Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Syair untuk Perindu Nabi

Syair untuk Perindu Nabi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (hudzaifah.org)
Ilustrasi. (hudzaifah.org)

dakwatuna.com 

Kau jelas lelah dengan berbagai tuntutan dan amanah
Urusan yang belum usai, kerap kali kau sampingkan demi sebuah panggilan dakwah
Belum lagi rentetan tugas yang berbaris rapi menantimu,
tentulah menambah tumpukan peluhmu

Duhai Penyemai bunga dakwah…
Biarpun begitu kau tetap saja tersenyum dalam majelis pekanan,
Majelis melingkar bersuguh tilawah dan materi panah.
Tak peduli berapa panjang arteri kota yang kau lintasi, tak pernah menjadi masalah
Tentu saja!
Jangankan hanya lintas kota,  lintas provinsi saja kau jelajah
Padahal tentu tak mudah mencari ma’isyah,
Ya, demi tarbiyah… karena Allah yang memerintah, bukan karena mas’ul atau qiyadah

Duhai Mujahidah bumi…
Mafhum sudah diri ini
Benar  kau dihadirkan untuk menyampaikan pesan kebaikan,
Agar kami paham dan ikut menyampaikan
Meski kau bukan yang sempurna, tapi kehadiranmu selalu melukiskan makna
Karena kau selalu dinanti wahai Murabbi…

Duhai Permata tarbiyah…
Penyemai bunga dakwah… harumlah dan mewangi
Karena tiap jejak langkahmu alam pun mengamini
Hati yang kau hadirkan dalam setiap perhatian,
Belaian iman dan doa yang selalu kau seduhkan
Impian dan harapan yang selalu kau panjatkan,
Seakan menambah eratnya persaudaraan ini

Duhai Murabbi…
Biar persaudaraan kita lepas ikatan darah, namun terhimpun dalam ikatan kasih Illahi
Mafhum sudah,
Jelaslah ukhuwah ini adalah anugerah, titipan Allah yang begitu melimpah
Semoga kita ditetapkan dalam istiqamah…
Dalam mengikhtiarkan cita – cita umat yang mulia

Malam teramat sunyi, kala mengingati pesan-pesanmu wahai perindu nabi
Hati rasanya terperi, kala kalam Illahi tersaji dalam seduhan kalbu yang merindu…
Dan inilah sedikit dariku, sepotong sajak untukmu para perindu…

Tiada yang perlu dikhawatirkan,
Antara jarak dan kesenjangan pandangan
Tiada yang perlu dirisaukan,
Sekalipun kau telah mengibarkan iman sedang kami masih tertatih mengayunkan
Ya,  usah berlebih mengkhawatirkan

Yang perlu dikhawatirkan adalah kala hati berhenti menyeduh kebaikan,
Kala doa tak lagi terlisan dalam tautan Sang Rahman,
Ketika prasangka lebih ditinggikan daripada seruan Tuhan.

Bermula dari perjumpaan,
Lalu ukhuwah tersimpulkan,
Harapan yang kau tuangkan, menjadi harapanku jua..
Meski waktu terus berlari sendiri,
Kupohon kita tetap berlari bersama, berjuang bersama,
Tertatih bersama dan tersenyum bersama..
Ukhti fillah, tiada harap yang kupinta
Selain keikhlasan dan kesabaranmu tuk menggandengku meniti jalan iman
Semoga tak berlebih ku meminta
Selalu tersemat dalam ma’rifat..
Semoga tsabat..

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis pemula di Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah DIY, redaktur koran Bela Rakyat, tim pengelola MedSos ADS, tim training APM (Asosiasi Pengelola Mentoring) Jogja. Pernah aktif di LDS Kota Yogyakarta, beberapa kelompok studi ilmiah dan di LPIM (Lembaga Pendidikan Mujahidin UNY).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Belajar dari Ibrahim AS

Organization