Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengenang Sebulan Kepergianmu

Mengenang Sebulan Kepergianmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Foto bersama alm Alfi Noor R di Bali. (Foto: Agus Suroso)
Foto bersama alm Alfi Noor R di Bali. (Foto: Agus Suroso)

dakwatuna.com “Setiap yang bernyawa itu pasti akan mengalami kematian.” (Ali ‘Imran: 185)

Nyaris sebulan sudah kepergianmu kawan, hari ini saya mengkhususkan sebuah tulisan untuk mengenangmu, rasanya baru hari ini kuat menuliskannya kawan.

“Pojok kanan belakang Masjid Teknik lantai 2 itu biasanya kau jadikan tempat sandaran kawan, entah hanya melepas lelah atau asyik sendiri dengan Al-Quran bersampul hitam kesayanganmu itu. Kini kau telah tiada, pojok itupun sering kosong, sering sekali. Mungkin kini giliranku mengsisnya, dengan Al-Quran bersampul biru yang kubeli darimu dua tahun yang lalu.”

Klaten, 21 Desember 2013, suasananya Sekolah Alam Bengawan Solo Begitu ramai, anak-anak kecil berlarian dengan begitu riangnya, ibu-ibu dan bapak-bapak terlihat merekah senyumnya melihat polah tingkah lucu buah hatinya dari melukis sampai memanjat pohon, beberapa wanita berjilbab besar tampak sibuk mendampingi anak-anak, tak ketinggalan beberapa pasukan topi merah kopasus berjaga di depan gerbang sekolah berbahan kayu itu.

Saya dan rombongan dari UNS terbilang telat, maklum aktivis kadang lebih rempong dibandingkan emak-emak mau kondangan. Akhirnya setelah melalui perjalanan dengan guyuran hujan dan kemacetan, kami sampai di SABS Fest 2013.

Setelah puas bermain ayunan dan bincang-bincang dengan beberapa orang di sana, tak terasa sudah memasuki waktu Ashar. Baru memasuki rakaat ke dua kalau tidak salah, ponsel Samsung punyaku bergetar cukup lama, sepertinya ada panggilan telepon. Setelah menyelesaikan shalat, ada sebuah missed call yang memang tak sempat terjawab dan sebuah pesan masuk dari salah satu sahabat, “aku nang kosmu ya”, “lagi nang Klaten boy”, saat itu karena belum ada firasat apa-apa, karena paginya memang sempat janjian mau garap blog bersama.

Banjir Air Mata

Setelah menikmati cilok di dekat kuburan, saya dan beberapa kawan akhirnya beristirahat di perpustakaan SABS yang sederhana itu. Tiba tiba ada sebuah panggilan masuk dari Hasan, Ketua JNUKMI yang baru saja lengser, suaranya tak jelas, mungkin sedang di kendaraan, hanya ada dua kalimat yang terdengar cukup jelas, “kamu di mana Gus?” dan “Alfi meninggal”, karena semakin simpang siur kabar itu dan suara di sebelah sana semakin tak terdengar jelas akhirnya saya meminta via sms saja, setelah menunggu sekian lama tak kunjung ada balasan juga akhirnya saya coba menghubungi siapa saja yang kira-kira bisa dimintai keterangan, saat itu pikiran mulai tidak jelas, antara penasaran dan mau menangis, beberapa nomor pengurus SKI FT yang ada di daftar kontak tak ada yang bisa dihubungi, mulai dari sekum yang tadi sempat missed call dan sms sewaktu Ashar tadi, kabid nissa’, sampai sang ketum yang dikabarkan meninggal tadi, semakin tak karuan, hingga akhirnya saya teringat ini hari sabtu, harusnya Alfi sedang bersama Hendra ke Semarang untuk kerja praktek, langsung saja kontak Hendra, “Boy, lagi di mana?”, “di Ungaran, lagi perjalanan”, “sama siapa?”, “sendiri”, “Alfi mana?”, “udah dapet kabar? aku belum bisa cerita, besok saja”, semakin penasaran akhirnya saya semakin curiga dengan kabar yang datang sebelumnya, merasa tidak puas akhirnya saya menghubungi Hasan kembali, kali ini suaranya sudah terdengar jelas, dan benar apa yang saya duga, Alfi telah meninggal karena kecelakaan.

