Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Makna (Cinta) Keluarga Dalam Setiap Jiwa Penghuninya

Makna (Cinta) Keluarga Dalam Setiap Jiwa Penghuninya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.comBukan cinta yang menjadi sebab mereka  berlayar | tapi justru berlayarlah yang membuat mereka semakin cinta | untuk cintamu pada Rabbmu, Nabimu, Agamamu, pada umat manusia pada orang tuamu, pada adik-kakakmu, pada suami-istrimu, pada anakmu, pada masa depanmu | jika cinta berbuatlah | ukuran termudah dan logis  tentang cinta adalah amal | yaitu tentang pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan untuk cinta-cinta kita | mudah melihat bukti cinta seorang ibu dengan melihat kerasnya  dia mengurus anak dari mata terbuka hingga mata terpejam | cinta itu tindakan | itu yang membuat cinta logis dan terukur | semakin banyak yang kita lakukan, semakin banyak cinta yang kita miliki | semakin besar hal yang kita perbuat, semakin besar pula gambaran keagungan cinta kita | maka jika cinta berbuatlah | cinta adalah kebaikan | diksi kata cinta adalah baik dan positif | lawannya benci | deskripsi kata cinta adalah pemimpin agung yang adil | bukan perompak kejam yang pembius | cinta juga dideskripsikan sebagai  ibu baik hati yang cantik, bukan nenek sihir jahat bersuara parau | sederhananya cinta adalah gambaran penuh kebaikan | cukup dengannya mampu memperbaiki segalanya | maka cinta membuat pelakunya akan semakin membaik, atau memantaskan diri menjadi lebih baik | para pecinta sadar, pencarian sejati manusia adalah pencarian tentang kebaikan | tak peduli siapapun kita, karenanya juga para pecinta tau, sewaktu mereka memutuskan untuk mencintai | mereka akan dinanti kebaikannya oleh  sang cinta itu fitrahnya | muara cinta dari sepasang manusia | adalah pernikahan | maka di sanalah muara kebaikan dari setiap lelaki, dan perempuan tersalur | ini beratnya, karna kebaikan tidak berteman lama dengan kepura-puraan | tampak baik cukup  untuk memikat semua perempuan atau laki-laki | tapi belum tentu cukup untuk merawat kesetiaan | betapa banyak hubungan pernikahan kandas | hanya karena alasan, ia tak sebaik kelihatannya | berbuat baik adalah perintah setelah ruku’ dan sujud, seperti halnya ruku’ dan sujud | berbuat baik tidak bisa pura-pura | ada keikhlasan di sana | hanya untuk Allah dan berharap balas hanya dari Allah | di sini tidak ada ruang untuk, kepura-puraan | karna Allah Maha Tau Segalanya | “Hai orang-orang beriman, ruku’ sujud sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan.

(dinukil dari seorang motivator Ridwan Kamil)

Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku. Jargon yang biasa terdendang di setiap jiwa-jiwa penghuninya. Entah itu berupa kiasan atau benar adanya. Tak hanya semata-mata bermakna rumahku surgaku. Karena kata itu begitu melangit adanya, jika tidak setara dengan jiwa penghuninya. Mungkin kalian akan berpikir sejenak dan sependapat mengatakan, ya.

Hai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Jika cinta maka bertindaklah dengan kebaikan. Seperti halnya sepenggal surah tersebut, tak sekadar memotivasi. Bahwa cinta adalah tindakan, terhadap keluarga pun demikian. Keluarga adalah keutuhan cinta dalam bahtera rumah tangga, berlayar di samudera kehidupan dan bermuara di pelabuhan akhirat nantinya. Di dalamnya berisikan sebuah pembelajaran kehidupan untuk bekal akhirat terhadap setiap penghuninya. Jika kita semakin cinta maka kita akan bertindak lebih baik untuk keluarga, entah pada suami yang berjuang dalam peluhnya terik matahari, istri yang selalu mendampingi, anak-anak yang menghibur hati dan keluarga besar yang selalu ada untuk menyemangati. Karna cinta menjadi memotivasi manusia terbesar dalam hal apapun.

Seperti halnya cinta kita pada Sang Pencipta, cinta di atas segalanya. Jika cinta bertindaklah, menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk bisa bertemu dengan Sang Maha Cinta. Sungguh indah. Membayangkannya pun merasakan nuansa yang begitu syahdu. Ketika cinta pada Rabbmu, Nabimu, Agamamu dan Keluargamu, menjadikan sebab kita cinta.  Aaahhhh!!! Itu ada tiap impian individu manusia, fitrahnya. Dan kitapun dapat menggambarkan bagaimana surganya rumah kita di dunia dengan melihat isian dari karakter yang menjadikan lahirnya pribadi-pribadi dari setiap jiwa penghuninya. Cukup kita menengok diri kita saat ini, yup! Sejauh mana makna cinta keluarga itu?

Jika cinta maka bertindaklah, saling mengingatkan adalah bentuk cinta. Itu sebabnya saya ingin berbagi cinta dengan kalian. Bersyukur bila mengena di hati. Itu tandanya ada yang perlu diperbaiki dalam diri. Karna sejatinya manusia adalah berproses dan bertindak untuk lebih baik. Ingat proses saat kita tercipta, terlahir, tumbuh dewasa, sekolah, berkeluarga dan kematian pada awal kehidupan selanjutnya. Yup!!! Berproses menuju kebaikan. “Hai orang-orang beriman, ruku’ sujud sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan.” Sudah diserukan sejak manusia tercipta dan tertulis dalam lauhul mahfuz. Untuk manusia-manusia pilihan yang beriman. Jika cinta maka bertindaklah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ain Asshidiqy
Pengajar di TK dan Paud Al-Muhtadin, Ngruki Sukoharjo.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang