Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berani Jujur itu Hebat!

Berani Jujur itu Hebat!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: sang-penaklukmimpi.blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: sang-penaklukmimpi.blogspot.com)

dakwatuna.com Miris. Barangkali itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan di bangsa kita saat ini. Kemerosotan nilai moral dan krisis kejujuran yang kian hari kian erat menggerogoti badan bangsa kita, sudah dapat dipastikan merupakan pemicu dari keterpurukan dan kebobrokan yang kita rasakan sekarang. Kenapa seolah bangsa ini kehabisan orang jujur? Setiap hari kita dirisihkan dengan tayangan berita di televisi yang tak pernah luput dari korupsi, suap, mulai dari kelas teri hingga kelas kakap. Subhanallah, sungguh Allah maha suci dari segala keserakahan.

Berani jujur itu Hebat. Pada dasarnya tidaklah sulit bagi kita menemukan orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi saat sekarang ini, namun sangat disayangkan hal itu sangat berkebalikan saat kita mencari orang yang benar-benar menjunjung tinggi kejujuran, wallahualam. Sehingga itulah kenapa saya memberi judul opini saya ini dengan “Berani Jujur itu Hebat!”

Bicara masalah kejujuran, tentu tak dapat dipisahkan dari akhlaq, dan moral. Akhlaq dan moral juga pasti erat kaitannya dengan keseimbangan IQ (Intelektual Quotient), EQ (Emotional Quotient) serta SQ (Spiritual Quotient) yang tak lain merupakan kunci dari karakter seorang individu, kejujuran berawal dari sana! Teringat dengan kata-kata ini,

“Jujur tidaknya, berakhlaq atau tidaknya seseorang itu tergantung kesadaran masing-masing”,

Acapkali saya mendengar argumen seperti itu ketika bercerita seputar ideologi dan kejujuran. Nah, pertanyaannya, bagaimana kesadaran itu muncul kalau tidak diajarkan? Bagaimana kesadaran itu muncul kalau tidak dibiasakan? Apakah bisa muncul dengan sendirinya? Tentu butuh proses dan pembekalan panjang, ditambah peran serta lingkungan, khususnya lingkungan instansi pendidikan memegang andil besar dalam hal ini.

Tanpa menyalahi sistem pendidikan, di sini saya ingin sedikit bercerita mengenai pendidikan yang saya lalui di negeri ini selama lebih kurang tiga belas tahun, dan sepanjang perjalanan itu, saya menilai kita kurang memperhatikan keseimbangan dari ketiga pilar penentu di atas (IQ, EQ, dan SQ), dan cenderung memposisikan IQ di atas dua pilar lainnya. Dari mana saya bisa menilai itu? Hal ini sangat jelas terlihat dari sistem pembekalan mata pelajaran berbasis nasional di negeri kita yang lebih banyak diarahkan ke pelajaran eksak, dan sedikit sekali pembekalan di pelajaran berbau moral, emosional dan spiritual.

Aksi kebut-kebutan dalam menyodorkan hafalan dan rumus ini sayangnya tidak diimbangi dengan asupan pelajaran ideologi atau kewarganegaraan dan agama yang cukup. Pengalaman ketika saya masih menjadi siswa beberapa tahun lalu, dalam satu minggu saya disuguhi pembekalan agama satu kali pertemuan, dengan waktu tatap muka satu jam tiga puluh menit. Begitupun dengan mata pelajaran kewarganegaraan. Waktu sisanya hanya berkutat dengan setumpuk hafalan dan hitungan yang sedikit membosankan. Sontak saya menjadi bingung dan terus bertanya dalam hati, sebenarnya target apa yang diinginkan oleh pemerintah kita? Kebut-kebutan menyodorkan pelajaran eksak kepada siswa, toh saat materi diberikan banyak yang ngantuk dan jenuh karena terkekang oleh suguhan rumus yang kian hari kian bertambah. Kebut-kebutan menyuguhkan hafalan-hafalan kepada siswa, toh saat materi diberikan banyak yang sms-an dan bercerita karena bosan, dan jadilah, ujung-ujungnya saat ujian satu kelas memiliki team work yang bagus dalam hal berbagi jawaban dan yang pintar mulai menjalankan peran sebagai Google saat ujian berlangsung. Koruptor kelas teri muncul. Kepintaran yang tak bermoral pun mulai tumbuh.

Saya kira itu jadi salah satu faktor akan kemerosotan akhlaq dan moral generasi muda saat ini. Lantaran terfokus pada pematangan intelektual (IQ), kepedulian mereka terhadap agama menjadi terkikis, sehingga kemauan untuk menggali ilmu agama menipis, pada akhirnya sangat minim pengetahuan akan agama mereka sendiri sehingga kecerdasan spiritual (SQ) yang ada pada diri mereka terkubur jauh. Lantaran terfokus pada pematangan intelektual, mereka menjadi lupa dengan apa itu idealisme, dan lupa dengan apa itu moral, sehingga terciptalah intelek-intelek handal bermental pendusta dan sok kuasa serta rakus akan harta. Hilanglah kepekaan sosial. EQ yang ada pada diri mereka, generasi muda pun terkubur jauh.

“IQ, SQ, dan EQ haruslah saling mengimbangi satu sama lain, dan tidak boleh ada yang ditinggikan salah satu di antaranya. Lihatlah kondisi saat ini, ketika IQ berkuasa di atas segalanya, yang terlihat hanya kekacauan dan ketidakjujuran, lebih parah dari wabah penyakit apapun. Lahir petinggi dan intelek tangguh yang haus harta, lahir pejabat berwajah ramah yang serakah, akibat ketidakmampuannya menahan nafsu, akibat ketidakmampuannya menahan godaan, lantaran EQ dan SQ yang telah terkubur.

Selamat buat yang telah menjunjung tinggi arti penting kejujuran, karena itulah yang dicari oleh negara kita saat ini. Berani jujur itu hebat!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Qori
Anak ke tiga dari tiga bersaudara. Saat ini sedang melanjutkan studi di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, memasuki awal semester 4.

Lihat Juga

Saya Ingin Cerai Karena Suami Tidak Jujur dan Menumpang Hidup, Bagaimana Solusinya?