Lemas-lemas sekali, air mata seorang lelaki yang sangat jarang keluar ini rasanya seperti bendungan yang jebol, rasanya sangat kehilangan, seorang sosok sahabat yang paling dekat dari awal masuk kuliah, bahkan sampai tidak lagi beramanah di lembaga yang sama, kami masih sering berdiskusi tentang kampus.

“Kau yang paginya masih sms mau pinjam motor, tapi sore ini kau telah tiada. Sahabat terbaikku, Kau yang pekan kemarin masih diskusi panjang lebar meminta saran untuk dakwah teknik kini kau telah tiada. Sahabat terbaikku, kini tersisa kenangan begitu panjang bersamamu, dari mulai berkenalan 3,5 tahun yang lalu, kau begitu bersahaja, berjuang bersama di bidang kaderisasi SKI FT UNS, hingga kau yang terlelap tidur di pundakku di perjalanan dari Bali yang lalu

Setelah menengkan diri beberapa saat, akhirnya saya mengajak rombongan untuk langsung pulang ke Solo, sepanjang perjalanan entah berapa sms yang masuk mempertanyakan hal yang sama, rekan-rekan di kampus juga belum percaya dengan kabar mengejutkan bak petir di siang bolong itu.

Sesampainya di rumah duka, terlihat beberapa kawan Teknik Sipil sudah berada di sana, beberapa warga mengucapkan bela sungkawa, lagi-lagi air mata ini jebol saat bersalaman dengan keluarga almarhum, keluarga yang memang sudah lama mengenal saya sebagai sahabat almarhum itu ternyata begitu tegar, bahkan sangat tegar untuk seorang ayah dan ibu yang baru saja kehilangan anaknya, bahkan sang ayah luar biasa itu justru yang menenangkan saya ketika menangis tak percaya dengan keadaan. Hari itu, entah berapa kali saya menangis, terlebih saat melihat wajah dengan senyum terbujur kaku itu untuk terakhir kali.

Takziah dan Al-Quran Adalah Nasihat Terbaik

Paginya setelah beramah tamah dengan keluarga Hendra di kontrakan, keluarga yang memang jauh-jauh datang dari Kebumen untuk menengok keadaan keluarga Alfi, kini waktunya kami harus bersiap-siap mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Sebelum itu ada beberapa sambutan dari perwakilan kampus, keluarga, dan warga Gulon. Banyaknya kerumunan sanak saudara, hingga aktivis kampus yang datang melayat menjadi salah satu bukti rasa kehilangan dengan sosok sederhana Alfi, kehilangan salah satu kader dakwah inti kampus UNS.

Yah, kepergianmu adalah nasihat, kematian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap makhluk yang bernyawa. Ibarat arisan saja, saya dan yang masih di dunia ini juga akan merasakannya, hanya waktu serta caranya saja yang berbeda. Beruntungnya kau kawan, meninggal dalam keadaan menuntut ilmu, dalam keadaan niatan (insya Allah) untuk urusan dakwah di Solo, kau yang sering nekat pulang ke Solo dari Semarang hanya untuk mengikuti agenda pekanan lingkaran inspiratif. Kini, kami tersadar bahwa maut begitu dekat. Tersenyumlah kau di sana sahabatku, kami yang akan melanjutkan perjuanganmu di sini, kau pasti senang jika tahu adik-adikmu di SKI FT Al-Fatih (nama baru yang kau usulkan) kini begitu bersemangat menjalankan amanah dakwah di Teknik.

Pojok yang Kosong

Salah satu cara untuk mengenangmu, kini adalah menggantikanmu di pojokan masjid tempatmu bersandar dan asyik dengan al-Qur’an bersampul hitammu itu, meski frekuensinya belum sebaik apa yang kau lakukan. Terima kasih sahabatku, kau inspirasiku, semoga kau tenang di sana, Alfi Noor Rokhaman.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 7,52 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Agus Suroso
Mahasiswa tingkat akhir di Jurusan Teknik Sipil UNS, kontributor artikel di beberapa website, senang dengan kepemimpinan, pengabdian masyarakat, dan kepenulisan. Menulis adalah investasi inspiratif masa depan.

Lihat Juga

Mushalla Kenangan