Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cerita Indah Kebersamaan Itu (Terima Kasih Sang Murabbi)

Cerita Indah Kebersamaan Itu (Terima Kasih Sang Murabbi)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Achmad Firdaus)
Ilustrasi. (Foto: Achmad Firdaus)

dakwatuna.com “Suatu saat di kemudian hari, ketika semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka yang bercerita tentang perjuangan yang indah. Sang Pejuang sejati yang tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak, meski berada di tengah kerasnya kehidupan kampus dengan beragam fitnah dan godaan yang menggiurkan untuk berhenti atau bahkan berpaling arah” .

Sabtu hari itu, Kampus yang saya tempati sekarang untuk mengadu nasib nampak begitu sepi, sunyi dan tidak menampakkan sesuatu tempat yang menarik untuk sekadar mampir ‘nongkrong’. Hanya gedung-gedung tinggi yang berdiri angkuh dengan perawakan modern yang menandakan adanya aktivitas di sana. Ya, maklum saja karena hari ini adalah weekend, yang konon kabarnya orang-orang di luar negeri sangat menghargai hari liburnya. Begitu juga dengan diri ini, karena kondisi badan agak lelah bergelut dengan hiruk pikuk dan senda gurau dunia selama beberapa hari, seakan kuingin menghabiskan hari ini di kamar college penginapan saja. Meskipun sebenarnya sudah kuagendakan hari ini untuk ngumpul dengan kawan-kawan sesama pelajar asal Indonesia, tapi rasa malas menghinggapi diri ini plus bisikan hati yang tak mengizinkan saya untuk pergi, karena biasanya agenda ‘ngumpul’ semacam itu kurang ‘bermakna’ bagi saya.

Entah mengapa, tiba-tiba saya juga begitu malas untuk sekadar buka Facebook or twitter yang pada hari-hari biasanya menemani di kala sepi. Saya memilih untuk meraih tas kecilku yang biasa kuletakkan di sudut ruangan itu, perhatianku tertuju pada sebuah buku agenda sederhana bercorak hitam dalam tasku yang sepertinya sepekan ini jarang kubuka lagi. Sembari sedikit tersenyum, kubuka halaman demi halaman buku itu, buku yang cukup menginspirasiku untuk tetap bergerak dan bertahan (sambil teringat kata-kata spesial seorang junior waktu itu: “tetaplah di sini akhi). Buku ini tak ada nama spesial untuknya, namun ia adalah teman spesial yang selalu menemaniku ke manapun saya pergi, bahkan ke luar negeri sekalipun, buku ini tak kubiarkan ketinggalan ketika saya pergi jauh, karena di dalamnya banyak ‘harta warisan Rasulullah’ yang telah dibagikan oleh beberapa guru saya ketika masih studi di Kampus Merah dulu. 

Lalu sejurus kemudian ingatanku melayang jauh ke masa lalu, beberapa tahun silam, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Kampus Unhas, kampus yang dulunya terkenal sebagai perguruan tinggi terfavorit di kawasan Timur Indonesia. Sedikit bangga bisa mengeyam pendidikan di salah satu kampus ternama di Indonesia itu, terlebih saat mengingat kembali masa datangnya cahaya hidayah itu, iya, Kampus inilah yang menjadi saksi bisunya. Hati ini terasa rindu sekali berada pada masa itu. Rindu pada sosok yang ketika itu, tiga, empat atau lima tahun yang lalu, dia adalah seorang guru yang sederhana, ramah dengan senyum khas dan sapaan lembutnya saat menjumpai kami, murid-muridnya. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan penampilannya sebagai seorang guru, mungkin berbeda dengan professor-doktor yang sering kita jumpai di kampus dengan perawakan angkuh dan gaya modis masa kini. Beliau selalu ceria bersama kami, meskipun terkadang matanya nampak sayu pertanda memang dia dalam kondisi lelah dengan beragam aktivitas dakwahnya.

Setiap pekan, ba’da shalat Ashar, beliau selalu sabar dan setia menunggui kami di pojok masjid kampus lantai dua, ditemani lampu yang tak terlalu terang, namun terkadang juga dia yang ‘membangunkan’ kami akan jadwal tarbiyah, ketika kami bermalas-malasan atau keasyikan nongkrong dengan ikhwah di lantai satu masjid kampus. Sekali lagi, dengan sabarnya menanti kami -muridnya- yang sementara antri untuk mandi, sikat gigi, berwudhu dan mempersiapkan segala sesuatunya, lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah pembelajaran itu. Sebuah lingkaran kecil dengan lima, enam, tujuh, sampai sepuluh orang lebih (tak menentu) peserta dan satu pemandu. Dengan sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya.

