Home / Berita / Opini / Biopori Salah Satu Pencegah Banjir

Biopori Salah Satu Pencegah Banjir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Diagram Biopori (Foto: biopori.com)
Diagram Biopori (Foto: biopori.com)

Apa itu Biopori?

dakwatuna.comBiopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Jika lubang-lubang itu semakin banyak terbentuk, maka kemampuannya dalam menyerap airpun akan semakin meningkat pula, dengan demikian biopori tersebut dapat memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah sehingga menghindari atau memperkecil bahaya banjir.

Salah satu penyebab banjir dan pencemaran lingkungan yang terbesar adalah sampah. Jika biopori tidak dijumpai di sekitar lingkungan, maka kita dapat membuat sebuah tiruan biopori berupa lubang-lubang vertikal ke dalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput dan vegetasi lainnya. Bahan organik tersebut kemudian akan menjadi sumber energi bagi organisme dalam tanah untuk meningkatkan aktivitasnya untuk membentuk pori-pori di dalam tanah.

Semakin banyak lubang vertikal yang dibuat, maka akan semakin banyak pula jumlah biopori yang terbentuk. Secara otomatis, jumlah sampahpun akan semakin berkurang. Lubang-lubang vertikal tersebut dapat dibuat di mana saja, terutama di jalur aliran air hujan atau tempat yang lebih rendah sehingga banyak air menggenang, dan di sepanjang selokan.

Lubang-lubang vertikal tersebut akan menyusut karena sampah organik mengalami proses pengomposan. Hal ini terjadi karena aktivitas mikro organisme di dalam tanah. Pengambilan kompos sebaiknya dilakukan satu tahun sekali, dan biasa dilakukan pada musim kemarau. Kompos yang terbentuk kemudian juga dapat digunakan sebagai pupuk.

Selain mencegah banjir, biopori juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Hal ini disebabkan oleh aktivitas mikro organisme dalam tanah yang menarik organisme lain seperti cacing dan memperbaiki tanah yang gembur.

Masalah yang dihadapi sekolah dalam radius 4 km dan cara penanggulangannya

Masalah terbesar yang dihadapi adalah kurangnya interaksi (terutama interaksi secara langsung) antara warga sekolah dengan masyarakat sekitar, lingkungan yang gersang, dan masalah sampah. Untuk itu, kami memiliki alternatif penyelesaian yang diharapkan dapat mengatasi tiga masalah tersebut sekaligus. Yaitu kerja bakti untuk menanggulangi sampah dan penanaman pohon.

Dengan kerja bakti tersebut, secara otomatis akan tercipta interaksi dan kerja sama antara warga sekolah dengan masyarakat sekitar. Selain itu, masalah sampah dan lingkungan yang gersang sedikit demi sedikit akan mampu teratasi.

Karena kami bersekolah di bidang kesehatan, tentu tujuan dan prioritas kami adalah meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Lalu bagaimana mungkin kita dapat mewujudkan itu semua jika sampah masih saja belum bisa dicari upaya penyelesaian atau pengolahannya?

Sampah di sekitar lingkungan kami ada tiga jenis, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah hasil dari praktikum. Untuk sampah anorganik, kita dan masyarakat dapat mengatasinya dengan melakukan daur ulang, di mana yang kita terapkan adalah daur ulang yang bukan hanya dapat dijual kembali tetapi juga daur ulang yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat. Untuk sampah hasil dari praktikum, kita langsung membuangnya sesuai dengan prosedur dan ke tempat yang sudah ditetapkan.

Bukan hanya masyarakat dan warga sekolah yang menghasilkan sampah, tetapi juga para pengguna jalan. Yang kita tahu bahwa selama ini jarang sekali dijumpai tempat sampah di pinggir-pinggir jalan, akibatnya para pengguna jalan membuang sampah-sampah mereka begitu saja tanpa memperhatikan tempat. Untuk itu, kami berencana memberi dan meletakkan tempat-tempat sampah di beberapa titik jalan agar pengguna jalan tidak membuang sampah mereka sembarangan lagi.

Lingkungan yang gersang kita dapat atasi dengan penanaman pohon-pohon di lingkungan sekolah dan juga di sekitar pinggir jalan raya. Yang kita akan tanam adalah pohon-pohon yang memiliki khasiat sebagai obat – yang nantinya juga akan digunakan untuk praktik farmasi – dan pohon-pohon yang dapat menyerap polusi udara.

Sementara itu, di sepanjang pinggir jalan, kita juga akan membuat lubang-lubang vertikal yang diisi dengan sampah-sampah organik. Lubang-lubang vertikal tersebut diharapkan dapat menciptakan biopori secara alami. Dengan banyaknya biopori yang terbentuk, maka kemampuan tanah dalam menyerap air diharapkan dapat lebih maksimal. Selain itu, sampah dalam lubang tersebut dapat kita ambil dalam jangka waktu 1 tahun kemudian, karena sampah tersebut juga sudah menjadi kompos dan bisa digunakan untuk pupuk. Pupuk yang terbentuk, selain dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman yang ditanam juga dapat dijual kembali.

Tentunya segala upaya yang terencana tidak akan ada hasilnya jika tidak ada kesadaran dari masyarakat terutama diri kita sendiri untuk melakukannya. Untuk itu, kami akan membentuk dua tim. Di mana tim pertama akan membina masyarakat untuk menjalankan program-program tersebut dan tim kedua bertugas untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan arti penting dan tujuan dari program-program tersebut. Dengan demikian, program dapat berjalan seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. (sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.

Lihat Juga

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah