Home / Pemuda / Cerpen / Inikah Cinta Yang Tertunda, Yaa Rabb?

Inikah Cinta Yang Tertunda, Yaa Rabb?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dengan membawa gulungan lakban dan gunting di tangannya, seorang perempuan berjilbab hitam melabuh berjalan pelan menuju sebuah kamar. Ia sengaja mengendap-ngendapkan langkahnya ingin mengintip diam-diam si empunya kamar, “Sedang apakah?” batinnya.

Dari balik kain gorden pintu, samar-samar ia mendengar lantunan surah Ar-Rahman yang begitu syahdu di telinganya. Daun pintu yang setengah terbuka memudahkan ia mengintip sebagian dalamnya lewat celah kain gorden. Tampak si empunya kamar sedang muraja’ah diiringi murattal. Urung langkah ia memutar badan, membatalkan maksudnya.

Lima belas menit berlalu begitu saja. Kali ini ia kembali dengan langkahnya yang masih mengendap-ngendap. Kamar itu sepi. Tidak terdengar lagi lantunan murattal, berarti aman untuk aksinya kali ini. Pelan ia mengetuk pintu.

Sinten nggih?” terdengar sahutan dari dalam.

Ia mematung di depan kamar, kembali mengetuk pintu untuk menggoda si empunya kamar di dalam.

Sinten? Nek estri mlebet mawon, ndak dikunci!” kali ini sahutan terdengar lebih tegas.

Perempuan berjilbab hitam itu menahan tawanya, dan kembali mengetuk lebih keras.

Sinten nggih, iseng banget?!” sahutan kali ini diiringi derap langkah kaki yang mendekati pintu dengan tanda tanya penasaran, “siapa?”

Sesampai di depan pintu, si empunya kamar celingukan. Tidak ada siapa-siapa. Dengan sedikit kekhawatiran, ia kembali masuk dan mengunci pintu. Dari balik tembok, seorang perempuan muncul dan kembali mengetuknya.

“Siapa sih?!” kali ini ia dengan sigap membukanya, karena ia tepat di belakang pintu. Cukup kaget, ternyata Mbakyunya yang iseng. Lama mereka tidak bercanda, karena terpisah jarak. Ia di rantau dan Mbakyu ikut suaminya di luar kota. Kebersamaannya kali ini karena sama-sama mudik liburan guna menjenguk orang tua.

“Hihihi, kaget ndak? Adikku yang ayu jangan manyuuuun toh cah ayu!” kakak perempuannya memipet hidung sang adik yang membalasnya dengan hujanan gelitik.

“Sudaaah! Sudaaahh! Hihihii,” akhirnya Mbakyu menyerah kalah. Si adik tertawa puas bahagia, candanya kali ini seolah merontokkan kegalauan yang menyergapnya sejak semalam.

Mbakyu ingat tujuan utamanya adalah mengantar lakban dan gunting yang diminta sang adik pagi tadi guna membungkus kado pernikahan untuk temannya yang walimahan hari ini. Dengan keakraban mereka membungkusnya, sang adik bagian memotong lakban menjadi bagian kecil-kecil sebagai perekat. Sedangkan Mbakyu bagian melipat dan merapikan. Selesainya mereka bercermin bersama di depan meja rias.

“Muka kita masih kaya kembar ya, Dek?” tutur Mbakyu sambil tersenyum memperhatikan kemiripan wajah mereka yang banyak orang bilang sangat mirip walaupun bukan kembar. Sang adik masih sibuk merapikan jilbabnya, mengaitkan ujung jilbab kiri ke sisi kanannya dengan bros, kemudian tersenyum manis.

“Ndak dong Mbakyu, wajahku kan ayu, wajah Mbak kan udah emak-emak, ibu-ibu hehehe” si adik menyahutnya, terkekeh. Jawabannya itu berbalas cubitan lembut di pinggangnya. Mbakyu kembali menjajarkan kedua wajah mereka di depan cermin.

“Sama ah Dek. Wajahmu juga sudah kelihatan dewasa.” ia ngeyel walaupun menyadari kalau wajahnya sendiri memang sudah beraura keibuan karena telah menikah dan mempunyai satu anak.

