Home / Pemuda / Essay / Ikhwan, Jaga Izzahmu (Bagian ke-2)

Ikhwan, Jaga Izzahmu (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: iluvislam.com)
Ilustrasi. (Foto: iluvislam.com)

dakwatuna.com Menyambung tulisan yang berjudul “Ikhwan, Jaga Izzahmu” beberapa waktu lalu, saya tergelitik lagi untuk menulis tentang hal serupa. Berawal dari kegelisahan ukhti fillah di sekeliling saya, dan juga adik-adik akhwat yang mulai risau dengan keberadaan ‘ikhwan tebar pesona’, saya teringat dengan bagian tulisan dari buku Agar bidadari cemburu padamu karya Ustadz Salim A. Fillah. Di bab Riak-Riak Rasa, beliau menuliskan pengalamannya tentang angkat-mengangkat.

“Saya dulu pernah marah-marah waktu SMU. Masalahnya, teman-teman di salah satu organisasi ekstra membudayakan angkat-mengangkat antara ikhwan dan akhwat. Maksudnya ada yang menjadi papa angkat, mama angkat, anak angkat, kakak angkat, dan adik angkat. Bukannya jealous karena saya tidak ikut diangkat-angkat sehingga saya memberi perhatian pada masalah ini. Bukan karena itu, Insya Allah. Tetapi pertimbangan maslahat dan mudharat saja.” Demikian yang tertulis, semoga beliau tidak keberatan saya mengutip tulisannya. Aamiin…

Meskipun yang saya bahas bukanlah mengenai angkat-mengangkat, tapi insya Allah masih ada korelasinya.

Seorang saudari pernah mengungkapkan kekesalannya pada saya. Bukan kesal kepada saya, namun kesal dengan sikap salah seorang adik akhwat, yang lebih sering curhat ke abang ikhwan terkait amanahnya. Jujur saja, kami selaku kakak merasa cemburu karena si adik lebih memilih berbagi perasaannya ke ikhwan. Bukan karena kami tidak perhatian. Bahkan sering kali kami menghubungi si adik tersebut, ingin tahu kondisinya, namun yang di dapat adalah pengabaian.

Belum lagi, ketika didapati, adik-adik tersebut, lebih sering sharing tentang masalah perkuliahan dan hal pribadi lainnya, kepada abang tingkatnya yang berlabel ikhwan, padahal, di jurusannya, juga ada kakak akhwat yang bisa di ajak sharing. Katanya, “lebih enak sharing dengan abang-abang ikhwan ke timbang kakak akhwatnya. Mereka lebih terbuka.” Maksudnya???

Begini, saya hanya ingin mengatakan bahwa, tidak ada “abang-adek” dalam dakwah”!!

Terkadang dan rasanya sudah menjadi keseringan, ikhwan dan akhwat, menjadikan alasan “Abang itu, abang tingkat Ana di jurusan”, “Abang itu, satu kampong dengan Ana”, “Abang Itu, senior Ana dulu di SMA, dan sebagainya atau sebaliknya, untuk melegalkan komunikasi yang intens yang terkadang di luar batas wajar.

Dengan alasan -dia abang Ana, atau dia kakak Ana- padahal tidak ada hubungan darah sama sekali, ikhwan-akhwat melegalkan komunikasi di luar batas wajar di antara mereka. Padahal, kita tahu pasti, bahwa setan sangat halus dalam mengajak para aktivis untuk melanggar batasan-batasan syar’i. Seperti yang di tuliskan Ustadz Salim A. Fillah dalam Buku dan bab yang sama, “Justru setan lebih mengincar aktivis dakwah untuk dapat digelincirkan dari pada orang-orang biasa. Menggelincirkan ‘ulama, ustadz, ahli ibadah dan aktivis dakwah, adalah prestasi bagi syaitan. Itu lebih menantang. Orang-orang biasa sih, ngga perlu digelincirkan juga sudah tergelincir sendiri. Buat apa repot-repot diurusin, kata syaitan. Berhasil juga ngga ada bangganya, ngga ada prestisenya.”

Untuk para akhwat, perlu diperhatikan juga panggilan untuk para ikhwan yang menjadi juniornya. Pesan dari salah seorang kakak akhwat, jangan biasakan memanggil ikhwan junior dengan panggilan “Dik”, sapa saja dengan namanya langsung. Karena dikhawatirkan, timbul rasa “manja” dan sikap ketergantungan dari ikhwan junior tersebut kepada kakak senior. Bukan tidak mungkin ada rasa-rasa lain yang hinggap yang dapat merusak niat tulus dalam berdakwah.

