Home / Pemuda / Cerpen / Lelaki Tampan di Sudut Masjid Nabawi

Lelaki Tampan di Sudut Masjid Nabawi

Ilustrasi - Masjid Nabawi (inet)
Ilustrasi – Masjid Nabawi (inet)

dakwatuna.com Dengan mengucap “bismillahirrahmanirrahim”, aku menaiki pesawat Boeing 747 milik penerbangan Saudia Airlines. Inilah perjalanan umrahku yang pertama. Hatiku berdebar bercampur haru. Sejak kecil, aku memimpikan untuk bisa mengunjungi Mekah dan Madinah; dan mimpiku kini terwujud. Aku lebih berbangga dan bahagia sebab perjalanan umrahku ini hasil dari keringatku sendiri. Ya, selama ini aku menabung, menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari gajiku agar dapat menunaikan mimpiku, kelak.

Terbayang wajah almarhum Papa saat semua keluarga mengantarku di bandara Soekarno – Hatta pagi ini. Papa tak menyaksikan kebahagiaanku. Allah memanggilnya dua tahun lalu akibat kanker prostat yang menggerogotinya sejak empat tahun lalu. Teringat saat Papa mengantarku ke bangku TK dulu. Ampun deh, aku menangis sejadi-jadinya, dan Papa membiarkanku “diculik” bu guru. Papa juga yang mengantarku saat masuk SD, menemaniku saat masuk SMP, SMA dan menjadi fotografer setia saat aku diwisuda di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, empat tahun lalu. Tak lama setelah itu, Papa divonis sakit kanker prostat, dan semakin hari kesehatannya semakin menurun; sampai  setahun lalu Papa menghembuskan nafas terakhirnya di RS Cipto Mangunkusumo, didampingi Ibu, Indra, Abangku, Aku dan Airin, adikku.

Sore tadi, semua hadir di bandara. Bang Indra datang dari Bandung, khusus menemuiku di bandara. Airin berangkat bersamaku dan Mama dari rumah. Sejak menikah, Bang Indra tinggal di Bandung. Dia alumni ITB dan dapat istri teman kuliahnya. Dia lalu bekerja dan membangun rumah tangga di sana. Meski tinggal jauh denganku, Bang Indra adalah segalanya buatku, terutama sejak Papa meninggal dunia. Dia tak pernah absen melewati malam meneleponku, sekadar “say hello”, menanyakan pekerjaanku, dan – tentu – menanyakan calon pendampingku.

Terus terang, kadang aku jenuh juga ditanyakan soal calon suami. Bang Indra tentu bermaksud baik. Usiaku kini 27 tahun. Sebagai abang, dia pasti khawatir dengan masa depanku. Tetapi, aku selalu meyakinkan dia, jodoh Allah yang tentukan. Dan aku selalu percaya kata-kata almarhum Papa; “wanita baik-baik akan mendapat laki-laki baik-baik juga..” hm…. Kata-kata Papa itu diucapkannya saat aku memutuskan memakai jilbab, saat kelas dua SMA dulu. Waktu itu, ibu menentang. Biasa lah, ibu khawatir aku bakalan tak suka gaul, tak modis. Kasarnya sih “susah laku!”. he…

“Seat nomor berapa, Mba?” tanya pramugari Saudia Airlines memecah lamunanku.

“Oh, 28-K Mba”, jawabku singkat. Pramugari itu melepas senyumnya dan menunjuki aku kursi nomor dua puluh delapan. Ternyata, meski penerbangannya Saudia, pramugarinya orang-orang Indonesia; mungkin karena melayani rute Indonesia, jadi yang direkrut orang Indonesia.

Sejurus kemudian, aku mendapati kursi 28-K. Persis di dekat jendela dan barisan terdepan kursi kelas ekonomi. Sebetulnya aku bisa saja membayar umrah paket eksekutif, tapi karena aku berangkat sendiri dan “dititipkan” di keluarga Pak Arif, aku merasa tak pantas membayar kelas eksekutif sementara beliau di kelas ekonomi. Kata “dititipkan” sengaja aku berikan tanda petik. Sebab, dalam perjalanan umrah, seorang anak gadis tak boleh berangkat sendirian. Konon, itu peraturan pemerintah Saudi. Maka, oleh travel agent, aku didaftarkan sebagai anggota keluarga Pak Arief. Dan di visa-ku tertulis sebagai mahram Pak Arief.

—***—

Setelah melakukan perjalanan selama sembilan jam, pesawat Saudia Airlines mendarat mulus di Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah. Paket umrahku memang langsung ke Madinah baru kemudian Mekah. Kata Pak Endang, tour leader-ku, perjalanan ke Madinah dulu baru ke Mekkah lebih menguntungkan. Imigrasinya tak serumit di Jeddah, dan tak perlu naik bis dari Jeddah ke Madinah yang menempuh waktu enam jam lagi.