“Aduuuh, itu kacanya yang salah Mbak. Beda ya antara dewasa sama emak-emak,” kali ini si adik ngeyel dengan senyum kekehnya.

“Ya sudahlah, iya aja deh. Duduk sini! Mbak mau bicara serius Dek.” Mbakyu duduk menepi di ranjang, si adik mengikuti dan duduk menyamping di depannya dengan wajah bertanya, “Ada apa?”

“Begini Dek, bukannya maksud Mbak mau ikut mendesakmu segera menikah seperti Ayah dan Ibu lho ya, Mbak cuma mau sharing saja semoga jadi pertimbanganmu untuk tidak menolaknya lagi.” dengan tenang Mbakyu membuka obrolan seriusnya.

Sudah terduga oleh si adik, pasti inti bahasannya tentang ‘bocah’ itu lagi. Dengan bahasa pandangan mata, si adik menjawabnya, “Teruuus?”

Ndak ada yang lebih membahagiakan dalam masa pra nikah, selain ketika kedua pihak dari orang tua sama-sama merestui, Dek. Kamu masih bisa mengingat, kan? Bagaimana dulu Mbak memohon restu sama Ibu supaya merestui Mbak dan Kangmas iparmu untuk menikah? Dan apakah kamu bisa membayangkan bagaimana perasaan Mbak dulu waktu tau bahwa Ayah dari Kangmasmu juga kurang merestui hanya karena alasan jarak yang jauh? Sakit dan nyesek di hati Dek, ketika niat baik kami untuk menikah menunaikan sunnah tidak dimudahkan. Dan kamu beruntung sekarang, Ayah dan Ibu merestui dia menjadi menantu tanpa harus kamu mengemis restu terlebih dulu. Coba kamu pertimbangkan lagi. Tolong!”

Si adik diam sejenak, berfikir sebelum menjawabnya.

“Begini ya Mbakyu sayang, adek tu bukannya ndak mau menikah. Adek ingin dan mau, tapi untuk sekarang belum siap menikah. Adek mau punya karya dulu, bisa nerbitin buku dulu, baru menikah.” jawabnya meyakinkan.

“Jangan salah Dek, menikah itu bukan halangan untuk berkarya kok. Setelah menikah, kamu pun bisa berkarya. Bisa kamu lihat Bunda Asma Nadia, beliau banyak melahirkan karya-karya yang bermanfaat setelah menikah. Atau Kang Abik, beliau juga demikian. Dan banyak lagi contohnya, jadi hal itu bukan alasan menunda menikah dengan menolak laki-laki yang insya Allah paham agamanya bagus dan berniat serius Dek, kamu sudah dewasa, segeralah menikah tunaikan sunnah, mumpung orang tua masih ada, pasti mereka juga ingin menyaksikan putrinya menikah, to? Atau ada alasan lain lagi?!”

Nggih Mbak, nggiiiih. Tapi kalau sama yang kemarin itu kan lebih mudaan dia Mbak? Masa suaminya lebih mudaan? Gak siap ah!” dengan mengernyitkan kedua alis dan mengerucutkan bibirnya, si adik masih coba mencari alasan lain lagi. Ah! Pokoknya ndak mau kalau menikah sama ‘bocah’ itu.

“Itu alasan lagi, kamu pasti tau, kan, Dek? Sejarah pernikahan Rasulullah dengan Bunda Khadijah yang terpaut usia cukup jauh? Rasulullah 25 tahun, dan Bunda Khadijah 40 tahun? Lha, kamu sama Mizan cuma beda berapa tahun? Berapa bulan?! Usia bukan jaminan kedewasaan, kalau yang lebih muda tapi sudah siap menikah kenapa tidak?!” kali ini Mbakyu pasang wajah serius. Sebenarnya ia tahu kalau adiknya hanya mencari alasan untuk menolak, karena ia yakin adiknya paham bahwa usia bukan masalah jika memang niat sama-sama lurus untuk menikah, menunaikan sunnah.

Kali ini si adik terdiam tidak bisa memberi alasan lain lagi. Wajah dan kepalanya ia tundukkan dalam-dalam. Ada tekanan rasa yang ia tahan. Mbakyu meraih kedua tangan adiknya dan menyatukannya di atas paha. Sambil menepuknya lembut, Mbakyu berbisik pelan.