Menurutku, beliau adalah guru yang paling sabar yang pernah kutemui, dengan telaten menasihati kami yang masih penuh dengan lumuran kemaksiatan dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing kepada cahaya hidayah Allah. Walaupun kadang, dan bahkan sering adanya kami membuat beliau kecewa, datang telat, pada saat belajar sering ngantuk, dan lain sebagainya. Tetapi sekali lagi, beliau tetap tidak marah. Tetap sabar dan telaten mengajari kami tentang Islam yang sesungguhnya. Ah, aku rindu dengan orang ini. Aku rindu sentuhan lembutnya ketika membangunkan pada saat kami tertidur disela–sela materi yang disampaikan. Aku rindu suara khasnya ketika mengingatkan kepada kami “Akhi, hari ini jadwal tarbiyah ya. Ingatkan ikhwan yang lain, kumpul di Masjid Kampus Unhas”, ujarnya lembut. Aku rindu bersama dengannya. Dia adalah salah seorang guru yang membimbing kami menuju hakikat muslim sejati. Semoga engkau dalam lindungan-Nya selalu.

Tak terasa air menetes di pipi (bukan terkesan lebay) ketika mengingat itu semua. Ya, kebersamaan dengan saudara-saudaraku dalam satu halaqah tarbiyah, meskipun tak bisa dipungkiri dalam sepekannya terkadang berganti-berganti dan kadang juga ada ‘bintang tamu’ sebagai peserta baru, tapi itulah keunikan dan warna tersendiri dari kelompok tarbiyah kami yang dengannya dapat mempersatukan kami dari beragam karakter yang berbeda atau bahasa kerennya ukhuwah fillah’ -persaudaraan dan kebersamaan karena Allah-. Seperti yang pernah diungkapkan juga oleh salah seorang guru dengan bahasanya yang lembut dan mengalir, bahwa keimanan benar-benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Ini bukan lagi ikatan-ikatan semu: garis darah, kabilah, kewilayahan, ras, dan warna kulit, karena Islam telah memproklamirkan sebuah majelis mulia yang di sana duduk mesra Abu Bakar bangsawan Arab, Shuhaib imigran Romawi, Salman Pengembara Persia, dan tentu juga Bilal, bekas budak Negro Habasyah. Mereka selalu merasa indah dalam kebersamaan. Seperti juga kata salah satu teman dalam statusnya di jejaring sosial, bahwa persaudaraan itu sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. Dan memang benar adanya, kebersamaan dalam bingkai keimanan akan selalu indah, nikmat, karena di dalamnya sudah tersemai bibit keberkahan dalam doa-doa seseorang kepada saudaranya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Dengan seksama kubuka lembaran demi lembaran dan membaca goresan pena dengan kata-kata yang mengalir indah penuh hikmah dan pelajaran di buku tersebut, bukan hanya itu, dalam buku itu tercatat juga beberapa kejadian penting beserta dengan tanggal yang masih sangat jelas pada hari itu, menggiring memori ini kembali terbang ka masa lalu, saat di mana pertama kali berjumpa dengan wajah-wajah lelah namun memancarkan cahaya keikhlasan. Ya, bersama orang-orang itu dalam naungan jalan dakwah ini terasa begitu indah. Teringat saat malam-malam, dini hari, di saat yang orang lain mungkin terlelap dalam tidurnya, tapi justru kami melakukan koordinasi dan musyawarah dengan beberapa orang yang belum terlalu lama aku kenal waktu itu, memikirkan nasib mahasiswa muslim yang belum mengenal Islam dengan baik. Kami biasa berkumpul di sana, padahal kami tidak berasal dari daerah yang sama, kami mempunyai latar belakang yang berbeda, kami pun tidak satu fakultas, bukan juga satu jurusan. Kami bertemu karena satu tujuan, kami bertemu karena satu pemikiran, kami bertemu karena satu pemahaman. LDK MPM UNHAS, itulah wadah yang mempertemukan saya dengan mereka.

