Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sepeda Kehidupan

Sepeda Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)
Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)

dakwatuna.com Dalam hidup, pasti setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Seseorang mungkin diberi rezeki yang melimpah, kesempurnaan akal, serta kecantikan paras dan akhlak. Namun ternyata, ia diberi ujian berupa kelemahan fisik yang menyebabkan ia berpulang kepada-Nya lebih cepat daripada yang lain. Ada pula yang diberi kesehatan dan kecerdasan akal, namun ia harus berjuang lebih keras untuk mencari sesuap nasi. Contoh tersebut hanya secuil dari keberagaman masalah yang dihadapi manusia dalam hidup. Begitulah. Tidak ada manusia yang terlepas dari masalah.

Ada titik ketika setiap orang merasa lelah, ingin menyerah dan merasa tidak mampu menghadapinya. Lalu, sebagian orang menyerah, namun ada pula yang terus berjuang.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS Al Insyiraah: 5-6)

Ketika menghadapi kesulitan, seseorang mungkin akan bertanya, “Di manakah kemudahan itu? Benarkah bersama kesulitan ada kemudahan? Kenapa aku tidak melihat kemudahan itu?” Mari kita berhenti sejenak.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153)

Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar. Jika diibaratkan dengan belajar menaiki sepeda, maka, kesulitan itu adalah ketika kita berkali-kali jatuh. Kita bangkit dan mengayuh, namun kita tetap jatuh. Masih tersisa rasa takut ketika sepeda itu tiba-tiba oleng dan rasa sakit yang terasa ketika kita terjatuh. Kaki kita lecet dan berdarah-darah. Sakit. Perih. Trauma. Namun, ketika kita patuh terhadap rasa takut akan jatuh lagi, percaya terhadap bisikan bahwa kita tidak akan bisa naik sepeda, serta memutuskan untuk berhenti belajar mengayuh, apakah pada akhirnya kita akan bisa menaiki sepeda? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Sungguh, proses belajar itu membutuhkan dua hal: tekad belajar yang kuat dan kesabaran. Kesabaran ketika jatuh, kesabaran menahan rasa sakit, kesabaran menghadapi ujian dan kesabaran-kesabaran lainnya. Maka, ketika orang tersebut bersabar menahan rasa sakit dan memutuskan untuk terus mengayuh, dia akan semakin ahli dalam mengayuh, hingga akhirnya ia bisa menaiki sepeda tersebut.

Tidak terhingga rasanya ketika telah berhasil mengalahkan kesulitan dan akhirnya bisa menaiki sepeda. Senyum terkembang. Rasa takut, sakit dan luka pun terlupakan. Sepeda dikayuh dengan riang. Apakah kesulitan tersebut sudah berhasil dilalui? Dan apakah kemudahan telah datang?

Dalam ringkasan Ibnu Katsir jilid 4 karya Muhammad Nasib Ar Rifai, dikatakan bahwa di mana ada kesulitan maka di situlah ada kemudahan. “Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa A-id bin Syuraih berkata, “Aku mendengar Anas bin Malik berkata:

‘Nabi SAW pernah duduk-duduk dekat sebuah batu. Lalu beliau bersabda,’ Kalau ada kesulitan itu datang kemudian masuk ke dalam batu ini, kemudahan akan datang dan masuk pula ke dalam batu ini, kemudian mengeluarkan kesulitan tadi.’ Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat, ‘Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (hal.1005).’””

Jika ia menyerah dan berhenti mengayuh, tentu ia tidak akan menjumpai kemudahan itu. Namun bagi pejuang yang pantang menyerah, maka baginya kemudahan. Karena sungguh kemudahan itu ada bersama kesulitan. Namun, ada satu syarat dari kemudahan itu: tidak boleh berhenti dan terus berjuang.

Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan. Masing-masing dari kita ibarat seorang pengendara, sepeda ibarat kendaraan, dan jalan lintasan sepeda ialah ibarat jalan kehidupan yang kita lalui. Tentu saja jalan itu tidak selalu lurus dan mulus. Terkadang ia terjal berliku, curam, menanjak dan berduri. Pengendara pemula bisa jadi akan sedikit oleng dan terseok-seok ketika pertama kali melalui jalan yang penuh rintangan. Namun, ketika ia sering melalui jalan penuh rintangan, lama-lama ia akan terbiasa, menjadi ahli, dan bahkan bisa bergaya ketika melaluinya.

Lalu, apa yang terjadi ketika pengendara sepeda berhenti mengayuh ketika melalui jalan terjal berliku? Tentu saja, sepeda akan berhenti, oleng dan terjatuh.  Akankah sepeda itu sampai kepada finish jika ia tidak dikayuh? Tentu rodanya tidak akan berjalan dan pengendara akan berhenti di tempat. Sementara, pengendara lain terus melaju melewati keterjalan jalan mereka sendiri. Ketika pengendara lain telah mencapai finish, ia masih di tempatnya semula. Karena, ada yang terus bergerak ketika kita memutuskan untuk berhenti mengayuh, ia adalah waktu. Waktu kita terbatas, maka, jika berhenti terlalu lama kita akan tertinggal, jauh.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1-3)

Maka, bersabarlah dan teruslah kayuh sepeda kehidupanmu, wahai umat muslim!

Referensi:

  • Al-Quran
  • Nasib Ar Rifai, Muhammad.2000. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4. Jakarta: Gema Insani

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Anggota Komunitas Tirai Masa FIB UI. Seorang penyair dan pemimpi. Sedang sibuk melayani dan menulisi lembaran-lembaran kosong hidup.

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan