Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Kontemporer / One Day One Juz (ODOJ) Katanya Riya’, Benarkah?

One Day One Juz (ODOJ) Katanya Riya’, Benarkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (madaniwallpaper)
Ilustrasi. (madaniwallpaper)

dakwatuna.com Patut disyukuri, itu yang kami komentari dari fenomena ODOJ ini. Perkembangannya begitu cepat bahkan sampai ke mancanegara hanya dalam hitungan beberapa bulan. ODOJ merupakan program, lebih tepatnya metodologi, agar orang bisa dan terbiasa, mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali. Dengan izin Allah Ta’ala, para odojers ini dipertemukan dalam tujuan yang sama ingin mengkhatamkan Al Quran secara konsisten. Mereka mendapatkan bi’ah (lingkungan) yang baik walau tidak saling jumpa, mereka bisa saling mengingatkan, nasihat, menjaga semangat, dan tidak ada kepentingan apa pun kecuali Al Quran. Banyak kisah-kisah inspiratif dari para odojers, mereka begitu menikmatinya.

Upaya mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali, merupakan salah satu jenis usaha menjalankan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:

اقْرَإِ القُرْآنَ فِي شَهْرٍ

Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam satu bulan. (HR. Al Bukhari No. 5054, dari Abdullah bin Amr)

Maka, menjalankan sunah qauliyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, di tengah manusia banyak yang melupakan Al Quran, lupa dengan sunah, dan lupa dengan agamanya secara umum, merupakan usaha yang sangat luar biasa, dan tidak mudah. Ini mesti didukung dan dikuatkan, bukan justru dicemooh dengan dasar asumsi semata, dengan menganggapnya riya, terpaksa, dan memberatkan. Kalau pun ada yang tergelincir dalam riya, atau dia terpaksa, maka hal tersebut kembali ke pribadinya masing-masing dan hubungannya dengan Allah Ta’ala. Ketergelinciran personal ini bukan hanya terjadi pada aktivitas membaca Al Quran, tetapi bisa terjadi pada haji, shalat, shaum, memberikan muhadharah, menulis, dan sebagainya. Semua ini bisa saja ada orang yang riya dan terpaksa. Tetapi bukan berarti semua amal ini menjadi jelek, dicemooh, dan dianulir, hanya karena ada person-person yang dijangkiti riya atau terpaksa.

Yang jelas, kami ingin mengapresiasi ODOJ ini dengan sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.”(HR. Muslim, No. 1017, At tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203, Ahmad No. 19156)

Menampakkan Amal Shalih? Silakan!

Amat disayangkan adanya seorang penulis yang begitu bersemangat mengkritik ODOJ dengan alasan “menampakkan amal.” Dengan mengutip hadits tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala, di antaranya seorang yang bersedekah dengan tangan kanan tetapi tangan kirinya tidak tahu. Maksudnya orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi, yang dengannya lebih mudah untuk ikhlas.

Tidak hanya itu, penulis tersebut juga memaparkan kebiasaan sebagian salaf yang lebih suka menyembunyikan amal shalih mereka, dan mereka malu jika menampakkan kepada orang lain. Ada ulama yang ketika membaca mushaf, langsung ditutupnya ketika ada orang yang melihatnya karena dia tidak mau orang tahu bahwa dia sedang membaca Al Quran, dan seterusnya. Padahal semua dalil yang dipaparkannya tak satu pun menunjukkan larangan menampakkan amal shalih, melainkan menganjurkan pilihan yang lebih aman dan keutamaan menyembunyikan amal shalih.

Kita mengetahui bahwa dalam ODOJ, masing-masing anggota melaporkan hasil bacaannya kepada penanggung jawab bahwa dia sudah menyelesaikan bacaannya, atau dia sedang sakit, atau muslimah yang haid, yang dengan itu tidak bisa menyelesaikan, dan seterusnya.  Barangkali inilah yang menjadi sebab bahwa cara ODOJ ini seakan tidak syar’i, tidak sesuai sunnah.

Tidak ada dalilnya, baik Al Quran dan As Sunnah, menganggap menampakkan amal itu suatu yang buruk, tercela, dan terlarang, justru kadang menampakkan lebih baik dalam rangka menstimulus orang lain. Dengan itu dia bisa menjadi inisiator sunah hasanah yang diikuti banyak orang. Apalagi dalam keadaan terasingnya sebuah sunah di masyarakat, atau terasingnya kebiasaan baik, maka kembali menghidupkan dan mensyiarkannya secara terang-terangan adalah suatu yang mulia dan memiliki keutamaan, sebab dia menghidupkan ajaran Islam yang tengah redup. Ada pun keadaan hati si pelakunya, apakah dia riya, ikhlas, sum’ah, de el el, serahkan kepada Allah Ta’ala, dan seorang muslim hendaknya berbaik sangka kepada saudaranya, bukan justru melemahkan dengan menyebutnya sebagai amal yang sebaiknya disembunyikan!

Allah Ta’ala Memuji Amal yang terangan dan tersembunyi

Kita akan dapatkan dalam pelita hidup setiap muslim, wahyu yang tidak ada keraguan di dalamnya, yang semua isinya adalah haq, yaitu Al Quran Al Karim, tentang anjuran beramal baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Kedua cara ini memiliki keutamaan masing-masing. Tidaklah yang satu mendestruksi yang lain. Ini hanyalah masalah pilihan, yang keduanya sama-sama bagus.

Kami akan sampaikan beberapa ayat tentang pujian Allah Ta’ala dan perintah-Nya kepada manusia untuk berinfak secara tersembunyi atau terang-terangan.

Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah 274)

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

هذا مدح منه تعالى للمنفقين في سبيله، وابتغاء مرضاته في جميع الأوقات من ليل أو نهار، والأحوال من سر وجهار، حتى إن النفقة على الأهل تدخل في ذلك أيضا

Ini adalah sanjungan dari Allah Ta’ala bagi para pelaku infak dijalan-Nya, dan orang yang mencari ridha-Nya di semua waktu, baik malam dan siang, dan berbagai keadaan baik tersembunyi atau terang-terangan, sampai – sampai nafkah kepada keluarga juga termasuk dalam kategori ini. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/707. Cet. 2. 1999M/1420H. Daruth Thayyibah.)