Hari-hari pun terlewati dengan beragam aktivitas dakwah dengan segala suka dukanya, membuat spanduk, membuat baliho, menata ruangan untuk persiapan kegiatan Dakwah Kampus (maklum saat itu masih serba manual: membuat spanduk dari guntingan-guntingan kertas, membuat baliho dari beberapa lembar triples yang di cat manual dan sebagainya) meskipun terasa sulit tapi alhamdulillah itu adalah salah satu kesempatan untuk mengambil bagian dalam kerja dakwah dan setidaknya berkat ‘kemanualan’ itu sehingga mendidik kami semua menjadi aktivis dakwah yang kreatif pada zaman itu. Saya belum menyadari sepenuhnya waktu itu kalau mereka (teman seperjuangan waktu itu) bakal menjadi ‘orang penting’ di LDK pada zamannya. Begitulah kebersamaan kami, dengan misi mulia, tujuan mulia, yang melahirkan pejuang super heroik dalam rangka menggapai keberkahan Allah Azza wa Jalla. Mungkin tidak seheroik perjuangan Bilal ketika disiksa oleh tuannya, juga tidak seheroik sekelompok pasukan Badar saat menghancurkan ribuan kaum Musyrikin Quraisy, tidak sehebat Khalid Bin Walid dan pasukannya ketika memimpin peperangan, namun setidaknya, kekuatan sebuah kebersamaan akan tetap indah, nikmat, dan selalu mengundang kerinduan bagi kami, atau setidaknya bagi diri saya sendiri. (Bukan bermaksud mengungkap dan membesar-besarkan apa yang telah kami lakukan dalam dakwah, tapi setidaknya ini dapat menjadi penawar bagi jiwa yang lelah agar bisa tetap bertahan).

Kerikil-kerikil kecil penguji keikhlasan kadang menghampiri kami, ditambah dengan kerasnya kehidupan kampus dan beragam fitnah yang menggiurkan untuk berhenti atau bahkan berpaling arah, tapi nasihat-nasihat berharga dari Sang Murabbi (begitu kami biasa memanggilnya) mengalir dan menyejukkan hati, sekan beliau mengerti akan kondisi kami, sehingga tak bosan-bosannya memberi motivasi bagi jiwa yang rapuh ini.

Cerita tentang indahnya kebersamaan masih menghiasi lamunanku hari ini. Indahnya dalam naungan ukhuwah dan mencintai saudara seiman. Kebersamaan dalam aktivitas dakwah dan kebersamaan dalam menuntut ilmu agama. Teringat dengan dengan acknowledgement yang saya abadikan di halaman awal skripsi saya dulu yang kuperuntukkan bagi ikhwan seperjuangan saya di LDK “seandainya waktu bisa dihentikan saat menikmati kebersamaan itu, maka seakan aku tak ingin ada hari esok lagi” mungkin sebagian orang pada saat itu ketika membaca pernyataan ini menganggapnya lebay atau sekadar basa basi, tapi jujur memang demikianlah adanya. Teringat saat bersebelas orang mendengarkan materi dari Sang Murabbi di rumah salah seorang ikhwan (karena atas undangannya, sehingga tempat tarbiyah saat itu dipindahkan) dan menikmati hidangan makanan dengan nuansa kebersamaan malam itu. Teringat saat bermajelis ‘ilmu kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam ‘Coto Makassar’. Teringat saat mendengarkan materi dari Sang Murabbi di tengah dinginnya malam di wilayah pegunungan Malino Sulawesi Selatan, sambil sesekali melihat wajah saudara tercinta, ada yang matanya memerah karena kelelahan, ada yang teklak-tekluk, karena mengantuk yang didukung oleh dinginnya malam itu, ada yang dengan seriusnya mendengarkan, hingga tak terasa matanya terpejam, ada yang senyam-senyum sambil sesekali memegangi HP melihat ada sms masuk atau tidak, ada yang dengan baju rapi, berkopiah, tetap serius mendengarkan materi dari sang guru, dan berbagai keunikan lainnya yang membuat bibir ini tak kuasa untuk menahan senyum.

