Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mata Menangis, Bagaimana dengan Hati?

Mata Menangis, Bagaimana dengan Hati?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: plus.google.com / Andre Lukman)
Ilustrasi. (Foto: plus.google.com / Andre Lukman)

dakwatuna.com Tidak tanggung-tanggung musibah yang menimpa negeri ini. Jeritan dan isak tangis anak-anak bangsa pun makin terdengar menusuk. Ngilu terasa. Air mata luluh seiring derasnya terpaan ombak banjir. Rumah-rumah hanyut dan hancur. Mobil-mobil mewah mengambang seperti gabus. Pohon-pohon tumbang dibawa arus. Beribu orang harus rela hidup di pengungsian. Bahkan, sebagian mereka lebih menderita lagi sebab penyakit yang menjangkit pada tubuh mereka. Nyawa pun terancam di bawah bayang-bayang garangnya gunung Merapi. Lagi, lagi, dan lagi. Seolah musibah itu tiada habisnya.

Inilah kita, saudara-saudara mereka. Ya, setidaknya kita akui itu dalam jalinan persaudaraan nasionalisme. Maka, apakah yang bisa kita lakukan? Apakah cukup hanya dengan menyumbangkan air mata dan belas kasih? Apakah uluran tangan kita telah mencukupi?

Saudaraku, apa pun yang kita lakukan, tidak akan pernah mencukupi. Buktinya, jangankan mencukupi kebutuhan orang yang terkena musibah, kebutuhan sendiri saja sering tidak tercukupi. Bukan begitu? Sejatinya, apa pun yang kita sumbangkan, hanya bisa mengurangi setitik saja penderitaan mereka. Sebab ketakutan mereka bukan hanya pada kebutuhan makanan, pakaian, dan rumah. Tidak!

Tanyalah pada beribu ibu yang kini menggendong anaknya di pengungsian, pastilah ia lebih menginginkan keselamatan anaknya, bahkan lebih ia utamakan dibanding dirinya. Tanyalah pada beribu ayah yang kini tersudut di tenda pengungsian, pastilah ia sangat menginginkan keselamatan dan kebaikan keluarganya. Andai ia masih punya harta, akan ia bawa mereka ke belahan bumi lain. Hanya saja, kini ia tak berdaya. Hartanya hanyut. Atau, di daerah Sinabung, lihatlah mereka. Tubuh-tubuh mungil anak-anak itu, orangtua yang renta, banyak sekali jumlahnya mereka yang harus bersabar dijangkiti penyakit akibat abu vulkanik.

Hanya Allah yang mampu mencukupi semua kebutuhan kita. Tiada yang lain. Maka seharusnya, pada Allah saja kita mengadu, pada Allah kita kembali, pada Allah kita berlindung. Kasih-sayang-Nya semata yang layak kita jadikan tempat bernaung. Bukan yang lain.

Jangan berharap berlebihan pada pemerintah. Mereka juga manusia. Maklum, sama-sama punya kebutuhan. Sebabnya, mereka juga lalai. Mungkin saat ini juga Allah ingin menguji, siapa yang layak dijadikan pemimpin. Siapa yang layak duduk di bangku pemerintahan. Pemimpin sejati akan tetap turun ke tengah masyarakatnya walau dalam kondisi genting. Karena ia tahu saat itulah rakyatnya paling membutuhkan bantuannya.

Saudaraku, marilah kembali pada Allah! Seruan ini untuk hati kita masing-masing. Agar kita bisa merasakan dan memahami diri kita sendiri. Pastilah mata kita kini lembab oleh air mata yang tak habis-habisnya. Luluh menyaksikan pemberitaan di media yang tak henti-hentinya, masih soal musibah yang melanda negeri kita.

Ada satu hal yang menjadi pertanyaan, saudaraku. Sebab apakah kita menangis? Ya, apakah yang membuatmu menangis?

Sedikit maknanya air mata yang berjatuhan itu, kalau ternyata hanya karena sedih melihat rumah yang hanyut, mobil yang terbawa arus, dan harta yang ludes. Bila sebab itu kita menangis, sia-sia saudaraku! Bukan karena itu kita harus menangis. Tapi, karena Allah. Kita harus kembali pada Allah. Meminta pada-Nya. Kalau tidak begitu, bisa saja Allah menimpakan musibah yang sama di lain waktu.

Hanya Allah yang mampu menepis semua itu. Hanya Allah yang mampu menghentikan, sebab Allah yang menurunkan. Apa pun program yang dijanjikan pemerintah, bila Allah tak mengizinkan, banjir tetap melanda. Bagaimana lagi dengan gunung Merapi? Tak ada yang sanggup mengendalikan. Pun ada yang mengaku sebagai juru kunci.

Inilah firman Allah, di surah At Taubah ayat ke 51…

“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami, kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal!”

Maka, saudaraku… aku sampaikan pada kalian… semua bencana yang melanda kita terjadi hanya karena diizinkan oleh Allah. Sekali lagi, karena diizinkan oleh Allah. Bukan karena Allah kejam. Bukan. Justru, Allah sayang pada kita, kita ditegur untuk kembali pada-Nya. Agar kita tahu, hanya pada-Nya kita berlindung. Agar keimanan kita meninggi. Masih ada bencana yang lebih dahsyat dari ini, kalau Allah inginkan itu terjadi. Tugas kita adalah membenahi segala yang ada pada diri kita. Kembali pada Allah. Taubatan nashuha!

Dalam haditsnya, Rasulullah bilang, “Allah akan terus menerima taubat seorang hamba selama ia belum terancam mati.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Allah akan terus menerima taubat seorang hamba selama ia belum menderita.” Begitu Syaikh Ibn Taimiyyah mengutip dalam bukunya.

Pahamilah saudaraku, hadits itu menggambarkan bahwa taubat itu harus berakar pada kesadaran di hati. Bukan di saat-saat seperti Fir’aun yang di tenggelamkan oleh Allah di laut merah. Mari bertanya pada hati kita, di manakah kesadaran itu? Tak usah ‘bertanya pada rumput yang bergoyang’. Cukup pada hati!

Tambahlah keyakinan dan keimanan kita mendengar kalimat Allah ini. Diriwayatkan oleh Rasulullah, sebagai hadits Qudsi—yang diceritakan oleh Abu Dzar…

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sungguh kamu selalu melakukan kesalahan pada malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni semua dosa. Maka, mintalah ampunan pada-Ku, niscaya aku beri kalian ampunan-Ku.”

Tidakkah ini cukup, wahai saudaraku? Allah seru kita untuk kembali pada-Nya. Allah janjikan, bahwa Allah akan menerima taubat kita. Allah akan memberikan kita ampunan. Dan… sudah jelas, setelah itu akan timbul kebaikan yang bertambah-tambah. Bentuknya bisa banyak sekali. Hanya Allah yang mampu memberikan.

Marilah kembali pada Allah! Kembali pada Allah! Kembali pada Allah!

Ya Allah… saksikanlah, hamba telah menyampaikan firman-Mu dan tutur nabi-Mu, rahmatilah kami dengan kesadaran di hati kami. Bantu kami untuk mendekat kepada-Mu. Jauhkan kami dari segala marabahaya. Hanya kepada-Mu kami berlindung dan memohon pertolongan. Hanya Engkau yang mampu menolong kami, tidak yang lain. Perkenankan doa kami ini Ya Rabb. Bantu kami menjaga iman kami. Bantu kami menjaga negeri yang Engkau jadikan sebagai tempat kami berpijak.

Dari hamba yang turut merasai keperihan,

Akhukum.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Sebutir Noda di Hati