Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meretas Bahagia, Sulitkah?

Meretas Bahagia, Sulitkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Kata “bahagia” memiliki definisi yang tidak mutlak. Tergantung pada setiap orang untuk mendefinisikannya. Banyak di antara kita yang menakar kebahagiaan dengan kemewahan, ketampanan dan kecantikan, kepopuleran, serta jabatan yang tinggi.

Jika beberapa komponen di atas tidak memenuhi standar hidup seseorang, maka tak sedikit yang menuding dirinya sendiri bahwa ia sedang tidak bahagia. Hakikat bahagia yang sesungguhnya terletak pada bejana bernama hati. Sesungguhnya hatilah yang bisa memberi makna bahagia bagi setiap insan.

Satu sendok garam yang dituang pada dua bejana berbeda, berupa cangkir dan danau yang berisi air tawar sebanyak bejananya masing-masing, akan memberi rasa yang sangat jauh berbeda pula. Secangkir air tentu saja akan terasa sangat asin dan sudah pasti akan menimbulkan efek negatif yang baru, sedangkan air danau akan tetap terasa tawar dan memberi kesan untuk terus meminum airnya karena bisa menjadi penawar bagi dahaga.

Sesendok garam adalah analogi dari secuil masalah hidup. Jika kita hadapi dengan bejana hati yang sempit, bukan solusi yang didapat. Justru akan lahir masalah baru dan membuat jenuh semakin bertambah. Namun, apabila sebuah masalah dihadapi dengan bejana hati yang luas, insya Allah segala sesuatu akan terasa ringan.

Banyak hal yang bisa memberi kesan bahagia. Lihatlah burung-burung yang bernyanyi menyambut mentari pagi. Pandangilah gutasi yang menetes perlahan, namun pasti, dari ujung dedaunan.

Hiruplah aroma rumput segar dan sadarilah bahwa seluruh alam menyambut hari dengan kebahagiaan yang baru. Alam memaknai bahagianya dengan dzikrullah pada pemilik kebahagiaan, Allah SWT.

Lantas, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merasa bahagia dan mensyukurinya? Sungguh, betapa kerdilnya jiwa kita jika kita teramat sulit memaknai rasa bahagia yang telah Allah titipkan di hidup kita.

Pernahkah kita menilik mereka yang selalu bahagia? Seorang ibu yang berbahagia saat melihat bayinya lahir ke dunia dengan sehat setelah melewati perjuangan panjang ketika mengandung dan melahirkan buah hatinya.

Seorang penderita insomnia yang bisa tidur pulas. Seorang pegawai yang mampu menyelesaikan laporannya. Seorang koki yang mampu menyajikan masakan yang membuat pelanggannya begitu lahap menikmati masakannya.

Seseorang yang sakit lalu sembuh dari sakitnya. Seorang presiden yang berjuang demi kesejahteraan rakyatnya.

Seorang guru yang membekali anak didiknya dengan ilmu dunia dan akhirat.

Seorang ayah yang berpeluh-peluh, berpanas hujan, dan kadang berair mata berjuang demi memenuhi nafkah untuk anak istrinya.

Seorang pemilik utang yang telah berhasil membayar utangnya.

Seorang pemuda yang menjaga hati dan imannya.

Seorang jomblo yang telah berhasil memutus rantai kesendiriannya dengan jalan menikah…

Serta berjuta kebahagiaan lainnya bisa hadir dalam hidup kita meski lewat hal-hal yang sangat sederhana.

Lantas, masihkah kebahagiaan itu sulit dicari? Tentu saja, ya.

Karena kebahagiaan tidak perlu dicari, namun cukup diciptakan lewat bejana hati yang luas dan penuh rasa syukur.

“Fabiayyi alai Robbikuma tukadzdziban…”

“Dan nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?”

Surah Ar-Rahman mengulang beberapa kali firman Allah di atas untuk mentarbiyah jiwa, hati, dan pikiran kita untuk senantiasa syukur nikmat. Dengan bersyukur, bahagia tak akan pernah jenuh menemani diri kita, sekalipun dalam kesepian dan kesendirian…

Selamat berbahagia…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Listi Mora Rangkuti, S.S.
Menyelesaikan amanah pendidikan terakhir di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara pada tahun 2009 dengan predikat cumlaude. Ibu dari dua orang anak ini lahir di Tanah Sumatera, tepatnya di Rao-Rao, pada bulan Januari 1987. Ia penikmat sastra, meski karya-karya yang lahir dari imajinasinya masih berupa karya amatir yang masih perlu banyak belajar dan berbenah.
  • Arif Budiman

    maaf Ibu, arti meretas disana apa ya? terima kasih :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Menemukan Kebahagiaan