Ayat lainnya:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (QS. Ar Ra’du: 22)

Ayat lainnya:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim: 31)

Lihat ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan berinfak baik secara sembunyi atau terang-terangan, Allah Ta’ala tidak memerintahkan yang sembunyi saja, tapi juga memerintahkan yang terang-terangan. Tidak mencelanya, justru memerintahkannya.

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وأمر تعالى بالإنفاق مما رزق في السر، أي: في الخفية، والعلانية وهي: الجهر، وليبادروا إلى ذلك لخلاص أنفسهم

Allah Ta’ala memerintahkan untuk berinfak secara as sir, yaitu tersembunyi, dan al ‘alaaniyah yaitu ditampakkan, dan hendaknya mereka bersegara melakukan itu untuk mensucikan diri mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/510. Cet. 2. 1999M/1420H. Daruth Thayyibah)

Terang-terangan atau tersembunyi, keduanya bisa dilakukan pada amal yang wajib atau sunah. Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullah:

{سِرًّا وَعَلانِيَةً} وهذا يشمل النفقة الواجبة كالزكاة ونفقة من تجب عليه نفقته، والمستحبة كالصدقات ونحوها.

(Tersembunyi dan terangan-terangan) hal ini mencakup infak yang wajib seperti zakat, dan nafkah kepada orang yang wajib baginya untuk dinafkahi, dan juga yang sunah seperti berbagai sedekah dan semisalnya. (Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Manan, Hal. 426. Cet. 1. 2000M/1420H. Muasasah Ar Risalah)

Maka, berinfak –atau amal shalih apa saja- yang dilakukan secara tersembunyi dan menampakkannya, telah dimuliakan, dipuji, dan dianjurkan oleh Allah Ta’ala. Janganlah hawa nafsu manusia justru menganggap tercela yang satu dibanding yang lainnya. Jika tersembunyi, maka itu mulia karena hati Anda lebih selamat dari ‘ujub, riya’, jika terkait sedekah maka orang yang menerima sedekah tidak merasa malu menerimanya. Jika terang-terangan, maka itu juga mulia, karena Anda bisa menjadi pionir kebaikan, menjadi contoh buat yang lain, sehingga selain Anda mendapatkan pahala sendiri, Anda juga mendapatkan pahala mereka lantaran mereka mengikuti kebaikan Anda.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memuji orang yang menampakkan amalnya

Alangkah baiknya jika ini juga diketahui oleh penulis tersebut. Jangan hanya menampilkan satu gambaran tentang para ulama yang sembunyi-sembunyi membaca Al Quran, tapi lupa menampilkan yang lainnya. Para sahabat nabi pun menampakkan amalnya, dan nabi tidak mencelanya justru memujinya. Telah masyhur

Para salaf jika berkumpul, mereka memperdengarkan salah seorang mereka untuk membaca Al Quran. Mereka tidak mengatakan, “Pelan-pelan aja suaranya, banyak orang nih, nanti kamu riya.” Ada pun para ODOJers, mereka membacanya masing-masing di rumah, tidak berjamaah, kadang di kantor, kadang di kendaraan, itu pun tanpa mengeraskan suara, sehingga tidak ada yang terganggu dengan suara mereka.

Imam An Nawawi Rahimahullah memaparkan:

اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون وهذا متفق على استحبابه وهو عادة الأخيار والمتعبدين وعباد الله الصالحين وهى سنة ثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم …..

Ketahuilah, banyak perkumpulan para salaf dahulu mereka meminta orang yang ahli baca Al Quran untuk membaca dengan suara yang bagus, mereka membacanya dan yang lain mendengarkannya. Ini disepakati sebagai hal yang disukai, dan merupakan kebiasaan orang-orang pilihan dan ahli ibadah, hamba-hamba Allah yang shalih. Dan, itu merupakan sunah yang pasti dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam…. (lalu Imam An Nawawi menyebutkan kisah Abdullah bin Mas’ud yang membaca Al Quran di hadapan nabi dan para sahabat lainnya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim). (At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, Hal. 113)

Lihat ini, justru para salaf meminta untuk menampakkannya, mereka ingin menikmatinya. Begitu pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap bacaannya Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, padahal wahyu turun kepadanya sendiri, tapi beliau ingin mendengarkannya dari orang lain.

Lalu Imam An Nawawi melanjutkan:

أنه كان يقول لأبي موسى الأشعري ذكرنا ربنا فيقرأ عنده القرآن. والآثار في هذا كثيرة معروفة

Bahwa Nabi berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari: “Ingatkanlah kami kepada Rabb kami.” Maka Abu Musa membacakan Al Quran dihadapannya. Dan, Atsar-atsar seperti ini banyak dan telah dikenal. (Ibid, Hal. 114)

Nah, tak satu pun ada peringatan sesama mereka saat mereka meminta sahabatnya membaca Al Quran, “hati-hati riya ya …”, atau “jangan tampakkan suaramu kepada kami ..”.

Melaporkan dan menceritakan amal shalih, adalah riya?

Dalam komunitas ODOJ, ada penanggung jawab yang menerima laporan harian anggotanya, sudah sampai mana bacaannya, apakah sudah selesai satu juz atau belum. Hal ini tidak mengapa, sebagaimana seorang guru yang menanyakan hasil kerjaan, tugas hafalan, siswanya dan si guru memberikan batas waktu. Ini adalah tuntutan profesionalitas dalam beramal. Ini pun dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita tentang amal shalihnya:

وإني لأستغفر الله، في اليوم مائة مرة

Aku benar-benar beristighfar kepada Allah dalam sehari 100 kali. (HR. Muslim, 2702/41)

Riwayat lainnya:

يا أيها الناس توبوا إلى الله، فإني أتوب، في اليوم إليه مائة، مرة

Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya dalam sehari aku bertaubat kepadaNya seratus kali. (HR. Muslim, 2702/42)

Para sahabat pun juga. Perhatikan dialog berikut ini:

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من أصبح منكم اليوم صائما؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن تبع منكم اليوم جنازة؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن أطعم منكم اليوم مسكينا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن عاد منكم اليوم مريضا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما اجتمعن في امرئ، إلا دخل الجنة»

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah di antara kalian yang hari ini mengantar jenazah?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim 1028)

Inilah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, dia tidak perlu malu untuk melaporkan apa yang sudah dia lakukan hari itu. Maka, tidak masalah seseorang menceritakan amalnya, yang penting tidak bermaksud memamerkannya, dan membanggakannya, tetapi agar orang lain mendapatkan ‘ibrah darinya. Pendengar pun tidak dibebani untuk membedah hati orang yang melaporkannya. Itu tidak perlu, tidak penting, dan tidak masyru’. Justru, yang masyru’ adalah kita mesti husnuzhzhan kepadanya.

Para ulama mengatakan:

إحسان الظن بالله عز وجل وبالمسلمين واجب

Berprasangka yang baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kaum muslimin adalah wajib. (Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 29/325)

Kisah lainnya:

 عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى بَعِيرِهِ ، فَكَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ، وَيُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: ” مَا فَعَلْتَ فِي الَّذِي أَرْسَلْتُكَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي.

Dari Jabir bin Abdullah katanya: “Saya diperintahkan nabi untuk datang, saat itu beliau hendak pergi ke Bani Musthaliq. Ketika saya datang beliau sedang shalat di atas kendaraannya. Saya pun berbicara kepadanya dan beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Saya berbicara lagi dan beliau memberi isyarat dengan tangannya, sedangkan bacaan shalat beliau terdengar oleh saya sambil beliau menganggukkan kepala. Setelah beliau selesai shalat beliau bertanya: Bagaimana tugasmu yang padanya kamu saya utus? Sebenarnya tak ada halangan bagi saya membalas ucapanmu itu, hanya saja saya sedang shalat.” (HR. Muslim No. 540, Ahmad No. 14345, Abu Daud No. 926, Abu ‘Awanah, 2/140, Ibnu Khuzaimah No. 889, Ibnu Hibban No. 2518, 2519)

Dalam kisah ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta laporan kerja dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu tanpa harus khawatir riya-nya Jabir jika dia melaporkannya.

Banyak sekali kitab yang menceritakan para ulama yang berkisah tentang ibadahnya, shaumnya, shalatnya, jihadnya, bahkan mimpinya. Tentu kita berbaik sangka, jangan menuduh mereka telah riya dalam penceritaannya.

Menggembos amal shalih dengan menuduh riya adalah Akhlak Kaum Munafiq

Inilah yang terjadi, gara-gara seseorang menuduh saudaranya riya, atau menakut-nakuti dari menampakkan amal shalih, akhirnya perlahan-lahan ada yang membatalkan amal shalihnya karena takut disebut riya, takut tidak ikhlas.

Inilah yang dilakukan orang munafiq pada zaman nabi, mereka menuduh para sahabat riya, padahal mereka (kaum munafiq) sendiri yang riya.

Dari Abu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia bercerita:

“Sesudah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka Abu Uqail bersedekah dengan satu sha’, dan datang seseorang dengan membawa lebih banyak dari itu, lalu orang-orang munafik berkata:

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak membutuhkan sedekah orang ini, orang ini tidak melakukannya kecuali dengan riya. Lalu turunlah ayat:

 الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ

“Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya.” (QS. At Taubah: 79). (HR. Al Bukhari No. 4668)

Justru Allah Ta’ala menceritakan bahwa kaum munafikinlah yang riya.

Perhatikan ayat ini:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al Ma’un: 4-6)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ayat ini menceritakan tentang sifat-sifat orang munafiq; lalai dari shalatnya, sekali pun shalat dia riya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengulang sampai tiga kali ucapan: tilka shalatul munaafiq (itulah shalatnya kaum munafik). Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/493)

Maka … wahai Saudaraku…

Janganlah kamu melemahkan dan menggembosi amal saudaramu …, biarkanlah mereka beramal, membaca Al Quran satu juz sehari sesuai target dan program mereka. Karena Nabi kita tidak pernah memerintah kita membedah hati manusia, serahkanlah hati manusia kepada Allah Ta’ala.

Adakah kamu ketahui bahwa saudara-saudaramu itu menuntaskan satu juz Al Quran sehari untuk pujian manusia? Mencari popularitas dan kedudukan?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu:

إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ

Aku tidak diperintah menyelidiki hati manusia dan tidak pula membedah perut mereka. (HR. Al Bukhari No. 4351, Muslim, 1064/144)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah berkata kepada Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu:

أفلا شققت عن قلبه حتى تعلم أقالها أم لا؟

“Apakah engkau sudah membedah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?” (HR. Muslim, 96/158)

Sederhananya, jangan mudah menyalah-nyalahkan amal shalih saudaramu, yang bisa jadi amal shalih tersebut belum tentu kamu bisa lakukan.

Karena Allah Ta’ala berfirman:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. (QS. At Tawbah: 91)

Wahai Saudaraku ……… Arahkan penamu ke pelaku maksiat yang terang-terangan, bukan kepada saudaramu yang sedang berlomba amal shalih secara terang-terangan.

Alangkah baiknya, penamu itu kamu arahkan untuk mereka yang terang-terangan beramal buruk, menyimpang, dan maksiat lainnya. Itu semua ada di hadapanmu. Kenapa begitu gagah di hadapan para pelaku kebaikan, tapi layu di hadapan para pelaku kemaksiatan? Allahul Musta’an!

Untuk Para ODOJers ……….

Alangkah indahnya nasihat Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah:

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Ucapan ini tersebar dalam banyak kitab, seperti Minhajul Qashidin-nya Imam Ibnu Qudamah, Tazkiyatun Nufuus-nya Imam Ibnu Rajab, dll)

Janganlah kalian batalkan amal shalih itu karena komentar miring manusia, dan jangan pula kalian lakukan karena mengharapkan ridha manusia, tetaplah beramal, dan jangan pernah pikirkan semua komentar yang membuat hati kalian guncang. Urusan kalian adalah kepada Allah Ta’ala bukan dengan mereka. Sibukkanlah hati kalian dengan-Nya, biarlah mereka sibuk menyelediki hati kalian, sehingga mereka lupa dengan hatinya sendiri. Sebab di akhirat nanti kullu nafsimbima kasabat rahiinah (setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing). Memintalah kepada Allah Ta’ala agar tetap dijaga dan selamatkan dari riya dan kesyirikan dalam beramal.