Benar saja, imigrasi di Madinah relatif cepat; meski – menurutku – petugasnya tetap tak secekatan di Jakarta. Kadang, bangga juga jadi orang Indonesia, petugas imigrasinya ramah dan tak berbelit-belit. Kami langsung menuju hotel Royal al-Eman, hotel berbintang lima. Perjalanan dari bandara ke hotel sekitar tiga puluh menit. Sepanjang jalan, aku mencium aroma Madinah seperti yang kubaca di buku panduan dari travel agent. Suasana musim dingin terasa sejak keluar bandara; angin bertiup semilir; ada sederetan pohon kurma yang ditanam di median jalan raya. Meski hari beranjak malam, sekawanan burung merpati terbang rendah, tepat di dekat persimpangan sebuah lampu merah. Debu pun terbang tertiup angin. Aku teringat kata-kata ustadz Faishol saat belajar manasik di Jakarta, “Debu di Madinah adalah obat. Jadi jangan pakai masker di sana” Mulia sekali kota ini, bahkan debu-nya pun bernilai penawar sakit. Dan kini – aku berada di sini, di Madinah. Aku cubit tanganku sendiri; sekadar ingin memastikan aku tak sedang bermimpi.

Di lobby hotel, saat menunggu pembagian kunci kamar, seorang petugas hotel berpakaian necis menghampiri kami. Aku menebak dia manager hotel, sebab – sungguh – dia rapi sekali: memakai jas, dasi dan bersepatu mengkilap. Rambutnya disisir ke belakang, alisnya tebal, kumis dan janggutnya dicukur bersih; dagunya belah, dan – oh my God, matanya biru. Aku seperti tak asing dengan wajahnya, tapi…Tidak, aku tidak sedang di Amerika atau Italia, aku di Madinah. Sekilas, aku bertemu mata dengannya, dan buru-buru aku menunduk, demi menyadari bahwa aku tengah ibadah.

Dalam bahasa Arab, dia bercakap-cakap dengan Pak Endang. Aku tak paham sama sekali apa yang mereka berdua bicarakan, tapi pasti tak jauh dari soal pembagian kamar. Benar rupanya, petugas hotel itu meminta maaf sebab sebagian jamaah harus berada di lantai tiga, sebagian lain di lantai sembilan. Padahal, awalnya, kami dijanjikan akan berada di lantai yang sama. Aku, bu Wiwin, istri Pak Arif dan Linda, anaknya, ditempatkan di lantai tiga. Kami menempati kamar triple; sekamar bertiga. Sementara Pak Arief dan sebagian jamaah lainnya di lantai sembilan. Sekali lagi, si Arab itu melintasi kami; dan aku dengar dia berucap, “we are sorry for this inconvinience.” Oh, bagus juga bahasa Inggrisnya, gumamku. Kami check-in sekitar jam 9 malam waktu Madinah.

–***—

Kumandang adzan Subuh menggema memecah langit Madinah; aku, bu Wiwin dan Linda bergegas menuju masjid Nabawi. Hotel kami terletak sekitar lima ratus meter dari masjid Nabawi. Lamat-lamat, kuperhatikan, hotel-hotel di Madinah ini relatif sama; sama tingginya, sama pula modelnya. Mungkin hanya management-nya yang berbeda. Ini adalah shalat Subuh pertamaku di masjid Nabawi.

Setelah istirahat sekian jam dari kedatanganku tadi malam, subuh ini sudah terasa fresh, meski masih ada sedikit sisa letih. Bu Wiwin pernah umrah, jadi cukup berpengalaman mengajakku langsung menuju masjid Nabawi wilayah khusus perempuan. Sesampainya di dalam masjid, aku langsung sujud syukur; “Ya Allah, aku sampai di kota Rasul-Mu.” Kelopak mataku kurasakan mengalirkan air hangat, ya – aku menangis. Betapa tidak, kini aku hanya beberapa meter dari makam Rasulullah yang mulia; makhluk teragung dalam sejarah peradaban umat manusia; nabi pemberi syafaat kelak; tokoh pilihan Allah untuk menyampaikan risalah-Nya.

Sekali lagi aku ingat almarhum Papa. Aku teringat saat beliau sering sekali menceritakan Rasulullah sebelum kami beranjak tidur. Papa memang gemar membaca sejarah, terutama sejarah Nabi lalu diceritakannya kepada kami, anak-anaknya. Aku hampir hafal semua yang diceritakannya. Salah satu cerita yang paling aku suka adalah romantisme Rasulullah dan bagaimana beliau SAW menaruh trust– kepercayaan pada istri-istrinya. Sungguh, wanita merasa terhormat jika suami memberikan kepercayaan dalam senang dan susah.