Keesokan harinya kami menikmati kebersamaan itu di air terjun Takapala, air terjun ini terletak kurang lebih 5 kilometer dari pusat Kota Malino Kabupaten Gowa, ini memang jadi salah satu tujuan utama untuk mereka para pencari pesona keindahan alam, ataupun untuk mereka yang mencari ketenangan pikiran sehabis bergelut dengan kertas kertas legal di kantornya masing-masing. Tapi tidak bagi kami saat itu, kami tidak mencari ketenangan di sana, kami hanya ingin sekadar membuat warna baru bagi kelompok tarbiyah kami sekaligus melihat ‘keluarbiasaan’ maha karya Sang Pencipta Kehidupan ini. Masya Allah, Sungguh Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Kami menikmati kebersamaan itu di bawah percikan air terjun yang sangat dingin, menusuk hingga ke lapisan kulit terdalam. Belajar berenang bersama ustadz hingga kami menggigil kedinginan yang memaksa kami untuk sejenak berjemur dan menikmati ubi goreng di atas batu-batu yang berserakan, semua terasa sangat indah saat itu.

Ingin rasanya aku kembali ke masa itu, kembali bersama saudara-saudara tercinta, kembali merasakan nikmatnya kebersamaan dalam perjuangan, rindu kembali bersama sosok yang telah mengajarkan kepadaku tentang arti sebuah kesabaran, keikhlasan, kesungguhan, komitmen, konsisten, semangat dalam berjuang menyeru kepada kebaikan. Dan memang kebersamaan tersebut telah menjadikan satu kenangan terindah yang tidak akan pernah kulupakan. Dan aku hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga keistiqamahan dalam perjuangan ini selalu mengiringi langkah-langkah mereka saat ini dan selamanya. Kalau dulu mereka adalah para pejuang-pejuang tangguh yang rela mewakafkan diri sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah, semoga saat ini pun mereka tetap tangguh, dan lebih tangguh lagi dalam berjuang. Dan semoga kita nanti berjumpa kembali dan melepas kerinduan yang mendalam itu di surga-Nya Allah. Tentu saat ini walaupun fisik ini berjauhan, tetapi ikatan yang bernama ukhuwah akan tetap terpatri dalam hati yang terdalam, akan tetap terukir indah dalam pahatan peradaban. Dan sebentar lagi, hasil yang telah disemai dahulu ‘walaupun kecil’ akan segera kita nikmati hasilnya, dengan kekuatan kebersamaan, walaupun jauh, tetapi aura kemenangan akan senantiasa terpancar seiring gerak langkah kaki kita. Islam akan tegak dengan setegak-tegaknya, dan ternyata saudaraku, itu adalah salah satu bagian perjuangan kita, walau hanya sekadar mengajar mahasiswa baru untuk baca Qur’an, tetapi setidaknya kita telah mempersiapkan generasi terbaik untuk kejayaan Islam.

Cerita tentang hangatnya ukhuwah masih akan terus berlanjut. Cerita tentang kebersamaan dalam perjuangan, merenda dan memintal benang-benang peradaban bersama orang-orang yang ikhlas membawa misi ini, masih akan terus berlanjut sampai kapan pun. Meskipun ternyata itu sangat sulit setidaknya sulit buatku, karena untuk mencapai tahap itu kita sepertinya harus melewati fase awal dari perjuangan, yakni melawan nafsu diri agar mampu bersabar dalam kebersamaan. Dan untuk selanjutnya, biarkan ukhuwah yang akan menuntun kita, aku, engkau dan semua yang menghadirkan cinta dalam hati terhadap saudara seiman menuju tangga kemuliaan yang tertinggi, yang akan memuliakan kita dan membuat hidup kita lebih bermakna. Karena kebersamaan dalam persaudaraan itu sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. Akhi… Dunia ini bukan tempat istirahat. Sejatinya, tidak pernah ada kata berhenti untuk terus bertindak, karena dakwah adalah warisan para Rasul Allah. Serpihan-serpihan kebenaran yang kita pungut sepanjang perjalanan hidup ini yang kemudian akan mengajarkan kita untuk menjadi manusia berbudi. Semoga kebersamaan ini akan tetap abadi, dan akan menjadi cerita indah suatu ketika, antara aku, Antum dan kita semua. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,79 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Achmad Firdaus
Pengurus International Student Society NUS Singapore.

Lihat Juga

Ilustrasi (nuraurora.wordpress.com)

Pemilik Surga Terindah