Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Al-Quranku, Partner Hidupku

Al-Quranku, Partner Hidupku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: Irhamni Rofiun)
Ilustrasi. (Foto: Irhamni Rofiun)

dakwatuna.com Al-Quran ini sangat berarti bagiku, kadang ke mana-mana harus dibawa –kecuali hamam, kamar mandi- karena memang pas untuk ukuran saku baju, malah dulu pernah ditanya sama kawan satu perjuangan, “tumben Al-Qur’an kesayangannya gak dibawa”, “Di bawa kok, sekarang ada di dalam hati ini”. Senyum pun kami urai bersama. Oh… Indahnya!

Dalam senang dan sedih ia selalu menemani, bahkan di saat lalai ia selalu mengingatkan. Dulu hati ini keras bagai batu, dengan berusaha dan terus mencoba mentadabburi ayat demi ayatnya hati ini kembali lunak, benar Al-Qur’an adalah obat kehidupan yang paling ampuh bagi yang merasakannya.

Pembaca setianya akan selalu diajarkan arti hidup yang sebenarnya, kadang meski hidupnya dikucilkan dalam lingkungannya, ia tak gentar karena penilaian manusia bukan segalanya, yang dicari adalah ridha Allah, Tuhannya.

Ternyata di luar sana ia mendapatkan simpati yang luar biasa, bahkan ia tak sadar bahwa penduduk langit pun turut mendoakannya. Ia akan terus maju dan tetap yakin bisa menuju ke jalan yang diridhai-Nya, walau sangat berat ujian yang melanda, sebab ia tak mau tereliminasi di tengah jalan.

Aku punya sedikit cerita tentang Al-Qur’an ini, memang ini bukan Al-Qur’an awalku ketika menghafal. Tapi akhirnya Al-Qur’an inilah yang menjadi salah satu barang berharga bagiku sampai saat ini. Al-Qur’an ini pemberian seseorang yang telah hafal Al-Qur’an ketika usianya masih tergolong muda, tepatnya sebelum dia berangkat ke sebuah tempat idaman jutaan umat Islam untuk tinggal dan beribadah di sana dengan khusyuk, tanah haram –Mekah dan Madinah-.

Uniknya, entah kebetulan atau memang disengaja, dia menandakan surat An-Nuur ayat 26 dan 31. Dan aku pun langsung membukanya, seolah memang sudah ditakdirkan untuk membaca surat yang tersirat itu kepadaku, inti ayat itu kurang lebih sebagai penguat bahwa orang baik untuk orang baik dan tentang menjaga pandangan mata, rasanya memang aku sedang diingatkan. Terima kasih.

Aku pun sempat berkata kepadanya, “Doakan Al-Qur’an ini akan menyusul sang pemberinya ke Mekah, sang pemilik awal. Tentu bersama sang pemiliknya yang sekarang, sebab ia sangat merindukan untuk berkunjung ke Rumah-Nya kembali, rindu yang tak bisa dibendung”, ternyata dia pun selalu mendoakan dengan tulus agar sang pemiliknya yang sekarang bisa berkunjung ke sana lagi, dengan keinginannya bisa belajar kembali di depan Ka’bah secara langsung, meski dengan suasana yang berbeda.

Ya Allah… Berikanlah kami rahmat-Mu melalui Al-Qur’an ini, jadikan kami orang-orang yang selalu istiqamah dan komitmen menjaga ayat-ayat-Mu, jauhkan kami dari perbuatan tercela dan nafsu duniawi yang Engkau tidak ridhai, ingatkan kami untuk selalu mengejar akhirat-Mu, jodohkan kami dengan orang-orang yang mencintai Al-Qur’an, agar kami bisa hidup tenang dan damai dalam naungan kasih sayang-Mu.

Ya Allah… Terima kasih atas semua anugerah dan nikmat yang engkau berikan kepada kami, jangan sampai kami kufur terhadapnya, Engkaulah tempat mengadu, sebab dengan siapa lagi kami mengadu selain kepada-Mu. Tak ada Tuhan selain-Mu ya Allah. Kabulkan doa kami…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.

Lihat Juga

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?