Hati-hati dengan ketergantungan. Karena ketergantungan itu dapat merusak. Apalagi ketergantungan yang terjadi di kalangan ikhwan-akhwat. Jika pekerjaan itu masih bisa dikerjakan oleh akhwat, maka kerjakanlah sendiri. Begitu pun sebaliknya. Bukan menjurus pada gerakan feminism, perempuan juga bisa. TIDAK! Hanya saja, mari kita lebih peka terhadap hal-hal seperti ini, jangan sampai kita mencari-cari alasan untuk terus berkomunikasi. Membahas amanah, katanya!

Untuk yang ikhwan, jika ada akhwat yang, entah itu senior, sebaya atau junior, meminta fatwa padamu, maka lebih ahsan rasanya jika yang diucapkan adalah, “Afwan, silakan bertanya kepada yang akhwatnya.” Jangan sampai kita mendapati fenomena, ikhwan senior lebih “perhatian” dengan yang akhwat, sehingga muncul pengaduan dari ikhwan junior, “Abang-abang ikhwan terlalu sibuk sehingga kami tidak diperhatikan.” Nah lho, anehkan?! Atau pun sebaliknya, yang akhwat lebih vocal mengurusi masalah ikhwan ketimbang menangani masalah di akhwat sendiri.

Memang, jamaah ini adalah jamaah ikhwan-akhwat. Bukan ikhwan-ikhwan, akhwat-akhwat. Namun kita juga menyadari, tetap ada ranah-ranah pribadi yang tak harusnya di campuri. Toh, di dalam organisasinya saja, ada bidang tersendiri yang mengurusi masalah keikhwanan (biasanya di namai Arrijal), dan bidang khusus akhwat (Bidang keputrian atau Annisa).

Sekali lagi, rasanya kita harus berhati-hati dalam urusan komunikasi. Itulah kenapa dalam jamaah ini ada jalur komunikasi tersendiri, menghindari hal-hal yang akan menimbulkan penyakit. Jangan mencari-cari alasan untuk pembenaran akan sesuatu yang nyata-nyata tak dibenarkan.

“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram pada jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang member fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR. Muslim)

Jika hati ini tidak lagi dapat bergetar memberikan fatwa, maka hati-hati, jangan-jangan ada yang salah dengan hati tersebut.

Intinya, ikhwan dan akhwat, marilah sama-sama menjaga. Menjaga bukan dalam arti saling menebar perhatian. TIDAK! Tapi menjaga agar setan tak menjerumuskan melalui celah-celah hati. Berhati-hatilah dalam bersikap. Untuk akhwat, lebih baik dikatakan sebagai akhwat “galak”, dari pada menimbulkan penyakit bagi hati saudaramu karena sikap mendayumu. Untuk ikhwan, lebih baik dikatakan sebagai ikhwan “kaku dan dingin” dari pada menimbulkan penyakit hati bagi saudarimu karena perhatian dan ramah tamahmu.

Sekali lagi, tidak ada “abang-adik” dalam dakwah, yang dijadikan alasan untuk melegalkan sesuatu yang tak wajar.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (28 votes, average: 9,04 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Maharani Yas
Mahasiswi Universitas Riau Program Study Ilmu Administrasi Negara angkatan 2010. Saat ini aktif di organisasi dakwah kampus, dakwah sekolah dan organisasi kepenulisan FLP (Forum Lingkar Pena) Wilayah Riau.
  • Melita Sari

    Subhanallah…terima kasih sudah memberi solusi dan pandangan mengenai batas komunikasi ikhwan-akhwat,komunikasi itu memang penting, tapi yang terpenting adalah kehormatan kita di hadapan ikhwan, malu itu nomer satu :)

    • Maharani Yas

      sama-sama ya ukhti..
      semoga bermanfaat ya..
      jika ada kelebihan, murni datangnya dari Allah.
      jika ada kekurangan, itu karna memang ana masih dalam proses belajar.
      semoga kita bisa jadi pribadi yang lebih baik. :)

  • Nugraha Zakaria

    antum ga laku di kalangan ikhwan ya? minta ama murrabi gih?

    • Maharani Yas

      :)
      afwan pak, bagi saya pribadi -yang masih dalam proses belajar-, murobbi itu bukan tempat meminta ikhwan. murobbi itu bagi saya adalah tempat untuk meminta nasehat atau meminta berbagi pengalaman untuk bisa diambil hikmahnya, juga sebagai tempat untuk meminta diajarkan mengenai ilmu, terutama ilmu agama.
      tapi, trimakasih atas masukkannya. jadi menambah semangat saya untuk menulis.

    • andi rabbani

      komentar nugraha ko tdk cerdas ya.

  • Nia Arfina Foci

    (y)
    lanjutkan …

    • Maharani Yas

      :)

Lihat Juga

Memahami Serangan Udara Saudi ke Yaman (Bagian Akhir)