Wallahu A’lam Walillahil ‘Izzah walir Rasulih wal Mu’minin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (129 votes, average: 9,26 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.
  • Bastch Anas Afie

    very good moment….

  • abuzinad

    Pas! … akhirnya ada yg bhs juga, heran ama ustadz2 salafi … koq odoj aja masih juga dijelekin

  • Andri Bintaro

    Mantap ustad

  • hasyir

    Itulah kepahaman yang Allah Taala tidk berikan kepada semua orang, sebagaimana dulu kholifah Abu Bakar rodhiallou anhu ketika mengirim semua laki2 untuk berperang dan kholifah Umar pada saat itu protes kenapa? tapi Abu Bakar menpuk pundak dan menjelaskan kpda beliau

  • blue pingu

    Jazakallah khoiron Katsiron, Ust. Farid
    Tulisan yang menguatkan hati ,,
    Semoga Allah membalasinya lebih baik

  • Haruma Hibiki

    benar2, kalau pun ada ke riya an, semoga pahalany melebihi riya tersebut ^^

  • abbas

    berarti yang menuduh yang mengkritik ODOJ adalah munafiq?? kalau di web resmi ust farid yang diebut adalah salafi. berarti mereka munafiq?? subhanalloh

  • abbas

    berarti yang menuduh yang mengkritik ODOJ adalah munafiq?? kalau di web resmi ust farid yang diebut adalah salafi. berarti mereka munafiq?? subhanalloh

    • abuzinad

      Who knows ..?

      • abbas

        saya tau penulis dan antum juga sangat sinis terhadap salafi. tapi kan kita harus obyektif.
        tolong tunjukkan, kalimat mana yang menunjukkan jika ustadz salafi itu menuduh odojer telah berbuat riya’! dan kalimat mana yang menjelek-jelekkan odoj??

        dan ternyata, ketika ust farid mensifati salafi sebagai munafiq, antum malah mengiyakan.. artinya antum setuju jika ust farid menuduh orang lain sebagai munafiq..

        • Bocah Ganteng

          Dikalimat mana ust farid menyebut salafi munafiq? yg saya baca adalah menggembosi amal seseorang itu sifat munafiq? bahkan dlm tulisan ust farid di atas tidak ada kata “Salafi” satu pun … baca yg bener!! DI web beliau juga sudah ada klrifikasi bahwa Beliau tdk pernah menyebut salafi dan person2 tertentu, itu hanya editan dr adminnya saja

        • indro

          yang pasti yang ngikutin sunah dapat pahala, kalau nggak ya gak dapet. yang disalahkan itu kalau riya kalau nggak yaa gak papa to. berarti hayu kita ODOJ..

    • abuzinad

      Who knows ..?

  • Faruq Candra

    Gerakan ODOJ adalah sebuah ide kreatif pada jaman social media seperti sekarang untuk kembali mencintai Alqur;an, yuk pastikan muslim dan muslimat di seluruh dunia tergabung dalam gerakan ini.. Cintai alqur’an dengan mengajak keluarga, tetangga dan teman-teman bertilawah satu juz satu hari.. -Faruq ODOJ G#207-

  • om bara

    Sesungguhnya setiap muslim itu bersaudara… Jgn sampai kita terpecah belah oleh hal2 yg hanya diketahui Allah… Bahkan yg mengatakan dirinya baikpun belum tentu dia baik di mata Allah.. Allahu a’lamu bish shawab

  • Muhammad Valdy Nur Fattah

    Kalau seandainya, Islam melarang menampakkan amal-amal shalih yang
    sifatnya ibadaha mahdhah yang langsung mengharap ridhanya kepada ALLAH,
    niscaya Rasul shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak
    akan menganjurkan dan mewajibkan ummat Islam untuk shalat berjama’ah 5
    waktu di masjid.

  • Lock Nut

    Menurut saya ini hanya masalah khilafiah yang bukan pokok agama, jd tdk usah di peruncing. Masih banyak permasalahan umat yang perlu diselesaikan.

  • Amy Renavion

    Alhamdulillah ini termasuk nasihat yang baik.
    Hadeh… hadeh… ko’ komentarnya malah begini yak !!

    Afwan Ustad saya mau ngasi saran sebaiknya jgn terlalu memojokkan yg berbeda golongan, soalnya teman saya merasa tersindir, bukannya mau memprovokasi tapi saya sekedar mau mengkoreksi kepada ustads supaya jangan sampai kita termasuk golongan yg terpecah belah.

    Misalnya ada pendapat yg memojokkan sebaiknya jgn disebut orang/golongannya tapi sebut saja seseorang/suatu golongan, karena bisa membuat jurang konflik antara satu golongan dengan golongan lainnya. Kita pasti tidak mau seperti itu.

    Meskipun berbeda ajaran dan cara-nya tetapi tidak harus sampai menjatuhkan. Kalau memang berbeda sebaiknya saling mengkoreksi jika ada kekurangan/kesalahan, bukannya memperkeruh suasana.

    Memang benar Allah tidak mengabulkan do’a Nabi Muhammad supaya ummat islam bersatu,
    Ternyata memang benar ummat Islam memang terpecah belah, Namun sebaiknya kita
    berdo’a semoga kita bukan termasuk golongan yg terpecah belah, Semoga kita
    termasuk golongan orang-orang yang saling menasihati dalam kebaikan.

    yg setuju silahkan balas sertakan alasannya. (*saya harap semuanya setuju atas pendapat saya)

    • Bocah Ganteng

      emang ada nama “golongan” yang disebut? saya baca udah lrbih dr 3 kali, tidak ada tuh

      • Amy Renavion

        maksud saya begini :

        saya tahu mungkin yg dimaksud penulis yg mengkritik ODOJ adalah penulis dari http://www.m**********d yang mengkritik ODOJ, kalau tidak tidak salah adalah seorang salafi (Wallahu’alam) kalau benar.

        ada penulisan yg mungkin memojokkan dalam kata :
        Tidak hanya itu, penulis tersebut juga memaparkan kebiasaan sebagian
        salaf yang lebih suka menyembunyikan amal shalih mereka, dan mereka malu jika menampakkan kepada orang lain…

        dalam kalimat tersebut ada kata salaf

        jadi saya bukan maksud untuk memprovokasi tetapi lebih kepada masukan. Jadi @Bocah Ganteng jika mau bertanya / ada pertanyaan / ada pernyataan hendaknya dengan kata-kata yg sopan, baik serta bijak.

        • abuzinad

          Maaf mas Amy, kalo gak paham istilah salaf, salafi, salafiyun .. mendingan anda diem aja deh

          Kalau ada tulisan begini nih, “Para salaf mengatakan bla bla bla ..” , “Menurut ulama salaf …”, dll, itu maksudnya ulama atau manusia terdahulu, yg hidup pada masa lalu, BUKAN maksudnya golongan salafi saat ini …

          Sedangkan “Salafi” itu artinya org2 yang mengikuti jejak salaf, siapa pun dia walau nggak ngaku2 sebagai salaf

          Jadi ketika Ust Farid Nu’man menulis:

          Tidak hanya itu, penulis tersebut juga memaparkan kebiasaan sebagian
          salaf yang lebih suka menyembunyikan amal shalih mereka, dan mereka malu jika menampakkan kepada orang lain…

          trus, antum bilang: “dalam kalimat tersebut ada kata salaf”

          hadeeuhh .. kumaha, jgn sok paham atuh ..

          Salaf dalam kalimat itu artinya sebagian para ulama salaf (terdahulu) kalo baca Al Quran itu diem2, bukan lagi ngomongin kelompok salafiiiiiii …

          Generasi salaf itu, sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin …

          Nah, kalo manusia yg hidup saat ini dan mengikuti mereka itulah disebut salafi … ngerti gak sih bedanya?
          hadeeuh

          Kalo Ust Farid bilang, “Sebagian salafiyin membaca Al Quran ..” nah itu baru kelompok salafi …

          Walau bagi saya kesalafiyan mereka hanyalah merk belaka, klaim, dan ngaku2 saja.

          • Amy Renavion

            mmm… “…Walau bagi saya kesalafiyan mereka hanyalah merk belaka, klaim, dan ngaku2 saja…”
            Benar juga ya.

            he…he..he…
            walau udah pernah diajarin ane lupa dan ngga kepikiran sampe situ.
            mungkin sedikit terbawa emosi kali. wwkwkwkw

  • Abu Zahra

    Metodologi ODOJ membawa seseorang beramal bukan lillahi taala. ODOJ mengatakan masalah ikhlas dan riya bukan domain ODOJ. Baiklah jika demikian, tetapi metode ini malah memungkinkan munculnya riya tersebut. Dan saya yakin ustadz paham makna riya’. Memang mereka mengaji, tetapi bukan lillahi taala, tetapi karena kumpulan, target, dan sejenisnya. . Riya’ sangat halus dan tidak tampak, sehalus semut hitam dimalam hari diatas batu hitam. Itu pengandaian para sahabat terhadap riya’. Saangat tidak tampak. Sangat halus. Kewajiban kita adalah menutup rapat-rapat pintu riya’ dengan cara apapaun. Bukan malah membuka jalan pada riya. Malah membikin metodologi (ODOJ) yang membuat orang lain melakukan riya’ lalu tutup tangan dengan mengatakan itu bukan domain ODOJ. Itu urusan dia dengan Allah. Masya Allah. Pengelola ODOJ yang membuat pintu riya itu…jangan tutup mata atas timbulnya riya’ karena efek metodologi itu. Semoga dapat dipahami. Ini hanya pendapat saja. Mohon maaf jika tidak berkenan. Tidak ada hubungan apakah salafi atau bukan. jangan biasakan mengkotak-kotakan umat. Islam adalah islam. Kita landaskan pada dalilnya saja.

    Terkahir. Dosa riya’ adalah dosa yang paling ditakuti oleh para Sahabat yang hatinya paling ikhlas. Karena riya’ menghapus segala amal dan pahala. Lalu orang seperti kita meremehkannya ? lihatlah komen-komen dibawah..ustadz pasti paham maksud saya.

    • Tegar Arifianto

      bukankah sudah selesai masalah ini jika berbalik ke hadist

      اقْرَإِ القُرْآنَ فِي شَهْرٍ

      Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam satu bulan. (HR. Al Bukhari No. 5054, dari Abdullah bin Amr)

      lalu kemudian jika anda mengatakan target itu menjadi sebuah niat untuk riya’ lalu bagaimana kedudukan hadist ini?????betapa anda begitu memahami dengan pendapat anda tanpa mau mengkritisi kembali keadaan pendapat anda… :D

    • Bocah Ganteng

      Bodoh banget …, jika anda makan, apa target anda? kenyang dan sehat! apa itu bukan lillahi ta’ala? salah target seperti itu?

      Jika ada anak sekolah belajar, lalu ditanya apa tujuannya? dia akan jawab “besok ada ujian, biar nilainya bagus”, apakah salah? disebut riya dan tidak ikhlas?

      Jika ada seorang odojer membaca alquran, ditanya buat apa? biar selesai 1 juz sehari! apa bedanya?

      Paraaah ….

    • abuzinad

      ckckckck …, saya baca surat almulk dengan target agar terbebas dr
      siksa kubur? apakah salah? tidak ikhlas? … ada dalilnya akhii

      saya baca surat alkahfi hari jumat agar tdk kena fitnah dajjal, apakah salah? tdk ikhlas? ada dalilnya akhii

      Saya baca Al Quran target 1 bulan sekali khatam, apakah salah? ada dalilnya akhii .. perintah nabi.

      Masalah riya urusan pribadi orgnya, sufyan ats tsauri aja nangis gara2 menuduh org lain riya ktika membaca Al Quran …

      Laahaula walaa quwwata illa billah … nasihat antum tg riya sgt bagus, tp salah kamar, seakan odojers gak tahu apa itu riya

    • ant_ooo

      udah deeh mas2 yang comment di thread comment ini. stay cool ajah. Jika yang ikut ODOJ yakin ODOJ ini suatu kebaikan terus jalanin ajah sambil ngelurusin niat.
      trus yang kontra, okelah pendapat anda keren dan bagus dengan mengingatkan untuk selalu meluruskan niat. Itu ajah sih salam

    • abuzinad

      Memang mereka mengaji, tetapi bukan lillahi taala, tetapi karena kumpulan, target, dan sejenisnya. .