Kata almarhum Papa, setelah perang Khaibar selesai, para sahabat Nabi menghadap Rasulullah sambil membawa wanita bernama Shafiyah. Salah seorang di antara mereka berkata, “Shafiyah adalah wanita terhormat dari Bani Quraidzah dan Bani Nadzir. Dia hanya pantas buatmu, wahai Rasulullah.” Setelah wanita itu dimerdekakan, Rasulullah kemudian menikahinya untuk mengurangi tekanan batin dan guncangan jiwanya. Juga untuk memelihara kedudukannya yang terhormat.

Rupanya, ada sahabat Nabi yang khawatir dengan keislaman Sofiyah, maka semalaman itu dalam perjalanan pulang dari Khaibar, Abu Ayyub Khalid Al-Anshari, sahabat Nabi itu, berjaga-jaga di sekitar tenda Rasulullah. Pagi harinya, Rasulullah melihatnya, dan bertanya, “Ada apa, wahai Abu Ayyub?” Abu Ayyub menjawab, “Aku khawatir akan keselamatanmu dari perbuatan wanita itu. Karena ayahnya, suaminya dan golongannya sudah terbunuh, sedang beberapa saat lalu dia masih seorang kafir.” Mendengar itu, Rasulullah tersenyum, lalu mendoakan Abu Ayyub agar ia selalu dijaga oleh Allah subhanahu wataala. Lalu, lihatlah apa yang terjadi pada Shafiyah. Demi mendapatkan trust yang demikian besar dari suaminya, Rasulullah, Shafiyah pun sangat taat dan setia. Bahkan ketika Rasulullah sakit, Shafiyah berkata, “Ya Rasulullah, sekiranya mungkin, biarkan aku saja yang menderita sakitmu ini.”

Selesai shalat subuh, aku berdoa agar kelak mendapatkan suami yang menaruh rasa percaya penuh padaku. Bagiku, itulah setinggi-tinggi penghormatan seorang suami pada istrinya. Ah, andai saja….

–***—

Kini aku sudah tiga hari di Madinah, lusa kami akan ke Mekah. Aku telah ziarah ke makam Rasulullah, shalat di raudhah, city tour Madinah dan mulai menikmati suasana dingin kota ini. Diam-diam, dalam hati, aku ingin bertemu dengan manager hotel Royal Eman yang setiap bertemu selalu menyapa kami. Siapa tahu berpapasan di lobby hotel atau bertemu di lift. Aku cuma penasaran, kok ada orang Arab bermata biru seperti itu.

Ya, aku ingat sekarang, dia mirip Pierce Brosnan, bintang film James Bond “Tomorrow Never Dies”. Bedanya; dia kelihatan lebih atletis, muda dan selama tiga hari, aku tak pernah melihatnya merokok. Jadi, kusimpulkan sementara, dia bukan perokok. Dia juga rajin sekali ke masjid. Setiap waktu shalat, masih dengan pakaian dinasnya itu, dia berangkat ke masjid. Hanya saja, aku tak pernah melihatnya masuk ke dalam masjid. Dia hanya shalat di pelataran masjid bersama para jamaah lainnya.

Pernah kutanyakan pada Pak Endang, mengapa banyak orang yang tidak masuk ke masjid, dan hanya shalat di halaman masjid Nabawi. Pak Endang bilang, mereka rata-rata warga Madinah atau pekerja-pekerja hotel sekitar sini. Alasannya, mereka harus segera balik bekerja namun di saat yang sama tak ingin kehilangan shalat jamaah di masjid Nabawi. “Jika dia seorang cleaning service, misalnya. Dia kan harus segera bekerja. Kalau masuk ke dalam masjid, terlalu jauh. Jadi dia shalat di luar saja.” Oh, gumamku.

Jadi, manager itu pun begitu. Dia selalu shalat di sudut masjid Nabawi dekat tiang arah pulang ke hotel agar segera bisa kembali bekerja. Subhanallah. Benar deh, benar-benar Pierce Brosnan plus dia.

Tadi malam, saat kami makan di restoran bersama jamaah lain, Pierce Brosnan plus itu menghampiri kami, menanyakan cita-rasa masakan hotelnya. Tentu saja nikmat; semua masakan terasa betul bumbu Indonesia-nya. Terus terang, aku tak berani memandangnya. Namun, setelah dia pergi, Pak Endang justru bercerita kepada jamaah bahwa manager itu bernama Nael al-Zaydan. Dia warga negara Jordania; sudah lima tahun bekerja di Madinah. Sejak Pak Endang kenal, setiap kali datang ke Madinah, pasti Nael yang menyambutnya di Royal Eman. Dan – kata Pak Endang lagi – dia selalu tampil dandy.