“Tolong istikharahlah dulu Dek, tolong pertimbangkan matang-matang. Mbak yakin dia pemuda yang baik dari keluarga baik-baik. Insya Allah paham agamanya juga baik. Hargailah penantian dan perjuangannya selama ini, dan sambutlah kesungguhannya, Kebangetan kalau kamu menolaknya terus, karena sesungguhnya kesungguhan yang direalisasikan itu susah ditolak, lho.” kali ini Mbakyu coba lebih meyakinkan.

Si adik semakin dalam menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Dengan wajah tertunduk ia memeluk badan Mbakyu, menangis syahdu di pundaknya.

***

 

Tidak dipungkiri, selama perjalanan menghadiri walimah tadi ia tidak fokus pada apa yang ada di hadapannya. Karenanya motornya sempat kewalahan menerobos kawanan bebek ketika melaju di tengah lurung persawahan. Beruntung kawanan bebek itu ada penggembalanya yang sigap mengendalikan.

Nuzul, si adik tersebut, belakangan ini memang tengah disergap kegalauan. Sering terngiang kalimat demi kalimat yang disampaikan orang tuanya agar tidak menolak Mizan, pemuda anak teman ayahnya.

Bagaimana ia tidak menolaknya kali ini? Mizan adalah adik dari calon suaminya yang meninggal terlebih dulu sebelum mereka resmi diijab qabulkan. Memang sejak remaja Mizan menyukainya. Dulu ketika usia Mizan baru menginjak 18 tahun, dan dirinya baru menginjak usia 19 tahun, Mizan sempat mengutarakan perasaan padanya. Tentu dia tolak, karena yang Mizan sampaikan adalah perasaan cinta picisan ala remaja yang baru mulai dewasa. Memintanya menjadi pacar itu alasan dia menolak tegas. Karena kesal dengan ulah iseng Mizan, ia pun menantangnya.

“Kalau memang benar paham apa itu cinta, gak usah pacar-pacaran, itu sarana menuju zina, ujung-ujungnya dosa Zan. Datangi saja Bapakku, mintalah izin pada beliau untuk menikahiku! Berani?!” tantangnya ketika dulu.

Nuzul masih ingat jelas kalimatnya dulu, hampir tiga tahun lalu ia mengucapkannya dengan sangat tegas karena ia yakin kalau saat itu Mizan tidak akan siap untuk memenuhinya. Mizan belum mapan bekerja, bahkan baju lebaran saja masih dibelikan Emaknya. Tapi Nuzul salah mengira, Mizan mengutarakan dengan keberaniannya untuk memenuhi permintaan Nuzul, ia sampaikan pada ayahnya bahwa ia menyukai Nuzul binti Pak Salman, anak teman ayahnya tersebut. Ayahnya menanggapi dengan senyum tidak percaya.

“Zan, kamu itu belum cukup dewasa, belum mapan bekerja, bagaimana kamu mau menafkahi istrimu nanti? Malulah ayah sama Pak Salman kalau kamu tidak bisa jadi suami yang bertanggung jawab atas anaknya! Apa Nuzulnya mau sama kamu?!” Ayahnya coba mengarahkan Mizan.

“Walaupun usia belum dewasa, Insya Allah siap Pak. Tentu dia mau, Nuzul sendiri kemarin yang meminta saya untuk mendatangi ayahnya kalau memang benar cinta, makanya saya sampaikan ini. Iya, walaupun sekarang belum mapan bekerja, kan bisa sambil belajar Pak. Apalagi kalau punya istri yang menyemangati, soal rezeki juga Allah sudah atur, ya kan, Pak?! Tolong lamarkan Nuzul ke ayahnya ya Pak, ini nggak main-main…” dengan sikap sok dewasanya, Mizan merengek, meyakinkan ayahnya yang mengangguk-anggukkan kepala.

“Kamu punya apa untuk melamarnya? Mau minta ke Bapak? Apa ndak malu melamar atas sokongan orang tua, Zan?” Ayahnya kembali mengarahkan agar Mizan lebih realistis.

