Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kewajiban Membaca Sirah Nabawiyah

Kewajiban Membaca Sirah Nabawiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Tidak mungkin orang dapat mengenal Islam dengan baik, jika tidak mengenal sejarah orang yang membawa Islam itu”. (Haekal, Penulis buku Sejarah Hidup Muhammad)

Penggalan kalimat yang cukup singkat di atas itu pernah mengguncangkan hati saya sebagai seorang muslim, sebagai seorang yang mengakui seorang Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah. Keguncangan tersebut paling tidak didasari oleh dua hal.

Pertama, tentu saja menyangkut pembuktian keimanan. Saya yang sudah merasa sebagai seorang muslim sejak kecil sampai dengan mahasiswa (saat pertama kali membaca kalimat tersebut) kira-kira berusia sekitar 20 tahun. Tapi selama 20 tahun keislaman saya itu, belum pernah sama sekali saya membaca dan mengetahui sejarah hidup Nabi akhir zaman itu secara menyeluruh, walaupun tentu saja setebal apapun buku yang menulis tentang kehidupan Nabi Muhammad, rasanya tidak akan mampu menggambarkan secara detail dan lengkap, hidup seorang Nabi Muhammad karena begitu agung dan mulianya peri hidup seorang Nabi Muhammad SAW.

Kedua, adalah bahwa tidak mungkin kita bisa berislam yang benar, termasuk juga memperjuangkan Islam dengan benar, sebagai sebuah peradaban atau sistem hidup, jika kita tidak bisa memahami secara kaffah sejarah hidup seorang Nabi Muhammad, karena dalam sejarah hidup Nabi Muhammad lah kita akan bisa mengetahui bukan hanya tata cara shalat Nabi Muhammad tapi kita juga dapat mengetahui bagaimana Nabi Muhammad memperjuangkan Islam sebagai sistem hidup yang benar dan unggul dari sistem hidup lainnya. Dengan membaca Sirah Nabawiyah, misalnya, kita akan tahu apakah dulu Nabi Muhammad ketika menegakkan Al-Islam masuk ke dalam sistem jahiliyah atau berada di luar sistem jahiliyah (Darun Nadwah). Atau ternyata Nabi Muhammad melakukan dua hal itu sekaligus, di luar sistem dengan Nabi Muhammad tidak mau menerima tawaran sebagai Raja, dan juga di dalam sistem, dengan mengutus beberapa sahabatnya seperti pamannya Abbas ra. dalam rangka mengumpulkan informasi-informasi apa yang akan dilakukan oleh para musyrikin Quraisy saat itu, untuk kemudian nantinya disampaikan kepada Nabi Muhammad, sehingga dengan informasi tersebut Nabi Muhammad dapat melakukan strategi untuk melawannya. Dalam bahasa sekarang profesi Abbas ra dulu itu disebut sebagai intelijen.

Pengetahuan ini penting sekali bagi kita sekarang ini, yang sedang diamanahi pengemban risalah dakwah. Dengan membaca sirah nabawiyah secara benar, kita akan memiliki paduan yang lengkap seperti apa dan bagaimana risalah Al-Islam ini harus diperjuangkan. Sejatinya, menurut saya, hal-hal prinsip yang sifatnya sudah final dan mutlak (tsawabit) dalam konteks perjuangan Al-Islam ini, sudah tersurat dan tersirat dari sejarah hidup Nabi Muhammad, tinggal kita mencontohnya saja, sesuai dengan apa yang diinformasikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Tentu berbeda dengan hal-hal yang bersifat mutaghayyirat artinya ada hal-hal memungkinkan mengalami penggantian, perubahan, takwil, dan pengembangan sesuai zaman dan konteks. Tapi, tetap saja yang menyesuaikan dengan zaman pun tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, dalam artian tidak boleh bertentangan dengan syariat Allah.

Umat Islam di seluruh dunia, saat ini sedang memasuki bulan Rabbiul Awwal di mana Sang Nabi Terakhir lahir, sebagian di antaranya ada yang memperingatinya. Menurut saya, kalaupun ada yang memperingatinya, substansi dari peringatan tersebut mestilah pada akhirnya harus bermuara pada dorongan untuk membaca secara lengkap sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Hari ini, buku-buku tentang sejarah Nabi Muhammad sangat banyak dan mudah untuk didapatkan di toko-toko. Beberapa buku sejarah hidup Nabi Muhammad yang cukup popular seperti, Sirah Nabawiyyah dari Ibnu Hisyam, atau Sirah Nabawiyyah dari Mubarokfury, Sejarah Hidup dari Husein Haekal pun bisa jadi pilihan, di samping buku-buku Sejarah Muhammad dari penulis-penulis lainnya. Dengan demikian, wajib hukumnya bagi seorang yang mengaku sebagai muslim untuk membaca sirah nabawiyah.

Lebih jauh dari itu, membaca sejarah hidup Nabi Muhammad itu berkaitan dengan aqidah kita sebagai muslim. Membaca sejarah hidup Nabi Muhammad adalah menjadi bukti awal bahwa kita benar-benar dan sungguh-sungguh mengimani beliau sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah SWT. Syahadat kita terdiri dua kalimat. Pertama, persaksian bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah. Kedua, persaksian Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah. Syahadat ini tidak bisa dipisah-pisah. Jika kita hanya beriman kepada Allah sedangkan kepada Nabi Muhammad tidak, maka keislamannya tidak sah. Dan perlu diingat juga adalah, sejarah kehidupan Nabi Muhammad tidak hanya cukup dibaca tapi juga harus dipahami, dan diamalkan. Sebagai muslim kita jangan kalah oleh orang-orang non-muslim yang lebih semangat belajar dan membaca tentang sejarah hidup Nabi Muhammad bahkan ada yang sudah menulisnya menjadi sebuah buku, walaupun apa yang mereka lakukan di hadapan Allah barangkali tidak ada gunanya kalau mereka (non-muslim) sampai akhir hidupnya itu tidak mengimani kenabian Muhammad. Wallahu’alam bis shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Adi Permana Sidik, S.I.Kom
Lahir di Karawang pada bulan Nopember 1988. Lulusan Sarjana Komunikasi FISIP Universitas Pasundan Bandung. Saat kuliah Sarjana aktif di Dewan Kemakmuran Masjid Ulul Abshor Universitas Pasundan. Dan setelah lulus, aktif sebagai salah satu Dewan Pembina. Aktivitas sekarang sebagai Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Unpad, konsentrasi Studi Ilmu Komunikasi.

Lihat Juga

Ilustrasi. (antominang.blogspot.co.id)

Hijab, Antara Kewajiban dan Gaya Hidup