      —-

      bukan lillahi ta’ala ..!!!

      Inilah perkataan antum, jahat sekali menuduh org tidak lillahi ta’ala … kau katakan ini nasihat???

      Saya sudah bantah alasan2 antum ini .. bhawa target2 itu tdk papa, sbmna target bekerja untuk menyelsaikan deadline, kerja harus ikhlas, bukan berarti mengabaikan deadline. Baca Al Quran harus ikhlas, bukan berarti tidak boleh memasang target .. bukankah nabi juga mengajarkan target?

      Kalau gak bisa sekian, ya sekian, dst, … hingga akhirnya 3 hari paling cepat, itu juga target namanya ..

      Allahu Akbar .. Na’udzubillah mindzalik ….

    • Guest

      pakUstad abu Zahra yang dianugerahi Allah….
      haruskah orang seperti saya yg buta agama akhirnya tdk membaca Al qur’an hanya karena takut riya?? riya urusan hati setahu saya pak.. please demi Allah dan Alqur’anNya, ga usah dibahas ini lagi, bukankah lebih byk yg baca alqur’an lebih baik??? dan untuk bapak abu zinad, nama yang indah bagaimana bapak bapak bisa bicara klo odojer bukan lillahi ta’ala>>> nauzubillah….

    • Mb. Wied

      lha boro2 mikir riya..begitu join odoj ternyata saya sangat termotivasi sebab temen2 di group sangat-sangat subhanalloh…menyemangati agar terbiasa baca 1 juz perhari, tidak lupa di motivasi buat baca arti dipahami, apalagi kalo lagi haid…tadinya paling nonton sinetron tapi setelah gabung odoj…wah banyak ilmu dari temen2 yg kudapat, keutamaan intens berinteraksi dengan Qur’an…dan memang bener…bagaimana meluangkan waktu utk Allah dan tidak hanya menyisakan waktu dari aktivitas kita sehari-hari. Dan luar biasa saya rasakan. disana berlomba-lomba dalam kebaikan. aseli lho mas..malah di taakhikan sehingga bisa kholas cepet…temen2 yg lain juga semangat…dan dari situ gak ada kepikir pamer apalagi walah2…boro2 riya’…lha wong saya merasa di group saya itu orang hebat2 para penggiat dakwah, orang sibuk pelayan umat…itupun masih sempatnya ngobarin semangat sodara2 di group utk tilawah 1 juz perhari…

  • Abu Zahra

    @Saudara Abu Zinad, Bocah Ganteng, dan akhiy Tegar Arifianto, terima kasih atas responnya yang sangat sopan dan membangun. Yang kita bahas dan kita soroti adalah metodologinya. Bukan haditsnya. Kalau hadits tentang keutamaan membaca Qur’an tidak saya sangkal. Tetapi metodologi ODOJ dimana ada sistem pelaporan, lelang, dll (silahkan rujuk ke SOPnya deh) itu yang kita soroti. Jadi jangan melenceng kemana-mana, sampai bawa salafi lah, ini lah..itu lah.

    Dan saya tidak mengatakan ODOJer itu riya’..coba tunjukkan kailmatnya jika ada. Saya hanya menyebutkan metode ini bisa membuka pintu riya’ dalam beramal. Juga membuat beban yang Allah dan RasulNya tidak pernah bebankan pada umatnya. Baca lagi deh tulisan saya dengan benar. Bahkan yang membuat metodologi ODOJ sendiri yang mengatakan demikian bahwa bisa saja orang yang ikut program ODOJ muncul riya’ tetapi hal itu menurut inisiatornya diluar domain (tanggung jawab) inisiator ODOJ. ODOJ mengambil kiyas atau analogi dengan KBIH sebagai penyelenggara haji, yang tentu sangat jauh berbeda dan kiyasnya tidak tepat. Nah, ini yang dibahas. Yang salah dari program ini adalah memungkinkan terbuka pintu riya’ pada ODOJer dan inisiator ODOJer tidak bisa lantas berlepas tangan. Kenapa ? karena riya’ adalah dosa syirik. Dan itu adalah adalah sebesar-besar dosa. Mana ada pahala yang bisa menghapus riya’ ? ada juga riya’ menghapus segala amal, sebesar apapun amal itu. Satu saja ada ODOJer yang muncul riya’ dalam amalan mengaji kejar target ala ODOJ ini, maka saya kuatir inisiator dan yang terlibat didalamnya juga terkena dosa yang setimpal. Naudzubillah. Semoga tidak terjadi demikian.

    Akhuna. Tidak ada yang melarang mengaji, bagus malah, ibadah yang mulia. Disebutkan bahwa program ODOJ adalah untuk meMOTIVASI umat agar mau mengaji. Tetapi ingat, tidak ada motivasi yang lebih bagus selain motivasi yang ada dalam Alquran dan Sunnah. Jika Al Qur;an dan Hadits2 Rasulullah yang shohih tidak mampu memotivasi kita untuk mengaji (semampu kita, karena Allah tidak membebani manusia diluar kemampuannya), maka tidak ada metode yang lebih baik untuk memotivasi manusia untuk mengaji. Bukankah banyak pelajaran dimana ulama-ulama ahlu bidah membuat-buat hadits palsu untuk memotivasi umat mengaji, tetapi apa yang terjadi ? umat malah tergelincir dalam bidah dan syirik. Tahu kan ? atau tidak tahu nih..? ntar gak nyambung lagi kita..insya Allah tahulah.

    Jadi, jika ingin membaca Al Qur’an khatam sebulan sekali, seminggu, bahkan tiga hari..maka silahkan dan itu baik. Tetapi menjadikannya beban, target yang diatur, dilaporkan pada manusia, dilelang kalau tidak mampu..apa landasannya? Pernahkan Rasulullah melakukan ini ? Sahabat ? para Imam yang empat ? Cukuplah motivasi-motivasi dari Allah dan Rasulullah tentang keutamaan dan pahala membaca Qur’an menjadi pegangan dan motivator utama buat kita. Tirulah bagaimana Rasulullah memotivasi Sahabat untuk membaca Al Qur’an, yaitu tadabur, tilawah yang khusyuk dan disembunyikan. Cukup baginya Allah yang tahu. Tidak pernah Rasulullah mengajarkan kejar target, saling lapor atau melelang target bacaan. Apa ini tidak cukup buat saudaraku ODOJer sekalian ? masih kurang termotivasi untuk baca Qur’an ? hingga butuh teman WA, hingga harus lapor, atau ambil lelangan orang ?

