Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mozaik Cinta

Mozaik Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com ”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ’Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.”  (QS. Al-Hasyr: 10)

Jadilah orang yang menginginkan kebaikan bagi orang lain. Karena, seorang mukmin bukanlah orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia juga senantiasa memikirkan saudara-saudaranya. Meski tak ada hubungan nasab, tak ada ikatan kerabat, tak ada kesamaan bangsa dan etnis. Bagi orang beriman, ukhuwah ditempatkannya di atas kepentingan pribadi. “Tidak beriman (sempurna) salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Demikian ditegaskan junjungan kita, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Tanda mencintai adalah menginginkan kebaikan bagi orang lain seperti yang kita inginkan untuk diri kita sendiri. Dan tidak menghendaki keburukan atas orang lain, sebagaimana tidak kita harapkan atas diri kita sendiri.

Rasa cinta membuat kita lebih mengutamakan saudara kita ketimbang diri kita sendiri. Itsar, demikian istilahnya. Sikap yang telah ditunjukkan dengan teramat indah oleh para sahabat Anshar kepada saudara-saudara mereka, Muhajirin. Al-Quran berkisah tentang mereka, ”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung,” (QS. Al-Hasyr: 9).

Ukhuwah dan solidaritas kita terhadap saudara seiman menjadi ukuran kadar keimanan kita. Sementara kadar ukhuwah itu sendiri diukur dari seberapa besar sikap kita untuk selalu menginginkan kebaikan bagi saudara kita. Seberapa besar pula kepedulian kita terhadap penderitaan yang mereka rasakan. Naif rasanya, bila kita mengaku beriman dan memiliki ikatan ukhuwah, sementara tidak ada sedikit pun rasa peduli atas penderitaan sesama umat Islam. Maka, berusahalah untuk bisa mencintai orang lain. Sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri.

Ketika kita jadi seorang tukang tambal ban, misalnya, maka pekerjaan itu bukan alasan untuk mengharapkan agar orang lain mengalami masalah dengan ban kendaraannya. Tetapi justru menjadi penolong ketika mereka mendapat masalah dengan bannya yang bocor.

Belajarlah untuk memiliki rasa cinta kepada sesama. Ketika kita jadi dokter, maka profesi itu bukan alasan untuk mengharapkan orang lain sakit. Tetapi sebaliknya, justru agar kita bisa membantu mereka memperoleh kesembuhan. Agar kita menjadi jalan sampainya takdir kesembuhan dari Allah padanya.

Cobalah untuk memupuk rasa cinta itu demikian kuat. Ketika kita menjadi pengacara, maka profesi itu bukan alasan untuk mengharapkan terjadi sengketa di antara saudara kita. Tetapi justru menjadi solusi atas masalah yang mereka hadapi. Pemberi jalan keluar atas konflik yang sedang mereka temui.

Berusahalah untuk punya rasa cinta kepada saudara kita sendiri. Ketika kita menjadi petugas pemadam kebakaran, maka pekerjaan itu bukan alasan untuk berharap ada rumah atau lapak orang yang terbakar. Tetapi justru agar kita menjadi orang yang mau bertaruh nyawa menyelamatkan mereka yang dilanda api, pada saat kebanyakan orang lain ketakutan dengan panas dan asapnya. Menjadi orang yang siap mempertaruhkan keselamatan pribadi menghalau api pada saat orang lain berebut menjauhi lokasi untuk menyelamatkan diri.

Milikilah selalu perasaan cinta pada orang lain. Saat kita menjadi seorang anggota militer, apakah level bintara ataukah jenderal, maka baju loreng kita bukan alasan untuk menggertak orang lain atau mengintimidasi mereka. Bukan pula untuk menekan dan memaksa mereka demi menambah tebal kantong dan dompet kita. Justru kitalah yang seharusnya memberi mereka rasa aman dan perlindungan. Membuat mereka merasa tenang saat berusaha dan bekerja. Baju loreng sejatinya menjadi kebanggaan kita bahwa kita dipercaya menjaga keutuhan negara dan wibawanya. Juga keamanan warganya. Juga keyakinan rakyatnya bahwa negara ini baik-baik saja. Bahwa, kedaulatan tanah air ini tetap terjamin selama kita ada karena kita selalu siap siaga menjaganya.

Jadilah orang yang memiliki rasa cinta sesama. Saat kita jadi seorang alat negara, janganlah lencana yang tersemat di pundak kita gunakan untuk memeras, menakut-nakuti, atau menipu orang lain yang buta hukum. Atau sengaja membuat konflik demi target promosi. Sebaliknya, justru keberadaan kita menjadi penenang bagi mereka yang sedang merasa cemas. Menjadi penerang bagi mereka yang belum tahu persoalan hukum. Memberikan mereka hak-haknya dalam hukum. Serta membantu mereka meraih keadilan yang sudah semestinya mereka dapatkan.

Jadilah kita orang yang memiliki cinta dan empati pada sesama. Saat kita memimpin. Saat kita berkuasa. Saat merah-hitam nasib banyak orang terletak di tangan kita. Maka, jika kita meyakini kemukminan kita, maka jadilah pemimpin yang penuh cinta. Yang memberikan kebaikan kepada rakyat. Yang melayani dan memberi rasa aman. Yang membuat rakyat menerima hak-haknya secara penuh. Bukan untuk mempersulit orang lain saat mereka berhadapan dengan masalah.

Ketika kita jadi pemimpin yang memangku amanat rakyat, jadilah pemimpin yang dicintai. Yang dicintai karena kita lebih dahulu mencintai rakyat sepenuh hati. Yang dengan itu, keberadaan kita menjamin perasaan mereka bahwa mereka semua dicintai. Bahwa mereka semua tidak perlu risau tidak mendapatkan hak-hak yang sudah selayaknya mereka dapatkan. Jika kita jadi pemimpin, maka jadilah pemimpin yang mencintai negeri ini, hingga sekuat tenaga berusaha memberikan kebaikan Allah kepada serata bumi pertiwi dengan aturan dan hukum-hukum-Nya yang keadilannya tak terbantahkan. Hingga keadilan kita menjadi warna dari kepemimpinan kita. Keadilan yang membuat kaum lemah merasa kuat dan yakin bahwa mereka akan mendapatkan hak-haknya. Keadilan yang membuat kalangan berpunya tak bisa abai akan kewajibannya soal harta dan benda. Maka, jadilah pemimpin yang penuh cinta. Pemimpin yang mencintai dan dicintai.

Demikianlah, sebagai apa pun kita, sejatinya tak ada alasan untuk berharap (apalagi menimpakan) keburukan kepada orang lain. Sebaliknya, berharap dan perbuatlah kebaikan bagi mereka, yang dengan kebaikan itu kita akan beroleh imbalan kebaikan pula dari Allah. Bahkan dilipatgandakan pahalanya menurut kehendak-Nya. ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97). Begitulah semestinya. Profesi apa pun yang kita tekuni, ia adalah jalan bagi kita untuk mewujudkan harapan akan kebaikan bagi orang lain. Sebagaimana pula kita harapkan bagi diri kita sendiri.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization