Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Syahid, Apakah Masih Dirindu?

Syahid, Apakah Masih Dirindu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (hanggaady.blogspot.com)
Ilustrasi (hanggaady.blogspot.com)

dakwatuna.com Syahid, bukan kalimat asing yang terngiang di telinga kita dan bukan kalimat yang baru hari ini kita dengar, akan tetapi kalimat syahid telah ada sebelum kita ada, bahkan sebelum nabi Muhammad di utus ke muka bumi, karena syahid ada, berbarengan dengan syariat Allah di muka bumi. Itu semua menunjukkan bahwa risalah Allah tidak terpisahkan dari perjuangan dan ending terakhir dari perjuangan adalah syahid di jalan Allah. Makanya di dalam Islam kita tidak pernah mengenal kata kalah. Perjuangan kita hanya berakhir pada dua muara, menang di dunia atau menang di akhirat.

Syahid, di mata para pejuang adalah sebuah kerinduan yang mesti digapai karena dia menjadi sarana yang mengantarkan dirinya menemui sang kekasih yang selalu melindungi dan menjaga. Kerinduan untuk syahid selalu menggerakkan jiwa untuk selalu berusaha menggapainya. Seperti yang terjadi pada paling perang yang sangat perkasa Khalid bin Walid yang menitikkan air matanya ketika ajal menjemput di atas ranjang, sang panglima begitu bersedih karena merasa gelar syahid tidak bisa dicapai.  Usaha sudah maksimal dan kerinduan untuk syahid sudah memuncak dan Allah memberikan syahid kepada sang panglima walaupun wafatnya tidak di dalam peperangan, karena azimahnya yang begitu kuat terhadap syahid.

Seperti itu juga yang dilakukan oleh sang imam, syekh syahid Hasan al-Banna selalu berdoa melalui doa rabithah “dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu” azam yang tinggi untuk menggapai syahid juga mengantarkan sang imam syahid di jalan Allah.

Umar bin Khattab yang di bulan wafatnya dan di saat tikaman melumpuhkannya berdoa: “Ya Allah, telah tua usiaku, semakin melemah tanganku. Maka karuniakan daku syahid di jalan-Mu dan jadikan syahid itu di negri Nabi-Mu.”

Karunia besar yang Allah berikan kepada syuhada menjadi motivasi para pejuang untuk meraih syahid, tiada terbayangkan karunia besar tersebut, karena di dalam kubur saja Allah sudah memberikan nikmat kepada syuhada apalagi di akhirat, dia akan mendapatkan nikmat yang tidak pernah terlintas dalam pikiran, tidak pernah dipandang oleh mata dan tidak pernah terngiang dalam telinga.

Sangat berbanding terbalik dengan kondisi kita, kerinduan kepada syahid sudah mulai pudar, semangat kita untuk menggapainya juga mulai luntur, dan syahid seakan-akan bukan kalimat yang penuh dengan hasrat dan motivasi untuk digapai. Syahid seakan terpisahkan dari rel kehidupan kita.

Kita tidak akrab lagi dengan kalimat syahid, semangat kita untuk berjuang di jalan Allah mulai terkikis, semangat kita untuk syahid sangat jauh dibanding para ikhwah kita di Mesir yang tiap waktu merindu syahid.

Saudaraku, kerinduan kita kepada syahid berbanding lurus dengan kondisi ruhiyah kita kepada Allah, jikalau ruhiyah kita semakin melemah maka keinginan kita untuk syahid juga akan semakin melemah. Saudaraku, kondisi kita sekarang yang lebih terpana dengan dunia dibanding akhirat juga menjadi faktor penyebab melemahnya keinginan kita untuk syahid.

Kita mulai menemukan jawaban, kenapa para sahabat selalu memiliki motivasi yang besar untuk meraih syahid? Itu semua dikarenakan Rasulullah telah terlebih dahulu mendidik tumbuh kembangnya ruhiyah para sahabat. Dalam rentang tiga belas tahun ruhiyahnya ditempa, keimanannya kepada Allah dikuatkan. Oleh sebab itulah, syahid juga menjadi bagian yang paling di rindu, karena ada Allah dibalik itu semua. Sangat berbanding terbalik dengan kondisi dan nuansa kita, kita akan bersemangat meraihnya kalau dibalik itu semua tersimpan materi atau karunia duniawi, dan itu berimbas kepada seluruh aktivitas kita.

Pada akhirnya kita menumakan ruang, bahwa untuk kembali kepada era mereka sangat merindukan syahid kita harus memupuk tumbuh kembangnya ruhiyah. Karena tumbuhnya ruhiyah yang kuat akan sangat berkaitan dengan kerinduan kita kepada syahid. Imam Ahmad bin Hanbal pernah mengungkapkan: “bahwa apa yang membuat sukses kaum muslimin terdahulu, maka itu pulalah yang bias membuat sukses kaum muslimin sekarang.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Ma'had Ali An-Nuaimy Jakarta angkatan ke3. Guru bahasa Arab di Pondok Pesanteren Khalid bin Walid Rokan Hulu Riau.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Rindu Bergurau Berdua

Organization