    Saudara Tegar, hadits Bukhari yang anda sampaikan itu adalah tentang seorang Sahabat yang meminta pendapat Rasulullah dalam mengkhatamkan Qur’an. Maka Rasulullah menasehati seperti isi hadits tersebut “bacalah al quran…dst. Jadi hadits tsb tidak berdiri sendiri yang seakan kalimatnya perintah buat seluruh umat manusia. Rasulullah menasehati, tapi bukan memerintahkan Sahabat itu untuk “mengkhatamkan Al Qur’an” dalam satu bulan. Bahkan Sahabat yang bertanya itu mengatakan mampu lebih dari itu (lebih singkat). Maka Rasulullah menasehati, jangan kurang dari 3 hari. Karena jika kurang dari itu maka orang arab sekalipun akan sulit untuk mentadaburi al Qur’an yang dia baca. Dan Sahabat itu paham nasehat Rasulullah. Bagi orang Arab, mengkhatamkan sebulan tidak sulit dan tetap bisa tadabur karena paham artinya dan fasi arabnya. Lha kita ? kejar tayang doang ?

    Semoga dapat dipahami. Insya Allah ini dalam rangka saling menasehati bukan menghujat. Diterima alhamdulillah. Tidak, juga alhamdulillah. Jangan ada hasad antara sesama kaum muslimin. Bukan begitu al Mukarrom al Ustad Farid ? Barakallahu fiikum.

    • Amy Renavion

      Memang ada benarnya yang antum tuliskan, tetapi itu tergantung kepada pribadi masing-masing. Supaya tidakterjadi hendaknya di’ingatkan atau dinasehati.

      Saya yakin ODOJ dibuat bukan untuk menimbulkan perbuatan dosa, karena saya tahu yang membuat ODOJ ini bukan seperti orang-orang “Ahlul Bid’ah”.

      lagi pula ini bisa dijadikan metode hisab untuk diri sendiri melalui orang lain jika kita memang belum bisa atau belum mampu menghisab diri sendiri.

      “…Apa ini tidak cukup buat saudaraku ODOJer sekalian ? masih kurang
      termotivasi untuk baca Qur’an ? hingga butuh teman WA, hingga harus
      lapor, atau ambil lelangan orang ?..”. Begini @disqus_eI4AgWFbvt:disqus bukankah Allah berkuasa untuk membolak-balikan hati manusia yang ia kehendaki seperti semudah membolak-balikan telapak tangan.

      Lalu bagaimana bila hati kita dalam keadaan terbalik ? antum pasti pernah merasakan bagaimana rasanya bila keadaan hati antum sedang terbalik. Antum pasti merasa sulit atau terbebani melakukan sesuatu, misalnya untuk menghisab diri sendiri atau membaca & mentadaburi Al-Qur’an. Pasti itu merupakan hal yang sulit dijelaskan walaupun seseorang telah menegur atau menasihati kita, kita mungkin masih tetap tidak bisa melakukan sesuatu dengan semestinya.

      semoga antum mengerti dari apa yang saya maksudkan. ^_^

    • Desna

      assalamu alaikum,
      saya newbie ODOJ UAE, Mashaallah saya sangat suka sebelumnya boleh dibilang saya tdk pernah membaca Alqu’an< tp semenjak ikut ODOJ alhamdulillah al qur'an jd bacaan tiap hari saya? merasa terpaksa? tidak krn dari awal saya antusias bagaimana cara membaca alqur'an biar konsisten? riya?? Allah yang maha tahu hati manusia… saya pribadi harus dipaksa dulu supaya menjadi biasa dan akhirnya menjadi kebiasaan yg tdk bisa tidak (seperti halnya sholat). maaf saya tidak tau byk kontek islam ini itu tp buat saya ODOJ membuat saya terkontrol, disiplin alhamdulillah.. klo ada yg tidak suka dengan ODOJ, simple ga usah ikutan… Allah maha tahu apa yang ada dihati kita masing-masing.

    • Ngeri-ngeri Sedap

      “Jangan membuat beban yang Allah dan RasulNya tidak pernah bebankan pada ummatnya.”
      Apa artinya guru ga perlu meminta setoran hafalan Qur’an / apa saja kepada muridnya, karena mungkin saja itu membebani sang murid.

    • Panji Wirabuana

      Ya akhiy Abu Zahra, amal itu tergantung niatnya. Para ulama meletakkan hadits ini dalam bab ikhlash, begitupun riya’ temasuk dalam bab yang sama. Perkara riya’ memang termasuk amalan syirik, tp syirik ashghor (syirik kecil), dan Alloh masih mengampuni orang yg berlaku syirik ashghor yakni dgn taubatan nashuha. Yang antum katakan syirik yg tidak diampuni adalah syirik akbar, yakni mempersekutukan Alloh dengan sesuatu. Perkara riya’ tidak bisa dibebankan kepada orang lain, tetapi ialah menyangkut kepada niat seseorang. Klo anda mengatakan metodenya yg membuka pintu riya’, sama saja anda mengatakan bahwa tukang jahit sudah membuka pintu riya’ karena mereka menjahit pakaian dengan bahan yang beragam dan demi keperluan beragam. Riya’ adalah perkara hati, dan dosanya tidak merugikan orang lain tetapi hanya merugikan dirinya. Dan saya pribadi memang belum tahu seperti apa metode dlm ODOJ, hanya saya yg saya katakan bahwa dosa riya’ tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain, hanya kepada pribadinya saja. Hati-hati dalam menyampaikan ilmu, dan baiknya ikutilah bagaimana cara penulis menyampaikan pendapatnya yakni dengan menyertakan ilmu, bukan mengedepankan akal sehingga jauh dari ilmu.
      Wallohu a’lam.

  • Likah Aja Dech

    sebelum nya ana seneng dg gerakan ODOJ tp ana ada kendala,yaitu tinggal 6juz tp ana tidak bisa melnjutkan krn ada halangan,pertanyaan ana haruskah ana mulai dr awal atau melanjutkan saja.jazakallah khairan.

  • marita widyaningrum

    Alhamdulillah…syukron pak Farid kupasannya sangat jelas dan menentramkan…semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan tetap istiqomah, aamiin ya Rabb

  • iyan

    Kalo menurtku sih (yang orang awam ini dan ilmunya masih cetek dan
    aku gak ikut ODOJ), Riya itu bisa timbul di mana aja dan masuk dari
    pintu mana aja. Tergantung masing-masing hati dan niat serta tujuannya.

    Sholat di masjid aja bisa jadi riya (kalo emang tujuannya untuk diliat
    ma orang lain), mo ngasih zakat/sedekah lewat DPU/PKU/BAZNAs/Lembaga
    Amil Zakat.. juga bisa riya (kalo emang tujuannya pengen disebut
    dermawan),

    btw memberi kritik bisa jadi riya gak ya ? – tergantung tujuannya kali ya –

    Kembali ke awal,

    Ikut ODOJ bisa juga jadi riya kalo emang niatnya pengen diliat
    ma orang lain. Lah kalo niatan ingin ikut komunitas ODOJ krn biar bisa 1
    juz per hari, biar tambah lancar bacaannya, untuk membentuk kebiasaan
    yang baik, biar terjaga semangatnya dan jadi tambah semangat ketika
    meliat yg lain udah 1 juz (bener gak…”berlomba-lomba dalam kebaikan”).
    Dan menurutku komunitas spt ini penting, sama juga spt TPA (taman
    pendidikan al quran) – anak saya termotivasi dg temennya yg sudah pandai
    baca quran.

    Siapa yang tau isi hati seseorang ?

    Nah, mungkin akan lebih baik dikatakan dan untuk
    mengingatkan yg ikut ODOJ tentang bahaya ria (agar lebih waspada) dan
    pentingnya meluruskan niat dan tujuan, bukan melarang utk ikut ODOJ
    apalagi menyalahkan metodenya.

    Metode ini menurutku bagus, smoga terus jalan. Dan semoga menjadi kebiasaan yang baik bagi komunitasnya hingga membentuk karakter yang baik pula. Tetap semangat ya… berpikir positip aja terhadap setiap masukan, kritik, saran.

    Untuk yang tidak setuju dg ODOJ smga bisa memberikan kritik/saran yang
    membangun dan sebagai pengingat. Bukan sesuatu yang mengurangi semangat
    mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan.

    Mari kita luruskan niat dan tujuan.

  • Muhammad Iqbal

    Bismillah,

    Afwan ana msh awam masalah syariah, afwan mgkn sedikit keluar topik,,,

    ana cuma mau tanya dengan para anggota ODOJ atau pun yg mengamalkanya khususnya untuk laki2, apakah dlm sholat fardu antum sekalian lakukan diawal waktu & berjama’ah di masjid?

    Mengingat ada hadist sohih & ancaman2nya dr Rosulullah bagi yg tidak menunaikannya secara berjamaah.
    Silakan jujur & jawab dalam hati anda masing2 aja tdk perlu di balas dlm tulisan..

    Besar harapan ana sbg muslim yg masih awam tentang islam, umat ini sadar akan pentingnya sholat berjamaah di masjid sbg syiar Alloh yg paling utama.
    Dan semakin banyak orang berbondong2 umat muslim memenuhi masjid setiap ada panggilan azan.

    Barakallahufikum

    • abuzinad

      Anda sendiri, apakah awal waktu jamaah ke masjid?

    • Ngeri-ngeri Sedap

      untuk mengerjakan satu kebaikan ga harus dengan mengabaikan kebaikan yang lain. biarlah kebaikan berjalan bersama-sama.

  • Rahil Simabua

    Ah, kenapa sibuk dengan amalan orang lain??
    Mending menyibukkan diri dengan amalan sendiri dan saling mengingatkan dalam kebaikan.. ^_^

  • Habaf

    Tulisan dan penjelasan Ust. Farid ini sungguh luas dan sangat jelas, Jazakallah Ustadz.

    Dari saya yang awam ini, secara logika kalau semua amalan kebaikan harus disembunyikan atau tidak boleh ditampakkan tentu tidak ada satupun amal kebaikan para sahabat tercantum dalam kitab-kitab hadits, kitab sirah nabawiyah maupun kitab hayatus shohabah, dll.

    Kalau semua amalan disembunyikan bagaimana kita bisa tahu amalan yg dilakukan oleh para nabi, sahabat nabi, tabiin dll. Serta bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari apa yg telah mereka lakukan?

    Yang terpenting adalah kepada siapa amalan yg kita lakukan itu ditujukan?

    Karena itu: Marilah kita bersinergi saling menjaga satu sama lain, berhentilah dari mencela perbuatan saudara sesama muslim, dan sibuk dengan tuduh2an…… seakan2 dirinyalah yang plaing benar, yang lain salah, pelaku bid’ah, pelaku syirik dan tuduhan2 yg tidak pantas ditujukan kepada saudara2 sesama muslim.

  • rojulan

    sering-2 aja baca doa di surat : Al-mu’minuun : 94, agar dijauhkan dari orang-2 yg dzolim

  • herawatini

    Bukan riya, tapi yang komentar aja sirik, takut Islam lebih dicintai umatnya…..

  • cinta

    Alhamdulilaaaah :) Shukran yaa Akhi atas pembahasannya dan penerangannya. Saya mengalami perdebatan ini bersama beberapa teman. Inshaallah ini bisa di jadikan input yang baik. Wassalam.

  • NUR HASANAH

    jazakallah khoir ustadz artikelnya, Alhamdulillah nambah ilmu….Sesungguhnya Segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, so berfastabiqul khairat ajjah…wassalam ODOJ 281…

  • NANANG SURYANA

    JAZAKALLAH KHAIRAN KATSIRO USTADZ

  • Renditya Pramaseto

    Ikut odoj atau tidak. yg penting ngaji dan banyak beramal. tidak perlu menuduh. Dan mengklaim siapa yg plg baik. Yg tau amal seseorang hanyalah Allah

Lihat Juga

Pintar vs Benar