotan”. Ya, menguji konsentrasi hafalan.

Tak terasa waktu terus berjalan, ternyata sudah jam satu malam. Ahmad pun hendak berpamitan, ternyata sang guru pun ingin keluar juga, karena ada jadwal imam Subuh dan pengajian setelahnya di masjid raya. Akhirnya sang guru pamit ke istrinya, Ahmad pun demikian, terlihat Husein sudah terlelap.

Sang guru dan Ahmad pun naik motor masing-masing. Karena masih satu perjalanan, akhirnya jalan bersama. Pas tiba di gerbang masjid raya, Ahmad izin pulang, akan tetapi sang guru mencegahnya, “Nginep di masjid saja ya mas Ahmad, sudah malam, tidak baik pulang malam-malam apalagi jauh, tidur di kamar saya saja, model kasurnya bisa dua kok tinggal ditarik bawahnya. Saya tahu mas Ahmad pasti lelah, nginep yah”. Awalnya Ahmad tetap ingin pulang, lagipula ia juga segan tidur di kamar gurunya. Tapi karena sang guru mengajaknya serius tanpa basa-basi, akhirnya Ahmad pun tidur di sana juga, lumayan nyenyak.

Pas jam setengah empat, Ahmad dibangunkan sang guru untuk shalat malam. Ahmad pun bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap turun ke lantai bawah untuk shalat malam dan shalat Subuh berjamaah yang diimami langsung oleh sang guru.

Pas selesai dzikir dan doa, sang guru langsung mengisi pengajian di hadapan para jamaah semua. Ahmad pun ikut mendengarkan dengan khusyuk, karena setiap ucapan sang guru sangat menyentuh hatinya, semua mengandung hikmah.

Pas di akhir pengajian, tiba-tiba sang guru mengucapkan terima kasih kepada Ahmad (tanpa menyebut nama, untuk menghindari ujub), ia bilang kepada jamaah, “Kalau saja Allah tidak mengirimkan “malaikat” datang ke rumah saya mungkin saya tidak bisa hadir di sini, karena di kawasan tempat tinggal saya terkena banjir.

Alhamdulillah ada seorang pemuda yang membantu saya dan keluarga untuk mengeluarkan air dari dalam rumah. Kita doakan agar semua urusan pemuda ini dimudahkan dan dilancarkan, khususnya dalam urusan studinya, karena ia sedang menunggu panggilan studi paskanya ke luar negeri. Semoga dikasih yang terbaik”. Para jamaah pun mengaminkan, Ahmad langsung tertunduk haru dan meneteskan air mata karena semua jamaah mendoakannya dengan tulus ikhlas.

Setelah pengajian, Ahmad ke lantai atas, kamar khusus imam, tapi ia sengaja agak memperlambat, mempersilakan sang guru naik terlebih dahulu. Pas sampai di kamar, Ahmad mengucapkan terima kasih kepada sang guru karena telah mendoakannya secara khusus di depan para jamaah, Ahmad pun hendak pamit. Lagi-lagi sang guru mencegahnya, “Sebelum mas Ahmad kembali ke rumah, ada baiknya sebelum pulang muraja’ah hafalan dulu satu juz, atau setengah juz juga gak apa-apa, satu lembar pun tak masalah. Saya ingin minta berkah dari mas Ahmad, semoga semua diberkahi.”.

Ahmad pun menuruti perintah sang guru, muraja’ah tabarukan di hadapan sang guru di kamar. Sebelum pulang pun Ahmad diajak sarapan nasi uduk bersama, karena sudah disiapkan oleh penjaga masjid. Alhamdulillah semua mengalir dengan indah. Subhanallah.

Semoga kisah ini bermanfaat, dan semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari peristiwa yang kita rasakan masing-masing saat ini. Aamiin Tetap Semangat dan Berhusnuzhan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 6,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • Rudi Celebes

    Alhamdulillah cerita sederhana namun memberi manfaat..yg cukup besar.. semoga berkah..amin..

Lihat Juga

Begitu Melimpah Nikmat Allah, Maka Berqurbanlah