“Untuk itu dan biaya pernikahan nanti, Bapak boleh jual motorku. Cukup kan Pak buat beli cincin untuk mengkhitbah dan acara walimahnya yang sederhana saja? Untuk mahar, Nuzul pernah menantang nggak perlu yang istimewa, cukup hafalan 3 surrah saja dari al-Qur’an. Surrah An-Nuur, An-Nisa’, dan Ar-Rahman. Dan ketiga surrah tersebut sudah kuhafal sejak lama di pondok.”

“Bapak ndak yakin Zan, kamu belum cukup dewasa untuk berumah tangga dan menjadi seorang imam keluarga. Atau begini saja, coba ta’arufkan Nuzul dengan Nizam, kakakmu. Barangkali mereka sama-sama sreg. Kakakmu kan sudah cukup umur dan belum punya calon. Kamu tolong ikhlaskan Nuzul ya, Bapak ndak setuju kalau kamu menikahi Nuzul, kasihan nanti dianya. Mending buat kakakmu, bagaimana?” dengan sedikit menguji keikhlasan anaknya, Pak Nashir, ayah Mizan coba memberi pilihan.

“Kenapa harus begitu Pak? Saya juga sudah mulai dewasa?! Berhak untuk menikah,” tidak terima dengan keputusan ayahnya, Nizam coba mengelak. Pandangan mereka beradu, tapi seketika Nizam menunduk ta’zhim melihat raut wajah ayahnya yang menegas, “bagaimana kalau tidak segera menikah, nanti malah jadi fitnah, kan, Pak?” lanjutnya dengan suara merendah.

“Sudah! Jangan melawan. Bapak melihat keadaanmu yang belum memungkinkan dan masih perlu pendewasaan, ini sudah menjadi keputusan Bapak. Kakakmu sudah jauh lebih dewasa Zan, dahulukan dia. Atau kalau kamu tidak rela Nuzul untuk kakakmu, biarkan kakakmu menikah dulu dengan calon pilihannya. Dan kamu sama Nuzul biar tambah dewasa dulu. Perbanyak puasa untuk meredam keinginanmu menikah sampai kalian benar-benar siap. Sibukkan diri dengan banyak belajar buat bekal ke depannya. Paham, Zan?!” tukas ayahnya makin tegas. Membuatnya untuk tunduk patuh. Harus!

Ada sedikit rasa kecewa yang bercokol di hati Mizan atas jawaban dan keputusan ayahnya. Ia tahu persis tabiat ayahnya yang kalau sudah bilang tidak, akan sangat susah untuk berubah iya. Sesak di dadanya membuatnya ingin berontak. Sungguh hal tersebut jadi ujian yang cukup berat baginya. Bagaimana mungkin ia mengikhlaskan begitu saja gadis yang sudah lama diinginkannya untuk Nizam, kakak sulung yang sekaligus kakak tunggalnya?

Berhari-hari Mizan meresah. Bermalam-malam ia menggalau. Susah tidur memikirkan, bagaimana sebaiknya? Dengan hati gerimis ia bermunajat, dengan air mata bercucuran ia memohon agar Allah segera berikan solusi terbaik. Berlindung diri agar Allah senantiasa menjaganya dari hal-hal yang menyesatkan. Apalah lagi yang sedang dirasakannya sekarang, benarkah cinta atau gejolak nafsu yang memperdaya? Yang jelas, keinginan untuk segera menikah tengah membuncah. Sebuah fitrah hati yang indah bagi seorang insan, tapi tidak mudah untuk merealisasikannya bagi seorang Mizan.

Ia menyadari keadaannya yang belum mapan. Ia pun sadar bahwa bekal ilmu dan segala persiapan untuk menuju pernikahan belum juga matang. Terlebih ayahnya belum mempercayakan ia untuk menikah. Akhirnya ia kuatkan ketawakalannya pada Allah, di sanalah ada solusi terbaik. Ia percaya itu, haqqul yakin.

***

Majenang, Juli 2012

“Iya Kang, insya Allah aku ikhlas liLlaahi Ta’ala, ndak apa-apa Nuzul tidak menjadi istriku, tapi dia menjadi Mbakyu Iparku. Sama saja kan, dia menjadi anggota keluarga kita? Semoga khitbahannya nanti lancar dan berkah ya…” Mizan menjawab dengan tenang diiringi senyum kecil ketika Nizam, kakaknya menanyakan kesediaannya mengikhlaskan Nuzul sepekan sebelum khitbah dilangsungkan.