Menyaksikan ibu-ibu dan sejumlah anak gadis serius mendengarkan cerita Pak Endang, ada cemburu membakar hatiku. he..

–*** —

Kami sudah mengepak seluruh koper dan tas jinjing untuk dibawa ke Mekah. Selepas shalat Zhuhur nanti, kami akan check-out. Tiba-tiba saja, aku merasa akan kehilangan kota ini. Ya, kota yang dipilih Rasulullah untuk membangun contoh peradaban Islami. Aku jadi ingat sekali lagi cerita almarhum Papa. Kata beliau, sewaktu selesai perang Hunain, Rasulullah membagi-bagikan harta rampasan perang kepada beberapa tokoh Quraisy; namun tidak kepada orang-orang Anshar Madinah. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Madinah hingga ada yang mengatakan: “Rasulullah memihak dengan kaumnya.”

Kemudian Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah. Katanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang Madinah merasa tidak enak hati terhadap apa yang engkau lakukan dengan harta rampasan sebab engkau hanya membagikannya kepada kaum-mu sendiri.” Rasulullah balik bertanya, “Engkau sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?” Ia menjawab, “Aku hanyalah bagian dari mereka.” Rasulullah kemudian, antara lain, berkata, “Tidakkah kalian ridha, wahai orang-orang Anshar, orang lain pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kalian pulang ke kampung halaman kalian membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-orang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.” Demi mendengar ucapan Rasulullah itu, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi janggut-janggut mereka, sambil berkata: “Kami ridha bagian kami adalah Rasulullah!”

Ya, kota ini mendapat kemuliaan menjadi bagian dari sejarah Rasulullah. Dan sebentar lagi aku akan meninggalkannya. Meninggalkan kenikmatan beribadah di masjid Nabawi. Meninggalkan suara khas kumandang adzan masjid Nabawi ini.

Saat aku berada di lobby mengawasi koperku dinaikkan ke bus, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang menyapaku.

“Nisa…”.

“How come you know my name?” tanyaku dengan wajah bego.

“I have your passport” jawab Pierce Brosnan, eh Nael al-Zaydan sambil menggenggam photo-copy sejumlah paspor. Oh… Jadi…

“Yes,” lanjutnya seakan membaca pikiranku. “I have learned your details. Thank you to be my guest in this hotel. I will be in Jakarta in the coming month, if you don’t mind, my I have your mobile number?”

Hah! Dia meminta nomor HP-ku. Aku seakan tak menapak di atas lantai. Tanganku gemetar. Untuk apa? “I may need your help and we may communicate each other.” lanjutnya dengan senyum tersungging.

Hah! Kini aku benar-benar tak berani menaikkan wajahku. Aku tak kuasa menjadi Zulaikha yang tertawan ketampanan Yusuf. Aku tak ingin melukai tanganku dengan pisau, eh pulpen dan menjadikannya berdarah-darah. Segera setelah selesai menuliskan nomor HP-ku, aku pun permisi. Kulihat dia tersenyum dengan secarik kertas yang aku berikan itu.

Selepas Zhuhur, kami pun meninggalkan Madinah menuju Mekah guna menunaikan ibadah umrah. “Labaik Allahuma Labbaik… Labbaika Lasyarika La baik… Inal Hamda Wa Nikmata Laka Wal Mulk, La SyarikaLaak…”

–*** —

Tiga bulan berlalu sudah sejak aku umrah dan bertemu dengan lelaki tampan di sudut masjid Nabawi itu. Kini aku sedang berbulan madu bersama suamiku. Mau tahu siapa dia? He… lain kali aku ceritakan yah… :)

Salam hormat, Nisa.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (59 votes, average: 8,49 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Muhammad Matori Rie

    kisahnya bagus

    • amara hadi

      Ya bagus …… aku yakin suami nya si mata biru itu …
      nice of story …. like it ♡

  • Iqbal Munawier

    Penasaran banget sama kelanjutannya…

  • Iqbal Munawier

    Penasaran banget sama kelanjutannya…

  • Jalan ceritanya bagus….

  • Jalan ceritanya bagus….

  • hafidz

    bikin puanasaran nie….. Undang kami untuk bisa merasakan niklatnya beribadah di tanah haram Mu ya Alloh.

  • hafidz

    bikin puanasaran nie….. Undang kami untuk bisa merasakan niklatnya beribadah di tanah haram Mu ya Alloh.

  • widya rosnalia

    Kalo suami mba nisa si laki” bermata biru.. kaya di Film yaa.. di jadiin Film ajja mba pasti bagus bgt deh.. jd film drama romantis gitu.. hee

  • al kanza

    hi hi,,,, mesemm ah,,,

Lihat Juga

Kelu Lidah di Lelantai Haramain