“Masya Allah, terima kasih banyak Zan, Kakang doakan semoga lantaran keikhlasanmu, kelak akan kamu dapatkan istri terbaik dunia akhirat. Banyak-banyak berdoa ya, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik begitupun sebaliknya…” Nizam menepuk lembut pundak sang adik.

Sebenarnya, bukan tanpa rasa sedih Mizan mengikhlaskan Nuzul untuk Nizam. Malam-malam yang ia isi dengan tangisan dan munajat pada Rabbnya pernah ia lalui. Ia temukan hikmah yang indah ketika menumpahkan air matanya dalam kepasrahan tiada daya. Hikmah yang mengajarkannya tentang keikhlasan mencintai. Bahwa sejatinya cinta seorang pemuda shalih dan bijaksana adalah mengambil kesempatan untuk maju menjadi calon imam dengan segala resiko dan tanggung jawab yang bakal diemban, atau mengikhlaskan cinta itu untuk yang lain yang memang lebih siap dan pantas. Jika langkah pertama telah ia lakukan dengan penuh keberanian dan hasilnya tidak sesuai harapan, maka langkah keduanyalah yang harus ia ambil, yaitu mengikhlaskan. Karena cinta sejati tidak pernah meminta untuk menanti, tetapi ia mengambil kesempatan atau melepaskan. Yang pertama keberanian, yang kedua pengorbanan. Kurang lebih begitulah konsep cinta sejati kepada insan yang Mizan petik dari tausyiah Ustadz Salim A. Fillah. Dan kedua hal tersebutlah yang akhirnya ia lakukan.

Nuzul pun tidak menolak ketika Pak Nashir, ayah Mizan memintanya kepada ayahnya untuk Nizam, kakaknya Mizan. Karena tentang menerima atau menolak adalah soal keserasian hati. Nuzul tidak bisa menolak ketika jawaban istikharahnya mengiyakan untuk menerima.

***

Majenang, September 2012

Cincin yang melingkar di jari manisnya berkilauan diterpa sinar lampu pijar yang keemasan. Duduk di dipan serambi rumah ia melihat dengan seksama sambil tersenyum kecil. Sesekali ia mengelusnya lembut dengan ujung jemarinya. Ada rasa yang membuncah indah, ada syahdu yang mengiringi rasa rindu.

“Duhai Allah, Rabbal Mahabbah, inikah cinta suci yang sebenarnya? Ketika dijaga semakin menjaga. Tapi ketika ditahan menunggu saat yang tepat, terkadang menyesakkan dada bersama rindu yang sangat! Astaghfirullaahal’azhiim,” Nuzul membatin lirih menahan kerinduan untuk bertemu pemuda yang beberapa hari lalu mengkitbahnya. Sekadar melihatnya tersenyum manis penuh kesantunan, atau menundukkan wajah teduhnya dengan ta’zhim penuh kesopanan. Nizam, pemuda yang telah membuat Nuzul terpesona ikhwal kebaikan budi dan akhlaq baik yang ditunjukkannya.

Ya! Malam ini ia dilanda malarindu. Tanpa bisa melihatnya yang dirindu, karena komunikasi pun dibatasi untuk hal-hal yang penting saja demi menghindari fitnah. Hanya mendoakannya yang bisa ia lakukan untuk meredam kerinduan selama syariat masih membatasi mereka sebelum diijab qabulkan.

***

Majenang, Oktober 2012

“Sabar Ndhuk. Qodarullaah. Ini sudah menjadi ketetapan Gusti Allah. Doakan yang terbaik untuknya.” Ibu memeluk erat gadis berjilbab ungu yang badannya berguncang menahan isakan. Tangisnya pecah dalam dekapan Ibunya. Dari sisi lain, seorang wanita mengelus lembut kepalanya. Membuatnya mulung memeluk erat wanita tersebut, calon ibu mertuanya.

Andai saja tidak ada syariat yang membatasi, ingin sekali, Nuzul, gadis berjilbab ungu itu memeluk pemuda yang terbaring tanpa nyawa di ranjang kamarnya. Menggenggam erat jemarinya. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Wajah teduh pemuda itu pucat dengan aura yang memudar. Tapi bibirnya menyungging senyum dalam ketenangan.

“Allaahu Allaah. Innaa liLlaahi wa innaa ilahI rooji’uun.” hanya kalimat tersebutlah yang ia ucapkan berkali-kali untuk mengungkapkan rasa sedihnya. Nizam meninggal sembilan hari sebelum resmi diijabqabulkan dengannya. Penyakit lamanya kambuh dan terlambat ditangani. Ajal yang ditentukan-Nya telah sampai atas takdirnya. Menghentikan mimpi-mimpi dan rencana indah pernikahan mereka.

Aduhai, sesak di dadanya bak sisi ruang yang menghimpitnya dari segala arah yang kemudian runtuh di atas kepalanya, menghancurkan semua rindu dan cinta yang tengah tumbuh. Tapi menyisakan hikmah yang begitu indah, bahwa manusia hanya bisa berencana, tetapi Allahlah yang Maha menentukan akhir atas segalanya.

***

Majenang, Desember 2013 (lagi)

Gerimis turun menjarum lentik, mengiringi laju motor yang tengah menuju sebuah rumah sederhana di belakang mushalla, rumah Pak Salman. Nuzul berpayung menyambutnya buru-buru, membukakan pintu pagar kecil memberi jalan. Ada deguban jantung yang tak normal seketika pandangan mereka bertemu sejenak. Sontak ia menunduk dalam senyum ketika Mizan mengucapkan salam sambil tersenyum santun menganggukkan kepala, “Wa’alaikumussalaam warohmatullaah, monggo mlebet Zan…” jawabnya santun.

Nuzul tertegun melihatnya, betapa drastis perubahan pemuda di hadapannya ini berbanding tiga tahun lalu, kini terlihat lebih dewasa dari usianya. Mizan, pemuda tersebut dengan penuh keberanian dan kesantunan, ia datang bermaksud menemui ayahnya yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.

Sambil menyiapkan minuman hangat dan kue kecil, dari balik kaca riben pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah, Nuzul memperhatikan diam-diam Mizan bersama ayahnya. Terlihat sangat akrab mereka berbincang. Sesekali mereka bertukar senyum dan tawa di antara perbincangan. Dan sesekali Mizan tersenyum ke arahnya seolah melihatnya. Ah! Mungkin hanya perasaannya saja Mizan melihatnya, karena kaca riben itu gelap, tidak mungkin ia terlihat dari arah yang berlawanan, kecuali jika ruangannya diterangi lampu, “Pantas saja Bapak dan Ibu merestuinya. Ndak ada alasan yang tepat juga bagiku untuk menolaknya lagi.” ucapnya tersenyum sendiri.

Ndhuk, minumannya mana? Kok lama?” Pak Salman memanggilnya.

 “Nggih sekedap Pak…” sahut Nuzul masih memperhatikan mereka diam-diam. Dan kali ini ia benar-benar merasa dilihat oleh Mizan yang jelas sekali tersenyum mengangguk ke arahnya. Nuzul menoleh ke belakang, benar saja ruangan dirinya berada diterangi oleh lampu. “Masya Allaah, berarti dari tadiiii?!?” Nuzul menepuk jidatnya dengan muka merah merona menahan malu.

Based on true story

Alih bahasa jawa:

  • Sinten nggih? = Siapa ya?
  • Sinten? nek estri mlebet mawon = Siapa? Kalau perempuan masuk saja
  • Nggih = iya
  • Ndhuk = panggilan untuk anak perempuan
  • Monggo mlebet = silakan masuk
  • Sekedap = sebentar

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pena Alitnya Nurul w. Assaman
Muslimah yang ingin & berusaha menjadi lebih baik, Faqirah yang mempunyai semangat belajar tinggi, dan gadis jawa sederhana yang ingin bermanfa'at untuk sesama. Salaam Ukhuwah fiiLlaah, biLlaah, waliLlaah :)
  • ayub pangestu

    Saya bisa menebaknya, memang dari cerita aslinya ya neng….. mmmmm…..

    • Pena Alitnya Noeroel

      *senyum*

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization